Seseorang yang masih menjejakkan telapak kakinya di suatu kondomonium miring dua puluh tiga setengah derajat melangkah lambat-lambat menyusuri bilik-bilik otak kirinya yang disesaki anomali pikiran labil tentang masa depannya kelak. Dibekali sepasang otak brilian serta ratusan penurunan formula hidup yang siap pakai, lama dia menginterogasi wejangan-wejangan yang dihantarkan oleh beberapa komponen silsilah keluarganya dulu. Dia bekerja keras melontarkan rayuan gombal pada amygdala yang sudah muak mencerna penetrasi desibel yang berlebihan itu. Sesekali dia berhasil, seringkali dia gagal. Namun dia masih punya longsongan jurus nan sakti mandraguna yang tidak akan pernah habis dari palung terdalam Cerebelumnya.

Nalurinya berbicara. Akhir-akhir ini dia sering merasakan hal-hal abnormal yang terus menerus lalu-lalang di biliknya. Bukan, dia bukan tereksitasi ke lembah cinta seperti yang sering dirasakan orang-orang sebaya dengannya. Rasa ini terlalu berlebihan. Perasaan itu terus membombardirnya. Mengisi sekat-sekat hatinya yang masih menyimpan sedikit keraguan akan apa yang dilakukannya saat ini. Dia amat sadar akan perjudian yang tengah diikutinya. Sebuah siklus yang tidak akan mungkin kembali lagi. Sepertinya waktu tidak akan lama lagi. Sepertinya dia hampir tiba di akhir dari semua ini. Sebuah akhir.

Dia memeras keringat menunggang malam. Melewati realita. Tidak ada oasis yang terlihat disana, hanya triliunan pasir yang menghembuskan kata-kata kematian. Tidak ada yang sanggup menyelamatkannya. Kepercayaan dirinya telah lebih dahulu hengkang. Dia berharap tidak akan lagi melihat hal yang sama seperti sekarang. Tapi hendak kemana dia lari? Didapatinya dirinya disana sambil mendongakkan kepala menatap kumpulan awan putih berlatar cahaya biru untuk menemukan solusi dan pembahasan soal-soal hidupnya.

Ilusi, itu semua sebuah mimpi. Tersentak dia bangun. Dia tahu seseorang telah masuk ke biliknya. Dia yakin mendengarkan resonansi baru saja membanjiri landasan sanggurdinya. Dia tahu momen ini sudah dekat dan tidak ada apapun yang bisa dia perbuat. Tanpa harus cemas dia kembali menutup kelopak mata rapat-rapat. Biarkan saja malam mengatasinya. Biarkan hingga terbit sesuatu dari timur. Biarkan.

Ingin dia mengangkat kesadarannya yang telah lama pergi tanpa meninggalkan sepucuk suratpun. Karena kini dia hanya bermain-main dengan waktu yang terus mengamatinya dari sudut tembok sambil memegang jarum. Dia telah lama berpikir untuk mengenyahkan segumpal idealisme yang membuat dirinya berkamuflase sempurna mengarungi tempat laknat ini. Ingin juga dia mengikuti saran panutannya agar beralih menjadi minoritas, tanpa takut melawan arus. Ingat, layang-layang terbang bukan karena mengikuti angin, justru menentangnya. Namun terpikir olehnya dia bakal terlempar jauh dari peradaban biadab ini. Dia bakal diboikot, mati, bahkan mungkin disalib kemudian ditenggerkan di atas tapal batas kota seperti yang mereka lakukan pada para pemberontak peradaban. Dia siuman ditengah koma, tapi juga bukan berarti dia ingin bunuh diri.

Lalu apa lagi itu arti hidup. Itu sementara baginya. Tidak lagi banyak manusia yang benar-benar paham tentang arti hidup sesungguhnya. Mereka hanya menari-nari di habitatnya. Menyia-nyiakan waktu. Tidak terpikir oleh mereka bahwa ini semua sementara. Tidak mereka sadari akan ada suatu zaman dimana semuanya hidup abadi, kekal. Seseorang yang bisa mencapai itulah yang layak menyandang predikat manusia. Sedang lainnya lebih pantas digelar mahluksia.

Dia sangat frustasi karena hidup hanya menyisakannya dua pilihan. Mati atau terus mengalir bersama mereka. Dilema yang membutuhkan penyelesaian tingkat tinggi. Entah sampai kapan dia harus begini. Menanggung semua konsekuensi mengenai apa yang dipilihnya. Pilihan pertama sangat sulit baginya. Dia masih hijau. Masih banyak yang ingin digapainya dan sayangnya tidak ada yang meresponnya. Hingga tiba di stadium tertentu, dilewatinya beberapa tanah pekuburan. Melihat-lihat sekitar, berusaha menemukan singgasana malaikat maut. Mengajaknya sedikit berbincang-bincang tentang jadwal pemutusan nyawanya. Pernah juga sewaktu kecil dia mendata sebagian besar hal-hal yang bakal dilakukannya hingga beranjak dewasa nanti. Semua itu sudah direncanakannya dan sangat dekat dengan terealisasi.

