I. PENDAHULUAN

Penggunaan tambak untuk memelihara udang sejak lama dilakukan oleh masyarakat petani ikan yang hidup disepanjang pesisir pantai. Menurut sejarahnya, asal mula pemeliharaan udang ditambak dipelopori oleh sejumlah narapidana yang diasingkan kedaerah terpencil pada zaman kolonial.Untuk mempertahankan hidupnya selama di pengasingan, mereka berusaha mencari ikan disepanjang pantai, terutama di daerah pantai yang telah terputus hubungannya dengan laut bebas. Mereka telah mengetahui bahwa di daerah pantai demikian banyak dijumpai ikan yang terperangkap, sehingga mudah untuk ditangkapnya.

Selanjutnya mereka berusaha untuk menciptakan sendiri daerah demikian dengan cara membendung atau menambak daerah tertentu sehingga timbullah istilah tambak. Tentu saja pada saat itu bentuknya masih sangat sederhana, yaitu hanya berupa tumpukan batu karang sekedar menghalangi jalan keluar bagi ikan atau udang.Saat ini ilmu pengetahuan perikanan telah berkembang, sehingga model tambak pun juga mengalami perkembangan seperti bentuk tambak sekarang ini,tambak mulai dilengkapi dengan pintu air, saringan,caren,saluran air, dan sebagainya

II. MENENTUKAN LOKASI TAMBAK

Langkah pertama yang harus dilakukan dalam pembuatan tambak adalah menentukan lokasi yang paling memenuhi persyaratan untuk memedia memelihara udang.Pemilihan lokasi tambak ini tidak hanya untuk menentukan kecocokan lahan sebagai media pemeliharaan udang saja, tetapi juga untuk mendukung modifiksai disain tambak,tata letak tambak, pembuatan konstruksi tambak, dan manajemen yang akan diterapkan.

Pada prinsipnya, lahan yang akan digunakan sebagai tambak harus memenuhi persyaratan fisika, kimia,biologis, teknis, sosial ekonomis,hogienis, dan legal. Untuk mendapatkan lahan yang memenuhi persyaratan tersebut, ada 4 aspek utama yang diperhatikan sebagai kriteria dalam penentuan lokasi tambak, yaitu:

  1. Aspek ekologis
  2. Aspek tanah
  3. Aspek biologis
  4. Aspek sosial ekonomis

Ditinjau dari segi aspek ekologis, keadaan alam, sumber air dan iklim di Indonesia sangat menunjang usaha budi daya di tambak.

Secara ekologis ada 7 faktor yang perlu dipertimbangkan untuk menentukan tingkat kesesuaian lokasi tambak yaitu:

  1. Iklim Dan Suhu Lingkungan
  2. Kuantitas Dan Kualitas Air
  3. Salinitas
  4. Pasang surut air
  5. Arus air
  6. Pola hujan dan rembesan

Kondisi Fisik Air Tambak

Secara garis besar kondisi fisik air tambak merupakan keadaan air tambak ditinjau dari keberadaan dan penampakan partikel-partikel fisik yang dijumpai di dalam perairan tersebut.  Partikel-partikel tersebut muncul sebagai akibat proses yang terjadi di dalam ekosistem perairan maupun karena faktor teknis budidaya sehingga secara tidak langsung ikut mempengaruhi kehidupan organisme yang berada di dalamnya.  Kondisi fisik air tambak juga dapat dijadikan sebagai salah satu tolok ukur kualitas perairan dengan dasar pemikiran sebagai berikut ini :

  1. Pemunculan partikel tersebut dapat dijadikan isyarat bahwa telah terjadi proses (biologi, kimia, fisika) di dalam perairan yang tidak sebagaimana mestinya;
  2. Dalam jumlah yang besar dan jangka waktu lama dapat menyebabkan terganggunya fungsi fisiologis udang dan organisme lainnya;

Ukuran partikel-partikel tersebut ada yang berukuran kecil dan ada yang relatif besar karena karena proses akumulasi yang terjadi.  Pemunculan partikel tersebut bisa berada di lapisan air maupun muncul dipermukaan air tambak.  Melalui pengamatan yang cermat maka penampakannya akan dapat terlihat bahkan terdeteksi semenjak dini penyebab permasalahannya.  Beberap kondisi fisik perairan tambak yang biasa dijumpai antara lain :

  1. Air tambak berdebu, kondisi ini untuk menggambarkan bahwa di dalam air tambak muncul partikel-partikel sangat halus dan melayang-layang karena tidak terlarut atau mengendap di dalam perairan tambak.  Kondisi seperti ini dapat mengakibatkan gangguan pada insang udang dan pada jangka waktu tertentu dapat mengakibatkan penyakit insang merah.   Alternatif perlakuan yang bisa diterapkan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan melakukan peningkatan sirkulasi air baik dari segi frekuensi maupun volumenya secara kontinyu.  Penggunaan saponin pada dosis tertentu diharapkan dapat mengikat partikel yang ada di perairan tambak.
  2. Air tambak berbusa/berbuih, pada kondisi ini air dipermukaan tambak tampak berbusa/berbuih dan akan lebih jelas kelihatan pada saat kincir air dioperasikan.  Hal ini menandakan bahwa di perairan tersebut telah terjadi mortalitas plankthon secara massal yang dapat menimbulkan keseimbangan ekosistem perairan colaps, kecerahan air tambak cenderung tidak stabil, dasar tambak kotor karena endapan bangkai plankthon.  Perlakuan teknis yang dapat digunakan untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan melakukan sirkulasi air secara kontinyu dan pada kondisi tertentu dapat dilakukan inokulasi bibit plankthon secara kontinyu dari petakan tambak lainnya disertai dengan peningkatan dosis penggunaan pupuk atau pemakaian bahan organik.
  3. Pemunculan klekap di permukaan air tambak.  Klekap pada dasarnya merupakan campuran antara kotoran dasar tambak dengan bangkai plankthon yang terangkat ke permukaan air karena adanya proses oksidasi dengan bantuan sinar matahari.  Kondisi ini terjadi karena dasar tambak yang kotor dan kecerahan air tambak yang relatif tinggi.  Klekap bila telah mengendap kembali di dasar tambak akan terjadi pembusukan dan dapat menyebabkan peningkatan kandungan H2S, NH3 di dalam tambak yang berbahaya bagi udang.  Pemunculan klekap di permukaan tambak dapat diatasi dengan pengangkatan klekap dari permukaan tambak dan pembersihan dasar tambak yang diibangi dengan sirkulasi secara kontinyu dan pembentukan kembali kualitas air tambak melalui regenerasi plankthon yang telah mati dengan cara inokulasi bibit plankthon dan pemumpukan dengan dosis yang sesuai dengan kebutuhan;
  4. Tumbuhnya lumut di dalam tambak.  Kondisi ini terjadi karena kecerahan air tambak yang relatif tinggi dan berlangsung dalam kondisi lama dan disertai dengan proses pemupukan yang kontinyu.  Lumut yang tumbuh di dalam tambak akan menghambat aktifitas dan gerak udang serta proses penumbuhan plankthon relatif lebih susah.  Lumut akan hilang jika penetrasi sinar matahari yang membantu pertumbuhan lumut terhalang oleh plankthon pada kecerahan air tertentu.

Ke empat kondisi tersebut di atas merupakan hal yang sering dijumpai pada petakan-petakan tambak yang dalam pengamatan kualitas perairan kurang cermat ataupun pemberian perlakuan teknis yang kurang tepat pada sasarannya.  Perairan tambak dengan kualitas perairan dan kondisi udang yang sesuai dengan keseimbangan ekosistem akan mempengaruhi rona dan kualitas kondisi fisik perairan akan terjaga dengan sendirinya serta sangat tergantung pada upaya untuk mempertahankan kondisi tersebut.

Warna Air Tambak

Warna air tambak pada dasarnya terjadi karena adanya dominansi jenis plankton tertentu yang tumbuh dan berkembang di dalam perairan tambak. Parameter ini dapat digunakan sebagai salah satu tolok ukur kualitas perairan tambak secara praktis melalui pengamatan visual dengan memperhatikan kondisi dan kualitas udang di dalam perairan tersebut dengan dasar pemikiran seperti berikut ini:

  1. Phythoplankton mempunyai karakteristik warna tertentu yang disebabkan oleh kandungan chlorophyl yang relatif berbeda antara jenis yang satu dengan yang lainnya.
  2. Plankton memiliki karakteristik sifat tertentu dalam melakukan proses kegiatannya baik itu biologi, kimia, fisika dan ekologi yang relatif berbeda antara jenis yang satu dengan yang lainnya.
  3. Phythoplankton merupakan produsen utama dalam rantai makanan yang ada di perairan tambak, sehingga dominansinya relatif berpengaruh pada kehidupan organisme lainnya.
  4. Tidak semua jenis plankton yang tumbuh dalam perairan tambak bersifat menguntungkan bagi udang atau organisme lainnya di dalam tambak, sehingga dominansi dari jenis tertentu akan berpengaruh pada tingkat kenyamanan organisme lain di dalam tambak.

