Sore ini memang tidak seperti lalu-lalu

Hujan tumpah ruah mengiringi detak kaki Aku

Kutunggu Dia di tepi koridor sebuah bangunan tua berlantai tiga

Berbisik hujan kepadaku

Dan Aku memang sudah siap dirajam kata

Kutatap hitam matanya

Kutelusuri tiap kata yang Dia campakkan

Dimana dosaku ?

Pertemukan Aku dengannya

Namun dia belum paham

Bukan berarti Dia tidak tahu

Kuberi Dia waktu

Malam ini Aku harap dia sadar

Petir sepertinya tahu

Dicarinya diriku di tempat miring dua puluh setengah derajat

Aku tahu ia menemukanku

Kulangkahkan kakiku merapat padanya

Dihujamkannya kilatan disertai dentuman dahsyat disekitarku

Kutulikan mataku

Berharap lenyap bersamanya

Petir memilih menangis

Enggan nyawaku hilang

Malam pekat iringi hujan

Kutunggu dirinya disudut meja

Mulai Dia menyeretku ke altar pemasungan

Aku turuti Dia

Samurai kata menghunus tajam

Tercabik-cabik aku di depan

Kuakui semuanya

Dia mesti yakin

Aku rela disalib atau ditenggerkan di tapal batas kita

Dan Aku memang ingin mencurahkan ini pada Dia

Aku salah

Maafkan

Beri Aku solusi

Disekitar malam,

Pekanbaru, 28 November 2006