Luna masih di Bima Sakti. Masih menjejakkan kakinya di suatu tempat miring dua puluh tiga setengah derajat. Masih banyak yang jatuh bangun hendak mencumbu cintanya, mungkin lebih lazim disebut jatuh cinta. Pesona dirinya tidak pudar. Tetap indah. Seindah lukisan fenomena sang khalik yang terpahat sempurna di antero jagad raya. Walau kau tak akan pernah tahu siapa dia sebenarnya. Kapan dia lahir? Lelaki atau wanita? Siapa berani mengarang biografinya? Namun kau harus percaya itu semua hasil jerih payahnya. Kau ada karena dia ada.

Luna tetap seperti dulu, malah bertambah cantik. Semua yang ada di dalam jasadnya tumbuh alami. Tanpa kontaminasi senyawa kimia. Tanpa susuk. Dia tidak butuh itu semua. Tak ingin dia mengenal produk-produk mutakhir seperti yang dikenakan teman wanitanya. Dia yakin semua itu semu. Lambat laun pasti bakal merusak. Manusia tidak bisa menentang, hanya dapat menyesuaikan.

Luna memang perempuan yang tegar. Layak disejajarkan dengan para pejuang wanita pendahulunya. Mereka sama-sama berjibaku memerangi sesuatu yang mengganggu poros kehidupan. Tapi Luna lebih spesifik. Dia sudah familiar dengan longsongan peluru cinta yang mengarah tepat ke hatinya. Semua itu diperanginya seorang diri. Dia punya amygdala dan bilik-bilik yang menunjang pemikirannya. Dan dia rasa itu semua sudah lebih dari cukup untuk menghadirkan sensasi tersendiri bagi logikanya.

Luna masih di medan. Tidak, bukan ibukota Sumatera Utara. Tetapi medan perang. Dimana semuanya dipertaruhkan. Dan dia sudah bertaruh lebih disana. Harta yang tidak ternilai harganya, cintanya. Sebenarnya dia punya kekasih, dan hingga sekarang dia yakin kepadanya. Ditutupnya pintu hatinya rapat-rapat. Takut pada para pencuri hati yang sedang marak beraksi. Dia dan kekasihnya sudah berikrar setia. Satu hati, satu pikiran hingga habis bahan bakar waktu berjalan.

Luna kini lebih sering diam. Hatinya puasa bicara. Dia bingung. Entah kenapa. Tidak seperti dulu. Tidak seperti ketika kekasihnya belum hengkang. Wajar memang. Tapi ini semua berlebihan. Dia seperti dihantui ilusi. Tidak jarang juga dia terhanyut diseret gelombang indah tentang dia dan kekasihnya. Tidak peduli berapa waktunya tersita jika dia tenggelam di tengah malam hingga diselamatkan rasa kantuk.

Luna mencoba memutilasi waktu. Membagi-baginya dengan adil. Sedikit untuk cintanya, sedikit untuk hidupnya, dan hal lain-lain yang dia anggap mustahak jika masih tersisa. Dia berhasil untuk beberapa saat. Jujur, dia bahagia. Akhirnya dia menemukan kembali jiwanya dulu. Jiwanya sebelum dirasuki kekasihnya. Dia bebas. Tidak terikat. Tapi bukan berarti dia berkhianat. Dia masih percaya pada seseorang yang jauh di Nevada, kekasihnya. Pintu hatinya hanya tebuka untuk seseorang itu, karena memang hanya ia yang berjaya mendapat duplikat kuncinya.

Luna tidak lagi ditemani kekasihnya. Kekasihnya jauh di sana. Dia takut banyak hal yang dia takuti melanda kekasihnya. Adakah kekasihnya masih setia? Masih ingatkah kekasihnya akan dirinya? Sampai kapan dia harus menunggu? Sampai kapan?

Luna harus kuat menghadapi ini semua. Akhir-akhir ini dia sering menjumpai kenangan di biliknya. Tanpa ragu dia mulai menata ulang kenangan itu. Tak diacuhkannya jarum jam yang terus berlari, karena juga tidak ada usaha yang pasti untuk menghentikannya. Belum pernah didengarnya seseorang berhasil mengambil alih tahta sang waktu. Dialah raja dari segala raja yang telah, sedang, atau akan berkuasa. Diktator yang tidak perlu batalion budak ataupun paham-paham fasisme, nasionalisme, atau sosialisme yang sering didengungkan para petinggi-petinggi lainnya.

