Category: Sipilian



Alat pemandu pelayaran diperlukan untuk keselamatan, efesiensi dan kenyamanan pelayaran kapal. Alat ini dapat dipasang di sungai, saluran, pelabuhan dan di sepanjang pantai sehingga pelayaran kapal tidak menyimpang dari jalurnya. Selain sebagai pemandu pelayaran, alat ini juga berfungsi sebagai peringatan pada kapal akan adanya bahaya seperti karang, tempat-tempat dangkal dan juga sebagai pemandu agar kapal dapat berlayar dengan aman di sepanjang pantai, sungai, saluran serta memandu kapal masuk pelabuhan. Alat pemandu pelayaran tersebut bisa berupa konstruksi tetap maupun konstruksi terapung. Untuk alat pemandu tipe konstruksi terapung ini berupa pelampung (buoy) yang diletakan disuatu tempat tertentu

PELAMPUNG (BUOY) SEBAGAI SISTEM PERINGATAN DINI TSUNAMI
   Gempa bumi adalah peringatan alami mengenai datangnya tsunami. Bila Anda merasakan gempa kuat, janganlah berada di lokasi yang mungkin terkena terjangan tsunami. Bila Anda mendengar adanya gempa bumi, waspadalah dengan kemungkinan datangnya tsunami. carilah informasi di radio atau televisi mengenai hal itu. Ingat bahwa sebuah gempa bisa memicu terjadinya tsunami ribuan kilometer jauhnya pada waktu beberapa jam.
   Para saksi mata melaporkan bahwa tsunami Aceh didahului dengan turunnya permukaan air secara tiba-tiba yang kemudian berbalik menjadi gelombang dahsyat. Bila Anda menyaksikan permukaan laut turun secara tiba-tiba, waspadalah karena itu tanda gelombang raksasa akan datang. Larilah ke daerah tinggi dengan segera.
Sebagian korban tsunami Aceh tewas karena mereka justru pergi ke pantai untuk melihat bagaimana air menghilang dan dasar laut menjadi tampak. Banyak yang tidak sadar hal itu merupakan awal hadirnya malapetaka. Para ahli memperkirakan, penyusutan permukaan laut akan memberi waktu sekitar lima menit bagi orang-orang untuk segera meninggalkan wilayah itu.
   Karena tsunami bisa mendekati pantai dengan kecepatan 160 kilometer per jam, maka seringkali terlambat bagi kita untuk menyingkir saat kita melihat kehadirannya.
   Ingatlah pula bahwa tsunami adalah rangkaian gelombang, dan gelombang pertama mungkin bukan yang paling berbahaya. Bahaya dari tsunami bisa berlangsung selama beberapa jam setelah kedatangan gelombang pertama. Rangkaian gelombang tsunami bisa datang berurutan dengan jeda antara lima menit hingga satu jam. Hindarilah lokasi kejadian sampai benar-benar aman.
   Mereka yang selamat dari tsunami lalu menceritakan bahwa laut surut secepat dan sekuat ketika ia menerjang daratan. Beberapa orang terseret ke laut saat gelombang itu berbalik.
   Terjangan tsunami bisa saja hanya kecil di satu titik namun sangat besar di titik lain. Jangan beranggapan karena tanda-tanda tsunami hanya kecil di suatu tempat, maka gejalanya akan sama seperti itu di tempat lain.
   Tsunami bisa menjelajah cepat lewat sungai dan aliran yang berhubungan dengan laut, Menjauhlah dari sungai atau aliran air yang menuju ke laut, seperti halnya Anda sebaiknya menghindari pantai dan laut bila ada tsunami.
   Adalah gagasan yang baik untuk selalu mempersiapkan bahan persedian guna menghadapi kondisi darurat, termasuk obat-obatan, air, dan kebutuhan pokok lain setidaknya untuk 72 jam. Tsunami, gempa bumi, badai, dan bencana lain bisa muncul dengan sedikit tanda atau sama sekali tanpa peringatan.
   NOAA menyarankan, karena aktivitas gelombang tsunami tidak terlalu terasa di lautan terbuka, kapal-kapal sebaiknya tidak kembali ke pelabuhan bila mereka sedang berada di laut dan mendengar adanya peringatan mengenai tsunami di area tersebut. Tsunami bisa menyebabkan perubahan permukaan laut sangat cepat dan menghasilkan gelombang dahsyat di pelabuhan dan tepi pantai. Orang-orang sebaiknya tidak naik ke kapal yang berada di pelabuhan karena tsunami bisa menghancurkannya. (nationalgeographic.com/wsn)

Meramalkan bencana

Sampai saat ini kita belum bisa meramalkan terjadinya gempa bumi. Yang bisa dilakukan adalah mencegah jatuhnya terlalu banyak korban. Tidak mungkin mengosongkan seluruh daerah rawan gempa dari penduduk. Konstruksi tahan gempa adalah salah satu alternatif. Demikian pula dengan tsunami, tidak mungkin mengosongkan seluruh daerah pantai di sekitar daerah rawan gempa.

Yang mungkin adalah mengadakan sistem peringatan dini dan prosedur evakuasi manakala peringatan dini terjadi. Memang ini tidak menyelesaikan seluruh masalah karena apabila pusat gempa terjadi tidak jauh dari pantai, tsunami bisa datang dalam hitungan menit sehingga tidak mungkin ada kesempatan untuk melarikan diri. Tapi prosedur evakuasi masih bisa dilakukan untuk berjaga-jaga manakala gempa yang mungkin menimbulkan tsunami terjadi jauh dari daerah kita sehingga memberi kesempatan untuk evakuasi.

Bukan hal yang gampang dan jelas dibutuhkan biaya yang besar untuk ini. Pendidikan pada masyarakat harus diberikan dan ini tidak mudah. Seringkali pengungsian setelah adanya peringatan tidak berjalan dengan baik karena masyarakat butuh bekerja dan makan. Para penduduk desa di lereng Merapi yang dulu sempat diterjang ‘wedus gembel’ alias glowing avalanche atau aliran gas, bebatuan dan debu super panas di tahun 1994 pun segera kembali ke tempat tinggalnya lagi setelah diungsikan. Mereka butuh tempat tinggal dan lahan bercocok tanam. Cerita serupa pasti terjadi juga di daerah-daerah rawan bencana lain di Indonesia. Maka kembali lagi, harus kita pikirkan tindakan-tindakan yang bisa mengurangi jumlah korban yang bisa kita lakukan. Alam memang terlalu kuat untuk kita lawan.

a. DART


  1. 1. Permanent Magnet Linear Buoy

Peneliti Universitas Oregon mempublikasikan temuan teknologi terbarunya yang diberinama Permanent Magnet Linear Buoy. Diberinama buoy karena memang pada prinsip dasarnya teknologi terbaru tersebut dipasang untuk memanfaatkan gelombang laut di permukaan. Berbeda dengan buoy yang digunakan untuk mendeteksi gelombang laut yang menyimpan potensi tsunami.

  1. 2. Sistim Kerja Permanent Magnet Linear Buoy

Peneliti Oregon menjelaskan prinsip dasar buoy penghasil listrik tersebut yaitu dengan mengapungkannya dipermukaan. Gelombang laut yang terus mengalun dan berirama bolak-balik dalam buoy ini akan diubah menjadi gerakan harmonis listrik

Sekilas bila dilihat dari bentuknya, buoy ini mirip dengan dinamo sepeda. Bentuknya silindris dengan perangkat penghasil listrik pada bagian dalamnya. Buoy di apungkan di permukaan laut dengan posisi sebagian tenggelam dan sebagian lagi mengapung.

Kuncinya, terdapat pada perangkat elektrik yang berupa koil (kuparan yang mengelilingi batang magnet di dalam buoy). Saat ombak mencapai pelampung, maka pelampung tersebut akan bergerak naik dan turun secara relatif terhadap batang magnet sehingga bisa menimbukan beda potensial dan listrik dibangkitkan. Oregon State University (OSU).

3. Manfaat

Annette von Jouanne, teknisi dari Oregon State University (OSU). menuturkan dalam percobaan sistem ini diletakkan kurang lebih satu atau dua mil laut dari pantai. Kondisi ombak yang cukup kuat dan mengayun dengan gelombang yang lebih besar akan menghasilkan listrik dengan tegangan yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian Universitas Oregon, setiap pelampung mampu menghasilkan daya sebesar 250 kilowatt

Dibandingkan dengan energi angin atau matahari, energi gelombang laut kerapatannya jauh lebih tinggi. Peneliti yang sama dari OSU, Alan Wallace menyebutkan penyediaan energi gelombang ini dengan hanya 200 buoy yang diapungkan, satu buah pelabuhan atau kota besar seperti Portland sudah dapat memanfaatkan energinya dengan sangat melimpah tanpa harus menarik bayaran.

Peneliti percaya jika hasil penelitian tersebut benar-benar di optimalkan di sepanjang pantai, seluruh energi listrik di dunia sudah bisa terpenuhi. ”Jumlah ini ditaksir hanya mengambil 0,2 persen energi pantai,” kata Alan. Keyakinannya semakin lebih diperkuat dengan efisiensi penghasilan energi yang tinggi dan besar, energi gelombang laut ini bisa menjadi energi utama pengganti energi sekarang.

Di samping nilai ekonomis yang cukup menjanjikan ada hal-hal lain yang dapat memberikan keuntungan di bidang lingkungan hidup. Energi ini lebih ramah lingkungan, tidak menimbulkan polusi suara, emisi CO2, maupun polusi visual dan sekaligus mampu memberikan ruang kepada kehidupan laut untuk membentuk koloni terumbu karang di sepanjang jangkar yang ditanam di dasar laut. Pada kasus-kasus seperti ini biasanya lebih menguntungkan karena ikan dan binatang laut selalu lebih banyak berkumpul.

Penempatan buay dengan ukuran yang tidak terlalu besar juga tidak mengganggu pelayaran. Rata-rata dengan besar buoy kurang dari dua meter, kapal besar atau kecil bisa melihat objek tersebut dan dapat menghindarinya.

Bantalan Rel


Bantalan rel adalah landasan tempat rel bertumpu dan diikat dengan penambat rel.

Fungsi bantalan adalah:

  1. Mengikat rel, sehingga lebar sepur tetap terjaga
  2. Mendistribusikan beban dari rel ke balas (gaya vertikal)
  3. Stabilitas ke arah luar jalan rel, dengan mendistribusikan gaya longitudinal dan lateral dari rel ke balas.
  4. Jenis Bantalan

Jenis bantalan yang banyak dipakai perkeretaapian adalah:

Bantalan kayu

Bantalan kayu digunakan pada jalan rel, karena bahannya mudah didapat dan mudah dibentuk.

