I. Pendahuluan

Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala, dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah, atau gejala yang dikaji. Alat yang dimaksud adalah sensor dari satelit sedangkan data yang dihasilkan berupa citra satelit. Saat ini satelit pengideraan jauh yang banyak digunakan antara lain: Landsat, SPOT, NOAA, Ikonos, dan Quick Bird.

Pada awalnya penginderaan jauh kurang dipandang sebagai bagian dari geografi, dibandingkan kartografi. Meskipun demikian, lambat laun disadari bahwa penginderaan jauh merupakan satu-satunya alat utama dalam geografi yang mampu memberikan synoptic overview –pandangan secara ringkas namun menyeluruh– atas suatu wilayah sebagai titik tolak kajian lebih lanjut. Penginderaan jauh juga mampu menghasilkan berbagai macam informasi keruangan dalam konteks ekologis dan kewilayahan yang menjadi ciri kajian geografis. Di samping itu, dari sisi persentasenya, pendidikan penginderaan jauh di Amerika Serikat, Australia dan Eropa lebih banyak diberikan oleh bidang ilmu (departemen, ‘school’ atau fakultas) geografi.

Estes dan Simonett (1975) dalam Sutanto (1992) mengatakan bahwa interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi objek dan menilai arti pentingnya objek tersebut. Pengalaman sangat menentukkan hasil interpretasi, karena persepsi pengenalan objek bagi orang2 yang berpengalaman biasanya lebih konstan atau dengan kata lain pengenalan objek yang sama pada berbagai bentuk citra akan selalu sama. Misalkan pada citra A dianggap sebuah pemukiman, maka pada citra B atau C pun tetap bisa dikenal sebagai pemukiman walaupun agak sedikit berbeda dalam penampakannya.

Alat ukur yang digunakan dapat penggunakan wahana pesawat terbang atau satelit yang  akan melintasi  permukaan  bumi  tersebut.  Jenis  alat  ukur  yang  digunakan  akan sangat bergantung dengan karakter dari gelombang elektromagnetik yang akan dideteksi. Untuk  mendeteksi  elemen  air,  misalnya  digunakan  detector  gelombang  infra  merah, karena elemen air mempunyai karakter suhu yang berbeda dengan eleman lainnya yang dapat  di  klasifikasikan  dengan  gelombang  elektromagnetik  pada  frekwensi  tersebut.

Untuk mendeteksi kondisi tanah/daratan, digunakan gelombang elektromagnetik pada  frekwensi  cahaya  tampak  (merah,  biru,  dan  hijau)  karena  pada spectrum  ini  akan dapat  diklasifikasi  kondisi  lahan  (kering,  basah,  batuan)  dan  vegetasi (jenis,  usia,  dan  kesehatan  tanaman).  Pada  sistem  yang  menggunakan  spectrum cahaya tampak, hasil deteksi amat tergantung pada kondisi iluminasi atas permukaan bumi (dari cahaya  matahari).  Oleh  sebab  itu  orbit  yang  dipilih  bagi  satelit  tersebut  adalah  sunsynchronous  orbit,  yakni  orbit  rendah  (dibawah  1000  km)   berorientasi  polar,  yang pergeseran  ground-tracktnya  membuatnya  dapat  melihat  bumi  dengan  iluminasi  yang sama sepanjang tahun.

II. Teknik Pengumpulan Data

Data dapat dikumpulkan dengan berbagai macam peralatan tergantung kepada objek atau fenomena yang sedang diamati. Umumnya teknik-teknik penginderaan jarak jauh memanfaatkan radiasi elektromagnetik yang dipancarkan atau dipantulkan oleh objek yang diamati dalam frekuensi tertentu seperti inframerah, cahaya tampak, gelombang mikro, dsb. Hal ini memungkinkan karena faktanya objek yang diamati (tumbuhan, rumah, permukaan air, udara dll) memancarkan atau memantulkan radiasi dalam panjang gelombang dan intensitas yang berbeda-beda. Metode penginderaan jarak jauh lainnya antara lain yaitu melalui gelombang suara, gravitasi atau medan magnet.