Luna mulai terlarut dalam semua kenangan itu. Walau dulu dia pernah melakukan percobaan pembunuhan terhadapnya, tapi kenangan itu bagaikan malaikat yang tidak pernah menangis. Padahal ia sudah sering disakiti, namun tidak ada sedikitpun dendam kesumat yang menguasainya. Ia hanya pasrah pada pemiliknya. Ia baru akan mati setelah pemiliknya mati. Itupun jika pemiliknya tidak mengembangbiakkannya ke lain jiwa.

Luna enggan untuk pergi. Dia masih tersenyum manis di salah satu biliknya sambil memutar kembali hari-harinya dulu. Masih terngiang di landasan sanggurdinya lagu-lagu yang dibawakan kekasihnya untuk dirinya dulu. Masih lekat tatapan lembut yang sering dipuja-puji korneanya dulu. Dia ingin semua itu kembali. Kembali membuat hidupnya merona. Pikirannnya sejenak melayang meninggalkannya terbang ke angkasa menembus pelangi lewati langit tujuh bidadari tempat kekasihnya bersemayam.

Luna tidak mendapati kekasihnya itu di sana. Di tempat yang telah mereka sepakati. Hatinya mulai kalut. Proses berpikirnya sedikit terganggu. Namun dia masih mengandalkan logika tanpa tahu kekasihnya baru saja berpaling darinya. Memang kekasihnya pernah berujar,

“Kalau boleh ditimbang, mungkin yang kakanda hadapi di sini dua kali lebih berat dari sekedar yang dinda perangi”.

Luna mengerti hal itu. Karena dirinya juga bukan satu-satunya wanita yang diciptakan di peredaran. Sudah pasti banyak wanita wanita lain di Bima Sakti. Bahkan lebih dari sekedar wanita yang dia punya.

Luna tahu kekasihnya tidak begitu. Dia percaya penuh pada kekasihnya. Kesatria terbaik yang pernah dia kenal. Melindunginya dengan perisai baja. Membuatnya tidak lagi alienasi di tengah aliansi hidup. Dia sudah terlanjur menganut alturisme.

Luna juga sudah lama berhasrat untuk menyudahi semua ini. Menganulir semua pergerakan yang sudah dia buat. Dia disokong oleh argumen sekawanan samurai yang terbuat dari huruf. Namun lagi-lagi dia dihantui sesuatu yang signifikan untuk tetap setia pada kekasihnya. Dan dia memang seorang wanita yang sangat kokoh. Tidak mudah untuk menaklukkan cintanya. Satu-satunya yang membuat dia tetap solid seperti sekarang.

Luna akhirnya sadar. Selama dia tidak ditemani kekasihnya, dirinya sedikit tersiksa. Sampai akhirnya dia temukan seseorang yang bisa menghapus semua ini. Desember, begitu orang-orang menyebutnya. Seorang pria yang berhasil meruntuhkan pintu hatinya. Masuk ke dalamnya dan begitu cepat mendekorasi ulang kenangan yang sudah mulai usang.

Luna jatuh cinta. Dia sangat mengagumi pria yang berjaya menaklukkan dirinya untuk kedua kalinya. Karena tidak banyak pria yang dia anggap layak untuk dirinya. Tetapi bukan berarti dia wanita yang sombong dengan segala yang dia punya. Dia bersahabat dengan siapa saja. Tak peduli kasta yang membentang antara mereka. Dan dia sangat paham tentang segala maksud dan tujuan mereka yang dia kenal. Hanya beberapa saja yang dia dapati benar-benar tulus padanya. Sedang yang lain bagai ilalang di tengah taman mawar yang sedang mekar. Menyemak.