Dia sangat bangga dengan darah Raja yang mengalir di setiap pembuluh tubuhnya. Ayahnya adalah seorang Raja bangsa Arya dimasanya. Sedang dia keluar dari rahim wanita yang tidak kalah tenar, putri tunggal Raja Ramses yang mewarisi seluruh harta kerajaan Alexandria. Cleopatra, begitu mereka menyebutnya.

Dan jangan bilang dia tak tahu apa yang dilakukan mereka pada keduanya, serta keengganan Dewi Fortuna untuk menjadi koleganya hingga dia divonis sebatang kara seperti sekarang ini. Diteteskannya beberapa air mata saat mengenang kejadian yang lalu-lalu. Tidak ada guna air mata, tangisan dirinya tidak akan membuat semuanya jadi lebih baik dari sekarang. Sampai ia mulai bergerak.

Dulu kota ini tidak begini. Banyak populasi yang menyandarkan kehidupannya di sini. Mereka berikrar setia mengabdikan ruang dan waktu untuk kota ini. Manusia-manusia memforsir segala sesuatu yang mereka punya untuk bertahan hidup. Tidak ada yang termenung meratapi nasib. Tidak ada yang duduk-duduk bersandar sambil mengoyang-goyangkan kaki. Tidak ada peminta-minta yang berotasi aktif mengelilingi kota dengan mangkok kehidupannya. Tidak ada tongkrongan generasi muda di tikungan jalan. Tidak ada lantunan lagu-lagu lawas dari bibir para pengamen jalanan. Tidak ada yang setengah-setengah. Tidak, tidak ada. Semua manusia di kota workaholic. Tergila-gila dengan aktivitasnya.

Anak-anak dibawah umur didonori ilmu oleh para profesor terkemuka atas kebijakan para petinggi-petinggi kota. Seluruhnya terkoordinasi sempurna. Waktu yang sangat sombong berlari tanpa megacuhkan sesiapa kini mulai terlena dipuja-puji penduduk kota agar sedikit menambah kapasitasnya. Kota ini penuh revolusi dengan jiwa-jiwa nasionalisme. Siapa-siapa yang amatir disulap menjadi seorang profesional. Semuanya bekerja sama untuk satu ambisi yang sudah lama mereka kumandangkan.

Kota ini berdikari, bergerak maju. Tidak seperti tetangganya. Para panelis menyebutnya jalan ditempat, statis, bahkan beberapa tidak segan mendaulat mundur. Seperti yang sedang dialami sebuah kota di katulistiwa. Pendapatan perkapita kota itu jauh dibawah rata-rata. Entah siapa yang salah. Entah pemimpinnya, entah juga. Padahal segala potensi melimpah ruah di setiap sudut kota itu. Banyak yang memanggilnya surga dunia. Kenyataannya, hutang melilit pinggang kota itu. Seseorang yang baru lahir saja sudah dibebani masalah hutang-piutang. Sepertinya hidup bakal sia-sia di sana. Itu juga mungkin yang melekat pada nama kota itu. Indahisia, singkatan dari ini daerah hidup sia.

Dia kembali merenungkan semua ini. Tidak disadarinya dari dulu bahwa mati lebih indah. Tidak ada keinginan darinya untuk menjadi bagian dari mereka. Melakukan maksiat yang sangat hina ini, yang bahkan neraka sekalipun tak sudi untuk menampung dirinya dan mereka. Hal yang sangat melenceng dari cita-citanya menembus surga. Dia juga yang membuat segumpal kebencian berlari kabur darinya. Dia menikmati kehidupannya. Ditenggaknya beberapa botol khamar dengan kadar alkohol maksimum lalu diraihnya beberapa lintingan marijuana yang menghantarkan aroma fana menusuk hidungnya. Beberapa cerutu dia hisap sekaligus untuk sedikit nafsu yang timbul. Direnggutnya juga keperawanan wanita-wanita di kota sesuka hati. Itu menambah kesempurnaan tentang apa yang dilakukannya. Tidak ada yang menghujatnya karena mereka dan dialah penguasa kota ini. Tidak ada yang mencegahnya untuk berbuat apa saja yang dia inginkan. Dia merdeka di atas dirinya sendiri juga penderitaan ribuan umat manusia.