Secara umum, syarat bahan bantalan kayu adalah utuh dan padat, tidak bermata, tidak ada lubang bekas ulat dan tidak ada tanda-tanda mulai lapuk, kadar air maksimum 25%. Bantalan kayu harus terbuat dari kayu mutu A, dengan kelas kuat I atau II dan kelas awet I atau II.

Ukuran bantalan kayu, dengan toleransinya adalah sebagai berikut:

Bantalan kayu jalan lurus            : Panjang         : L        = 2000 (+40, -20) mm

Lebar              : b        = 220 (+20, -10) mm

Tinggi             : t         = 130 (+10, -0) mm

Bantalan kayu jembatan  : Panjang         : L        = 1800 (+40, -20) mm

Lebar              : b        = 220 (+20, -10) mm

Tinggi             : t         = 200 (+10, -0) mm

Bantalan kayu pada bagian tengah maupun bagian bawah rel harus mampu menahan momen maksimum sebesar:

Kelas kayu Momen maksimum (Kg-m)
I 800
II 530

Perencanaan dimensi bantalan, sepenuhnya memakai teori tegangan lentur, dengan momen lentur dihitung berdasarkan teori balok berhingga di atas tumpuan elastis.

Jika penampang persegi, maka:

Momen maksimum yang dapat dipikul, dihitung berdasarkan tegangan ijin lentur kayu, yaitu:

Kelas I : σlt = 125 kg/cm2

Kelas II           : σlt = 83 kg/cm2

Kekuatan balas (tahanan balas) dalam menahan gaya sentrifugal di lengkung dan gaya tekuk akibat suhu pada pemakaian rel menerus, adalah gesekan pada sisi, bawah dan ujung bantalan.

Salah satu cara untuk memperbesar parameter tahanan balas adalah dengan memperluas permukaan bantalan yang biasa disebut anger bantalan kayu. Pemakaian angker ini, biasanya pada lalu lintas berat, lengkung dengan radius kecil dan pada pemakaian rel panjang menerus.

Kerusakan bantalan kayu lebih banyak diakibatkan karena terjadinya penurunan kekuatan akibat melapuknya kayu, beberapa kerusakan juga diakibatkan oleh tingginya beban, sehingga alat penambat kendor dan beban langsung menekan kepada kayu baik vertikal maupun lateral. Kerusakan lainnya adalah karena susutnya kayu, sehingga untuk ini perlu dipasang pelat pengaman, yang dipasang pada ujung bantalan.

Bantalan besi

Bantalan besi digunakan dalam jalan rel karena umurnya panjang dan ringan sehingga memudahkan pengangkutan dan dipasang.

Jika dilihat pada penampangnya, maka bantalan besi kurang baik stabilisasinya baik vertikal, lateral maupun longitudinal, dibandingkan bantalan kayu maupun beton. Berat sendirinya kecil dan gesekan antara permukaan bantalan dengan balas relative lebih kecil, sehingga tidak bisa dipakai untuk jalan dengan kecepatan tinggi dan pemakaian rel panjang menerus.

Untuk mengurangi timbulnya karat, bantalan besi harus selalu kering, sehingga struktur di bawahnya harus dapat meloloskan air, sedangkan pada daerah-daerah yang sulit kering, dan sering terendam misalnya di perlintasan, maka tidak boleh digunakan bantalan besi.

Pada jalur lurus, bantalan besi mempunyai ukuran:

Panjang                       : 2000 mm

Lebar atas        : 144 mm

Lebar bawah   : 232 mm

Tebal baja        : minimal 7 mm

Bantalan besi pada bagian tengah bantalan maupun pada bagian bawah rel, arus mampu menahan momen sebesar 650 kg-m. Tegangan izin bantalan besi adalah 1600 kg/cm2, sedang momen tahanan bantalan besi minimal 40,6 cm3.

Seperti halnya pada bantalan kayu, maka perencanaan dimensi bantalan, sepenuhnya memakai teori tegangan lentur, dengan momen lentur dihitung berdasarkan teori balok berhingga di atas tumpuan elastis.

Dengan persyaratan tahanan momen dan tegangan izin yang dipakai, maka beban yang dapat diterima dapat dihitung, baik beban statis, maupun beban dinamisnya, sehingga beban gandar maupun kecepatan dapat ditentukan.

Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa salah satu kelemahan bantalan besi adalah dalam stabilitas lateral, sehingga tidak bisa untuk pemakaian rel panjang menerus. Untuk memperbesar tahanan tersebut, maka dapt dipakai ‘anchoring device’ atau ‘safety caps’ seperti pada bantalan kayu, bisa juga dengan mengubah bentuk geometri bantalan besi.

Bantalan beton

Keuntungan pemakaian bantalan beton adalah stabilitas jalan rel lebi baik, umur lebih lama, pemeliharaan renda dan komponen-komponennya lebih sedikit. Berat sendiri bantalan beton cukup besar (160-200 kg), dapat menahan gaya vertikal, lateral dan longitudinal lebih baik, sehingga kereta api dengan tonase berat ataupun dengan kecepatan tinggi cocok menggunakan bantalan beton.

Menurut bentuk geometrinya, ada dua jenis bantalan beton yaitu:

-                Bantalan beton pratekan blok tunggal (monoblok), baik dengan proses ‘posttension’, maupun ‘pretension’.

-                Bantalan beton blok ganda (biblok).

Dari segi produksi, dikenal dua macam produksi yaitu:

-                Longline Production

-                Thosti Operation

Ide pembuatan bantalan beton pratekan bermula dari usaha untuk mengurangi retak-retak yang biasanya timbul pada bagian-bagian yang mengalami tegangan tarik. Pada bantalan beton pratekan, setelah bebannya lewat, retakan-retakan itu relatif merapat kembali karena adanya gaya tekan dari kabel-kabel pratekannya.

Ada dua cara penarikan kabel, yaitu:

-                Kabel ditarik sebelum dicor (pretension)

-                Kabel ditarik setelah dicor (post tension)

Pada proses pretension, penyaluran gaya dari kabel ke beton melalui tegangan geser antara kabel dan beton, sedangkan pada proses post tension melalui suatu sistem penjangkauan di ujung kabel, sistem penjangkauan ini biasanya dipatenkan.

Bantalan Beton Pratekan Blok Tunggal dengan Proses ‘Pretension’

1)            Ukuran bantalan

Pada jalur lurus, bantalan beton pratekan dengan proses pretension, mempunyai ukuran panjang:

Di mana:

l           = jarak antara dua sumbu vertikal rel (mm)

α          = 80 -160

Φ   = diameter kabel baja prategang (mm)

2)            Mutu campuran beton harus mempunyai kuat tekan karakteristik tidak kurang dari 500 kg/cm2, mutu baja untuk tulangan geser tidak kurang dari U-24 dan mutu baja prategang ditetapkan dengan tegangan putus minimum sebesar 17000 kg/cm2.

3)            Bantalan beton pratekan dengan proses pretension harus dapat memikul momen minimum sebagai berikut:

Bagian Momen positif (kg-m) Momen negatif (kg-m)
Bawah rel (Mr) (+1500) -750
Tengah bantalan (Mc) 660 -930 (-765)

4)            Pada setiap titik potong vertikal pada dudukan rel, tegangan minimum adalah 3,5 MPa pada kondisi pratekan awal.

5)            Gaya cabut shoulder minimum 5500 kg/buah, pada kondisi uncrack.

6)            Bentuk penampang bantalan beton arus menyerupai trapesium.

7)            Pusat berat baja prategang diusahakan sedekat mungkin dengan pusat berat beton.

8)            Perhitungan kehilangan tegangan pada gaya prategang cukup diambil sebesar 25% gaya prategang awal, kecuali jika diadakan hitungan teoritis, maka dapat diambil lain dari 25%.

Bantalan Beton Pratekan Blok Tunggal dengan Proses ‘Posttension’

1)            Ukuran bantalan

Pada jalur lurus, bantalan beton pratekan dengan proses posttension, mempunyai ukuran panjang:

Di mana:

l           = jarak antara dua sumbu vertikal rel (mm)

γ    = panjang penyaluran, daerah regulasi tegangan, yang tergantung kepada angker yang dipakai

2)            Mutu campuran beton harus mempunyai kuat tekan karakteristik tidak kurang dari 500 kg/cm2, mutu baja untuk tulangan geser tidak kurang dari U-24 dan mutu baja prategang ditetapkan dengan tegangan putus minimum sebesar 17000 kg/cm2.

3)            Bantalan beton pratekan dengan proses pretension harus dapat memikul momen minimum sebagai berikut:

Bagian Momen positif (kg-m) Momen negatif (kg-m)
Bawah rel (Mr) (+1500) -750
Tengah bantalan (Mc) 660 -930 (-765)

4)            Pada setiap titik potong vertikal pada dudukan rel, tegangan minimum adalah 3,5 MPa pada kondisi pratekan awal.

5)            Gaya cabut shoulder minimum 5500 kg/buah, pada kondisi uncrack.

6)            Bentuk penampang bantalan beton arus menyerupai trapesium.

7)            Pusat berat baja prategang diusahakan sedekat mungkin dengan pusat berat beton.

8)            Perhitungan kehilangan tegangan pada gaya prategang cukup diambil sebesar 20% gaya prategang awal, kecuali jika diadakan hitungan teoritis, maka dapat diambil lain dari 20%.

9)            Pusat berat baja prategang harus selalu terletak pada daerah galih sepanjang tubuh bantalan.

Perencanaan Bantalan Beton Pratekan

Momen lentur yang terjadi pada bantalan akan menyebabkan terjadinya tegangan tarik dan tekan, tegangan izin tarik beton sangat rendah, maka untuk menjadikan tegangan tarik yang bekerja tetap di bawah tegangan izin tarik, maka pada balok diberikan gaya tekan, sehingga dapat dihitung dengan persamaan:

Gaya tekan N dihasilkan oleh kabel yang ditarik lebih dahulu sehingga kabel bertambah panjang, dan apabila dilepas akan berusaha memendek yang ditahan oleh beton, sedangkan M dihitung berdasarkan teori balok di atas tumpuan elastis.