III. Penginderaan Jauh pada Beberapa Objek

Di masa modern, istilah penginderaan jarak jauh mengacu kepada teknik yang melibatkan instrumen di pesawat atau pesawat luar angkasa dan dibedakan dengan penginderaan lainnya seperti penginderaan medis atau fotogrametri. Walaupun semua hal yang berhubungan dengan astronomi sebenarnya adalah penerapan dari penginderaan jarak jauh (faktanya merupakan penginderaan jarak jauh yang intensif), istilah “penginderaan jarak jauh” umumnya lebih kepada yang berhubungan dengan teresterial dan pengamatan cuaca.

Untuk itu digunakan kamera yang terpasang pada wahana ruang angkasa yang diluncurkan ke angkasa luar dan sering disebut sebagai satelit.

Satelit merupakan suatu benda yang beredar mengelilingi suatu objek yang lebih besar, contohnya bumi yang merupakan satelit dari matahari, ataupun bulan yang selalu mengitari bumi. Bumi atau bulan merupakan satelit alami sedangkan wahana ruang angkasa yang diluncurkan manusia ke angkasa luar merupakan satelit buatan .

Kamera yang dipasang pada satelit berfungsi sebagai indera penglihatan yang melakukan perekaman terhadap permukaan bumi pada saat satelit tersebut beredar mengitari bumi menurut garis orbit atau edarnya. Sensor yang ada pada kamera akan mendeteksi informasi permukaan bumi melalui energi radiasi matahari yang dipantulkan oleh permukaan keatas, data energi pantulan radiasi ini diolah menjadi gejala listrik dan data dikirim ke stasiun pengolahan satelit yang ada di bumi.

Suatu Ei yang sampai di permukaan bumi terdiri dari sinar tampak (visible light), sinar infra merah dekat (Near Infra Red / NIR) dan infra merah gelombang pendek (Short Wave Infra Red / SWIR). Komponen Ei yang sampai dipermukaan bumi akan terbagi atas ER (Reflect Electromagnetic), EA adalah gelombang elektromagnetik yang diserap (Absorp Electromagnetic), Ee gelombang elektromagnetik yang teremisi (Emission Electromagnetic) dan ET (Transmittant Electromagnetic) yaitu diteruskan. Skema peredaran dan interaksi gelombang elektromagnetik ini

Komponen dari ER berasal dari spektrum cahaya tampak dan infra merah dekat. Sebagian dari Ei ada juga yang diserap (EA = Energy Adsorp) yang berada pada spektrum infra merah thermal. ET yang merupakan energy yang diteruskan akan berada pada spektrum daerah visibel biru dan hijau. Semakin besar energi yang diserap maka suhu objek yang naik pula yang mengakibatkan timbulnya radiasi emisi atau Ee yang semakin tinggi pula. Untuk ER tergantung kepada objek, semakin tinggi nilai ER semakin besar pantulan yang mengakibatkan semakin jelas kenampakan objek. Tidak semua sensor kamera dapat menerima Ee dan ER sekaligus. Sensor optis hanya dapat menerima ErR sedangkan Ee akan diterima oleh sensor thermal yang berada pada kisaran daerah inframerah thermal (Thermal Infra Red = TIR).

Besarnya nilai persentase pantulan objek akan mencerminkan warna dari suatu objek. Untuk vegetasi akan terlihat pada spektrum cahaya tampak antara 0.4 – 0.7 μm, dengan nilai 0.4 – 0.5 μm untuk daun yang sehat yaitu pada kisaran warna biru dan hijau (sebagian besar gelombang elektromagnetik diserap oleh khlorofil) dan jika warna daun yang merah akan terlihat pada 0,65 μm. Persentase pantulan dari daerah yang tertutup vegetasi berkisar antara 5 – 50% tergantung kerapatan dan jenis vegetasi yang menutupi daerah tersebut Untuk tanah kering yang terbuka akan terlihat coklat abu-abu dengan pantulan berkisar antara 5 – 45%. Sedangkan air yang jernih spektrum cahayanya akan terdapat pada panjang gelombang 0.4 – 0.78 μm dengan pantulan yang rendah kurang dari 5%.