Tiba-tiba ditengah segala euforia yang sedang dilahapnya, dia tersentak oleh sesuatu. Suara parau yang meneriakkan namanya dengan frekuensi cukup tinggi. Suara itu tidak sendiri. Bersahut-sahutan geram hendak menerkamnya. Dia mencari asal suara itu. Sedang dirinya sudah mulai gugup. Namun segala keraguan itu dibuangnya tanpa sedikitpun rasa khawatir. Paling-paling itu mereka, daulat pikirannya.

Dilihatnya dari celah jendela mereka datang dari kejauhan. Tidak seperti biasanya, hatinya sedikit diliputi keraguan. Dia keluar dengan berbekal sepucuk senjata yang menyisakan selongsong amunisi terakhirnya. Mungkin ada hal mustahak atau sesuatu yang darurat yang harus dia kerjakan. Dituruninya tangga dan berpapasan langsung dengan mereka. Dia ayunkan tangan kanannya empat puluh lima derajat di atas bahu sambil menghentakkan kaki kanannya di tempat dia berpijak, ciri khas mereka ketika berpapasan satu sama lain. Namun tidak ada ayunan balasan seperti biasanya. Padahal dia kenal betul dengan segerombolan manusia yang sedang dihampirinya. Komponen matanya belum ada yang rusak. Kornea, pupil atau retina masih dipaksa bekerja sebagaimana mestinya, walau sudah lama ketiganya mengajukan peletakan jabatan. Mereka ingin pensiun dini. Tak sanggup lagi berakomodasi melihat apa-apa yang tabu dan sangat tidak pantas dikerjakan. Namun mereka bisa apa? Semuanya dikendalikan olehnya. Stimulus itu tetap mereka hantar jemput kerumah logika. Tidak asing lagi, itu mereka. Rekan-rekan nistanya, bukan manusia dari bima sakti.

“Hei…kemari” teriak seseorang dari gerombolan itu.

Dilihatnya seorang lelaki berperawakan tinggi hitam berdiri tegak di pelupuk matanya. Agak sulit memang mendeskripsikan penampilannya malam ini. Namun dia tahu pasti siapa lelaki itu. Lelaki itu memunculkan sesuatu dari celah saku kirinya. Dilihatnya sebuah liontin tanpa warna bermata piramida bergoyang digenggaman lelaki itu.

Sial…dari mana mereka mendapatkan benda itu

“Perlu apa?” tanyanya.

Sejenak suasana beranjak hening. Pertanyaannya tadi seperti burung nasar yang melintas sesaat.  Semuanya diam terpaku. Lelaki itu mulai menyibak fakta hidupnya.

“Kau tahu apa yang kupegang ini?” tanya lelaki itu.

“Ya, aku tahu. Sebuah liontin tanpa warna bermata piramida” jawabnya mantap.

“Tepat. Namun kau tahu segelintir fakta yang terkandung dalam benda ini?” tanya lelaki itu lagi.

“Tidak” dia berbohong singkat.

“Jangan berkelit” lelaki itu menggertak.

Lama dia mencerna kata-kata lelaki itu. Bukan karena dia tidak mengerti, melainkan ragu untuk menjawab. Dicari-carinya suatu pernyataan yang bisa mengalihkan pembicaraan ini. Yang bisa menyelamatkannya.

“Ayolah, kau tidak mungkin bisa melupakannya” hardik lelaki itu. Sementara dia masih bisu.

“Kau tidak akan memaksaku kan…?” tanyanya.

Ganti lelaki itu terdiam.

Diam-diam dirogohnya sepucuk senjata yang tadi dia selipkan antara pundak dan celananya. Namun lelaki itu tahu dan mengultimatumnya dengan falsafah agung. Lelaki itu tidak ingin ada yang mati malam ini kecuali dia.

“Perundingan” ucap lelaki itu.

“Jika kau tahu, tidak perlu diam. Katakan pada kami. Kami butuh itu” tambah lelaki itu.

Entah apa yang ada di bilik kiri otaknya saat itu. Mudah saja dia membeberkan fakta yang selama ini dikuncinya rapat-rapat jauh di palung otaknya. Membuka gemboknya dengan santai tanpa sedikitpun rasa curiga.

“Liontin itu adalah lambang supremasi kaum Alexandria. Hanya ada tiga di dunia” sahutnya.

“Terima kasih, putra mahkota,” jawab lelaki itu.

