1. Standar Kebutuhan

Lokasi tambak harus dekat dengan sumber air dengan kualitas air baik dan tidak tercemar, kuantitas cukup; lahan yang memungkinkan untuk petak pemeliharaan dan mudah dijangkau.

Tabel 1 Persyaratan kualitas air untuk lokasi Tambak

No Parameter Satuan Kisaran Optimum
1. Suhu ºC 28 – 32
2. Salinitas Ppt 10 – 35
3. PH 7,5 – 8,5
4. Bahan Organik ppm Ppm 50 – 60

1.1 Dampak Beberapa Parameter Kunci Kualitas Air

1.1.1Salinitas
Untuk tumbuhan dan berkembangnya organisme yang dibudidayakan mempunyai toleransi optimal. Kandungan salinitas air terdiri dari garam-garam mineral yang banyak manfaatnya untuk kehidupan organisme air laut atau payau. Sebagai contoh kandungan calcium yang ada berfungsi membantu proses mempercepat pengerasan kulit udang setalah moulting. Salinitas air media pemeliharaan yang tinggi (> 30 ppt) kurang begitu menguntungkan untuk kegiatan budidaya udang windu. Karena jenis udang windu akan lebih cocok untuk pertumbuhan optimal berkisar 5-25 ppt.

Tingginya salinitas untuk kegiatan usaha budidaya udang windu akan mempunyai efek yang kurang menguntungkan, diantaranya : 1. Agak sulit untuk ganti kulit (kulit cenderung keras) pada saat proses biologis bagi pertumbuhan dan perkembangan; 2. Kebutuhan untuk beradaptasi terhadap salinitas tinggi bagi udang windu memerlukan energi (kalori) yang melebihi dari nutrisi yang diberikan; 3. Bakteri atau vibrio cenderung tinggi; 4. Udang windu lebih sensitif terhadap goncangan parameter kualitas air yang lainnya dan mudah stres; dan 5. Umumnya udang windu sering mengalami lumutan. Selain itu, pada saat puncak musim kemarau jenis udang umumnya akan lebih mudah terserang penyakit SEMBV (white spot).

1.1.2Suhu air
Suhu pada air media pemeliharaan udang umumnya sanagt berperan dalam keterkaitan dengan nafsu makan dan proses metabolisme udang. Apabila suatu lokasi tambak yang mikroklimatnya berfluktuatif, secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap air media pemeliharaan. Sebagai contoh pada musim kemarau yang puncaknya mulai bulan Juli hingga September sering terjadi adanya suhu udara dan air media pemeliharaan udang yang sangat rendah (24oC). Rendahnya suhu tersebut akibat dari pengaruh angin selatan (musim bediding), pada musim seperti ini biasanya suhu air berkisar antara 22-26oC. Suhu < 26oC bagi udang windu akan sangat berpengaruh terhadap nafsu makan (bisa berkurang 50% dari kondisi normal). Sedangkan bagi jenis udang putih pada umumnya, nafsu makan masih normal pada suhu air antara 24-31oC.

1.1.3Tingkat kekeruhan air
Tingkat kekeruhan air, baik air sumber maupun air media pemeliharaan mempunyai dampak yang positif dan negatif terhadap organisme yang dibudidayakan, dan setiap organisme mempunyai toleransi tingkat kekeruhan yang berbeda pula. Sebagai contoh bagi jenis kerang hijau masih dapat hidup normal dan tumbuh baik pada tingkat kekeruhan yang tinggi, sementara rumput laut pada umumnya memerlukan tingkat kekeruhan yang rendah. Bahan organik yang menumpuk dalam jumlah yang banyak (tebal) termasuk tempat bersarangnya bakteri dan vibrio yang merugikan bagi udang.

Bila air sumber yang digunakan untuk kegiatan budidaya banyak membawa material organik akibat limbah kiriman dari darat, maka secara tidak langsung akan berpengaruh negatif terhadap biota air yang dipelihara di tambak. Tingkat kekeruhan yang tinggi (limbah dari darat) sering terjadi pada musim penghujan, dimana material yang terbawa berupa cair, padat dan gas. Namun untuk mengendalikan air keruh akibat limbah bawaan tersebut masih dapat digunakan untuk kegiatan budidaya tambak, khususnya udang.

2. Pengendalian Kualitas Air

Upaya untuk mempertahankan kualitas air, dilakukan penggantian air 10% – 20% per hari. dengan kriteria parameter kualitas air sebagai berikut:

a) Parameter fisika

1)      Suhu : 28 ºC – 32 ºC.

2)      pH : 7,5 – 8,5.

3) Salinitas : 10 ppt – 35 ppt .

4) Kedalaman air : 100 cm – 120 cm (semi intensif) dan >120 cm (intensif).

5) Kecerahan : 35 cm – 40 cm.

b) Parameter kimia

1) Oksigen terlarut : > 3,5 ppm.

2) Amonia : < 0,01 ppm.

3) Nitrit : < 1 ppm.

4) Nitrat : < 10 ppm.

5) BOD : < 3 ppm.

6) Clorine : < 0,8 ppm.

7) Bahan organik : < 50 ppm.

c) Parameter biologis

Kepadatan plankton : 104 sel/ml – 109 sel/ml.