Sistem penginderaan jauh didesain memiliki sifat multi aplikasi yaitu multi spektral, multi spasial dan multi temporal. Sifat multi spektral dari sistem penginderaan jauh dikarenakan sensor kamera satelit menggunanakan saluran penginderaan dua atau lebih pada saat yang bersamaan. Semakin banyak kanal atau saluran yang digunakan maka informasi yang didapat semakin banyak dan lengkap. Sifat multi spasial berarti sistem penginderaan jauh memiliki ketajaman (ketelitian) spasial sebanyak 2 atau lebih, sering juga disebutkan ketelitian spasial ini sebagai resolusi spasial. Jika resolusi spasial semakin tinggi maka semakin tinggi ketelitian citra yang berarti mempunyai skala yang semakin besar pula. Sedangkan sifat multi temporal berarti kemampuan sensor penginderaan jauh untuk melakukan pengulangan penyapuan suatu daerah tertentu pada waktu yang telah ditetapkan. Kembalinya satelit untuk menyapu suatu kawasan dapat pada periode 1 jam, 1 hari hingga 1 bulan berikutnya.

Resolusi spasial dari citra satelit dapat dibagi 3 yaitu makro, sedang dan mikro dengan interpretasi deskripsi citra secara umum, agak rinci dan rinci. Resolusi spasial dikatakan makro jika pada suatu kawasan disebut mempunyai penutup lahan bervegatasi. Jika kawasan itu disebutkan mempunyai penutup lahan terdiri dari perkebunan, hutan atau sawah maka resolusi citra nya disebut sedang dan jika disebutkan suatu daerah mempunyai vegetasi hutan pinus, hutan jati, hutan bakau atau perkebunan kelapa sawit, maka resolusi spasialnya adalah mikro.

Sistem sensor penginderaan jauh yang bekerja pada daerah sinar tampak (fotografi) disebut sebagai sensor optis. Adapun sensor yang bekerja pada daerah sinar inframerah disebut sebagai sensor thermal sedangkan yang bekerja pada gelombang mikro dikenal sebagai sensor radar. Masing-masing sensor mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Sensor optis dan thermal mudah digunakan dan diinterpretasikan tetapi hanya bekerja optimal pada keadaan ruang angkasa yang cerah tanpa ditutupi oleh awan, kabut atau hujan. Sensor optis dan thermal tidak mampu menembus hambatan ini. Untuk itu digunakan sensor radar

IV. Sistem Informasi Geografi

Dalam bahasa Indonesia istilah GIS (Geographic Information System) sering diterjemahkan sebagai Sistem Informasi Geografis yang kemudian disingkat menjadi SIG.

GIS merupakan sistem berbasis komputer yang digunakan dalam analisis informasi spasial (keruangan) serta menurunkan informasi baru yang berguna. Dalam sistem ini, terdapat banyak kelompok aktivitas dan analisis, mulai dari pemasukan, pemrosesan, hingga pencetakan keluaran berupa peta. Namun, untuk kepentingan perencanaan wilayah, operasi tumpang susun (overlay) peta merupakan metode yang dominan karena mampu menggabungkan banyak variabel keruangan dalam mencapai optimasi pemanfaatan lahan

Penginderaan Jarak Jauh (Inderaja)/Remote Sensing hampir selalu digandeng dengan GIS. Di Indonesia remote sensing kurang berkembang engingat banyak kendala yang dihadapi untuk daerah tropis. Masalah klasik adalah awan, hampir semua wilayah Indonesia dan hampir setiap saat tertutup awan. Belum lagi kondisi vegetasi yang menyulitkan pengidentifikasian permukaan tanah. Lebih lagi untuk keperluan geologi yang memerlukan pemetaan lebih dalam dari sekedar lapisan tanah.

Penerapan SIG dalam Kajian Geografi

a. Inventarisasi sumber daya alam

Penerapan SIG dengan teknik penginderaan jauh mampu menghasilkan data potensi sumber daya alam di berbagai daerah, serta dapat menyajikannya dengan cepat dan tepat. SIG dapat dimanfaatkan untuk inventarisasi sumber daya alam di antaranya.

1) Sumber daya air

Inventarisasi sumber daya air menjelaskan tentang banyaknya distribusi air, kualitas air, baik permukaan maupun air tanah

2) Sumber daya lahan

Inventarisasinya meliputi kesediaan, kesesuaian, dan kemampuan lahan

3) Sumber daya mineral

Yang dapat dinventasisasi misalnya jenis, kualitas, cadangan dan persebarannya.

4) Sumber daya hutan

Misalnya tentang luas, jenis dan kerusakan hutan,.

