Kami harus  meninggalkan kota ini. Kota yang telah sekian lama tempat kami mengabdikan ruang dan waktu. Kota yang membesarkan generasi kami. Spasi lapang dimana kami tumbuh berkembang.

Keputusan itu memang telah lama mengendap diantara kami. Kami memerlukan tempat berbeda untuk menyelamatkan kehidupan. Tempat dimana generasi penerus terpelihara sempurna. Kami tidak ingin generasi ini kelak seperti mereka. Kami tidak sanggup melihat kemunduran yang akan terjadi apabila kami tetap di sini.

Kami tidak bisa apa apa lagi. Sepertinya ramalan bahwa kota ini tidak lama lagi akan tinggal kenangan bukan sekedar peringatan. Mereka seperti terikat pada sebuah janji untuk meluluhlantakkan kota ini. Memusnahkan tempat tinggal kami yang dulunya hijau dengan pepohonan serta bersahabat dengan langit.

Tidak apa jika mereka tertawa-tawa membaca respon kami terhadap apa yang telah mereka perbuat. Biarlah kami yang mengalah. Tidak masalah kami harus angkat kaki dari kota ini. Hidup terlalu berat untuk dijalani di sini. Bertahan bukanlah pilihan yang tepat untuk mengakhiri semua ini. Tidak ada lagi yang perlu dipertahankan di atas tanah ini.

Semakin hari semakin tidak kuat bagi kami untuk melihat kerusakan kota ini. Kota yang dulu member kami penghidupan, tidak lagi hidup. Kemampuan kami untuk membendung kemerosotan di berbagai bidang tidak lagi berguna. Kota ini sudah terlanjur rusak. Kami hanya melihat bom waktu yang tertanam kokoh di tempat-tempat yang dulu sangat vital di kota ini. Hingga suatu titik, seluruhnya hanya meninggalkan momen-momen diantara kami.

Sebenarnya kami percaya, bahwa jika kami bersatu membangun pagar hidup demi membentengi kota, mereka akan berpapasan dengan penolakan serius. Mereka tidak akan bisa dengan mudah mengambil alih kota ini. Tetapi kami hanya manusia. Ciptaan yang memelihara nafsu serakah akan dunia. Salah satu diantara kami tidak tahan akan godaan mereka. Tergoda untuk memuaskan hasratnya yang kelak akan meguburnya dengan pasti.

Mereka datang dengan wajah wajah bersahabat yang menyiratkan tujuan laknat. Awalnya semua berjalan seperti biasa. Seperti para pendahulu mereka yang telah lama berkiblat kea rah yang sama degan kami. Tapi mereka berbeda. Senyum yang terbit dari lengkungan bibir mereka seakan menyimpan seribu rencana.

Sedangkan waktu, dua belas angka berbingkai yang berpusat pada gerakan ritmis jarum relativitas, tetap tegar menuntun matahari.

This Script unfinished yet, gotta lot work with my Lawful Wife