3. Tata cara pengukuran

3.1. Parameter fisika

a)      Suhu

Pengukuran suhu air dilakukan dengan menggunakan termometer, yang dinyatakan dalam satuan oC.

b)      pH

Pengukuran pH air dilakukan dengan menggunakan pH meter atau kertas lakmus.

c) Salinitas

Pengukuran salinitas air dilakukan dengan menggunakan salinometer/refraktometer,

yang dinyatakan dalam satuan ppt.

d) Kedalaman

Pengukuran kedalaman air dilakukan dengan menggunakan papan skala, yang

dinyatakan dalam satuan sentimeter (cm).

e) Kecerahan

Pengukuran kecerahan air dilakukan dengan menggunakan piringan berwarna hitam

putih (secchi disk), yang dinyatakan dalam satuan sentimeter (cm).

3.2 Parameter kimia

Pengukuran kualitas air seperti oksigen terlarut, amonia, nitrit, nitrat dan bahan organiksesuai dengan APHA (American Public Health Association) dan AWWA (American WaterWorks Association).

3.3 Parameter biologi

Cara pengukuran plankton adalah dengan menghitung jumlah plankton dalam haemocytometer dengan menggunakan mikroskop, yang dinyatakan dalam satuan sel permililiter (sel/ml). Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengembalikan suatu kondisi lingkungan seperti semula selain dengan teknik Bioremediation. Salah satunya adalah dengan “Artificial Wetland”, yaitu suatu teknik dalam pengembalian suatu kualitas lingkungan dengan suatu metode pemanfaatan lahan basah untuk mengembalikan kondisi lingkungan, dimana lingkungan yang telah mengalami penurunan kualitas dengan suatu treatment dialirkan pada suatu instalasi pengolahan lingkungan. Biasanya digunakan untuk mengembalikan kualitas air tambak, dimana air yang telah digunakan dialirkan pada suatu tangki pengendapan untuk mengendapkan zat padat yang selanjutnya masuk pada tangki yang berisikan aerator untuk membunuh bakteri yang bersifat anaerob dan selanjutnya masuk kedalam wetland yang terdapat tumbuhan yang berperan dalam menjernihkan air tambak dan menambah kandungan oksigen dalam air selanjutnya air dapat digunakan kembali untuk tambak. Akan tetapi Secara ekonomis Bioremediation dengan organisme lebih kompetitif dari pada teknik yang lain.

DAMPAK TAMBAK TERHADAP LINGKUNGAN

Faktor lingkungan yang disebabkan tambak ada yang berdampak positif dan ada pula dampak negatif contoh nya saja berdampak pada tata guna lahan, dampak sosial, ekonomi, dll.

1. Dampak Positif

1.1 Tata Guna Lahan

Berdampak positif untuk para petani yang mempunyai lahan perkebunan atau pertanian untuk mengalih fungsikan lahan mereka yang kurang produktif menjadi lahan-lahan pertambakan yang produktif.

1.2 Ekonomi dan Sosial

Dampak positif pembangunan proyek tambak sangat banyak, terutama pada sisi ekonomi dan sosial. Yaitu    :

–       dapat membuka peluang baru dibidang investasi,

–        menghidupkan fasilitas pelayanan umum,

–        mengembangkan daerah pesisir,

–        meningkatkan pendapatan nasional non-minyak,

–        memberi ke-sempatan pelatihan dan pekerjaan baik bagi pria maupun wanita. Didunia industri perikanan merupakan paling cepat berkembang.

2. Dampak Negatif

Tata Guna Lahan

Perubahan fungsi lahan dari Hutan yang selama ini dimanfaatkan sebagai tempat mencari nafkah (mencari daun nipah, kepiting, sagu, dll) oleh Masyarakat menggantungkan hidupnya secara sosial,ekonomi dan budaya kepada hutan adat. Ketergantungan masyarakat kepada hutan adatnya bukan saja karena merupakan sumber pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dan lahan mencari nafkah, tetapi juga karena ada ikatan batin secara kultural.Masyarakat adat percaya leluhur mereka bersemayam di dalam hutan adat dan oleh karena itu mereka menjaga hutan ini agar tetap lestari.Dampak desentralisasi yang menyingkirkan masyarakat adat konversi mangrove menjadi tambak, akses masyarakat pada hasil hutan berkurang.

Sosial

Beberapa studi yang dilakukan di beberapa negara produsen udang (Studi Cost Benefit Analysis) telah menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pemulihan lingkungan dan biaya sosial jauh lebih besar daripada yang diperoleh dari pertambakan udang. Pertambakan udang menimbulkan ketegangan sosial. Yaitu banyak masyarakat yang memperebutkan lahan yang saling mengklaim bahwa masing-masing sebagai pemilik lahan sehingga banyak terjadi konflik antar warga.

Ekonomi

Dampak ekonomi yang disebabkan oleh pembukaan lahan untuk tambak sangat berimpas bagi masyarakat yang semula sumbar pendapatannya berasal dari hasil hutan dan laut. Dari pembukaan lahan untuk tambak ini penghasilan mereka berkurang drastis. Sebagai contoh dampak ekonomi dari pembangunan tambak terlihat dari masyarakat adat Cerekang :

Dampak pembangunan tambak bagi komunitas adat Cerekang antara lain: 47% perajin nipah menurun produktivitasnya akibat berkurangnya hutan nipah dari 1.959 ha (1998) menjadi 1.085 ha (2001). Dua puluh sembilan persen nelayan laut dan sungai juga menyatakan menurun jumlah tangkapannya akibat hilangnya separuh hutan mangrove di pantai timur Luwu Timur dari 15.835 ha (1998) menjadi 9.885 ha (2000). Demikian juga 232 rumah tangga nelayan rawa terancam kehidupannya akibat menurunnya luas rawa alami dari 28.005 ha pada tahun 1998 menjadi 4.170 ha pada tahun 2000.