5) Sumber daya laut

Inventarisasinya meliputi potensi sumber daya laut, baik sumber daya mineral maupun sumber daya hayati laut, jenis, potensi, dan persebarannya,.

b. Analisis Keruangan

Untuk keperluan analisis keruangan SIG memiliki beberapa analisis, diantaranya :

1) Analisis overlay (tumpang tindih). Analisis ini untuk mencari dan mendata daerah yang diliputi oleh dua tema yang berlainan. Analisis ini juga untuk mengetahu perbedaan batas atau perubahan dari masa ke masa.

2) Analisis sebaran (distribusi). Analisis ini untuk memahami pola dan jumlah atribut terhadap peluang atau objeknya.

3) Analisis aliran (flow). Untuk menganalisis pola aliran lalu lintas

4) Analisis tiga dimensi

Perencanaan Pembangunan wilayah

Untuk penyusunan rencana pembangunan yang tepat dibutuhkan informasi yang lengkap dan akurat tentang berbagai masalah dan potensi sumber daya alam yang terkandung dalam wilayah yang bersangkutan. SIG dapat memberikan informasi yang dibutuhkan dengan tepat dan cepat. Sehingga SIG daapt dimanfaatkan untuk merencanakan pola pembangunan suatu wilayah.

Kegunaan SIG :

a. Merencanakan pembangunan bendungan

SIG digunakan untuk mengetahui daerah genangan air dan volume air, daerah yang harus digusur, daerah lahan pertanian yang akan tergenang, volume urukan untuk bendungan, besar masukan dan keluarnya volume air, daerah lahan pertanian yang diairi, rencana pembuatan pembangkit tenaga listrik, rencana pembangunan jalan, dan dampak dari pembangunan tersebut.

b. Pemetaan sumber daya

Sistem informasi geogarfi dalam pemetaan sumber daya digunakan untuk pemetaan penggunaan lahan, pemetaan lahan hijau yang diperlukan bagi keberadaan lahan pertanian, pemetaan daerah pasang surut, pemetaan geologi untuk kepentingan eksplorasi dan penanggulanagan bencana

c. Pertanian dan kehutanan

SIG digunakan untuk menginventarisasi tanaman pangan, pemantauan perubahan penggunaan lahan, inventarisasi tanaman perkebungan, inventarisasi dan pemantauan hutan untuk reboisasi, perluasan hutan dan pencegahan kerusakan hutan, inventarisasi lahan kritis, dan inventarisasi tanaman sagu.

d. Transmigrasi

Untuk keperluan transmigrasi SIG bermanfaat untuk pemilihan lokasi transmigrasi, perencanaan waktu pemindahan penduduk dengan keadaan daerah yang sesuai, perencanaan pembuatan jalan, dan irigasi

e. Lingkungan Hidup

SIG digunakan untuk perencanaan kota yang berkaitan dengan tata ruang, pemantauan terhadap pencemaran lingkungan hidup.,

f. Pemantauan bencana alam

Dengan bantuan penginderaan jauh yang multitemporal dan multi spectral SIG dapat digunakan untuk menginventarisasi, mengevaluasi, dan memantau bencana alam, sepert gunung meletus, gempa bumi, kebaran hutan, dan serangan hama.

g. Perencanaan dan pemantauan daerah pantai dan laut

Dalam hal ini SIG digunakan untuk pencarian lokasi ikan laut, pemantauan perubahan garis pantai dan daerah abrasi,pantauan proses-proses yang terjadi di laut, seperti pengangkatan arus dan instrusi air laut.

h. Pemantuan program IDT

SIG digunakan untuk mendapatkan :

1)      Informasi potensi desa yang berkaitan dengan LKMD, sarana jalan dan angkutan, mata pencaharian penduduk, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan ,pasar, sarana komunikasi dan jarak untuk berhubungan.

2)      Informasi penduduk yang berkaitan dengan kepadatan, persebaran, pertambahan, susunan, atau komposisi penduduk.

3)      Informasi lingkungan yang berkaitan dengan sumber air, penerangan, tempat ibadah, tempat pembuangan sampah, jamban atau MCK.

i. Pembangunan jalan raya atau jalan tol baru

SIG digunakan untk mengetahui pembebasan lahan pemukiman dan lahan pertanian, arah dan penempatan jalan yang efisien, volume pemotongan tanah untuk tanjakan, volume urukan tanah untuk penimbunan, pembuatan jealan penyebrangan yang efektif, dan dampak dari pembangunan tersebut.