Dasar pemikiran diatas memperlihatkan bahwa warna perairan tambak yang disebabkan oleh adanya dominansi jenis plankton tertentu dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan tentang kualitas air tambak. Faktor dominansi plankton di dalam tambak dapat terjadi karena pengaruh bibit plankton yang dimasukkan ke dalam tambak dan treatment yang diterapkan dalam proses penumbuhan dan pengelolaan plankton. Pada saat awal pembentukan air tambak bibit plankton yang dimasukkan ada kemungkinan sudah terjadi dominansi yang selanjutnya tumbuh dan berkembang di dalam tambak. Pada kasus lain bibit plankton yang dimasukkan ke dalam tambak belum terjadi dominansi, tapi treatment yang diterapkan memungkinkan terjadinya pertumbuhan dan perkembangan jenis plankton tertentu sehingga mendominansi perairan tambak.

Aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai dan menganalisis warna air tambak secara garis besar meliputi:

  1. Jenis plankton yang dominan.
  2. Kelimpahan plankton yang dominan.
  3. Kondisi dan kualitas udang.

Analisis terhadap jenis plankton yang dominan didasarkan pada karakteristik dan sifatnya serta tingkat permasalahan yang mungkin ditimbulkan di dalam perairan dan pengaruhnya terhadap organisme lainnya. Perairan tambak yang didominansi oleh jenis plankton yang bersifat menguntungkan dan membawa pengaruh yang nyaman dan aman pada organisme lainnya keputusan yang perlu diambil adalah cara untuk mempertahankan, sedangkan jika dominansi yang terjadi adalah dari jenis plankton yang merugikan maka perlu dilakukan penggantian dominansi plankton dengan melakukan penurunan air tambak dalam volume yang besar dan proses inokulasi bibit plankton yang menguntungkan dari petakan tambak lainnya disertai dengan pemupukan.

Kelimpahan plankton yang dominan di perairan tambak erat hubungannya dengan tingkat kecerahan air tambak seperti telah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya. Kelimpahan yang terlalu tinggi dari jenis plankton yang merugikan akan sangat membahayakan bagi udang dan dapat menimbulkan masalah serius jika tidak segera diantisipasi.

Analisis warna air tambak yang berkaitan dengan dominansi jenis plankton tertentu harus bermuara pada kondisi dan kualitas udang yang hidup di perairan tersebut. Keadaan ini dapat diartikan bahwa meskipun dominansi plankton di perairan tambak tersebut merupakan jenis yang menguntungkan tapi jika kondisi dan kualitas udang mengalami degradasi, maka ada sesuatu masalah di dalam perairan tersebut sehingga perlu diadakan identifikasi dan analisis penyebab masalah secara cermat dan akurat. Sebaliknya jika pengamatan warna air tambak menunjukkan adanya dominansi plankton yang merugikan sedangkan kondisi dan kualitas udang dalam keadaan normal, maka proses penggantian air tambak perlu dilakukan secara bertahap dan kontinyu agar tidak menimbulkan stress pada udang sampai dominansi plankton di dalam tambak tergantikan dengan jenis yang baru dan bersifat menguntungkan.

Kriteria warna air tambak yang dapat dijadikan acuan standar dalam pengelolaan kualitas air adalah seperti di bawah ini:

  1. Warna air tambak hijau tua yang berarti menunjukkan adanya dominansi chlorophyceae dengan sifat lebih stabil terhadap perubahan lingkungan dan cuaca karena mempunyai waktu mortalitas yang relatif panjang. Tingkat pertumbuhan dan perkembangannya yang relatif cepat sangat berpotensi terjadinya booming plankton di perairan tersebut.
  2. Warna air tambak kecoklatan yang berarti menunjukkan adanya dominansi diatomae. Jenis plankton ini merupakan salah satu penyuplai pakan alami bagi udang, sehingga tingkat pertumbuhan dan perkembangan udang relatif lebih cepat. Tingkat kestabilan plankton ini relatif kurang terutama pada kondisi musim dengan tingkat curah hujan yang tinggi, sehingga berpotensi terjadinya plankton collaps dan jika pengelolaannya tidak cermat kestabilan kualitas perairan akan bersifat fluktuatif dan akan mengganggu tingkat kenyamanan udang di dalam tambak.
  3. Warna air tambak hijau kecoklatan yang berarti menunjukkan dominansi yang terjadi merupakan perpaduan antara chlorophyceae dan diatomae yang bersifat stabil yang didukung dengan ketersediaan pakan alami bagi udang.

Standar warna air tambak seperti tersebut di atas merupakan acuan praktis dalam mengidentifikasi jenis plankton sebagai upaya pendeteksian masalah kualitas perairan secara dini. Selain warna standar tersebut ada beberapa warna air tambak yang biasa dijumpai dalam kegiatan usaha budidaya udang, yaitu antara lain:

  1. Warna air tambak kekuningan yang berarti menunjukkan adanya dominansi phytoplankton jenis cyanophyceae. Pada kondisi perairan tambak seperti ini biasanya udang berwarna lebih pucat dari biasanya disertai dengan penurunan nafsu makan udang dan jika tidak segera diantisipasi dapat menimbulkan kerusakan pada hepatopanchreas udang.
  2. Warna air tambak hijau pupus yang berarti menunjukkan adanya dominansi phytoplankton jenis dynophyceae dampak yang ditimbulkan relatif sama dengan point (1).
  3. Warna air tambak biru kehijauan yang berarti menunjukkan adanya dominansi blue green algae dampak yang ditimbulkan relatif sama dengan point (1).
  4. Kamuflase green color, pada kondisi ini tambak seolah-olah berwarna kehijauan tapi pada dasarnya tidak/kurang mengandung plankton. Hal ini terjadi biasanya pada tambak yang kandungan bibit planktonya sangat kurang tetapi kegiatan pemupukan berjalan terus, sehingga warna yang ditimbulkan adalah warna karena pengaruh cuaca. Kejadian ini dapat diketahui dengan mengukur kecerahan perairan tambak yang biasanya sangat tinggi, atau dengan melihat warna air yang ada pada kincir air yang sedang dioperasikan.

Identifikasi jenis plankton di perairan tambak secara praktis dengan melihat warna perairan seperti telah diuraikan di atas perlu ditunjang dengan pengamatan dan analisis laboratorium secara berkala untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Kegiatan ini dilakukan dengan cara pengambilan sampel perairan dan sampel udang dari petakan-petakan tambak baik yang bermasalah maupun yang tidak terkena masalah, sehingga dapat diambil perbandingannya.

Kondisi Dasar Tambak

Kondisi dasar tambak merupakan suatu keadaan fisik dasar tambak beserta proses yang terjadi didalamnya baik yang menyangkut biologi, kimia, fisika maupun ekologi yang secara langsung maupun tidak langsung ikut berpengaruh pada kehidupan udang maupun organisme lainnya dalam suatu keterkaitan ekosistem perairan tambak.  Parameter ini dapat dijadikan sebagai salah satu tolok ukur kualitas perairan tambak dengan dasar pemikiran sebagai berikut :

  1. Dasar tambak merupakan ruang gerak dan tempat hidup bagi udang dan organisme lainnya dalam kondisi normal seperti habitat alaminya, sehingga kondisi dasar tambak akan mempengaruhi tingkat keamanan dan kenyamanan bagi udang maupun organisme lainnya di dalam perairan tersebut;
  2. Dasar tambak merupakan tempat akumulasi kotoran tambak baik yang berasal dari treatment budidaya maupun proses metabolisme yang dilakukan oleh organisme yang hidup di perairan tambak tersebut;
  3. Dasar tambak merupakan suatu area di dalam tambak yang membentuk suatu sub komunitas tersendiri yang bersifat benthic di dalam tambak dan keberadaannya mempunyai korelasi yang erat dengan ekosistem perairan tambak;
  4. Pada dasar tambak terjadi proses-proses biologi, kimia, fisika dan ekologi yang sangat tergantung pada kestabilan ekosistem perairan;
  5. Pada kondisi tertentu, dasar tambak dapat bersifat an aerob karena tidak terjadinya proses oksidasi sehingga dapat membahayakan bagi kondisi dan kualitas udang di dalam tambak.

