Pikirannya tetap terjaga. Walau matanya tidak lagi menghendaki hal yang sama, percuma saja melewati malam tanpa tahu apa-apa. Waktu hanya kebohogan orang-orang yang mengejar dunia. Cepat ketika nafsu berkobar membakar hasrat, namun seperti keong peskitan saat dijauhi makna. Dan dia tahu betul kapan harus berpamitan dengan sel-sel otak yang sejak tadi memberikan potensi terbaik mereka.

Terus saja dia menatap wajah bulan yang sedari tadi statis di sudut jendela kecil ruang itu. Dia enggan menamakan tempat berdimensi cukup luas ini dengan sebutan kamar. Baginya, satu langkah pertama setelah membuka pintu ruang itu seperti teleportasi. Seperti merangsek masuk kedalam lubang cacing setelah beberapa waktu melewati beragam chaos. Energi bertambah, adrenalin memacu, dan tentu saja intelegensianya siap mendaki entah seberapa terjalnya hingga menemui klimaks.

Dia punya dimensi ruang dan waktu sendiri. Membangun pilar-pilar kokoh sebagai pondasi pemikirannya. Dia sangat mengagumi alam. Dia mengeksplorasi alam agar tidak hanya mendapatkan sebuah pemahaman tentang bagaimana segala sesuatu bekerja, tapi juga memahami sebabnya. Ketika dia sedang melukis tetumbuhan dari gambar-gambar ke helai kertas, sepertinya ia tengah menyalinnya langsung dari alam. Baginya, indra tertinggi manusia adalah penglihatan. Kemampuannya mentransfer sesuatu dengan akurat merefleksikan bahwa para pelukis, dengan penglihatan superior mereka, adalah media sempurna untuk mentransfer pengetahuan secara simbolik dan ilustratif.

Tetapi dia juga sedikit menyesal. Mengapa sesuatu yang berharga datang ketika manusia telah lama terkubur bersama dosanya. Mengapa manusia harus selalu diliputi kesiaan yang tak bermuara. Membuang-buang energi yang tak pernah kembali. Atau mengacuhkan aktifitas yang tak seharusnya. Situasi kita di bumi ini aneh. Kita masing-masing datang untuk berkunjung sebentar, tanpa mengetahui mengapa, namun kadang-kadang tampaknya harus menebak suatu maksud.

Tetapi dia beruntung. Bukan, sebenarnya tidak ada konsep kebetulan di atas papan dunia. Semuanya terunut sedemikian rupa oleh suatu siklus yang tak tampak namun ada. Kita tiba di suatu titik dengan terlebih dahulu berperang melewati titik-titik lainnya. Banyak orang ingin melupakan, mengubur dalam-dalam masa lalu mereka. Banyak juga yang berpikir untuk merubahnya. Dan dia adalah salah satu dari mereka.

Dia percaya. Bahwa waktu adalah kebohongan, menjadi bahan bakar sarat energi yang tak terbantahkan. Beda antara masa lampau, masa kini, dan masa depan hanyalah ilusi yang bersikeras terus menerus hadir. Dia tetap sama. Pertumbuhan adalah kekaguman sempurna yang menyiratkan makna. Jika kita bernyawa, apa arti kaki berpijak keduanya. Melihat peradaban yang telah dirusak atau terinjak badai pertama. Semua harus percaya. Mereka menamakan tanah ini bumi. Membahasakan hasrat dengan berbagai tindakan sia-sia.

Mereka membesarkan nafsu lapar manusia hingga mampu meledakkan atom-atom hasratnya. Mereka membangun ego hingga mencapai langit. Tersambung kesetiap rangsangan keseluruh penjuru dunia. Bahkan mempengaruhi impian yang paling membosankan dengan fantasi berlapis emas, hingga tiap manusia menjadi kaisar yang hebat, menjadi menuhankan dirinya sendiri.

Lalu mau apa lagi ? Saat kita bergerak terburu-buru dari satu transaksi ke transaksi lain, siapa yang akan memikirkan lingkungan planet ini ? Saat udara tercemar, air menjadi kotor, bahkan lebah madu menghisap zat radioaktif dan semakin lama penghancuran itu berlangsung semakin cepat. Tak ada kesempatan untuk berpikir, untuk bersiap-siap. Kita memperjualbelikan masa depan, padahal tak ada masa depan. Dunia ini sudah tidak terkendali.

Bagaimana kita bisa berlama-lama di tempat yang kelak akan binasa. Apa yang disembunyikan dibalik hembusan nafas ini. Bayangkan juga sedari dulu bentuk revolusi bukan nyata. Senyawa kotor yang punah dalam waktu singkat. Namun kita belum sepenuhnya terlambat. Raksasa yang terus tidur di dalam gua hitam tertutup dunia. Meninggu para punggawa menarik kekang maya.

Ketika kita sudah berpikir menyudahi semua aktifitas samar yang terus memborbardir sel-sel otak. Kita akan bertemu sebuah lubang hitam yang meyeret perasaan puas hinga kembali terlipat rapi ke awal. Kita terlalu banyak membuang energi untuk berpikir tentang masa lalu, bahkan masa depan. Belum sadar bahwa waktu adalah sebuah kebohongan besar. Bimbang menghadapi kepingan hidup berikutnya.

Kematian bukanlah akhir jika kita mampu hidup terus dalam diri anak-anak kita dan generasi kita yang lebih muda. Sebab, mereka adalah kita. Tubuh kita hanyalah daun-daun layu di pohon kehidupan.

Kita bebas. Merdeka dari seluruh paradoks atau reduksionisme. Kita berhak melahirkan DNA yang baru, yang lain, atau tak sama. Filsafat kita merusak kepingan tadi hingga terserak menjadi serpihan. Salah kita. Untuk kembali memungut dan meyusun, atau memberontak menggambar revolusi.

Bahkan kepakan sayap seekor kupu-kupu bisa menghamburkan rasa.