V. Bantuan Inderaja Dan Manfaatnya

Apabila dimanfaatkan secara proporsional, teknologi inderaja memberikan kontribusi signifikan dalam perencanaan wilayah dengan bantuan GIS. Kontribusi paling mendasar diberikan dalam bentuk synoptic overview, di mana gambaran umum wilayah dapat disajikan secara menyeluruh tetapi ringkas. Citra inderaja juga menjadi sumber revisi peta dasar yang baik, khususnya untuk fenomena yang cepat berubah seperti garis pantai yang dinamis.

Di samping itu, citra inderaja multiwaktu dapat memberikan gambaran mengenai proses yang sudah dan sedang berlangsung. Perubahan penggunaan lahan karena urbanisasi dapat dipetakan dengan mudah. Zonasi kerentanan bencana dapat dilakukan dengan cepat karena setiap bencana besar meninggalkan jejak rekaman berupa pola kenampakan bentang lahan yang khas. Pertumbuhan garis pantai, abrasi, longsor, gempa bumi, bahkan tsunami baru-baru ini pun meninggalkan jejak yang dapat membantu para surveyor dan perencana dalam memetakan wilayahbencana.

Banyak wilayah terpencil yang belum mempunyai data dasar spasial. Ada pula wilayah yang kehilangan seluruh datanya karena bencana. Untuk wilayah semacam ini, pendekatan holistik dengan citra inderaja merupakan salah satu alternatif terbaik. Dengan pendekatan ini, wilayah yang bersangkutan dapat dipetakan ke dalam satuan-satuan dengan karakteristik homogen, baik sifat fisik maupun kondisi penutup dan penggunaan lahannya. Berbagai karakteristik ini kemudian dapat dikelompokkan ke dalam potensi dan hambatan atau ancaman bencana yang ada. Melalui cara ini, evaluasi kemampuan atau kesesuaian lahan dan pemilihan letak peruntukan.

Meskipun demikian, pendekatan holistik ini tentu saja mempunyai kekurangan karena terjadi oversimplification, di mana setiap satuan pemetaan memuat berbagai karakter lahan dalam batas-batas yang persis sama. Oleh karena itu, model inventarisasi dan evaluasi lahan semacam ini sebaiknya dijalankan terlebih dahulu untuk perencanaan yang tidak terlalu rinci sambil secara sistematis mulai menyusun (kembali) data spasial dasar dan tematik dalam kerangka GIS.

VI. Penentuan batas daratan dan laut

Batas yang jelas antara daratan dan lautan tidak selalu dapat diidentifikasi pada citra yang hanya menggunakan cahaya tampak. Hal ini dapat diantisipasi dengan penggunaan gelombang infra merah yang reflektansinya terhadap air rendah, namun terhadap daratan nilainya tinggi. Inilah yang selanjutnya mempermudah dalam penentuan batas yang jelas antara daratan dan lautan. Adapun pada satelit Landsat dapat dipilih band 4 dan 5.

Untuk dapat melakukan penentuan batas daratan dan lautan, tentu saja diperlukan data nilai nilai kecerahan (BV) daratan terendah dan nilai BV lautan tertinggi. Nilai BV ini diperlukan untuk melakukan algoritma pemisahan antara BV daratan dan Lautan.

Algoritma penentuan batas daratan dan lautan menggunakan teknik nearest integer dengan format 8 bit. Dengan sifat teknik tersebut dapat dilakukan algoritma penentuan batas daratan dan lautan. Algoritma tersebut di uraikan di bawah ini :

· Lakukan operasi pembagian nilai piksel dengan (Nx2)+1; hal ini untuk menjadikan nilai      seluruh piksel lautan menjadi 0. N merupakan nilai minimum BV daratan.

· Kalikan dengan (-1); untuk menjadikan semua nilai piksel daratan menjadi negatif.

· Tambahkan 1; untuk mendapatkan nilai akhir semua piksel lautan menjadi 1.

· Format data yang digunakan pada pengolahan ini harus 8 bit integer. Rentang nilai format ini antara 0 sampai 255. Hal ini akan menjadikan nilai negatif untuk daratan menjadi nol sebagai akibat adanya nearest positif integer, yaitu mencari nilai positif terdekat.

· Untuk dapat melihat batasan daratan dan lautan maka dilakukan penajaman kontras; yaitu mengeset rentang nilai bv menjadi 0 sampai 255. Hal ini akan menjadikan daratan berwarna hitam dan lautan berwarna putih, sehingga batas daratan dan lautan pun jelas.