Kondisi dasar tambak mempunyai keterkaitan secara langsung dengan kondisi dan kualitas udang serta kualitas perairan tambak, yaitu jika perairan tambak berada pada keseimbangan ekosistem dan bersifat stabil serta kondisi dan kualitas udang bagus maka kondisi dasar tambak akan terjaga dengan sendirinya.  Salah satu faktor yang juga ikut menentukan kondisi dasar tambak adalah penempatan posisi kincir air yang dioperasikan pada saat kegiatan budidaya berlangsung.  Posisi kincir yang sesuai dan dapat mengarahkan kotoran dasar tambak ke arah sentral pembuangan dapat meminimalkan terjadinya penyebaran akumulasi kotoran tersebut di dasar tambak, sehingga pada saat dilakukan pembuangan air tambak kotoran tersebut dapat ikut terbawa.

Pada dasarnya setiap petakan tambak yang sedang dioperasikan selalu dijumpai adanya kotoran dan hal yang perlu diperhatikan adalah tingkat keberadaan dan tingkat penyebarannya di dasar tambak dibandingkan dengan tolok ukur dari hasil pengamatan terhadap kondisi dan kualitas udang serta kualitas perairan tambak.  Beberapa faktor penyebab yang dapat mengakibatkan terjadinya akumulasi kotoran di dasar tambak adalah antara lain :

  1. Desain dan kontruksi dasar tambak yang tidak dirancang dengan tingkat kesesuaian terkonsentrasinya kotoran ke arah sentral pembuangan, sehingga menyebabkan kotoran di dasar tambak tersebut menyebar di beberapa titik konsentrasi;
  2. Penempatan posisi kincir air yang kurang tepat, sehingga tidak dapat mengarahkan kotoran tersebut ke arah sentral pembuangan;
  3. Program pakan yang over feeding jika dibandingkan dengan tingkat kebutuhan udang.  Sisa pakan yang berlebihan tersebut tidak terkonsumsi oleh udang dan membusuk serta terakumulasi di dasar tambak menjadi kotoran;
  4. Teknik pemberian pakan yang tidak merata ke seluruh area pakan di dalam petakan tambak, sehingga pakan terakumulasi di satu titik dan tidak terkonsumsi merata sehingga membusuk di dasar tambak;
  5. Tingkat populasi udang di dalam tambak.  Pada tambak dengan populasi udang yang relatif padat, kondisi dasar tambak akan relatif bersih karena kotoran di dasar tambak akan terdorong dengan sendirinya ke sentral pembuangan yang diakibatkan oleh aktifitas udang di dasar tambak;
  6. Kurangnya pengecekkan dasar tambak dengan melakukan penyelaman secara berkala;
  7. Kurangnya intensitas dan frekuensi sirkulasi air yang dapat mendorong kotoran dasar tambak ke arah sentral pembuangan.

Kotoran di dasar tambak biasanya berupa lumpur hitam yang mengendap di dasar serta mengandung H2S dan NH3 yang bersifat asam dalam dosis tertentu dapat membahayakan bagi udang.  Kotoran ini berasal dari proses metabolisme yang dilakukan oleh organisme perairan tersebut, mortalitas plankthon dan sisa pakan udang yang tidak terkonsumsi serta pengaruh dari treatment budidaya lainnya.  Keberadaan lumpur hitam di dasar tambak dapat teramati melalui cara antara lain :

  1. Pengamatan warna kulit/khitin udang melaui sampling berkala maupun pengamatan ancho.  Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya berdampak pada penampakan kulit udang yang cenderung berwarna lebih gelap dari keadaan normal.  Pada saat  dilakukan sampling sampling kotoran dasar tambak/lumpur biasanya ikut terbawa pada jala yang ditebarkan ke dalam tambak;
  2. Pengecekkan langsung ke dasar tambak dengan melakukan penyelaman untuk melihat kondisi dasar tambak dan kondisi udang;
  3. Melihat saluran pembuangan air tambak pada saat dilakukan sirkulasi air dengan memperhitungkan jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan kotoran/lumpur tersebut.  Pada kegiatan ini juga perlu diperhatikan tingkat kelancaran saluran pembuangan dalam mengeluarkan air tambak, jika terjadi penyumbatan maka dibutuhkan identifikasi lanjutan terhadap penyebab penyumbatan tersebut.  Faktor lain yang juga perlu dipertimbangkan adalah keberadaan bangkai udang yang ikut terbawa keluar bersama air tambak berdasarkan jumlah dan kondisi bangkai udang tersebut agar dapat diambil alternatif keputusan yang mengarah pada harvesting decision ataupun treatment decision;
  4. Pengamatan terhadap permukaan air tambak pada saat kincir air tidak dioperasikan.  Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya mengeluarkan gelembung-gelembung udara yang muncul dari dasar tambak ke arah permukaan air, jika di permukaan tambak banyak dijumpai fenomena ini maka kondisi dasar tambak relatif sangat kotor dan penuh lumpur.

Pemantauan kondisi dasar tambak perlu dilakukan secara cermat baik melalui pengamatan berkala  maupun yang bersifat insidental agar permasalahan yang terjadi dapat segera ditangani.  Permasalahan cukup serius yang biasanya terjadi adalah kematian udang di dasar tambak karena berbagai permasalahan yang tidak terdeteksi.  Kematian udang di dasar tambak yang disebabkan oleh proses moulting biasa dijumpai dan bersifat alamiah karena adanya kanibalisme dari udang lainnya dalam kuantitas masih berada pada batas toleransi yang ditetapkan.  Sedangkan kematian udang di dasar tambak yang bersifat massal dan disebabkan oleh permasalahan yang tidak terdeteksi biasanya bangkai udang terkonsentrasi di sentral pembuangan dan pada tingkat yang lebih parah bangkai udang menyebar di dasar tambak.

Sebagai upaya mengantisipasi permasalahan tersebut maka perlu dilakukan pemantauan dasar tambak baik secara yang bersifat insidental seperti yang telah diuraikan di atas maupun yang bersifat berkala yaitu dengan melakukan pengangkatan kotoran dan lumpur hitam terutama yang berada di sentral pembuangan dengan alat bantu pompa air dan selang spiral dengan menyedot kotoran dan lumpur hitam tersebut dan membuangnya melalui saluran pembuangan.  Kegiatan ini sebaiknya juga diikuti dengan pemantauan tingkat kematian udang di dasar tambak melalui cara mengambil sampel bangkai udang dan kuantitasnya yang dijumpai untuk dilakukan identifikasi tingkat permasalahan sebagai dasar pengambilan keputusan.  Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan kegiatan ini antara lain :

  1. Kondisi dan kualitas udang, karena kegiatan pengangkatan kotoran dan lumpur hitam secara berkala ini akan memberikan guncangan pada kestabilan kualitas perairan yang dapat menimbulkan stress pada udang.  Kegiatan ini sebaiknya dilakukan pada saat kondisi udang benar-benar bagus dengan tingkat daya tahan terhadap stress tinggi, sedangkan pada udang dalam situasi moulting massal diharapkan tidak melakukan kegiatan ini karena kondisi udang lemah dan tingkat daya tahan terhadap stress relatif rendah;
  2. Keadaan cuaca pada saat itu sebaiknya berada pada kondisi yang dapat menunjang proses pembentukan kembali kualitas perairan setelah dilakukan kegiatan pengangkatan kotoran dan lumpur  dasar tambak;
  3. Kondisi pasang surut yang mendukung kelancaran pergantian air tambak dan pembuangan kotoran dan lumpur hitam ke saluran pembuangan;
  4. Pembentukan kembali kualitas perairan tambak yang relatif mengalami guncangan akibat kegiatan tersebut ke arah kesimbangan ekosistem perairan di dalam tambak;
  5. Pemantauan kondisi udang setelah dilakukan kegiatan pengangkatan dan pembersihan dasar tambak.

Setelah dilakukan pembersihan dasar tambak dengan cara pengangkatan kotoran dan lumpur hitam keluar tambak sebaiknya diikuti dengan pemberian kapur lunak ke dalam perairan dengan dosis sesuai dengan keperluan dengan tujuan mengembalikan/memperbaiki tingkat keasaman dasar tambak.  Pemberian kapur ini sebenarnya dapat bersifat rutin/berkala selain untuk menjaga keasaman dasar tambak juga diperlukan untuk membantu proses moulting udang yang bersifat periodik.