Luna berjalan di antara Desember dan kekasihnya. Dia sudah bertekad bulat untuk lebih memilih Desember demi menerangi ruang hatinya yang tidak lagi disinari gemerlap kekasihnya. Namun dia tidak tahu cara yang tepat untuk mengakhiri semua ini. Dia tidak rela cinta pertamanya dia kubur hidup-hidup. Dan dia juga tidak bisa bertahan dalam kurung siksaan ini. Dia ingin terbang bersama Desember memetik buah surga yang tidak sempat dia rasakan bersama kekasihnya sekarang. Di saat hormon-hormonnya berontak, dia malah ditinggalkan kekasihnya dan disuruh menunggu. Suatu hal yang jarang dapat ditolerir oleh para wanita seusianya.

Luna masih menerima kata-kata pujangga dari kekasihnya. Semua itu dia simpan baik-baik dalam kotak kecil di hatinya. Sesekali dia bercermin, dilihatnya dirinya bermuka dua. Yang satu terpaku menunggu kekasihnya, yang lain terawang dipelukan Desember. Dia sedikit tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Dia usap kedua matanya, berharap akan ada perubahan yang pasti. Namun dia masih melihat hal yang sama. Ingin dia melupakan apa yang baru dilihatnya, tapi tak bisa. Ingin dia memecahkan cermin itu agar sedikit puas, tetapi tak ada gunanya. Dia tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri. Dirinya yang sedang jatuh cinta.

Luna memberanikan diri untuk mengakui semua ini pada kekasihnya. Dia berharap tidak akan ada yang tersakiti dengan putusan yang dipilihnya, terutama kekasihnya. Konsekuensi dari semua ini sudah siap dia pikul di bahunya. Hatinya terasa berat ketika dia utarakan semuanya pada kekasihnya. Satu dua hari dirinya tidak berhenti menangis mencerna jawaban kekasihnya. Kesatria yang sangat paham tentang dirinya. Kesatria itu sadar ia telah memenjarakan seekor merpati yang ingin mengecap langit. Hingga suatu titik merpati memberontak dan kesatria tidak punya solusi lain. Kesatria harus rela melihat merpati terbang bebas, tanpa tahu apa yang baru saja dilakukannya benar atau salah.

Luna seperti terlahir kembali. Pagi ini dia dinyatakan bebas. Dia ingin cepat-cepat menyongsong hidup barunya. Tujuan barunya melayang tinggi bersama Desember. Dia mulai mencuri-curi pandang pada Desember. Dia tahu pasti bahwa Desember mengenalnya. Siapa yang tidak mengenal seorang Luna? Begitu pikirnya.

Luna mulai memasuki tahap reinkarnasinya. Dirinya yang dulu dikejar-kejar sekarang menuntut balik. Bumerang pikirannya. Dia berharap Dewi Fortuna sedikit berpihak padanya. Dia ingin semua ini berjalan mulus sesuai rencana. Dia mulai menebar pesona indahnya dikalangan lelaki. Tidak lain tidak bukan untuk merebut simpati Desember. Sampai suatu saat, Desember sadar ada perubahan drastis yang tampak pada Luna. Cara dia berbicara, senyum, lirikan matanya dan lain-lain yang tampil beda.

Luna sepertinya berhasil merapat ke Desember. Dengan sedikit berpura-pura bersama segala ketidaktahuannya, dia menentang gravitasi. Merobek-robek jarak yang dulu sulit ditaksir dengan kata-kata. Menentang semua mitos yang selama ini eksis. Siapa bilang wanita tak pantas mengejar lelaki ?

Luna tahu apa yang dilakukannya. Namun dia masih direspon layaknya wanita-wanita yang lain. Belum muncul sesuatu yang lebih. Sesuatu yang membuat dirinya seperti sekarang.

Luna tak tahu cara yang tepat untuk menaklukkan Desember. Kini dia tahu. Rasa yang selama ini tertuju kepadanya kini menggerayanginya. Memeluk dirinya erat-erat. Ingin dia meminjam sayap sesuatu yang bisa membawanya ke tempat Desember bersemayam. Tetapi jarak itu begitu jauh. Sulit untuk memastikan dia punya kekuatan yang cukup untuk bisa meraihnya.

