Mungkin inilah yang sulit dicerna

Siluman cahaya yang membintangi jiwa

Sekejap dia eksis

Sekejap dia tak lagi tersentuh logika

Entah apa yang ada antara kami

Aku bintang bodoh dan dia siluman cahaya

Kami sama sama pernah merasa

Terbakar bersama atau menggapai nirwana

Menjatuhkan diri ke kolam penuh makna

Wahai dikau siluman cahaya

Kebodohanku tak tahan berlama lama

Aku hanya memuja

Buta sesaat

Tanpa pretensi apa apa

Aku tertipu bayang bayang matahari malam

Cahayamu tak perlu mahkota

Kecepatan yang menyentuh diatas rata rata

Sedang aku hanya seekor bintang

Terlihat jauh tanpa tahu berapa mata

Yang menatapku dan berkata kata

Mencerca dalam dalam

Mengingat hamburan momen yang pernah kami lalui

Bagai memungut partikel partikel berserakan

Mengumpulkannya hingga nanti suatu titik

Waktu buka mulut

Pekanbaru, 28 februari 2007

Published at Bahana Mahasiswa