Kondisi dasar tambak yang dikontrol dan dipantau secara baik dan cermat selain memperbaiki kualitas perairan juga akan membantu pada saat kelak dilakukan panen udang.  Dasar tambak yang relatif bersih akan memudahkan proses pemanenan dan berpengaruh pada kualitas udang yang dihasilkan, sebaliknya dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur akan menyulitkan proses pemanenan dan dapat menimbulkan degradasi kualitas udang yang dihasilkan.  Selain itu kondisi dasar tambak juga ikut berpengaruh pada penerapan program teknis budidaya lainnya terutama dalam proses pengambilan keputusan yang bersifat perlakuan maupun pemanenan.

Metode Pengelolaan Kualitas Air Tambak

Kegiatan pengelolaan kualitas air tambak pada dasarnya berupa program kegiatan yang mengarahkan perairan tambak pada keseimbangan ekosistem perairan dalam suatu petakan terbatas agar tercipta suatu kondisi perairan yang menyerupai habitat alami udang baik dari segi sifat, behaviour maupun secara ekologinya.  Penerapan program pengelolaan kualitas air tambak membutuhkan kemampuan teknis budidaya yang memadai dari para pelakunya melalui metode yang digunakan dengan beberapa aspek yang perlu dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam penerapannya, yaitu antara lain :

  1. Metode yang digunakan harus mengacu pada tujuan pengelolaan air tambak.  Secara garis besar tujuan dari kegiatan ini terbagi dalam 3 kelompok yaitu : (a) Menjaga atau mempertahankan kualitas air yang sudah sesuai dengan tolok ukur berlaku berdasarkan pengamatan lapangan maupun teori; (b) Memperbaiki kualitas perairan yang kurang sesuai ke arah yang lebih baik; (c) Mengganti perairan tambak yang dapat membahayakan bagi udang dengan perairan yang baru untuk menciptakan lingkungan perairan yang lebih sesuai dengan kondisi dan kualitas udang.
  2. Metode yang digunakan harus tepat sasaran sesuai dengan parameter yang akan dikelola yaitu kecerahan air, warna air tambak, kondisi fisik air tambak dan kondisi dasar tambak.  Parameter tersebut membutuhkan pendekatan metode tersendiri yang tetap mengacu pada keterkaitan satu sama lain;
  3. Metode yang digunakan harus dapat menyentuh akar permasalahan kualitas air yang sebenarnya.  Permasalahan kualitas air tambak dapat terjadi antara lain karena :(a) Faktor internal tambak, yaitu permasalahan yang terjadi karena terganggunya salah satu unsur penyusun ekosistem perairan tambak;( b) Faktor eksternal tambak, yaitu permasalahan yang diakibatkan oleh adanya pengaruh dari luar tambak seperti perubahan cuaca yang menyebabkan kestabilan perairan terguncang;(c) Faktor treatment error yaitu permasalahan yang terjadi akibat kesalahan perlakuan teknis budidaya.

Dasar pertimbangan seperti yang telah diuraikan di atas bertujuan agar penerapan metode yang digunakan dalam pengelolaan kualitas air tambak dapat  berjalan efektif dan efisien baik secara teknis budidaya maupun perhitungan finansial.  Beberapa metode yang biasa digunakan dalam pengelolaan kualitas air tambak antara lain :

  • Sirkulasi air;
  • Pemupukan air;
  • Inokulasi air;
  • Penggunaan bahan kimia dan obat-obatan

Metode tersebut di atas dalam penerapannya tidak dapat berdiri sendiri dan mempunyai keterkaitan satu sama lain tergantung pada tingkat urgency dan skala prioritas dari perlakuan teknis budidaya yang akan diberikan berdasarkan pengamatan dan identifikasi keperluan yang ditemukan di lapangan.  Metode pengelolaan kualitas air tambak yang dilakukan secara terpisah akan mengakibatkan keseimbangan ekosistem perairan tersebut terganggu sehingga dapat menyebabkan suatu permasalahan yang baru yang lebih kompleks.  Uraian di bawah ini akan membahas metode pengelolaan air tambak tersebut secara mendetail yang berkaitan dengan kenyataan di lapangan

Sirkulasi Air

Perairan yang terbentuk di dalam petakan tambak dapat dikatakan merupakan perairan yang menggenang dalam suatu wadah yang terbatas, sehingga memerlukan suplai air dari luar untuk meregenerasi perairan dan proses-proses yang terjadi didalamnya agar bersifat lebih dinamis dan memberikan suasana nyaman bagi udang dan organisme lainnya yang hidup di perairan tersebut.

Sirkulasi air tambak dapat diartikan sebagai proses penggantian air di dalam tambak dengan jalan membuang sebagian air tambak melalui saluran pembuangan untuk digantikan dengan air baru yang dimasukkan melalui saluran pemasukkan.  Pada tambak-tambak tradisional proses sirkulasi air ini sepenuhnya mengandalkan pasang surut air laut, sedangkan pada tambak intesive sudah menggunakan pompa air sebagai alat bantu untuk memasukan air laut ke dalam tambak.  Meski demikian secara garis besar sirkulasi air tambak tetap mengacu pada kondisi pasang surut yang terjadi di wilayah tersebut, sehingga kualitas air yang dimasukkan ke dalam tambak tidak terkontaminasi dengan dasar perairan.  Beberapa faktor sumber air tambak lainnya yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan sirkulasi air adalah :

1)  Kualitas sumber perairan yang meliputi :

Biologi : ketersediaan bibit plankthon, keberadaan predator dan competitor bagi udang, ketersediaan pakan alami udang, dsb,

Kimia : kandungan H2S, NH3, tingkat keasaman (pH), dsb;

Fisika : pasang surut, salinitas, kekeruhan air, dsb.

2)   Kondisi fisik air yang meliputi, dasar perairan, dan kandungan partikel yang melayang-layang di

air, dsb;

3)   Aktifitas kegiatan manusia seperti alur pelayaran, penangkapan ikan, dsb;

4)   Pencemaran perairan dari lingkungans ekitarnya dan merugikan bagi kegiatan budidaya ;

Berdasarkan pemikiran bahwa proses sirkulasi air adalah untuk memperbaiki atau mempertahankan kualitas air, maka ke empat faktor di atas harus benar-benar diperhatikan agar jangan sampai dengan melakukan sirkulasi air, kualitas perairan di dalam tambak mengalami degradasi atau bertambah rusak.

Sumber air yang dimasukkan ke dalam tambak ada beberapa macam, tergantung dari teknologi dan lokasi dimana tambak tersebut berada.  Beberapa sumber air dan cara yang biasa digunakan dalam proses sirkulasi air tambak antara lain sebagai berikut :

1. Air laut yang dimasukkan secara langsung ke dalam tambak dengan bantuan pasang surut ataupun melalui alat bantu yang berupa pompa air.  Cara ini digunakan pada lahan tambak yang relatif dekat atau berhadapan langsung dengan laut dan perlu memperhatikan kondisi dan kualitas air laut sebelum dimasukkan ke dalam tambak secara langsung.   Pada tambak yang menggunakan pompa air sebagai alat bantunya akan membutuhkan investasi yang cukup besar untuk pemasangan instalasi pompa air beserta paralon yang dirangkai sampai batas pantai, sedangkan dari segi lahan cara ini rentan terhadap pengikisan air laut terhadap lahan tambak;

2. Air sungai yang masih bersifat payau dan dimasukkan ke dalam tambak secara langsung dengan bantuan pasang surut ataupun melalui alat bantu yang berupa pompa air.  Cara ini biasa digunakan pada tambak yang letaknya relatif agak jauh dari laut atau dekat dengan laut dan sungai dengan pertimbangan pemasangan instalasi pompa air relatif lebih sederhana dibandingkan dengan pengambilan air langsung dari laut.   Cara ini rentan terhadap sedimentasi dan pencemaran limbah sungai yang berasal dari rumah tangga maupun industri yang berada di sekitar area sungai;

3. Sistem ‘tandon’, yaitu petakan/lahan yang dibuat sebagai tempat penampungan air laut atau air sungai sebagai sumber pemasukan air tambak.  Pada sistem ini, air di dalam tandon biasanya diberi perlakuan teknis sebelum dimasukkan ke dalam tambak, sehingga kualitas air yang dimasukkan sudah terkontrol dari segi kuantitas dan kualitasnya.  Sistem ini dapat dikatakan merupakan cara yang relatif ideal bagi kegiatan budidaya karena air dari laut telah diendapkan dan segala faktor yang merrugikan bagi kegiatan budidaya telah diminimalkan melalui perlakuan teknis yang telah diberikan;

4. Sistem water recircle yaitu proses daur ulang air dari saluran pembuangan tambak ditampung kembali ke dalam suatu tandon melalui proses sterilisasi dan dijadikan sebagai sumber pemasukan air tambak.  Cara ini biasa digunakan pada tambak yang relatif jauh dari laut maupun sungai atau sebagai antisipasi jika air laut dan sungai sedang mengalami masalah sehingga tidak memungkinkan untuk dimasukkan ke dalam tambak.  Bisa dikatakan cara ini merupakan cara yang paling rentan terhadap masalah dibandingkan dengan beberapa cara lainnya, karena air pembuangan yang dimasukkan kembali kedalam tambak merupakan air kotor meski sudah melalui proses sterilisasi.