VII. Studi Batas Wilayah Darat dengan Inderaja

Pemetaan batas wilayah darat memiliki beberapa aspek yang harus dimengerti baik oleh para pengambil keputusan di daerah, maupun oleh para pelaku pemetaan itu sendiri. Aspek-aspek ini adalah aspek penentuan, aspek pengukuran, dan aspek pemetaan. Dalam sebuah tinjauan yang komprehensif, aspek penentuan ternyata memiliki beberapa cara (alami, perjanjian, hierarkis), sebagaimana aspek pengukuran (kartometris, fotogrametris, inderaja, terestris). Dan dalam masalah pemetaan, batas wilayah darat memiliki hal-hal seharusnya penting untuk ditampilkan, seperti misalnya soal akurasi dan sumber penetapannya.

Dengan diberlakukannya undang-undang No.22/1999 tentang pemerintahan daerah, yang membagi wilayah negara kedalam daerah besar yang disebut propinsi dan daerah kecil yang disebut dengan daerah kabupaten atau daerah kota, maka daerah (propinsi, kabupaten, dan kota) mempunyai wewenang yang relatif lebih luas dalam pengelolaan sumber daya alam. Oleh karena itu penentuan batas wilayah menjadi sangat penting, sebab dengan jelasnya batas wilayah antar daerah maka tiap daerah akan dapat memaksimalkan potensi yang dimilikinya.

Dalam menghadapi otonomi daerah dan globalisasi, penentuan batas wilayah (batas administrasi), baik antar tinggi, persil tanah, batas konsesi HPH, atau hak pertambangan, batas antar kabupaten /kota, batas kewenangan di laut maupun batas negara menjadi strategis, dan harus dikerjakan dengan mutu. Tujuan penentuan batas wilayah darat ini adalah untuk mengetahui sejauh mana batas spasial suatu status hukum, mulai dari kepemilikan, hak guna, batas peruntukan dalam tata ruang, tanggung jawab pemerintahan, perpajakan, hingga untuk menentukan luas area guna menghitung potensi sumber daya, kepadatan penduduk  hingga dana perimbangan daerah.

Kegiatan penentuan batas wilayah terdiri atas dua tahap yaitu tahap penetapan dan tahap penegasan. Penetapan batas daerah di darat adalah proses penetapan batas daerah secara kartometrik diatas suatu peta dasar yang sudah disepakati (buku pedoman dan penegasan batas daerah). Sedangkan penegasan batas daerah didarat adalah proses penegasan batas daerah secara langsung di lapangan dengan memasang pilar-pilar batas.

Banyak cara dalam menentukan batas wilayah darat, diantaranya dengan melakukan pengukuran terestris, pengukuran fotogrametris, pengukuran melalui citra satelit inderaja, ataupun secara kartometris. Pada studi ini akan dikaji lebih lanjut tentang metode penentuan batas wilayah darat dengan melakukan pengukuran melalui citra satelit multisensor.

Perkembangan teknologi inderaja dalam perekaman datanya memungkinkan penyediaan data dalam bentuk digital. Hal ini mengakibatkan perkembangan dan penggunaan proses pengolahan citra secara digital semakin banyak digunakan karena waktu pemrosesan menjadi lebih cepat dan memungkinkan pemanfaatan data yang lebih luas. Perkembangan teknologi inderaja kini semakin pesat. Hal tersebut ditunjukkan dengan peningkatan kemampuan satelit penginderaan jauh dalam hal resolusi temporal, resolusi spektral dan juga resolusi spasial. Dengan demikian kegunaan akan teknologi tersebut juga semakin meluas.

Dalam studi ini dikaji apakah citra satelit multisensor dapat digunakan untuk kegiatan penentuan batas wilayah darat sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat pada undang-undang yang berlaku dan pedoman penetapan dan penegasan batas daerah.