Kehilangan Tegangan (Prestressing Loose)

Bermacam-macam kejadian fisik menyebabkan gaya tekan N yang bekerja pada beton menjadi lebih kecil dari gaya P yang ditegangkan. Berkurangnya gaya tekan ini disebut kehilangan tegangan dan umumnya disebabkan oleh perpendekan elastis, rangkak beton, susut beton, dan relaksasi baja.

Bantalan Beton Biblok

-          Pada jalur lurus, satu bantalan blok ganda mempunyai ukuran sebagai berikut:

Panjang                      : 700 mm

Lebar              : 300 mm

Tinggi rata-rata           : 200 mm

-          Pada bagian jalur lain, dengan pelebaran sepur, panjang batang penghubungnya diatur atau komponen penambatnya diatur.

-          Mutu campuran beton harus mempunyai kuat tekan karakteristik minimal 385 kg/cm2, mutu baja tulangan lentur minimal U-32, dan mutu baja penghubung minimal U-32.

-          Panjang batang penghubung harus dibuat sedemikian rupa, sehingga cukup untuk meletakkan angker penambat.

Pengujian

Pada akhirnya kekuatan bantalan dalam menerima beban harus dibuktikan di lapangan, dan sebelum ini dilakukan diperlukan uji laboratorium, yang meliputi:

-          Uji beban statis

-          Uji cabut

-          Uji dinamis

Konstruksi Penahan Anjlogan

Dalam mengatasi anjlognya roda kendaraan rel, maka dipasang rel pengaman, sehingga jika roda anjlog, maka tidak akan bergerak jauh, sehingga tidak akan fatal. Fungsi utama lainnya untuk mencegah keausan rel, jika dipasang pada jalan lengkung dan pada rel dalam maka pergerakan flens roda rel luar akan terhambat gerakan flens roda rel dalam, sehingga keausan rel luar akan berkurang.

Slab-track

Adalah bantalan yang langsung menjadi satu dengan badan jalan yang dicor dalam bentuk slab. Pengerjaan harus sangat teliti untuk mendapatkan kualitas penggunaan yang nyaman.

Investasi untuk pembangunan lintasan dengan bantalan slab lebih besar dari bantalan beton atau baja tetapi biaya perawatannya jauh lebih rendah.

Digunakan untuk membangun lintasan kereta api cepat, lintasan yang arus lalu lintas kereta apinya tinggi.

Pemilihan jenis bantalan umumnya ditentukan oleh karakteristik beban, umur rencana, harga bantalan serta kondisi tanah dasarnya.

Sungai


Sungai adalah bagian permukaan bumi yang letaknya lebih rendah dari tanah disekitarnya dan menjadi tempat mengalirnya air tawar menuju ke laut, danau,rawa, atau ke sungai yang lain

Karateristik dan Jenis Sungai di Indonesia dan dunia

  • Berdasarkan sumber airnya air sungai dibedakan menjadi tiga macam :
  1. Sungai Hujan, adalah sungai yang airnya berasal dari air hujan atau sumber mata air. Contohnya adalah sungai-sungai yang ada dipulau Jawa dan Nusa Tenggara.
  2. Sungai Gletser, adalah sungai yang airnya berasal dari pencairan es. Contoh Sungai yang airnya murni dari pencairan es saja (ansich) pada bagian hulu sungai Gangga di India (yang berhulu di peg.Himalaya) dan hulu sungai Phein Jerman (yang Berhulu di Peg.Alpen)  dapat dikatakan sebagai contoh jenis sungai ini.
  3. Sungai Campuran, adalah sungai yang airnya berasal dari pencarian es (gletser) dari hujan, dan sumber mata air. Contoh sungai jenis ini adalah Sungai Digul dan Sungai Mamberano di Papua (Irian Jaya).
  • Berdasarkan  debit airnya (volume airnya), sungai dibedakan menjadi :
  1. Sungai Permanen, adalah sungai yang debit airnya sepanjang tahun relative tetap. Contoh Sungai Kapuas, Kahayan, Barito dan Mahakam Di Kalimantan. Sungai Musi, Batanghari dan Indragiri di Sumatera.
  2. Sungai periodik, adalah sungai yang pada musin hujan airnya banyak sedangkan pada musim kemarau airnya kecil. Contoh sungai ini banyak dipulau Jawa seperti Bengawan Solo, sungai Opak, Sungai Progo, Sungai Code, dan Sungai Brantas.
  3. Sungai Episodik, adalah Sungai yang pada musim kemarau airnya kering dan pada musim hujan airnya banyak. Contoh : Sungai kalada dipulau Sumba.
  4. Sungai Ephemeral, adalah sungai yang ada airnya hanya pada saat musim hujan, pada musim hujan airnya belum tentu banyak.
  • Berdasarkan asal kejadiannya sungai dibedakan menjadi :
  1. Sungai Konsekuen, adalah sungai yang airnya mengalir mengikuti arah lereng awal.
  2. Sungai Subsekuen atau strike valley, adalah sungai yang aliran airnya mengikuti strike batuan.
  3. Sungai Obsekuen, adalah sungai yang aliran airnya berlawanan arah dengan sungai konsekuen atau berlawanan arah dengan kemiringan lapisan batuan serta bermuara ke sungai subsekuen.
  4. Sungai Resekuen, adalah sungai yang airnya mengalir mengikuti arah kemiringan lapisan batuan  dan bermuara di sungai subsekuen.
  5. Sungai Insekuen, adalah sungai yang mengalir tanpa dikontrol oleh struktur geologi.
  • Berdasarkan Struktur Geologinya sungai dibedakan menjadi :
  1. Sungai Anteseden, adalah sungai yang tetap mempertahankan arah aliran airnya walaupun ada struktur geologi (batuan ) yang melintang ,hal ini karena kuatnya arus sehingga mampu menembus batuan yang merintangi.
  2. Sungai Superposed, adalah sungai yang melintang, struktur dan prosesnya dibimbing oleh lapisan batuan yang menutupinya.
  • Berdasarkan pola aliranya sungai dibedakan menjadi :
  1. Dendritik, adalah pola  aliran yang tidak teratur, pola lairanya seperti pohon, dimana sungai induk memperoleh aliran dari anak sungainya .
  2. Trellis, adalah pola aliran yang menyirip seperti daun.
  3. Rektanguler, adalah pola aliran yang membentuk sudut siku-siku atau hampir siku-siku 90 ”.
  4. Pinate, adalah pola aliran dimana muara-muara anak sungainya membentuk sudut lancip.
  5. Anular, adalah pola aliran sungai yang membentuk lingkaran.

Permasalahan serta penanggulangannya pada sungai-sungai yang ada di Indonesia :

  1. Di Indonesia, pentingnya konservasi tanah dan air pada satuan sistem DAS mulai disadari setelah terjadi banjir besar Bengawan Solo tahun 1966. Kesadaran tersebut ditindaklanjuti dengan upaya penanggulangan pada skala luas melalui Proyek Penghijauan Departemen Pertanian 001 pada tahun 1969. Sistem pengelolaan DAS untuk mendukung pelaksanaan konservasi tanah diformulasikan pada tahun 1972 melalui proyek Upper Solo Watershed Management and Upland Development Project (TA INS/72/006). Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah (Arsyad, 2000).
  2. Pengelolaan DAS dapat menghasilkan dampak positif berupa produksi pertanian, hasil hutan, peternakan, rekreasi, air dan sebagainya. Selain itu pengelolaan DAS dapat pula menghasilkan efek negatif berupa erosi, sedimentasi, kehilangan unsur hara, longsor, dan sebagainya. Penurunan pada dampak negatif pengelolaan DAS akan meningkatkan output. Apabila dampak positif yang dapat diperoleh dari pengelolaan DAS lebih besar dibandingkan dengan dampak negatifnya, maka pengelolaan DAS tersebut memberikan manfaat bersih yang positif. Jadi, tujuan pengelolaan DAS adalah untuk memaksimumkan manfaat sosial ekonomi bersih pada kegiatan penggunaan lahan di dalam DAS. Pengelolaan DAS yang baik membutuhkan adanya jejaring kerja yang baik antar institusi pengelola SDA di DAS dalam suatu kerangka kerja yang disepakati bersama. Konsensus akan kerangka kerja tersebut perlu dibangun dari seluruh pihak yang terkait.
  1. Pembukaan lahan secara besar-besaran menyebabkan air hujan langsung mengalir ke sungai sehingga menyebabkan terjadinya banjir pada daerah sekitar sungai.
  2. Penambangan pasir dan kerikil secara ilegal menyebabkan terjadinya erosi pada tebing-tebing sumgai, pendangkalan sungai, dan pelebaran sungai.
  3. Pembuangan limbah/sampah ke sungai yang menyebabkan terjadinya polusi, banjir, dan menimbulkan sumber penyakit, pencemaran seperti ini umumya terjadi diseluruh kota-kota besar yang ada di Indonesia.
  4. Banjir luapan sungai yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dimana kedatangannya secara perlahan, diawali hujan yang  turun secara periodik mengikuti musim hujan serta dapat dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Contohnya : Banjir yang melanda tiga kecamatan di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (Sumut), diperkirakan menyebabkan kerugian sekitar Rp 22 miliar. Jumlah itu bersumber dari kerusakan rumah penduduk, pertanian, jembatan dan sarana sosial lainnya.
  5. Banjir pasang surut yang disebabkan oleh pasang surut pada daerah pasang surut yang datang secara periodik mengikuti pola pasamg surut dan berkaitan dengan subsiden.
  6. Dalam ekspedisi Bengawan Solo Kompas 2007 terdapat beberapa masalah yang ditemukan pada sungai Bengawan Solo antara lain :

-          Erosi yang terjadi sejak hulu hingga hilir, pada musim hujan air sudah sangat keruh sejak dari hulu dan terdapat material dari tebing yang tersuspensi dalam air tersebut, sedangkan pada musim kemarau air terlihat lebih jernih, tetapi material tersuspensi tetap ada.

-          Terjadi sedimentasi yang parah di Bendungan Serbaguna Wonogiri (Waduk Gajah Mungkur) dan  Bendung Colo, Sukoharjo.

-          Maraknya penambangan pasir yang meninggalkan lubang-lubang besar di dalam sungai menyebabkan ketidakstabilan tebing yang memperparah longsor serta bangunan-bangunan di sekitarnya seperti jembatan yang terancam ambruk.

-          Pendangkalan sungai, waduk, dan bendung karena sedimentasi ini selanjutnya menyebabkan banjir di lembah Bengawan Solo.

-          Pencemaran akibat sampah dan limbah lainnya baik yang bersifat organik ataupun anorganik, membuat air terlihat berbusa dan berbau selepas Bendung Colo, Sukoharjo.

