Perlahan kau ketuk pintu lebar di depan rumah itu. Membuatnya bergetar konstan seakan beresonansi dengan memacunya aliran darahku yang sedari tadi mengamatimu dari sudut sempit ini. Aku tahu. Tidak ada yang bisa lolos dari kunjunganmu. Tigaperempat blok tempat ini telah kosong sejak kedatanganmu. Dan aku tahu. Aku adalah salah satu yang masuk daftar lawatanmu.

Caramu memasuki area kediaman orang-orang menurutku, merefleksikan perasaanmu yang tengah bergolak di tebing hati. Banyak cerita yang beredar bahwa kau tidak bisa ditebak. Kadang kau menimbulkan hysteria masal. Kadang kau sangat anggun meminta, bahkan tak jarang kau menangis tak percaya. Dan aku paham. Kau hanyalah ciptaan yang menunaikan tugas. Tetapi bebrbeda dengan orang-orang yang dibebankan pekerjaan. Tujuanmu pasti. Sama dengan pastinya aku mati.

Aku terus berpikir. Betapa tak terpikirkannya semesta yang terbentang di ruang dan waktu ini. Bahkan teori ledakan besar Hawking pun hanya remah jika dibandingkan terawang kosmologi. Newton mendemonstrasikan struktur alam semesta, pergerakan planet-planet dan menghitung massa matahari. Colombus dan Magellan membuktikan bahwa bumi tidak berbentuk seperti bola, melainkan pepat. Agak rata di kutubnya akibat gaya sentrifugal yang timbul karena rotasinya. Tapi, mereka punya versi masing-masing tentang apa yang menjadi awal atau akhir.

Dahulu, ketika Ibu masih bergelut dengan panic periuk keluarga kami, beliau terus menghantarkan pesan-pesan penuh makna. Sepertinya beliau paham betul dengan kehidupan kami saat itu. Akulah satu-satunya yang dimilikinya. Ayah telah lama berpulang sejak aku masih dalam hitungan hari. Hidup hanya menyisakan Aku, Ibu, dan waktu. Dua belas angka berbingkai yang berpusat pada gerakan ritmis jarum relativitas, namun tetap tegar menuntun matahari pulang pergi.

Penghidupan keluarga kami didapat Ayah dari pekerjaannya sebagai penggali kubur. Ibu bilang, rezeki Ayah datang setiap hari. Sebab, hari kehari ada saja yang dibawa malaikat maut pulang tak kembali. Ketika Ayah berehat di malam hari, ada saja yang megetuk pintu, meminta Ayah untuk membuat sebuah lubang tempat Ayah, Ibu, atau anggota keluarga lainnya yang hendak dikebumikan. Begitulah hari kehari.

Sampai pada suatu saat, Ayah yang masih berkepala dua meninggalkan Ibu yang tengah berbadan dua. Tidak ada tanda tanda signifikan penyebab Ayah wafat. Beliau masih sehat dan penuh perasaan bahagia sebelum meninggalkan Ibu. Betapa tidak, Ibu kini tengah mengandung keturunannya yang kelak akn menghadirkan suasana berbeda di tengah rumah ini. Yang Ibu simpan dalam memorinya sebelum Ayah meninggal adalah malam itu ada seseorang yang berpenampilan serba hitam mendatangi rumah kami. Dia meminta ayah menggali lubang malam itu juga. Ketika Ayah bertanya siapakah gerangan yang meninggal, orang tadi menuturkan kata-kata yang membuat Ibu sontak menumpahkan air mata. Ayahlah yang disebutkannya.

***

Entah bagaimana caranya meyakinkan Ayah untuk menggali kuburnya malam itu. Akhirnya Ayah bersedia mengikuti orang tadi. Meninggalkan Ibu yang menagis tersedu. Tidak ada pikiran yang mencurigakan. Tidak ada prasangka yang berlebihan. Bahwa mungkin saja orang tadilah yang kelak membunuh Ayah dan langsung menguburnya di lubang yang telah Ayah gali. Ayah mungkin merasa ia tidak punya gambaran musuh yang ingin menusuknya dari belakang.

Setelah lubang yang memang seukuran tubuh Ayah rampung. Ayah juga menerima upah sepeti biasa didapatnya pada hari hari lalu. Begitu banyak tanda Tanya yang berkembang biak di sel sel otak Ayah malam itu. Jelas dia tidak tengah bermimpi atau berimajinasi. Orang tadi menghilang dan Ayahpun pulang. Mendapati Ibu yang tak sanggup berkata-kata.

Ibu memeluk Ayah erat. Seperti tidak ingin melepas sosoknya. Mereka pun pergi tidur yang tidak disangka menjadi momen terakhir kebersamaan yang hangat. Esok paginya Ayah tidak lagi bergerak. Terbujur kaku di samping Ibu yang termangu. Tidak ada yang pernah tahu kapan ini terjadi. Ramalan hanyalah bualan.

Hari itu Ayah disemayamkan di liang lahat yang dibuatnya dengan tangan sendiri. Menambah begitu banyak hal-hal yang tidak tersentuh logika.

Dumai, 31 July 2008