Selain sumber pemasukan air seperti telah diuraikan di atas, sirkulasi air juga memerlukan saluran pembuangan air tambak yang berfungsi selain untuk mengatur volume air tambak juga untuk membuang kotoran dan lumpur di dasar tambak.  Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembuangan air tambak dan perlu dipertimbangkan antara lain :

1. Desain dan konstruksi antara dasar tambak dengan saluran pembuangan air tambak memungkinkan kelancaran sirkulasi dan tidak berpotensi menimbulkan penyumbatan pada salurannya;

2. Saluran pembuangan lebih tinggi dari kondisi pasang surut terendah, sehingga dalam proses pembuangan air tambak tidak mengalami kendala yang disebabkan oleh pasang surut;

3. Saluran pembuangan harus dilengkapi dengan pintu/paralon pembuangan yang dapat digunakan untuk mengatur pembuangan air dasar tambak, pertengahan dan permukaan air;

4. Saluran pembuangan terutama bagian sentral memiliki filter yang dapat mencegah keluar/lolosnya udang pada saat dilakukan pembuangan air tambak;

5  Saluran pembuangan harus terpisah dengan sumber pemasukan air tambak sehingga tidak terjadi kontaminasi air yang akan digunakan dalam proses budidaya;

6. Saluran pembuangan air tambak sedapat mungkin berhubungan dengan sungai atau kanal khusus sehingga kotoran dan lumpur tambak yang terbuang dapat terbawa arus dan tidak mengendap di satu tempat yang menyebabkan terjadinya sedimentasi saluran pembuangan;

Sirkulasi air tambak yang didukung dengan sistem pemasukan air dan sistem pembuangan air yang memadai akan menunjang kelancaran sirkulasi air di dalam kegiatan pengelolaan kualitas perairan tambak.  Kegiatan sirkulasi air tambak dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung pada tingkat kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi.  Metode yang biasa digunakan dalam kegiatan budidaya udang adalah :

1. Sirkulasi air dengan pola buang isi, yaitu pergantian air tambak dengan cara melakukan pembuangan air tambak sampai pada volume tertentu terlebih dahulu yang kemudian dilanjutkan dengan pengisian kembali air baru ke dalam tambak sampai pada volume yang dikehendaki.  Sirkulasi air dengan cara ini biasa digunakan pada kasus :

  • Air laut mengalami surut terendah sehingga menunjang kelancaran proses pembuangan air tambak dan tidak memungkinkan untuk mengisi air baru dari laut;
  • Menjaga/mempertahankan kualitas air tambak yang sudah terbentuk dengan volume pembuangan air tidak terlalu besar dan tidak menimbulkan guncangan, sedangkan pengisian air bertujuan untuk regenerasi plankthon;
  • Penumbuhan dan pembentukan plankthon yang baru, yaitu pembuangan volume air tambak yang relatif besar sehingga ketinggian air tambak relatif rendah, kemudian dilakukan pengisian air baru secara bertahap yang diimbangi dengan pemupukan
  • Pembuangan kotoran/lumpur dasar tambak secara rutin;

2. Sirkulasi air dengan pola isi buang, yaitu pergantian air tambak dengan cara melakukan pengisian air ke dalam tambak terlebih dahulu yang kemudian dilanjutkan dengan pembuangan air tambak sampai pada volume yang dikehendaki. Sirkulasi air dengan cara ini biasa digunakan pada kasus :

Sirkulasi air pada awal tebar benur.  Ketinggian air tambak pada saat tebar relatif rendah, sehingga sirkulasi air yang dilakukan hanya dengan menambahkan air baru  ke dalam tambak secara bertahap sampai pada ketinggian yang dikehendaki, kemudian baru dilakukan pembuangan air tambak.  Metode ini bertujuan antara lain :

  • mengurangi keluarnya udang yang masih berukuran sangat kecil melalui saluran pembuangan;
  • menumbuhkan pakan alami di dalam tambak yang diperlukan oleh benur;
  • mengontrol kecerahan air tambak dan kelimpahan plankthon yang sesuai dengan kebutuhan benur/udang muda.
  • Pembentukan plankthon ke arah yang stabil dengan volume air yang dimasukkan ke dalam tambak lebih besar dibandingkan dengan air tambak yang dibuang;
  • Membantu mengatasi saluran pembuangan yang kurang lancar/mampet.  Air tambak yang yang relatif tinggi mempunyai daya dorong yang kuat pada saluran pembuangan sehingga diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut.

3. Sirkulasi air dengan pola oplos yaitu melakukan pengisian air ke dalam tambak secara bersamaan dengan pembuangan air tambak sampai batas waktu yang dikehendaki.  Pada sirkulasi ini ketinggian dan volume air tambak relatif tetap karena perbandingan air masuk dan air keluar tambak relatif sama. Sirkulasi air dengan cara ini biasa digunakan pada kasus :

  • Perbaikan kualitas air tambak yang collaps dengan tidak mengguncang volume air di dalam tambak;
  • Penanganan air tambak yang berpartikel.  Pada kondisi seperti ini sirkulasi dilakukan secara kontinyu untuk memgeluarkan partikel tersebut keluar tambak, kemudian dilakukan pemberian saponin yang bertujuan mengikat partikel yang tersisa di dalam tambak;

Populasi udang di dalam tambak relatif padat dengan tingkat kebutuhan pakan tinggi.  Pada kondisi seperti ini sirkulasi yang dilakukan bertujuan antara lain :

  • Mempertahankan tingkat kesegaran air yang diperlukan udang dengan meminimalkan kesenjangan waktu antara pembuangan air dan pemasukan air tambak;
  • Meminimalkan waktu terjadinya akumulasi sisa pakan dan metabolisme udang di dasar tambak;
  • Menekan terjadinya guncangan kualitas perairan yang dapat membahayakan bagi udang di dalam tambak dengan populasi relatif padat.

4. Sirkulasi air tambak dengan pola penggantian air tambak secara total, yaitu dengan melakukan pembuangan air sampai ke dasar tambak kemudian baru dilakukan pengisian air secara bertahap.  Sirkulasi air dengan cara ini biasa digunakan pada kasus :

  • Tingkat kualitas perairan tambak relatif jelek dan membahayakan kehidupan udang, sehinggga diperlukan perairan yang benar-benar baru dan diharapkan dapat  menciptakan suasana nyaman bagi udang;
  • Udang terkena masalah yang disebabkan karena kondisi perairan yang jelek sehingga dengan mengurangi volume air tambak dalam skala besar diharapkan dapat merangsang udang untuk melakukan moulting massal;
  • Sebagai upaya melihat/memantau populasi udang di dalam tambak secara langsung untuk memberi kepastian sebagai dasar pengambilan keputusan secara teknis budidaya.

Pola sirkulasi air tambak sebagai salah satu metode pengelolaan kualitas perairan dalam penerapannya sangat tergantung dari pengamatan dan kondisi yang sedang terjadi di lapangan.  Proses pengambilan keputusan tentang sirkulasi air tambak harus tetap mengacu pada keterkaitan teknis budidaya lainnya serta mempertimbangkan faktor sebab akibat yang akan ditimbulkan berdasarkan argumen dan alasan yang dapat diterima secara ilmiah.

Pemupukan Air Tambak

Keberadaan plankthon terutama dari jenis phytoplankthon di dalam ekosistem perairan tambak mempunyai peran yang sangat besar terhadap kestabilan dan produktifitas perairan yang sangat dibutuhkan oleh organisme yang berada di dalamnya dalam melakukan aktifitas kehidupannya.  Peran dan fungsi utama plankthon (phytoplankthon) di dalam perairan yang dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan pengelolaan kualitas air antara lain :

  1. Phytoplankthon merupakan produsen utama dalam rantai makanan yang terdapat di dalam ekosistem perairan tersebut, sehingga tingkat produktivitasnya akan berpengaruh pada produktifitas perairan;
  2. Phytoplankthon merupakan salah satu penyuplai oksigen melalui proses fotosintesa dengan bantuan sinar matahari yang dibutuhkan organisme lainnya untuk melakukan respirasi di dalam perairan;
  3. Oksigen (O2) yang dihasilkan phytoplankthon dapat menekan terjadinya proses kimiawi perairan yang bersifat racun dan membahayakan bagi udang dan organisme lainnya;
  4. Phytoplankthon merupakan shelter bagi udang yang bersifat nocturnal dan phototaksis negatif;

Seperti telah disebutkan pada uraian di atas sebagai jenis tanaman phytoplankthon mempunyai chlorophyl (zat hijau daun) yang berperan dalam proses fotosintesa di dalam perairan dengan bantuan sinar matahari.  Tingkat produktifitas phytoplankthon ditentukan oleh ketersediaan unsur hara yang tersedia di dalam tambak baik yang berasal dari tanah maupun perairan setempat.  Pada kondisi tertentu phytoplankthon membutuhkan suplai unsur hara dan zat lainnya baik yang bersifat organik maupun an organik untuk memacu peningkatan produktifitasnya di dalam perairan.