-          Buruknya kualitas air sungai akibat pencemaran tidak memenuhi syarat oleh Intalasi Pengolahan Air minum (IPA) karena dapat berdampak buruk pada kesehatan manusia.

-          Akibat tercemarnya pada muara Bengawan Solo, vegetasi mangrove di muara tersebut sangat kurang, padahal muara itu adalah tempat pemijahan ikan.

  1. Permasalahan banjir yang terus menerue melanda Ibu Kota kita yaitu Jakarta. Banjir akibat luapan sungai Ciliwung yang tidak sanggup menampung air yang berasal dari daerah tangakapan sungai yang alirannya berasal dari Bogor, selain itu badan sungai Ciliwung semakin menyempit karena pada daerah hulu ataupun hilirnya sudah dipenuhi oleh pemukiman penduduk, baik yang berdiri dipinggir sungai ataupun perumahan disekitarnya.

Solusinya adalah :

Direktur Tata Ruang dan Perumahan Bappenas Salysra Widya mengutarakan, permasalahan egoisme wilayah dalam menyusun langkah mengatasi banjir dapat dijembatani oleh pemerintah pusat. Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang dapat duduk bersama dengan pemerintah pusat untuk merealisasikan ide rekayasa sungai dan pembatasan peralihan penggunaan lahan di kawasan daerah resapan air. Namun, Pemprov DKI Jakarta perlu memberikan kompensasi tertentu kepada pemerintah-pemerintah daerah yang bersangkutan agar mereka tetap dapat memperoleh PAD jika menjalankan rencana itu. Dengan demikian, semua daerah saling diuntungkan meskipun Jakarta harus mengeluarkan dana besar untuk itu.

Solusi di hulu harus berkesinambungan, antara pembatasan penggunaan lahan, reboisasi intensif, dan pembangunan bendungan. Jika hanya satu langkah yang dilaksanakan, langkah lain akan menjadi kurang efektif. Di hilir, selain pembuatan Banjir Kanal Timur, Firdaus mengusulkan pembuatan penampungan air bawah tanah dalam skala besar atau deep tunnel reservoir. Penampungan air bawah tanah, seperti yang diterapkan Chicago (Amerika Serikat) dan Singapura mampu menampung sekitar 200 juta meter kubik air dan dapat bertahan 125 tahun. Ide penampungan air bawah tanah adalah menampung semua limpahan air banjir dan limbah cair dari sanitasi lingkungan ke dalam bendungan bawah tanah. Air tampungan itu dapat diolah dan digunakan sebagai cadangan air baku bagi Jakarta.

Peristiwa banjir besar yang melanda kota Jakarta bulan Februari 2007 lalu tidak lantas membuat Pemprov DKI tinggal diam. Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo telah melakukan persiapan-persiapan untuk mengantisipasi jika bencana banjir terjadi kembali.

Dia mengatakan upaya lain yang akan dilakukan adalah dengan mengeruk seluruh sungai yang ada di Jakarta. Untuk melakukan pengerukan ini Pemprov membutuhkan biaya sebesar Rp 1,2 triliun.
Untuk pengerukan tersebut dibutuhkan lahan sebesar 100 hektar, dengan kedalaman 2 meter. Wagub juga telah melakukan kontak dengan perwakilan Bank Dunia untuk membicarakan soal pembiayaan dan perawatan lahan tersebut.

  1. Pada kota Banjarmasin tahun 2004 terjadi  banjir yang disebabkan karena beberapa masalah, padahal sungai pada Banjarmasin itu sendiri sangat banyak sampai-sampai terdapat pasar terapung. Beberapa msalahnya sebagai berikut :

-          Perumahan serta pemukiman penduduk yang tidak lagi memperhatikan bantaran sungai, diuruk hingga 30 meter ke arah badan sungai. Bahkan banyak sungai yang hanya tinggal nama karena sudah berubah menjadi badan jalan, bangunan kantor, dan peruntukkan lainnya.

-          Permasalahan sampah yang membuat beberapa sungai menjadi mati karena aliran sungai terhambat oleh sampah.

-          Masalah kesehatan timbul karena buruknya kualitas air sungai yang sudah tidak higienis serta kumuh.

-          Permasalahan pun dapat timbul karena tata ruang kota yang kurang memperhatikan lingkungan, baik itu pencemaran udara, air serta pembuangan limbah pada badan sungai dan pembangunan yang tidak memperhatikan aliran sungai beserta hutan-hutan yang berfungsi membantu mengurangi luapan air berlebihan pada sungai.


I. Pendahuluan

Indonesia memiliki lebih dari 5.590 sungai yang sebagian besar di antaranya memiliki kapasitas tampung yang kurang memadai sehingga tidak bisa terhindar dari bencana alam banjir, kecuali sungai-sungai di Pulau Kalimantan dan beberapa sungai di Jawa. Secara umum sungai-sungai yang berasal dari gunung berapi (volcanic) mempunyai perbedaan slope dasar sungai yang besar antara daerah hulu (upstream), tengah (middlestream) dan hilir (downstream) sehingga curah hujan yang tinggi dan erosi di bagian hulu akan menyebabkan jumlah sedimen yang masuk ke sungai sangat tinggi. Tingginya sedimen yang masuk akhirnya menimbulkan masalah pendangkalan sungai terutama di daerah hilir yang relatif lebih landai dan rata, sehingga sering terjadi banjir di dataran rendah. Sungai-sungai tersebut dikelompokkan menjadi 90 (sembilan puluh) Satuan Wilayah Sungai (SWS) yang terdiri dari 73 SWS propinsi dan 17 SWS pusat yang berlokasi dilintas propinsi.

Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan dan pengelolaan sungai, meliputi: (i) ketidakjelasan peran dan batasan wewenang antara kabupaten, kota, propinsi, dan pusat dalam penanganan, pengelolaan dan pembiayaan sungai; (ii) kecenderungan peningkatan potensi konflik pemanfaatan air di daerah dan wilayah sungai; (iii) tidak terkendalinya penambangan galian c (pasir) di badan sungai sehingga menurunkan fungsi bangunan pengambilan air; (iv) sedimentasi tinggi akibat rusaknya daerah hulu/catchment area; (v) makin cepatnya penurunan kapasitas pengaliran air sungai dan bangunan pengendali banjir; (vi) makin besarnya perbedaan aliran dasar sungai pada musim hujan dan musim kemarau (Qmax-Qmin); (vii) makin menurunnya kualitas air sungai, khususnya di daerah aliran tengah dan hilir; (viii) tidak terkendalinya permukiman penduduk di daerah bantaran sungai sehingga meningkatkan risiko banjir; (ix) belum memadainya database sungai.

II. Hidrolika Sungai

Sungai atau saluran terbuka menurut Triatmodjo (1996:103) adalah saluran dimana air mengalir dengan muka air bebas. Pada saluran terbuka, misalnya sungai (saluran alam), variabel aliran sangat tidak teratur terhadap ruang dan waktu. Variabel tersebut adalah tampang lintang saluran, kekasaran, kemiringan dasar, belokan, debit aliran dan sebagainya.

Tipe aliran saluran terbuka menurut Triatmodjo (1996:104) adalah turbulen, karena kecepatan aliran dan  kekasaran dinding relatif besar. Aliran melalui saluran terbuka akan turbulen apabila angka Reynolds Re > 1.000, dan laminer apabila  Re < 500. Aliran melalui saluran terbuka dianggap seragam (uniform) apabila berbagai variabel aliran  seperti kedalaman, tampang basah, kecepatan, dan debit pada setiap tampang saluran terbuka adalah konstan. Aliran melalui saluran terbuka disebut tidak seragam atau berubah (non uniform flow atau  varied flow), apabila variabel aliran seperti kedalaman, tampang basah, kecepatan di sepanjang saluran tidak konstan. Apabila  perubahan aliran terjadi pada jarak yang pendek maka disebut aliran berubah cepat, sedang apabila terjadi pada jarak yang panjang disebut aliran berubah tidak beraturan. Aliran disebut mantap apabila variabel aliran di suatu titik seperti kedalaman dan kecepatan tidak berubah terhadap waktu, dan apabila berubah terhadap waktu disebut aliran tidak mantap. Selain itu aliran melalui saluran terbuka juga dapat dibedakan menjadi aliran sub kritis (mengalir) jika Fr <1, dan super kritis (meluncur) jika Fr >1. Diantara kedua tipe tersebut aliran adalah kritis ( Fr =1).

III. Bentuk Daerah Aliran Sungai (DAS)

Bentuk DAS akan berpengaruh pada banyaknya dan kecepatan aliran air berkaitan dengan kemungkinan terjadinya variabilitas pada sifat-sifat tanah, kemiringan, topografi, vegetasi serta sistem drainase yang ada. Secara umum bentuk DAS dapat di golongkan ke dalam tiga bentuk (Sudarsono dan Takeda, 1980) yaitu: (i) sempit memanjang dengan sistem percabangan sungai tersusun seperti  bulu burung, (ii) melebar (membulat atau persegi empat) dengan sistem percabangan akan terpusat pada tempat-tempat tertentu, dan (iii) segi tiga dengan sistem percabangan sungai yang juga akan terpusat di dekat out-let. Pada DAS yang berbentuk sempit memanjang, sedimen yang tinggi juga akan merusak sarana dan fasilitas  irigasi dan instalasi air minum yang ada. Sedimentasi juga akan mendangkalkan sungai dan waduk. Kapasitas tampung sungai dan waduk akan berkurang dan kemampuan transportasi sungai juga terhambat.

IV. Transpor Sedimen

Gerusan yang terjadi pada suatu sungai terlepas  dari ada dan tidaknya bangunan sungai selalu berkaitan dengan peristiwa transpor sedimen. Transpor sedimen merupakan suatu  peristiwa terangkutnya material dasar sungai yang terbawa aliran sungai. Kironoto (1997) dalam Mira (2004:13), menyebutkan bahwa akibat adanya aliran air timbul gaya-gaya aliran yang bekerja pada material sedimen. Gaya-gaya tersebut mempunyai kecenderungan untuk menggerakkan/ menyeret material sedimen. Untuk material sedimen kasar (pasir dan batuan / granuler), gaya untuk melawan gaya-gaya aliran tersebut tergantung dari besar butiran sedimen. Untuk material sedimen halus yang mengandung fraksi lanau (silt) atau lempung (clay) yang cenderung bersifat kohesif, gaya untuk melawan gaya-gaya aliran tersebut lebih disebabkan kohesi daripada berat material (butiran) sedimen.