VIII. Wetland Mapping

Ada banyak definisi tentang lahan basah, dari definisi-definisi yang ada tersebut dapat disimpulkan secara umum bahwa lahan basah adalah suatu suatu wilayah yang tergenang air, baik alami maupun buatan, tetap atau sementara, mengalir atau tergenang, tawar asin atau payau. Ada tiga indikator yang menjadi ciri suatu wilayah merupakan lahan basah yaitu keberadaan air, hydric soil, dan tumbuhan air. Luas lahan basah di suatu daerah akan mempengaruhi ekosistem wilayah tersebut. Oleh karena itu adalah sangat penting keberdaan data luas lahan basah di tiap daerah. Telah disebutkan diatas bahwa pada intinya suatu lahan digolongkan kedalam lahan basah bila mengandung air atau terendam air, sedemikian hingga dalam periode tersebut tanah menjadi bersifat anaerob. Hal ini berimplikasi bahwa pada musim hujan lahan basah akan lebih luas dibandingkan lahan basah pada musim kemarau. Selain itu perubahan tata guna tanah juga menyebabkan perubahan luas lahan basah. Sehingga perlu diidentifikasi perubahan luas lahan basah sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam melakukan penataan suatu wilayah.

Daerah Bandung sabagai daerah dengan curah hujan yang cukup tinggi dan memiliki daerah pertanian yang cukup luas tentu saja memiliki lahan basah yang cukup luas. Sebagian besar lahan basah yang ada di daerah Bandung adalah berupa daerah pertanian. Akan tetapi perkembangan pembangunan telah menyebabkan terjadinya perubahan  penggunaan lahan, dalam hal ini lahan basah menjadi daerah industri, seperti yang terjadi di daerah  Rancaekek.

Hal ini menyebabkan perubahan-perubahan dalam lingkungan Bandung salah satunya adalah berkurangnnya daerah resapan air. Hilangnya lahan basah mengakibatkan turunnya sumber perikanan dan keanekaragaman hayati secara drastis; meningkatnya banjir serta timbulnya kekeringan juga mengakibatkan erosi di daerah pinggiran sungai. Perubahan lingkungan tersebut memberi dampak yang merugikan bagi masyarakat. Oleh karena itu dipelukan inventarisasi luas lahan basah yang ada di Bandung ini supaya perubahan luas lahan basah tersebut bisa dipantau. Teknologi penginderaan jauh melalui citra satelit dapat dipakai untuk melakukan pemetaan lahan basah di suatu daerah.

IX. Pemetaan Bidang Tanah

GIS dan sistim pengelolaan informasi lingkungan saat ini merupakan alat utama yang digunakan di bidang pertanahan dan pengelolaan sumber daya alam. Bagaimanapun juga, para peneliti menghadapi banyak tantangan yang diantaranya berkaitan dengan skala, perubahan dinamik penggunaan tanah, kelengkapan dan ketepatan data, efisiensi analisa dan penerapan alternatif dalam melakukan pemantauan status tanah.

Dengan teknologi penginderaan jauh keberadaan penggunaan tanah dan kerusakan lingkungan akibat aktifitas manusia dapat diidentifikasi secara terus menerus dalam kurun waktu tertentu. Sebagai ilustrasi, pembuatan pusat-pusat perbelanjaan di Indonesia divisualisasikan dengan citra satelit. Ilustrasi ini diharapkan menjadi salah satu potret betapa pentingnya mengelola bidang tanah Indonesia melalui pengelolaan sumber-sumber daya hayati yang sistematik dan efisien menggunakan teknologi penginderaan jauh.

Database pertanahan didasarkan kepada kedudukan batas dari interpretasi manual suatu foto udara ataupun citra satelit. Batas yang berdiri merupakan dasar garis dari unit-unit yang homogen suatu karakteristik hutan. Poligon yang berdiri dideskripsikan oleh satu set atribut dimana didalamnya terdapat komposisi jenis, ketinggian, umur, tutupan tajuk pohon. Data digital penginderaan jauh dapat digunakan untuk memperbaharui inventory database dengan mengubah informasi untuk mengontrol kualitas, pemeriksaan, dan mendeteksi perbedaan. Data digital penginderaan jauh juga dapat menambah beberapa attribut informasi dan mengidentifikasi perbedaan di dalam database penggunaan tanah.

Penguraian poligon, menganalisa berbagai macam pixel suatu poligon bidang tanah pada gambaran penginderaan jauh untuk menjadikan informasi baru dan kemudian di tambahkan ke dalam inventory database pertanahan. Sebagai contoh, suatu analisis deteksi perubahan dari beberapa data image satelit landsat Thematic Mapper dapat mengidentifikasi luasan areal dan proporsi suatu pixel dimana kondisinya telah berubah.