Pemupukan air tambak pada dasarnya merupakan salah satu perlakuan teknis budidaya yang berupa pemberian pupuk organik maupun an organik untuk menyuplai zat-zat yang dibutuhkan phytoplankthon di dalam tambak dengan dosis sesuai dengan tingkat keperluan.  Kegiatan pemupukan air tambak bertujuan antara lain:

  1. Mengatur dan mengontrol tingkat kecerahan air tambak agar sesuai dengan tingkat kebutuhan udang;
  2. Mengatur dan mengontrol kestabilan plankthon di dalam tambak agar sesuai dengan tingkat kebutuhan udang;
  3. Memacu pertumbuhan bibit plankthon pada perairan yang sedang diperbaiki kualitasnya;

Syarat utama melakukan kegiatan pemupukan air tambak adalah ketersediaan bibit plankthon dan adanya sinar matahari.  Pemupukan yang dilakukan pada perairan tambak yang tingkat ketersediaan bibit plankthonnya sangat minim/tidak ada sama sekali dapat menimbulkan tumbuhnya lumut di dalam tambak atau munculnya kamuflase color yang sangat berpengaruh terhadap kondisi udang atau teknis budidaya.

Sinar matahari sangat dibutuhkan dalam kegiatan pemupukan air tambak yaitu untuk membantu proses fotosintesa plankthon sehingga suplai unsur-unsur dalam pupuk yang diperairan dapat diserap oleh plankthon dan memacu pertumbuhan dan perkembangannya.  Berlandaskan pada dasar pemikiran tersebut maka sebaiknya pemupukan air tambak dilakukan pagi hari pada saat cuaca cerah.  Pada kondisi cuaca tidak cerah/musim hujan kegiatan pemupukan sebaiknya dilakukan secara rutin dengan dosis yang sesuai agar tidak terjadi mortalitas plankthon secara massal yang disebabkan karena curah hujan yang tinggi, sehingga kestabilan perairan tambak akan tetap terjaga dari kondisi collaps.

Jenis pupuk an organik yang biasa digunakan dalam kegiatan budidaya adalah urea dan TSP, sedangkan pupuk organik yang biasa digunakan adalah fermentasi saponin dan fermentasi pakan rusak.  Fungsi dan dosis yang digunakan dari masing-masing jenis pupuk tersebut relatif berbeda tergantung dari kondisi perairan dan tingkat kebutuhannya berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lapangan.

Pupuk urea biasanya digunakan untuk memacu atau menumbuhkan phytoplankthon yang bersifat stabil di dalam tambak, sedangkan pupuk TSP untuk menumbuhkan jenis phytoplankthon yang dapat memacu berkembangnya zooplankthon yang dapat dijadikan sebagai pakan alami bagi udang yang masih muda/kecil.  Dosis penggunaan urea yang sering dipakai adalah sekitar tiga kali lipat TSP pada kondisi normal dan pemakaiannya dapat digunakan secara terpisah maupun bersamaan berdasarkan kondisi yang ada di lapangan.

Pupuk organik yang dapat digunakan adalah berupa hasil fermentasi saponin atau fermentasi pakan rusak.  Fungsi dari pupuk ini adalah sebagai suplai unsur hara yang tidak terdapat dalam pupuk an organik dan dibutuhkan oleh plankthon.  Fermentasi dilakukan agar saponin/pakan rusak dalam kondisi hancur sehingga diharapkan mudah diserap oleh plankthon pada saat melakukan fotosintesa.  Selain tujuan tersebut di atas pemberian bahan organik ini juga dimaksudkan untuk penyeimbang komposisi bahan an organik yang ada di perairan tersebut selain itu juga untuk memacu pertumbuhan zooplankthon yang dapat dijadikan sebagai pakan alami bagi udang atau organisme lainnya.  Pemberian pupuk organik bersifat insidental dan dilakukan berdasarkan hasil pengamatan dan tingkat kebutuhan perairan serta kondisi udang.

Pakan yang diberikan ke udang secara prinsip dapat berfungsi sebagai pupuk organik bagi perairan tambak dan membantu dalam proses pembentukan kestabilan plankthon didalam tambak.  Fenomena ini dapat dijumpai dan diamati pada tambak dengan populasi udang yang padat dan jumlah pemberian pakan yang besar.  Pada kondisi ini kestabilan plankthon dalam perairan akan terbentuk dengan sendirinya tanpa adanya pemupukan, karena unsur-unsur yang terdapat dalam pakan udang juga diserap oleh plankthon untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya di perairan tersebut.

Metode pemupukan air tambak erat hubungannya dengan proses sirkulasi air dengan dasar pemikiran bahwa volume air tambak sangat berpengaruh terhadap keefektifan kegiatan pemupukan yang dilakukan.  Kondisi ini dapat diartikan bahwa pada dosis pemakaian pupuk yang sama tingkat pengaruh dan keefektifannya akan relatif berbeda jika diberikan pada tambak dengan volume air yang berbeda.  Berdasarkan hal ini maka sebelum dilakukan pemupukan biasanya dilakukan sirkulasi terlebih dahulu dengan jalan mengurangi volume air dan menambahkan air baru ke dalam tambak sampai pada ketinggian air yang relatif lebih rendah, kemudian baru dilakukan pemupukan.

Kegiatan pemupukan sebaiknya dihindari pada perairan yang mengalami kasus seperti di bawah ini :

  • Kecerahan air tambak sangat rendah sehingga kelimpahan plankthon sangat tinggi.  Pada kondisi ini jika pemupukan tetap dilakukan maka akan mengarahkan perairan tambak pada keadaan plankthon booming yang dapat membahayakan udang, sehingga antisipasi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan sirkulasi air secara kontinyu terutama pada malam hari  dengan tujuan melakukan pengenceran air tambak;
  • Perairan dengan dominansi jenis plankthon yang bersifat merugikan bagi udang;
  • Perairan tambak yang tidak ada bibit plankthonnya.  Kegiatan pemupukan pada perairan dalam kondisi ini akan memacu tumbuhnya lumut di dalam tambak;
  • Perairan tambak yang ditumbuhi lumut dalam jumlah yang besar.  Pemupukan yang dilakukan hanya akan menyuburkan lumut di dalam tambak, sehingga antisipasi yang dapat dilakukan adalah dengan mengangkat lumut tersebut keluar tambak terlebih dulu kemudian baru dilakukan pembentukan air;

Parameter hasil dari kegiatan pemupukan yang biasa digunakan adalah perubahan tingkat kecerahan air dan atau perubahan warna perairan. Pada cuaca cerah hasil dan pengaruh dari pemupukan terhadap perairan tambak dapat dilihat pada sore hari dengan jalan membandingkan perubahan tingkat kecerahan dan warna air sebelum dan sesudah pemupukan.  Kecerahan air tambak digunakan sebagai parameter perubahan kelimpahan plankthon sebagai akibat kegiatan pemupukan, sedangkan perubahan warna perairan digunakan untuk melihat perubahan dominansi jenis plankthon tertentu di perairan tersebut.

Pada cuaca cerah kegiatan fotosintesa yang dilakukan phytoplankthon berjalan relatif sempurna karena terbantu oleh sinar matahari secara langsung yang berakibat penyerapan unsur-unsur yang terdapat di dalam pupuk oleh phytoplankthon juga berlangsung sempurna, sehingga pengaruh dari pemupukan akan segera dapat teramati.