V. Muara Sungai (Estuaria)

Estuaria adalah perairan yang semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga air laut dengan salinitas tinggi dapat bercampur dengan air tawar (Pickard, 1967). Kombinasi pengaruh air laut dan air tawar tersebut akan menghasilkan suatu komunitas yang khas, dengan kondisi lingkungan yang bervariasi, antara lain 1. tempat bertemunya arus sungai dengan arus pasang surut, yang berlawanan menyebabkan suatu pengaruh yang kuat pada sedimentasi, pencampuran air, dan ciri-ciri fisika lainnya, serta membawa pengaruh besar pada biotanya. 2. pencampuran kedua macam air tersebut menghasilkan suatu sifat fisika lingkungan khusus yang tidak sama dengan sifat air sungai maupun sifat air laut. 3. perubahan yang terjadi akibat adanya pasang surut mengharuskan komunitas mengadakan penyesuaian secara fisiologis dengan lingkungan sekelilingnya. 4. tingkat kadar garam di daerah estuaria tergantung pada pasang-surut air laut, banyaknya aliran air tawar dan arus-arus lain, serta topografi daerah estuaria tersebut.

Secara umum estuaria mempunyai peran ekologis penting antara lain : sebagai sumber zat hara dan bahan organik yang diangkut lewat sirkulasi pasang surut (tidal circulation), penyedia habitat bagi sejumlah spesies hewan yang bergantung pada estuaria sebagai tempat berlindung dan tempat mencari makanan (feeding ground) dan sebagai tempat untuk bereproduksi dan/atau tempat tumbuh besar (nursery ground) terutama bagi sejumlah spesies ikan dan udang. Perairan estuaria secara umum dimanfaatkan manusia untuk tempat pemukiman, tempat penangkapan dan budidaya sumberdaya ikan, jalur transportasi, pelabuhan dan kawasan industri (Bengen, 2004).

Aktifitas yang ada dalam rangka memanfaatkan potensi yang terkandung di wilayah pesisir, seringkali saling tumpang tindih, sehingga tidak jarang pemanfaatan sumberdaya tersebut justru menurunkan atau merusak potensi yang ada. Hal ini karena aktifitas-aktifitas tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung, mempengaruhi kehidupan organisme di wilayah pesisir, melalui perubahan lingkungan di wilayah tersebut. Sebagai contoh, adanya buangan baik dari pemukiman maupun aktifitas industri, walaupun limbah ini mungkin tidak mempengaruhi tumbuhan atau hewan utama penyusun ekosistem pesisir di atas, namun kemungkinan akan mempengaruhi biota penyusun lainnya. Logam berat, misalnya mungkin tidak berpengaruh terhadap kehidupan tumbuhan bakau (mangrove), akan tetapi sangat berbahaya bagi kehidupan ikan dan udang-udangnya (krustasea) yang hidup di hutan tersebut (Bryan, 1976).

VI. Fluvial

Proses fluvial terdiri dari gerakan sedimen dan erosi  atau endapan di sungai. Erosi oleh air bergerak terjadi dalam dua cara. Pertama, gerakan air di ranjang ini memiliki efek (Hal ini disebut sebagai tindakan hidrolik). Kedua, sedimen diangkut di sungai itu memakai tempat tidur (Abrasion) dan fragmen sendiri tanah turun menjadi lebih kecil dan lebih bundar (Gesekan).

Sedimen diangkut baik sebagai bedload (The kasar fragmen yang bergerak dekat dengan tempat tidur) dan beban yang ditangguhkan (Finer fragmen dibawa dalam air). Ada juga sebuah komponen dibawa sebagai bahan dibubarkan.

Untuk setiap ukuran butir ada kecepatan tertentu di mana butir mulai bergerak, yang disebut Entrainment kecepatan. Namun butir akan terus diangkut bahkan jika kecepatan turun di bawah kecepatan entrainment akibat berkurangnya (atau dihapus) gesekan antara butir dan sungai tempat tidur. Akhirnya akan jatuh kecepatan cukup rendah untuk butir yang akan didepositkan. Hal ini diperlihatkan oleh Kurva hjulstrom. Sebuah sungai terus mengambil dan menjatuhkan partikel padat batu dan tanah dari tempat tidur di seluruh panjangnya. Mana aliran sungai cepat, lebih partikel mengambil daripada menjatuhkan. Mana aliran sungai lambat, lebih partikel yang dijatuhkan daripada mengambil. Daerah di mana lebih partikel yang dijatuhkan disebut dataran aluvial atau banjir, dan partikel menjatuhkan disebut aluvium.

Bahkan sungai kecil membuat endapan aluvial, tetapi di dataran banjir dan delta-delta sungai yang besar besar, secara geologis-endapan aluvial yang signifikan ditemukan.

Jumlah materi yang dibawa oleh sungai besar sangat besar. Nama-nama dari banyak sungai yang berasal dari warna bahwa masalah yang diangkut memberikan air. Sebagai contoh, Huang He di Cina adalah secara harfiah diterjemahkan “Sungai Kuning”, dan Sungai Mississippi di Amerika Serikat juga disebut Big Muddy. Diperkirakan bahwa setiap tahunnya Sungai Mississippi membawa 406 juta ton endapan ke laut,Huang Dia 796 juta ton, dan Sungai Po di Italia 67 juta ton.

VII. Karakteristik Daerah Aliran Sungai (DAS)

Data yang diperlukan dalam penyusunan Karakteristik DAS diambil dari data yang telah ada (data sekunder) dan dilengkapi data yang dirasa masih kurang dalam rangka mendukung analisis pemahaman dan pengetahuan mengenai Karakteristik DAS yang diteliti. Data data yang diperlukan dalam rangka penyusunan Karakteristik DAS terdiri dari :

Morphologi DAS yang meliputi :

a. Bentuk DAS.

b. Relief/ topografi/ land form.

c. Bentuk drainase ( drainage pettern ).

Morphometri DAS yang Meliputi :

a. Kepadatan drainase ( drainage density ).

b. Keliling DAS.

c. Kemiringan DAS.

d. Gradien sungai utama.

e. Panjang sungai utama.

f. Perbedaan tinggi maksimum.

Hidro- orologi DAS :

a. Debit sungai.

b. Curah Hujan.

c. Erosi.

d. Kandungan lumpur.

Geologi :

a. Jenis batuan induk yang dominan.

b. Jenis mineral batuan dan mineral

c. Penyebaran jenis batuan dan mineral

Tanah :

a. Jenis Tanah.

b. Asosiasi tanah.

c. Sifat fisik dan kimia tanah.

Penutupan lahan :

a. Penutupan lahan masa lalu ( > 5 tahun )

b. Penutupan lahan saat ini ( < 5 tahun )

Sosial Ekonomi dan Sosial budaya masyarakat :

a. Demografi penduduk.

b. Sosial masyarakat ( tingkat pendidikan, kelembagaan dll. )

c. Ekonomi masyarakat ( mata pencaharian, tingkat pendapatan ) .

d. Budaya masyarakat ( adat istiadat, kebiasaan dll. ).

VIII. Klasifikasi Karakteristik DAS

Karakteristik yang telah dijelaskan sebelumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Geometri : Panjang ( hulu hilir sungai induk)

Morphometri : Lebar L/P, Luas( DAS, genangan/ sawah/ rawa/ danau menentukan volume sedimen yang mengalir ke outlet), sistem drainase/ kerapatan alur sungai, kelerengan DAS hulu – tengah – hilir (m/Km)

Pola Aliran : Dendritik, radial, retangular, trelis.

Bentuk DAS : Memanjang, radial, paralel, komplek.

Iklim : Curah hujan, suhu, kelembaban, Etp/ evapotranspirasi/ harian/ bulanan.

Landform System/ Unit Geologi/ Rock : Aluvial/ plain/ hills/ mountain/ lahar

Geomorphologi : Kondisi per Sub DAS/ order2- luas sebaran geologinya.

Soil Type/Group : Kondisi fisik dan kimia tanah.

Slope : Kelerengan per Sub DAS.

Erosion Type : Sheet, rill, gully.

Land Cover : Kawasan hutan, luar kawasan hutan ( pertanian, perkebunan, industri, perladangan berpindah, pemukiman/ perkotaan/ pedesaan, penggunaan lainnya).

Sosial Ekonomi : Populasi/jenis kelamin, kepadatan, pertumbuhan, angkatan kerja, mata pencaharian per Sub DAS, tingkat pendapatan, kepemilikan lahan/ land status, sarana/ prasarana/ pendidikan/ perekonomian/ sosial.

Kelembagaan : Instansi yang ada, kelompok tani, Instansi lain yang terkait.

Tata Air : Tinggi muka air sungai, debit aliran sungai, kandungan lumpur/ sedimen.

IX. Teori tentang Karakteristik dan Variabel DAS

Karakteristik dan variabel Daerah Aliran Sungai meliputi beberapa variabel yang dapat diperoleh melalui pengukuran langsung, data sekunder, peta dan dari data penginderaan jauh. Data meteorologi/ klimatologi diperoleh dari data sekunder. Disamping itu diperlukan pengamatan dan pengukuran di lapangan bagi data yang membutuhkan ketelitian geometris yang tinggi. Seyhan (1977) menyatakan bahwa karakteristik DAS dikelompokkan menjadi 2 (dua) katagori yaitu :

  1. Faktor lahan (Ground Factors) yang meliputi topografi, tanah, geologi dan geomorphologi.

2.   Vegetasi dan penggunaan lahan.

Topografi atau bentuk lahan mempunyai korelasi langsung terhadap aliran permukaan (runoff ) dan aliran air bumi, semakin tinggi kelerengan akan berpengaruh terhadap semakin besarnya aliran permukaan (runoff) dan aliran air bumi. Tanah, geologi dan geomorphologi dari suatu DAS, berfungsi sebagai faktor kontrol terhadap besar kecilnya infiltrasi, kapasitas penahan air dan aliran air bumi, sedangkan vegetasi dan penggunaan lahan berfungsi sebagai penghambat, penyimpan dan pengatur aliran permukaan dan infiltrasi. Menurut Seyhan (1977) sistem Daerah Aliran Sungai (watershed) dapat diamati melalui 3 (tiga) tahapan utama yaitu :

1. Sistem Input ( precipitation).

2. Sistem struktur kerja dalam DAS ( operation of the watershed )

3. Sistem output ( runoff )

Avery (1975) dan Seyhan (1977) menyatakan bahwa karakteristik fisik (physical characteristic) dari suatu Daerah Aliran Sungai ( DAS ) terdiri dari :

1. Luas ( Area )

Luas DAS dapat diukur pada potret udara, peta topografi atau dengan peta – peta planimetri yang telah didelineasi batas batas yang akan diukur luasnya, dengan menggunakan planimeter atau dot grid atau dengan fasilitas komputer GIS.