Celaka, bagaimana bisa mereka membongkar kedokku

Dia belum sadar apa yang disebutnya barusan memperkuat kebenaran prediksi mereka tentangnya selama ini. Dia berparas tampan persis seperti ayahnya. Dia tidak tahu ayahnya yang seorang Raja adalah pembunuh berdarah dingin keturunan Arya yang melenyapkan nyawa Raja Ramses setelah menikahi Cleopatra. Tak dapat dipungkiri, darah ayahnya mengalir dalam darahnya. Entah ada atau tidak kesamaan golongan antara keduanya mereka tidak peduli. Dan tidak perlu bukti otentik yang mensahkan semua ini.

Liontin itu hanya tiga di pelataran dunia. Satu ditangan Raja Ramses, satu di leher Ratu Ramses, dan terakhir ada pada Cleopatra. Sekarang mereka punya ketiganya. Yang berarti usai sudah penantian panjang mereka. Mereka sudah lama menanti hilangnya kutukan Raja neraka terhadap mereka. Tidak salah lagi. Darah putra mahkota itu adalah tumbal yang mereka cari selama ini. Semua akan berakhir, semua pasti berakhir.

“Siapa putra mahkota?” teriaknya.

“Tidak ada paradoks. Kau adalah putra mahkota itu, tidak ada yang bisa memalingkan kenyataan itu darimu.” sahut lelaki itu.

Tiba-tiba seseorang dari komplotan itu telah menyusup kebelakangnya. Tanpa sempat diantisipasi, seseorang itu merebut senjatanya lalu menerjang bagian belakang tubuhnya dengan kedua kaki hingga dia terhentak kedepan dan menyisakan jarak beberapa centi saja dengan lelaki itu.

Dia tidak bisa apa-apa lagi. Sesaat kemudian dia telah dikerumuni oleh para pendosa yang sedang menjalani hukuman. Mata mereka sangat buas hendak memangsanya.

Apa ini semua? Apa yang terjadi? Ada apa dibalik gelar putra mahkota ini?

Sebelum nafas terakhir dihirupnya, putra mahkota itu ingin mendengarkan klarifikasi semuanya. Dia menyesal tidak tahu dari ayah atau ibunya. Dia menganggap gelar yang disabetnya itu wajar saja bagi seorang keturunan raja. Hingga akhirnya ia harus bertanya tanpa tahu pasti kebenaran jawaban yang akan didengarnya.

“Baiklah. Sebelum kalian mencipratkan darahku, aku ingin tahu latar belakang semua ini.” ucapnya gemetar.

“Sangat ironis. Seorang putra mahkota yang agung bahkan tidak tahu asal usulnya.” jawab lelaki itu.

“Jangan kau anggap label arya yang menggantung di lehermu itu bisa lenyap ditelan waktu. Lama kami mencari darah itu. Darah pengkhianat sejati itu.” ujar lelaki itu.

“Dan jangan harap ayahmu akan pernah mau membongkar sindikat ini. Kau tidak akan pernah tahu ayahmu adalah bagian dari kami. Bagian dari kita.” tambahnya lagi.

Seakan dihujam seribu pedang sekaligus, detak jantungnya berhenti sepersekian detik sesaat setelah telinganya melumat aksioma itu. Tidak disangkanya dia terlahir membawa dosa yang berkembang biak di setiap atom tubuhnya, tidak terdefinisi. Wajar jika neraka sekalipun enggan menerima jejak kaki kita. Tak adakah alternatif atau opsi lainnya? Sebegitu laknatkah kita? Tak adakah pintu pengampunan yang terbuka? Inikah yang disebut neraka dunia?

“Kita adalah para penjajah sejati, pendosa abadi. Tidak akan ada yang bisa menganulir semua itu. Kecuali dirimu.” kata lelaki itu mengakhiri pembicaraan.

Dia diarak hingga ke altar pengorbanan. Sebuah tempat yang sudah lama ada untuk mengeksekusi para antagonis. Hidupnya berakhir ketika sebuah pedang bermata dua menghunus tajam di pelupuk matanya. Tidak tahu lagi apa yang mereka lakukan sesudahnya. Malam itu putra mahkota telah mati dengan sedikit tersenyum. Akhirnya dia sedikit berguna walau hanya darahnya. Dia berharap darah peninggalannya itu akan sedikit menghapus dosanya juga mereka. Walau dia tahu transaksi ini sama sekali tidak sepadan. Solusi yang benar-benar destruktif. Dia juga berharap suatu saat nanti bertemu kembali dengan mereka. Tentu saja tidak di sini. Di neraka mungkin. Itupun jika neraka mengijinkan mereka tinggal. Kini dia mengerti. Bahkan reputasi emasnya, karir platinumnya, tidak ada yang punya arti pada saat seperti ini. Mungkin segalanya lebih baik di tangan mereka.***

Pekanbaru, 30 November 2006

Published at Riau Pos Daily Newspaper, 18 Mei 2008