Penggunaan Bahan Kimia

Pada kondisi tertentu pengelolaan kualitas perairan tambak mengalami kendala yaitu tidak dapat diterapkannya teknis budidaya secara optimal untuk menghasilkan kondisi dan kualitas perairan seperti yang diharapkan karena berbagai faktor sehingga memerlukan treatment yang berupa penggunaan bahan-bahan kimia dan obat-obatan kedalam perairan tersebut. Pada dasarnya fungsi dari bahan kimia dan obat-obatan yang digunakan tersebut seperti di bawah ini, yaitu:

  1. Sebagai katalisator dan pemacu proses pembentukan air, yang termasuk dalam kategori ini adalah argon, dan berbagai jenis bakteri yang bersifat menguntungkan dan telah diproduksi secara industri. Bahan-bahan ini digunakan pada perairan tambak dengan kondisi udang yang relatif bagus, tetapi proses pembentukan kualitas air sangat susah dilakukan sehingga jika tidak segera ditangani dapat menimbulkan masalah yang serius bagi udang. Selain itu bahan-bahan ini juga dapat digunakan pada perairan tambak dengan kandungan bibit planktonnya relatif kurang serta tidak memungkinkan untuk dilakukan inokulasi bibit plankton karena kondisi tertentu.
  2. Sebagai disinfectant and sterilisator perairan, yang termasuk dalam kategori ini adalah kalium permanganat (KMNO3), chlorine/kaporit (kalsium hipoklorit), dsb. Bahan-bahan ini biasa digunakan pada perairan tambak dengan kondisi udang yang sudah terindikasi telah terinfeksi suatu penyakit, sehingga treatment ini diharapkan dapat menyelamatkan udang yang belum terinfeksi sekaligus melakukan sterilisasi perairan dari sumber masalah. Selain itu bahan ini juga dapat digunakan untuk menciptakan plankton mortality secara massal pada perairan yang mengalami booming plankton yang sangat pesat dan susah untuk dikendalikan.

Penggunaan bahan-bahan kimia dan obat-obatan di atas dalam penerapannya perlu mempertimbangkan kondisi perairan tambak dan hubungan sebab akibat yang akan ditimbulkan karena treatment tersebut. Pengambilan keputusan harus berdasarkan pemikiran bahwa, selain dasar pemikiran tersebut beberapa aspek yang juga perlu diperhatikan sebagai bahan pertimbangan penggunaan bahan-bahan kimia dan obat-obatan tersebut dalam pengelolaan kualitas perairan adalah sebagai berikut:

  1. Treatment ini dapat menimbulkan guncangan terhadap perairan tambak, sehingga jika tujuan, sasaran, dosis dan timing yang tidak tepat dapat memperburuk keadaan.
  2. Treatment ini lebih mengarah pada shock therapy untuk perbaikan kualitas perairan dan udang dalam jangka pendek.
  3. Secara finansial treatment ini memerlukan biaya produksi yang relatif tinggi untuk jenis bahan-bahan kimia dan obat-obatan tertentu.
  4. Treatment ini sedapat mungkin merupakan alternatif terakhir, jika secara teknis budidaya kualitas perairan tidak mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dan kalau ditangani secara cepat dapat menimbulkan masalah serius bagi udang.

Penerapan treatment dengan menggunakan bahan-bahan kimia dan obat-obatan ini terkait erat dengan sirkulasi air tambak terutama dalam kegiatan pengaturan ketinggian air tambak seperti halnya pada kegiatan pemupukan yang telah diuraikan sebelumnya, yaitu volume air tambak sangat berpengaruh terhadap keefektifan treatmen yang akan dilakukan. Kondisi ini dapat diartikan bahwa pada dosis pemakaian yang sama tingkat pengaruh dan keefektifannya akan relatif berbeda jika diberikan pada tambak dengan volume air yang berbeda. Tahapan-tahapan yang dapat dilakukan dalam penerapan treatment ini adalah sebagai berikut:

  1. Identifikasi tingkat masalah yang dijumpai perairan tambak dan tingkat pengaruhnya terhadap kegiatan budidaya.
  2. Jika permasalahan yang ditemukan dianggap cukup serius maka perlu dilakukan penurunan ketinggian air tambak sekitar 50 %.
  3. Pada ketinggian air tambak yang relatif rendah dilakukan sirkulasi air dengan cara oplos sesuai dengan kebutuhan.
  4. Pemberian bahan-bahan kimia/obat-obatan ke dalam perairan dengan dosis sesuai dengan tingkat masalah yang dialami.
  5. Sirkulasi air tambak dihentikan dan pengoperasian kincir air diintensifkan agar perlakuan yang telah diberikan dapat memberikan hasil yang optimal.
  6. Jika kualitas perairan dan kondisi udang menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, maka sirkulasi air tambak dilakukan kembali ke arah penambahan air tambak dan perbaikan kualitas perairan yang lebih stabil.
  7. Jika kualitas perairan dan kondisi udang tidak mengalami perbaikan dan cenderung bertambah parah maka pengambilan keputusan sebaiknya mengarah pada pemanenan dengan mempertimbangkan biaya produksi yang telah dikeluarkan dan estimasi hasil panen berdasarkan harga, size dan kualitas udang.

Penggunaan bahan-bahan kimia dan obat-obatan didalam pengelolaan kualitas air tambak tidak direkomendasikan pada udang dalam kondisi normal yang siap panen. Perlakuan ini dikhawatirkan dapat terserap tubuh udang melalui proses metabolismenya ataupun terabsorpsi pada saat udang melakukan moulting dan dapat mempengaruhi kualitas udang yang dihasilkan. Pada beberapa tahun terakhir telah dilakukan pengujian mutu udang melalui peraturan yang ketat oleh beberapa negara tujuan ekspor, terutama terhadap udang yang mengandung unsur logam berat dan zat-zat yang dianggap berbahaya.

Permasalahan Kualitas Air Tambak

Perairan tambak merupakan jenis perairan tertutup yang menggenang dan dibatasi oleh petakan tambak, sehingga ditinjau dari dinamika perairan relatif bersifat statis dan kualitas perairannya sangat tergantung dari pengaruh/perlakuan dari luar.  Ekosistem yang terbentuk di dalamnya dapat dikatakan bukan suatu ekosistem yang dapat mengontrol keseimbangan dan kestabilan perairan tersebut dengan sendirinya seperti pada ekosistem perairan yang bersifat alami dan terbuka.  Suatu ekosistem perairan yang selalu terjaga dalam keseimbangan dan kestabilannya merupakan suatu area yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi komunitas organisme yang hidup di dalamnya.

Keseimbangan ekosistem perairan dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu unsur-unsur penyusunnya terdiri atas komposisi yang ideal ditinjau dari segi jenis dan fungsinya yang membentuk suatu rantai makanan di dalam perairan tersebut.   Faktor lainnya yang menentukan keseimbangan ekosistem perairan adalah proses-proses yang terjadi di dalamnya baik yang bersifat biologi, kimia dan fisika berlangsung dalam kondisi yang ideal pula dan membawa pengaruh yang tidak membahayakan bagi kehidupan di dalam perairan tersebut.

Kestabilan ekosistem perairan berarti kemampuan ekosistem tersebut mempertahankan keseimbangannya dalam menghadapi perubahan atau guncangan yang disebabkan oleh pengaruh dari luar.  Suatu ekosistem perairan dengan tingkat keseimbangan yang bersifat fluktuatif akan memberikan dampak yang cukup nyata bagi kehidupan yang berada di dalamnya, sehingga dengan sendirinya akan menjadi suatu tempat yang tidak kondusif bagi organisme yang hidup di dalam ekosistem perairan tersebut.

Berdasarkan pada uraian di atas maka ekosistem perairan tambak yang merupakan ekosistem tertutup sangat rentan terhadap timbulnya permasalahan baik yang menyangkut kualitas perairan tambak maupun kondisi dan kualitas udangnya.  Permasalahan kualitas perairan tambak secara garis besar dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu antara lain :

  1. Faktor internal, yaitu permasalahan yang disebabkan oleh kondisi dari dalam perairan tambak itu sendiri.  Pada kondisi ini terjadi karena proses-proses yang berlangsung di dalamnya cenderung tidak terkendali dan tidak dapat dikontrol oleh mekanisme keseimbangan yang bersifat alami;
  2. Faktor eksternal, yaitu permasalahan yang disebabkan oleh pengaruh dari luar tambak dan biasanya karena adanya perubahan cuaca;
  3. Faktor treatment error, yaitu permasalahan kualitas perairan yang disebabkan oleh kesalahan teknis budidaya yang diterapkan.  Kondisi ini terjadi karena pengambilan keputusan yang tidak berdasarkan pengamatan dan analisis yang cermat sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan.