2. Bentuk ( Shape )

Bentuk DAS mempunyai pengaruh pada pola aliran sungai dan ketajaman puncak discharge banjir. Bentuk daerah aliran sungai ini sulit untuk dinyatakan secara kuantitatif. Dengan membandingkan konfigurasi basin, dapat dibuat suatu indeks yang didasarkan pada derajat kekasaran atau circularity  dari DAS.

3. Lereng ( Slope )

Kecepatan dan tenaga erosif dari overland flow sangat dipengaruhi oleh tingkat kelerengan lapangan. Untuk mengukur lereng dapat dilakukan dengan menggunakan alat Abney Level atau clinometer. Pada potret udara pengukuran lereng dapat dilakukan dengan menggunakan slope meter atau dengan mencari beda tinggi dengan paralaks meter.

4. Ketinggian ( Elevation ) DAS

Elevasi rata rata dan variasi ketinggian pada suatu DAS merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap temperatur dan pola hujan, khususnya pada daerah daerah dengan topografi bergunung. Ketinggian suatu tempat dapat diketahui dari peta topografi, diukur dilapangan atau melalui foto udara, jika terdapat salah satu titik kontrol sebagai titik ikat. Hubungan antara elevasi dengan luas DAS dapat dinyatakan dalam bentuk hipsometrik (Hypsometric Curve).

5. Orientasi DAS (Aspect)

Transpirasi, evaporasi dan faktor – faktor yang berpengaruh pada jumlah air yang tersedia untuk aliran sungai, seluruhnya dipengaruhi oleh orientasi umum atau arah dari DAS. Orientasi DAS secara normal dinyatakan dalam derajat azimuth atau arah kompas seperti arah utara, timur laut, timur dan sebagainya. Tanda arah anak panah yang menunjukkan arah DAS dapat dipakai sebagai muka DAS (faces). Arah aliran sungai utama dapat juga dipakai sebagai prtunjuk umum orientasi DAS. LEE (1963) menyatakan bahwa arah DAS dapat dinyatakan sebagi azimuth dari garis utara searah jarum jam.

6. Jaringan Sungai ( Drainage network )

Pola aliran atau susunan sungai pada suatu DAS merupakankarakteristik fisik setiap drainase basin yang penting karena pola aliran sungai mempengaruhi efisiensi sistem drainase serta karakteristik hidrografis dan pola aliran menentukan bagi pengelola DAS untuk mengetahui kondisi tanah dan permukaan DAS khususnya tenaga erosi.

7. Pola Aliran ( Drainage Pattern )

Bentuk pola aliran (drainage pattern) ada bermacam – macam yang masing – masing dicirikan oleh kondisi yang dilewati oleh sungai tersebut. Bentuk pola aliran yang biasa dijumpai ada delapan jenis yaitu :

-  Dendritik.

-  Paralel.

-  Trelis.

-  Rectangular.

-  Radial.

-  Annural.

-  Multibasional.

-  Contorted.

Bentuk pola aliran pada sebagian besar sungai sungai di Indonesia adalah dendritik dengan kondisi yang berbeda beda menurut batuannya.

Batuan limestone dan shale teranyam bertopografi solusional dapat memiliki pola aliran dendritik. Pada topografi dengan lereng seragam, pola aliran yang terbentuk adalah dendritik medium, sedang pada topografi berteras kecil, pola lairan dendritik yang terbentuk adalah dendritik halus.

8. Kerapatan Pengaliran ( Drainage Density )

Metode kuantitatif lain dalam jaringan sungai suatu DAS adalah penentuan kerapatan aliran (drainage density). Lynsley (1949) menyatakan bahwa jika nilai kepadatan aliran lebih kecil dari 1 mile/mile2 (0,62 Km/ Km2), DAS akan mengalami penggenangan, sedangkan jika nilai kerapatan aliran lebih besar dari 5 mile/mile2 (3,10 Km/Km2), DAS sering mengalami kekeringan.

9. Evapotranspirasi

Disamping karakteristik DAS yang telah disebutkan diatas, faktor lain yang juga penting adalah cuaca dan iklim. Karakteristik ini meliputi curah hujan (presipitasi) dan unsur cuaca yang lain (temperatur udara, kelembaban relatif, angin, evaporasi dan jumlah penyinaran matahari).

10.  Pusat Gravitasi DAS

Penentuan pusat gravitasi DAS ialah dengan meletakkan grid pada seluruh DAS, kemudian dihitung secara sistematik banyaknya knot dari grid pada sumbu xi dan yi, menurut sistem koordinat x, y.

11.  Gradien Sungai

Salah satu cara menghitung gradien sungai rata rata adalah dengan slope faktor yang dikembangkan oleh Benson (1962) yaitu dengan menghitung lereng saluran antara 10 % dan 85 % jarak dari outlet.

12.  Panjang Sungai Terpanjang dan Sungai Induk

Panjang sungai terpanjang dalam DAS diukur dari outlet ke sumber asal air.

13.  Variabel Vegetasi dan Penggunaan Lahan

Vegetasi memegang peranan penting dalam proses hidrologi suatu DAS yaitu intercepting hujan yang jatung dan transpirating air yang terabsorbsi oleh akarnya . Perlakuan terhadap vegetasi diperlukan dalam analisis hidrologi tertentu. Tipe vegetasi yang dipilih tergantung pada tujuan analisis yang dilakukan, misalnya untuk pembuatan model pertanian, maka klasifikasi vegetatif dan penggunaan detail sangat diperlukan. Untuk reboisasi, pemilihan jenis vegetasi dan penggunaan lahan dapat kurang rinci, tetapi perbedaan tipe vegetasi di seluruh wilayah sangat penting. Seyhan (1976) menyebutkan beberapa variabel vegetasi dan penggunaan lahan yang digunakan untuk analisa beberapa masalah hidrologi rekayasa adalah :

  • Persentase tanaman pertanian.
  • Persentase rumput dan tanaman penggembalaan.
  • Persentase hutan jarang.
  • Persentase pemukiman dan jalan yang kedap air.
  • Persentase padang rumput dan pohon – pohon yang tersebar.
  • Persentase lahan kosong.
  • Persentase rawa dan danau.

14.  Variabel Tanah dan Batuan

Tipe dan distribusi tanah dalam suatu daerah aliran sungai sangat berpengaruh dalam mengontrol aliran bawah permukaan (Subsurface flow) melalui infiltrasi. Variasi dalam tipe tanah dengan kedalaman dan luas tertentu akan mempengaruhi karakteristik infiltrasi dan timbunan kelembaban tanah (soil moisture storage). Pemilihan variabel tanah juga merupakan fungsi dari tujuan studi, misalnya untuk mempelajari overland flow dalam single watershed, maka watershed tersebut dibagi dalam zona zona menurut tipe tanah, tetapi jika untuk mempelajari yang lebih detail lagi, maka perlu klasifikasi tipe tanah yang detail juga, yang didasarkan pada pembatas permukaan geologi DAS yang bersangkutan yaitu : persentase batuan permeabel, persentase batuan kurang permeabel. Variabel lain yang perlu diperhatikan adalah kedalaman lapisan kedap dan permeabilitas rata rata dari horizon.

15.  Sosial Ekonomi dan Budaya

Data sosial ekonomi dan budaya diperoleh dari data sekunder, informasi sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat dapat diperoleh dari statistik yang dikeluarkan oleh Pemda setempat, mulai dari tingkat Kelurahan/ Desa, sampai dengan Kabupaten dan Propinsi.

X. Eko-Hidraulik

Sejarah ekohirdolik tidak terlepas dari eksplotasi sungai, ekspolitasi itu antara lain

• Koreksi sungai (Rver correction)

• Transpotasi sungai (WaterWay)

• Bangunan tenaga air (Hydropower Plant

Sungai termasuk salah satu wilayah keairan , sungai bisa dibagi menjadi beberapa bagian yaitu sungai kecil, menegah dan sungai besar. Secara ekologi sungai terbagi menjadi wilyah keairan diam atau wilayah keairan dinamis. Wilayah keairan diam misalnya danau dimana pendukung ekosistem merupakan ekosistem yang tertutup. Sedangkan wilayah keairan mengalir merupakan suatu ekosistem yang terbuka dengan factor dominan adalah wilayah air, dari hulu hingga hilir.

Sungai dapat terbagi menjadi beberapa bagian dan dapat diklasifikasikan dengan menggunakan zona memenjang sungai. Zona memanjang pada umumnya diawali dengan kali kecil dari mata air didaerah pegunungan , kemudian sungai menengaha di daerah peralihan antara pegunungan dan dataran rendah, dan selanjutnya sunngai besar pada dataran rendah sampai daerah pantai. Dari literature pada umumnya diketemukan 3 zona sungai yaitu bagian hulu ‘upstrem’ , bagian tengah ‘midle-strem’ dan bagian hilir ‘downsteram’ dari hilir kehulu dapat dailihat perubahan kemiringan seperti tampak pada gambar potongan memanjang sungai juga dapat terbagi menjadi zona melintang dimana dpat dibedakan menjadi 3 yaitu zona akuatik , zona amphibi, dan zona teras sungai.

Sungai juga mempunyai morfologi dimana morfologi sungai menggambarkan keterpaduan antara karakteristik abiotik dan karakteristik biotik daerah yang dilaluinya. Adapun keseimbangan morfologi sungai dapat dibedakan menjadi 4 yaitu :

  1. Keseimbangan statis (tidak ada perubahan sama sekali dalam kurun waktu tak terbatas)
  2. Keseimbangan seragam, yaitu kesetimbngan dimana ada satu atau lebih factor penyusun kondisi memiliki tedensi statis
  3. Keseimbangan dinamis, kesetimbangan yang berbagai factor penyusun suatu kondisi berubah secara bersama-sama
  4. Keseimbanggan dinamis metastabil seragam, kesetimbanggan yang faktor berfluktuasi secara dinamis seragam serta berubah ekstrim secara kontinu.