Pengenalan tutupan masing-masing pohon ataupun bangunan, merupakan didasarkan kepada analisa gambar yang memiliki resolusi spatial yang tinggi dari suatu karakteristik seperti areal tutupan, kerapatan, dan banyaknya pohon ataupun bangunan yang didapat.

Berdasarkan hasil pengamatan dari data citra khususnya wilayah depok maka di dapat suatu bidang tanah yang dapat dilihat pada gambar peta sebelumnya dan juga didapat luasan dari masing-masing bidang tanah tersebut. Bidang-bidang tanah tersebut adalah Supermarket Borobudur/Hero, depok Town Square, desa Tugu, Kawasan Industri, Kawasan Pemancar RRI, kelurahan Sukamaju baru, kelurahan Abadi Jaya, Kelurahan Bhakti Jaya, Kelurahan Cisalak, Kelurahan Curug, Kelurahan Depok, kelurahan jatijajar, Kelurahan kemiri Muka, Kelurahan Mekar Jaya, Kelurahan mekarsari, Kelurahan Sukamaju, kelurahan Tirta Jaya, kelurahan Pondok Cina, Kolam air, Komp. Adhikarya, Komp. Bukit Cengkeh, Komp. Pondok Duta, Komp. RRI, Komp. RTM, Lahan Terbuka, Mal Depok, Margocity, Pesona Khayangan, Rawa Kalong, RS. Sentra Medika, S. Ciliwung, Stadion Baru Depok, Stasiun Depok, Universitas Indonesia, dan yang terakhir adalah Vegetasi.

Pada wilayah sebelah barat tepatnya di pinggir jalan raya Bogor terdapat suatu lahan terbuka yang sangat luas namun kami tidak memasukkannya ke dalam klasifikasi lahan terbuka Karena kami mengetahui bahwa wilayah tersebut merupakan areal yang terlindung dimana digunakan untuk keperluan komunikasi yaitu untuk pemancar RRI, dengan didekatnya tedapat kompleks RRI dimana tempat untuk tinggal para pekerja di pemancar tersebut.

Untuk sungai ciliwung, kami menarik garis berdasarkan vegetasi yang ada di sekitar bantaran sungai ciliwung tersebut. Dimana terlihat jelas alur jalannya sungai ciliwung tersebut. Yang membedakan dari jalan raya adalah jika jalan raya terdapat perpotongan (simpangan) dengan sudut yang sangat kecil dan juga terdapat tikungan yang sangat tajam sedangkan untuk sungai walaupun memiliki persimpangan namun tidak seperti jalan raya dan juga alurnya yang halus.

Masalah yang dihadapi dalam penggunaan lahan ini adalah konversi lahan pertanian (lahan basah) menjadi kegiatan non pertanian. Persoalannya adalah perkembangan nilai tanah (land rent) yang lebih tinggi dibandingkan dengan produktifitas pertanian sawah, dan diperkirakan akan semakin mempercepat perubahan menjadi lahan perkotaan. Jika dilihat dari sebarannya dapat dikenali kawasan perumahan terkonsentrasi dominan di bagian utara yang berdekatan dengan Jakarta yaitu Kecamatan Limo, Beji dan Sukmajaya. Kemudian di bagian tengah diapit olehJalan Margonda Raya, Sungai Ciliwung dan Jalan Tole Iskandar. Penggunaan pertanian tersebar di Kecamatan Sawangan, Pancoran Mas bagian selatan dan sebagian Kecamatan Cimanggis.

Selain itu terdapat beberapa penggunaan lahan yang cenderung intensif seperti industri yang tersebar di Jalan Raya Bogor (Kecamatan Cimanggis), perdagangan dan jasa, pendidikan dan perkantoran yang tersebar di sepanjang Jalan Margonda Raya dan Jalan Akses UI. Jenis penggunan lahan di Kota Depok dapat dibedakan menjadi kawasan lindung dan kawasan budidaya. Jenis kawasan yang perlu dilindungi terdiri dari Cagar Alam Kampung Baru (Kelurahan Depok) area pinggir sungai dan situ. Berdasarkan jenis kawasan lindung yang ada menggambarkan bahwa kondisi morfologis Kota Depok relatif datar. Badan air yang terdiri dari sungai dan situ-situ lokasinya tersebar mencakup luasan 551,61 Ha (2,80%) dari total luas Kota Depok ± 20502,33 Ha.