Permasalahan kualitas perairan tambak sebaiknya dapat diketahui dan diidentifikasi secara dini agar guncangan yang terjadi didalam perairan tersebut tidak menimbulkan masalah yang lebih serius bagi udang.  Mengacu pada pengamatan kondisi dan kualitas udang di dalam perairan tambak, maka tingkat permasalahan kualitas air tambak dapat digolongkan ke dalam tiga kategori yaitu :

  1. Ringan.  Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak belum mempengaruhi kondisi, kualitas, sifat/behaviour dan aktifitas udang di dalam perairan.  Permasalahan yang timbul baru sebatas pada perubahan kondisi lingkungan perairan tambak;
  2. Sedang.  Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak belum mempengaruhi kondisi dan kualitas udang, tetapi sudah berpengaruh nyata pada sifat/behaviour dan aktifitas udang di dalam perairan tersebut seperti udang melakukan konvoi, nafsu makan menurun dan cenderung pasif;
  3. Berat.  Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak sudah berpengaruh nyata pada kondisi, kualitas, sifat/behaviour dan aktifitas udang di dalam perairan, seperti udang mulai terinfeksi penyakit, melayang-melayang di permukaan air, banyak menempel di dinding petakan tambak, pemunculan di ancho sangat banyak dan gerakannya sangat pasif;
  4. Sangat Berat.  Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak sudah mengakibatkan kematian massal bagi udang, sehingga pengambilan keputusan yang lebih mengarah pada pemanenan.

Tingkat permasalahan kualitas air bisa dikatakan memiliki korelasi dengan pengelolaan kualitas perairan yang dilakukan sebelum perairan terkena masalah terutama yang menyangkut tingkat ketelitian pengamatan kondisi perairan dan udang, metode pengelolaan air, treatmen yang telah digunakan, serta jangka waktu penanganan masalah tersebut.  Suatu permasalahan kualitas yang tidak teridentifikasi dan terindikasi sejak dini akan memperberat tingkat permasalahan tersebut, karena terjadi akumulasi permasalahan yang semakin berkembang serta dapat menjalar ke permasalahan aspek lainnya.  Jika kondisi ini terjadi maka tingkat permasalahan tersebut tidak hanya bertambah berat tapi juga akan semakin rumit dalam proses pengambilan keputusannya.

Sebagaimana telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, bahwa parameter yang dapat digunakan secara praktis sebagai tolok ukur kualitas perairan tambak meliputi kecerahan air, warna air (plankthon), kondisi fisik perairan, dan kondisi dasar tambak.  Permasalahan kualitas air tambak yang sering dijumpai dalam kegiatan budidaya udang juga menyangkut keempat parameter tersebut, yaitu :

  1. Permasalahan kualitas perairan tambak yang disebabkan karena kecerahan air atau kelimpahan plankthon di dalam tambak, yaitu kecerahan air tambak yang terlalu tinggi dan terlalu rendah;
  2. Permasalahan kualitas perairan tambak yang disebabkan karena warna perairan atau faktor plankthon yang ada di dalam perairan yang menyangkut dominansi jenis plankthon yang bersifat merugikan bagi udang, misalnya warna air tambak hijau pupus, kuning, blue green algae, dsb;
  3. Permasalahan kualitas perairan tambak yang disebabkan karena kondisi fisik air tambak yang dapat mengganggu kehidupan udang, misalnya air tambak berdebu, air tambak berpartikel, munculnya klekap di permukaan air, dsb;
  4. Permasalahan kualitas perairan tambak yang disebabkan karena kondisi dasar tambak yang tidak kondusif bagi kehidupan udang, misalnya akumulasi lumpur hitam yang banyak mengandung H2S dan sangat membahayakan bagi udang.

Penjelasan tentang permasalahan-permasalahan seperti tersebut di atas  secara rinci telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya dan dapat dilihat pada Matriks Identifikasi Masalah Air Tambak.pdf

Selain itu ada satu jenis permasalahan yang menyangkut perairan tambak dan tidak ada keterkaitannya dengan keempat permasalahan di atas yaitu adanya biota perairan yang bersifat predator dan competitor bagi udang serta hidup dan berkembang di dalam tambak.

Predator adalah biota yang yang memangsa udang di dalam tambak seperti jenis ikan kakap, ikan selangi, ikan kuro, dan berbagai jenis ikan carnivora lainnya.  Pemunculan jenis predator di dalam perairan tambak relatif tidak berpengaruh nyata pada kualitas perairan baik dari segi keseimbangan dan kestabilannya, tetapi sangat berpengaruh pada tingkat kehidupan dan populasi udang di dalam tambak.

Competitor adalah biota perairan yang ikut bersaing dengan udang dalam hal konsumsi makanan yang ada di dalam tambak ataupun pakan yang telah diberikan ke dalam tambak seperti jenis ikan mujahir, ikan nila, kepiting dan jenis biota lainnya yang ikut mengkonsumsi pakan udang.  Seperti halnya predator maka keberadaan jenis biota ini di dalam tambak hanya berpengaruh nyata pada program pemberian pakan udang yang telah ditentukan dan tidak mempengaruhi kualitas perairan tambak.

Pemunculan predator dan kompetitor udang di dalam tambak dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

  1. Proses penyiapan lahan tebar benur yang kurang maksimal, sehingga predator dan kompetitor udang yang masuk ke dalam tidak mati secara tuntas;
  2. Saluran pemasukan air tanpa adanya filterisasi, sehingga predator dan kompetitor udang dapat masuk ke dalam perairan tambak;
  3. Predator dan kompetitor udang masuk ke dalam perairan tambak masih berupa telur atau larva meskipun saluran pemasukan airtambak sudah dilakukan filterisasi.

Keberadaan jenis serta kelimpahan predator dan kompetitor udang di dalam tambak akan membawa dampak yang serius jika jumlahnya sudah sangat melimpah dan tidak segera ditangani.  Indikasi keberadaan predator dan kompetitor udang di dalam tambak dapat diketahui melalui cara, antara lain :

  1. Pengamatan pada saat dilakukan sampling udang secara berkala, karena biasanya predator dan kompetitor udang akan ikut terbawa bersama jala sampling sehingga jenis dan perkiraan kelimpahannya di dalam tambak dapat diketahui;
  2. Pengamatan dan identifikasi predator dan kompetitor udang pada saat dilakukan pengecekkan ancho secara rutin;
  3. Pengamatan dan identifikasi predator dan kompetitor udang secara langsung melalui gerak dan aktifitas predator dan kompetitor udang di dalam tambak.

Pengendalian dan pemusnahan predator dan kompetitor udang di dalam tambak dapat dilakukan dengan menggunakan saponin dengan dosis yang mematikan bagi keduanya.  Kegiatan ini dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan kualitas udang pada saat itu dan sebaiknya jangan dilakukan pada saat udang dalam kondisi lemah atau pada saat udang sedang moulting massal.  Pemberian saponin ke dalam tambak sedapat  mungkin dilakukan pada saat cuaca cerah dan sinar matahari sangat terik serta ketinggian air tambak relatif rendah yang dimbangi dengan pengoperasian kincir yang intensif, karena pada kondisi seperti ini pengaruh dari saponin akan sangat efektif dan mematikan bagi predator dan kompetitor udang.  Setelah perlakuan pemberian saponin bangkai dari predator dan kompetitor udang yang ada di tambak sebaiknya segera diangkat keluar tambak agar tidak mengotori dan membusuk di tambak, dan selanjutnya kualitas perairan tambak dibentuk dan diperbaiki kembali agar tidak mempengaruhi udang dengan cara melakukan sirkulasi air.

Permasalahan kualitas air tambak memerlukan pendekatan yang komprehensif yaitu perairan tambak dipandang sebagai suatu ekosistem dimana unsur-unsur yeng berada di dalamnya mempunyai keterkaitan satu sama lain, sehingga apabila ada salah satu unsur penyusunnya terkena suatu masalah maka akan berpengaruh terhadap keharmonisan hubungan satu sama lain di dalam perairan tersebut.  Perairan tambak sebagai suatu ekosistem yang tertutup mempunyai angka ketergantungan yang tinggi terhadap kemampuan teknis budidaya terutama dalam pengelolaan kualitas airnya untuk membentuk suatu kondisi yang kondusif bagi organisme yang hidup di dalamnya.  Prinsip dasar yang harus menjadi bahan pertimbangan dalam pengelolaan kualitas perairan tambak dan permasalahannya adalah dalam kegiatan usaha budidaya ini yang menjadi subyek utama adalah kondisi dan kualitas udang yang bernilai ekonomis, sehingga setiap pengambilan keputusan yang akan diambil harus bermuara pada udang dengan mengacu pada perhitungan biaya dan tingkat provite value dari udang yang telah dihasilkan.  Begitu pula sebaliknya perhitungan biaya yang menyangkut teknis pengelolaan kualitas air jangan sampai menghasilkan kondisi dan kualitas udang yang tidak optimal.