Seluruh komponen yang membentuk sungai memiliki skala perubahan waktu dan ruang yang berbeda tergantung kekuatan ekologinya dan fisik-hidrauliknya masing-masing. Perubahan skala ruang waktu menurut kern sangatlah penting guna memahami perubahan alami yang biasa terjadi pada sungai dan perubahan yang terjadi karena suatu aktifitas tertentu di sungai. Sebagai contoh adalah jika suatu sungai diluruskan maka dampak dari aktifitas ini akan berpengaruh terhadap seluruh komponen sungai sungai tersebut. Hal ini yang nantinya akan dibahas lebih lanjut pada bahasan tentang ekohidraulik. Selain itu sungai juga akan terpengaruh pada struktur dasar sungai yang mempengaruhi pembentukan sungai itu sendiri.

XI. Eko-Hidraulika sungai

Fungsi sungai sebagai saluran eko-drainase (suatu usaha membuang /mengalirkan air kelebihan ke sungai dengan waktu seoptimal mungkin sehingga tidak menyebabkan terjadinya masalah kesehatan dan banjir di sungai yang terkait, maryono,2001). Selain itu juga bisa sebagi saluran irigasi dan sebagi fungsi ekologi dimana sebagai tempat hidupnya flora dan fauna. Dengan pengetahuan itu perlu diterapkan konsep yang menyentuh semua fungsi sungai di atas maka salah satunya dengan konsep eko-hidrolik dimana konsep ini mempertahankan kondisi sungai tersebut semaksimal mungkin masih seperti semula. Dalam konsep eko-hidraulik tidak ada satu factor apapun yang tidak penting. Maka diperlukan banyak data pendukung seperti data social, fisik hidraulik , ekologi.

Konsep hidraulik murni hanya memperhatikan dua unsure yaitu aliran air dan aliran sedimen, sedangkan pada konsep eko-hidraulik disamping dua itu juga memperhatikan pula komponen vegetasi.

Eko-Engineering dalam Eko-hidraulik

Dalam perkembanganya eko-hidraulik telah menghasilkan rekayasa-rekayasa baru yang dapat digunakan dalam penyelesaian maslah keairan dengan memanfaatkan faktor ekologi yang ada ( misalanya menangani longsor yang ada dengan mengunkan vegetasi yang ada). Penerapan eko-engineering dengan konsep Eko-hidraulik dapat diterapkan misalnya pada penanganan longsoran tebing dengan melakukan penanaman bambu, rumput dan karangkungan atau perlindungan tebing dengan menggunakan ikatan batang atau dengan batu tanah yang ada. Dan bisa juga dengan menggunakan bending rendah pada dasr sungai dengan kayu mati yang akan membuat turunya erosi di dasar sungai.

Konservasi dan pemeliharaan sungai integratif

Konservasi atau pemeliharaan sungai didefinisikan sebagai upaya untuk menjaga keberlangsungan mekanisme ekosistem sungai (perpaduan antara habitat dan organisme sungai) secara mikro maupun secara makro dari hulu hingga hilir, sehingga sungai dapat bermanfaat dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Komponen yang menjadi dasar dalam pemeliharaan sungai terdiri dari:

a) Komponen hidraulik

Meliputi berbagai hal yang berhubungan dengan aliran air dan sedimen. Yang dominan misalnya debit aliran, kecepatan aliran, tinggi permukaan, tekanan air, turbulensi makro, distribusi kecepatan mikro pada lokasi tertentu dan lai-lain.dalam konsep eko hidraulik aliran bukan hanya berhububungan energy potensial tapi juga dengan flora dan fauna di sekiar sungai. Dan yang penting juga adalah mata air disekitar sungai

b) Komponen sedimen dan morfologi sungai

semua sedimen yang ada disungai termasuk sedimen organic dan anorganik

c) Komponen ekologi

segala komponen biotic yang hidup di sungai (flora dan fauna )

d) Komponen sosial

persepsi masyarakat yang ada disekitar bantaran sungai terhadap komponen-komponen di atas

Pemeliharaan sungai intergratif

1. Mempertahankan kondisi abiotik dan biotik

  • dengan cara mempertahan morfologi alur sungai tersebut dengan mempertahankan liku dan alur sungai tanpa mengubahnya, karena bentuk ini yang paling stabil
  • mempertahankan komponen sedimen transport sungai
  • mempertahankan vegetasi yang ada

2. Revitalisasi – Restorasi sungai

adalah upaya konservasi atau pemelihraan sungai dengan cara melakukan restorasi (penerapan eko-hidraulik)

3. koreksi bangunan-bangunan sungai skala kecil

  • koreksi kontruksi perkerasan tebing sungai kecil dengan mengganti perkersan tebing dengan batu atau cor dengan menggunkan vegetasi misalnya bamboo
  • koreksi konstruksi gorong-gorong dengan cara membuat lebih landai gorong-gorong yang berkemiringan tajam yaitu dipasang undak-undak agar ikan dapat bermigrasi
  • koreksi abutmen jembatan bisa dengan cara mempelebar atau pembanguna sempadan untuk jembatan yang lebar

4. pemeliharaan sungai dengan konsep eko-hidraulik dan penanggulangan banjir dalam konsep eko-hidrolik penangulangan banjir secara berbais DAS. Sehingga penangulangan banjir dapat dilakukan dengan cara konsevasi terlebih dahulu terhadap sungai itu sendiri.

Analisa Morfologi Sungai

XII. Komponen Morfologi Sungai Sesayap

Sungai sesayap dikategorikan sebagai sungai aluvial di mana morfologi sungainya merupakan hasil dari proses pengangkutan dan pengendapan partikel-partikel sedimen dari hasil gerusan permukaan (floodplain deposit) dan gerusan tebing sungai ke dalam badan sungai. Letak sumber sedimen tergantung pada iklim, vegetasi, geologi dan perilaku manusia (pembukaan lahan untuk permukiman, pertambangan dan perkebunan).

Geometri dari alur sungai tergantung pada fenomena hidrologi, geologi, dan sedimentasi di DAS. Bentuk tipikal alur sungai adalah hasil dari proses alamiah yang panjang  yang dilakukan oleh interaksi yang kompleks dari beberapa variabel sehingga menghasilkan planform sungai yang kita lihat sekarang ini. Variabel yang dimaksud adalah waktu, geologi, iklim, tipe dan kepadatan vegetasi, catatan panjang debit dan angkutan sedimen di sungai, geometri bantaran sungai, debit rata-rata, karakteristik aliran (kedalaman, kecepatan, turbulensi, dsb). Jika variabel-variabel tersebut berada dalam kondisi relatif konstan maka sungai akan membentuk planform yang relatif konstan pula atau mengalami kondisi yang disebut equilibrium condition. Pada kondisi ini sungai tetap mengalami perubahan bentuk yang dinamis (quasi-quilibrium) namun perubahan tersebut tidak ekstrim  dan sangat lambat. Dalam tinjauan skala waktu geologi yang panjang, morfologi sungai difokuskan pada evolusi landscape yang dipengaruhi oleh iklim, base level (formasi batuan di dasar sungai), dan stabilitas tektonik.

Perubahan karakteristik DAS Sesayap akibat pembukaan lahan yang terus menerus belakangan ini mengakibatkan kondisi morfologi sungai tidak stabil. Distribusi angkutan sedimen sangat bervariasi dalam ukuran waktu dan ruang. Debit, pola aliran, angkutan sedimen, kecepatan arus dapat berubah dalam waktu yang singkat dan sungai  secara reaktif mengalami perubahan planform. Hingga kini belum ada catatan yang merekam riwayat perubahan planform Sungai Sesayap, namun dari besarnya angkutan sedimen, proses sedimentasi dan erosi yang cukup intensif di floodplain dan tebing sungai terutama di ruas Sungai Malinau, dapat dikatakan planform Sungai Sesayap akan terus berubah secara dinamis hingga ditemukan suatu kondisi quasi-equilibrium yang baru. Fenomena ini dapat terlihat jika ada rekaman planform sungai dalam waktu  10 hingga 100 tahun (dalam skala waktu menengah). Jika tinjauan dilakukan dalam skala waktu yang lebih singkat lagi, maka dapat dilihat perubahan topografi dasar sungai (bed topography) yang tersusun dari formasi seperti ripple, dan dune yang ditentukan oleh variasi debit  harian dan karakteristik partikel sedimen. Mengingat usia guna infrastruktur sungai, maka tinjauan morfologi sungai dalam rentang waktu menengah dan singkat lebih relevan untuk ditinjau.

Yang menjadi  titik tekan dalam meninjau  planform sungai ini adalah :

-          Profil memanjang alur sungai (longitudinal profile)

-          Karakteristik meander sungai :

  • Tipe sungai (straight, meandering, braided)
  • Kelengkungan
  • Radius tikungan
  • Frekuensi terbentuknya tikungan di sepanjang sungai
  • Jarak antara meander loop
  • Jarak antara formasi bar

-          Geometri penampang sungai

-          Topografi dasar sungai

XIII. Tinjauan Penampang Melintang

Secara umum alur sungai semakin ke hilir semakin melebar. Semakin ke hilir kapasitas sungai  semakin bertambah untuk mengalirkan debit dari anak-anak sungai dan catchment area di hilir. Pada pengamatan dengan sounding yang dilakukan pada tanggal 23 Juli 2007 diketahui lebar Sungai Sesayap di Tanjung Lapang adalah sekitar 170 meter, di sekitar Jembatan Malinau sebesar  215 m dan  di depan intake lama PDAM kota sebesar 225 meter.

Pertambahan lebar sungai yang signifikan terjadi di sekitar jalan Seluwing (sedikit ke hulu sebelum muara Sungai Sembuak). Kedua tebing sungai sebelah kiri dan kanan mengalami erosi. Fenomena tersebut dapat disebabkan oleh masuknya debit tambahan dari Sungai Sembuak sehingga badan Sungai Sesayap melebar untuk menambah kapasitas sungai. Selain hal tersebut, interaksi gaya hidraulik dan proses erosi-sedimentasi di sungai juga sebagai salah satu penyebab.

Planform sungai yang menikung  mengakibatkan vektor kecepatan di permukaan mengarah ke tebing luar disertai dengan naiknya elevasi muka air di tebing luar, sedangkan di bagian dasar sungai vektor kecepatan menunjukkan arus menjauhi tebing karena kelebihan tekanan hidrostatis. Mekanisme ini melahirkan arus sekunder di tebing luar.