Luna memulai berbagai bentuk ritual yang dia anggap sakral untuk memperlancar usahanya ini. Dia tahu dirinya sangat butuh seseorang kini. Tidak ada gunanya menunggu Desember bertekuk lutut. Jalan yang harus dia tempuh adalah reinkarnasi. Hanya dengan bereinkarnasilah semuanya bakal jelas.

Reinkarnasi itu solusi. Begitu setidaknya pikir Luna saat ini. Aura itu sudah merebak. Membalutnya beraturan. Reinkarnasi butuh ketulusan. Hanya segelintir spesies yang berjaya mewujudkannya, karena resiko yang terkandung sangat destruktif. Menjatuhkan harga diri bahkan mati. Bukan mati kehilangan jasad, tetapi dihapus dari ingatan, dilenyapkan, dilupakan.

Entah bagaimana mendeskripsikan deraian misteri yang tumpah ruah dalam sebuah reinkarnasi. Tetapi Luna mengerti itu. Ditemuinya sesuatu yang membuat dia bisa dengan enteng menulikan matanya serta membutakan telinganya dari kabar-kabar burung yang terus melantunkan namanya. Menjadikan dia hebat.

Ini bukan hal yang mudah. Harus ada pengorbanan yang cukup berarti. Entah itu waktu atau pikiran. Luna sadar akan semua itu. Tahap-tahap yang bakal dilaluinya adalah fase yang akan menentukan kelanjutan cerita kehidupannya. Tidak semudah yang dibayangkannya, dia baru saja mempertaruhkan sesuatu yang paling berharga dari dirinya.

Jalan yang dilaluinya hingga tiba di sini bukanlah seperti lintasan yang diidam-idamkan banyak orang, mulus tanpa aral melintang atau serbuan hambatan. Tetapi bagai sebuah sirkuit yang dengan ramah menyapanya bersama lubang dalam di sana-sini. Selangkah dia berjalan, dia sudah terbenam di dasar lubang. Mengakrabkan dirinya pada kehidupan di dasar sana. Bertemu ramah dengan beberapa hal yang belum dia kenal. Memang ini bukan seperti yang dia harapkan. Tetapi harapan seperti barang mewah yang tidak ingin dia miliki. Tidak ada waktu untuk harapan.

Di dasar sana dia dihadapkan pada perjuangan yang sudah lama tidak dia temui. Tidak ada bantuan yang akan terbit. Hanya ada dia dan kekuatan kekuatan pikirnya. Berkolaborasi memecahkan labirin yang ada di depan kedua mata. Tidak mudah untuk meyudahi semua ini. Pertama kali setelah dia putuskan dua langkah berikutnya untuk mengarungi hidup, kegagalan ditemuinya pada langkah pertama. Bukan apa-apa, tetapi langkah pertama memang seharusnya menjadi penentu buat menapaki laluan berikutnya.

Akhirnya dia melewati tahap akhir reinkarnasinya dengan mulus. Kini dia menanti sebuah jawaban dari kerja kerasnya selama ini. Sekarang dia memohon agar sang waktu berlari lebih cepat, karena setiap detik yang dia lalui terasa sangat lambat.

Akhir reinkarnasi ini terasa begitu hambar. Tidak ada jawaban berarti yang keluar. Tidak ada kepastian yang mensahkan perjuangan Luna. Dia masih menunggu sebuah frasa yang bakal menentukan kelanjutan perjalanan cintanya. Entah itu bakal menerbangkannya atau malah menghancurkannya. Menguburnya hidup atau mati.

Segalanya akan baik-baik saja. Namun apa yang didapati Luna sangat berbanding terbalik dengan segenap pengorbanannya. Ini mungkin yang disebut karma. Luna mati, dilupakan. Tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya ketika dia mulai terbakar. Terlalu banyak dosa yang menyeretnya. Reputasinya luluhlantak berserakan acak membumi. Kecantikannya terbang berhamburan meninggalkan dirinya. Cahanya berkhianat. Dia ingin mati tatkala dia menginginkannya. Tak ada gunanya memperpanjang hidup secara buatan. Dia telah menjalankan bagiannya. Telah tiba waktunya untuk pergi. Dia akan melakukannya dengan anggun. Reinkarnasinya…gagal.

Pekanbaru, 11 Desember 2007