Arus sekunder  atau helical flow  menggerus dasar tebing sehingga stabilitas lereng terganggu, kemudian terjadi keruntuhan tebing. Produk runtuhan tebing di dorong oleh helical flow ke arah tengah sungai dan terdeposisi di tengah sungai bersama-sama dengan hasil angkutan sedimen dari hulu. Sedimentasi di tengah bentang ini dapat disebabkan oleh landainya slope dasar sungai di sekitar Malinau atau dapat pula karena lokasinya yang dekat dari muara sungai Sembuak . Hasil sedimentasi ini membentuk diamond bar.

Diamond bar tumbuh perlahan-lahan seiring dengan terus bertambahnya sumbangan sedimen dari hulu. Formasi bar ini saat ini baru terlihat jika muka air sedang turun. Tumbuhnya mid-channel bar memicu sungai melakukan koreksi terhadap batimetrinya untuk mempertahankan kapasitas pengalirannya, koreksi dilakukan dalam bentuk pelebaran sungai melalui gerusan tebing kiri dan kanan sungai. Gerusan terhadap dasar sungai kemungkinan tidak terjadi karena diperkirakan terdapat formasi bedrock di dasar  sungai.  Diamond bar yang lebih besar terlihat di lokasi  sedikit ke hilir Malinau dan di hulu Tanjung Lapang. Di sekitar Tanjung Lapang, lebar sungai tampak lebih seragam, di tebing kiri vegetasi masih cukup padat untuk melindungi tebing dari gerusan, di tebing kanan  perumahan penduduk sudah  lebih mendominasi dan tanaman asli telah berkurang sehingga lebih rawan gerusan.

Ruas Tanjung Lapang adalah bagian dari kurvatur tikungan beradius cukup besar, di lokasi ini aliran sudah mencapai kondisi axi-simetris dimana arah dan magnitud aliran dan angkutan sedimen telah konstan baik ditinjau melintang maupun memanjang sungai. Helical flow tidak terjadi lagi (decay), dan gerusan yang terjadi secara setempat di tebing sebelah kanan lebih disebabkan  properties tanah.

XIV. Karakteristik Meander

Bagian hulu sungai selalu ditandai dengan kecepatan aliran yang tinggi, endapan sedimen berukuran besar di dasar dan tepi sungai dan kemiringan dasar saluran (slope) yang besar. Tingginya kecepatan di bagian hulu tidak terlepas dari bentuk planform sungai yang cenderung lurus sehingga resistensi sungai terhadap arus cukup rendah. Selain itu kemiringan/ slope dasar sungai yang curam juga menyebabkan kecepatan aliran tinggi.

Bagian ruas tengah (middlestream) hingga ke hilir (downstream) sungai umumnya berkelok-kelok atau bermeander. Semakin ke hilir, kecepatan aliran semakin berkurang sehingga ukuran sedimen yang terangkut pun semakin kecil. Dengan membentuk planform meander,  secara alamiah sungai telah meningkatkan resistensi terhadap aliran sehingga mengurangi intensitas gerusan terhadap tebimg dan dasar sungai. Meander  membuat slope dasar sungai menjadi lebih landai dan kecepatan aliran secara umum berkurang.    Terbentuknya meander di sungai dapat dijelaskan sebagai hasil interaksi antara pola aliran, pengangkutan sedimen, serta karakteristik sedimen di dasar sungai.

Dengan membayangkan suatu sungai berplanform lurus (straight channel), gravitasi mendorong air mengalir kearah hilir yang besarnya berbanding lurus dengan kemiringan dasar saluran. Saat debit mulai rendah (kondisi setelah banjir)  sedimen memilih mengendap di zona  penampang sungai yang kecepatan alirannya rendah yakni di dasar tebing kiri dan kanan .

Perlahan-lahan bar mulai tumbuh  seiring dengan mengendapnya sedimen yang terangkut dari hulu. Setelah ukuran bar cukup besar, aliran terdefleksi ke sisi yang lain dari sungai dengan vektor kecepatan yang terkonsentrasi sehingga kapasitas angkut sedimen menjadi tinggi di sisi  tersebut dan mengakibatkan gerusan di sisi tersebut.

Kecepatan arus yang terkonsentrasi ke arah tebing mengakibatkan gaya sentrifugal (Fc) yang kemudian mengangkat elevasi muka air. Naiknya elevasi muka air dalam arah melintang. Pertambahan elevasi muka air menimbulkan gaya hidrostatis (Fp) yang berlawanan arah dengan Fc. Di permukaan sungai nilai  Fc lebih besar dari Fp sehingga  arus mengalir searah Fc ke arah luar, sedangkan di bagian bawah  ( semakin mendekati dasar sungai nilai Fp semakin besar), Fp lebih besar dari Fc sehingga aliran di bagian bawah bergerak ke arah dalam. Mekanisme ini menghasilkan helical flow.

Helical flow mulai menggerus dasar tebing luar sehingga stabilitas tebing luar terganggu, kemudian terjadi keruntuhan dan gerusan terhadap tebing luar menghasilkan planform cekungan (concave bank). Hasil gerusan tebing terangkut ke bagian hilir cekungan dan mengendap membentuk formasi bar yang baru tepat di ujung hilir cekungan. Adanya bar tersebut mengakibatkan vektor kecepatan kembali terdefleksi ke arah tebing yang lain. Kemudian mekanisme yang sama terulang lagi hingga terbentuk cekungan baru dan bar baru kemudian  alur sungai mulai tampak berkelok.

Akibat gerusan terus menerus, cekungan bermigrasi dalam arah lateral dan produk gerusannya mengendap di sisi yang lain  (lateral migration of bend) sehingga mempertegas kelengkungan meander sungai.

Menurut Planformnya,  sungai dikategorikan sebagai berikut :

Pertama, sungai lurus (straight river) yang kelengkungan (sinuosity) tikungannya kurang dari 1,5.

Kedua, sungai braided yang ditandai dengan banyaknya bar di tengah sungai sehingga terbentuk multi-channel saat kondisi muka air rendah.

Ketiga, sungai bermeander yang mempunyai kelengkungan tikungan lebih dari 1,5.

Geometri tikungan dicirikan oleh  radius, amplitudo, dan panjang gelombang tikungan (valley wavelength). Kelengkungan (sinuosity) adalah jarak  antara dua titik diukur mengikuti alur sungai (Ls)  dibagi dengan jarak lurus  antara kedua titik tersebut (Lv). Sinuosity = Ls/Lv.


Biaya Transportasi

Biaya Transportasi adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan proses transportasi. Biaya tersebut berupa :

  1. Biaya Penyediaan Prasarana
  2. Biaya Penyediaan Sarana
  3. Biaya operasional transport

Pihak Yang menanggung biaya :

  1. Pengguna (Penumpang/penyewa), yang antara lain menangung ongkos/ biaya tiket / biaya sewa dan biaya waktu.
  2. Pemilik sistem (Operator), yang menanggung biaya operasional dan pemeliharaan.
  3. Pemerintah, yang menanggung biaya infrastruktur dan subsidi.
  4. Daerah, yang menanggung biaya tidak lansung berupa  Land Use dan biaya sosial.
  5. Non Pemakai, yang menanggung biaya perubahan nilai tanah, produktifitas dan biaya sosial lainnya.

Biaya dan Tarif Jasa Transportasi

Biaya transportasi adalah sebagai dasar penentuan tarif jasa transportasi. Tingkat tarif berdasarkan pada biaya :

  1. Biaya langsung
  2. Biaya tak langsung
  3. Keuntungan

1. Biaya Langsung

Biaya langsung adalah jumlah biaya yang diperhitungkan dalam proses produksi yang harus dibayarkan langsung

  1. Gaji Awak
  2. BBM
  3. Biaya Di terminal

2. Biaya Tak Langsung

Biaya tak langsung adalah biaya lain dalam menunjang proses produksi, yaitu :

  1. Biaya pemeliharaan
  2. Biaya umum/kantor
  3. Biaya bunga/nilai uang
  4. Pajak.

Biaya Operasional Kendaraan

Biaya Operasi Kendaraan (BOK) (merupakan penjumlahan dari biaya gerak (running  cost) dan biaya tetap (standing cost)

Biaya Gerak yaitu :

  1. Konsumsi bahan bakar
  2. Konsumsi olie mesin
  3. Pemakaian ban
  4. Biaya perawatan onderdil kendaraan dan pekerjaannya
  5. Biaya awak untuk kendaraan umum
  6. Depresiasi kendaraan

Biaya Tetap yaitu :

  1. Biaya akibat bunga
  2. Biaya asuransi
  3. Overhead cost Overhead cost

BOK untuk jalan dihitung dengan menggunakan Persamaan yang dikembangkan PT. PCI (Pacific Consultant International).

Kendaraan Dikelompokkan menjadi 3 golongan

  1. Golongan I meliputi kendaraan penumpang
  2. Golongan II A sejenis bus besar dan
  3. Golongan II B meliputi jenis truk – truk besar.

Konsumsi Bahan Bakar (Lt /1000 km)

Jalan TOL

  1. Kendaraan Gol I           : Y = 0,04376 V2 - 4,94076 V + 207,04840
  2. Kendaraan GoII A        : Y = 0,14461V2 – 16,10285 V + 636,50343
  3. Kendaraan Gol II B      : Y = 0,13485 V2 – 15,12463 V + 592,60931

Jalan Arteri

  1. Kendaraan Gol I      : Y = 0,05693 V2 - 6,42593 V + 269,18567
  2. Kendaraan Gol IIA  : Y = 0,21692V2 - 24,15490 V + 954,78624
  3. Kendaraan Gol IIB  : Y = 0,21557 V2 - 24,17699 V + 947,80862

Konsumsi Oli (Lt / 1000 km)

Jalan TOL

  1. Kendaraan Gol. I        : Y = 0.00029 V2 – 0.03134 V + 1.69613
  2. Kendaraan Gol II A    : Y = 0.00131 V2 – 0.15257 V + 8.30869
  3. Kendaraan Gol II B    : Y = 0.00118 V2 – 0.13770 V +7.54073

Jalan Arteri

  1. Kendaraan Gol I       : Y = 0.00037 V2 – 0.04070 V + 2.20403
  2. Kendaraan Gol II A  : Y = 0.00209 V2 – 0.24413 V+ 13.29445
  3. Kendaraan Gol II B  : Y = 0.00186 V2 – 0.22035 V+ 12.06486

Pemakaian Ban /1000 km

  1. Kendaraan Gol I       : Y = 0.0008848 V  – 0.0045333
  2. Kendaraan Gol II A  : Y = 0.0012356 V  – 0.0065667
  3. Kendaraan Gol II B  : Y = 0.0015553 V   – 0.0059333

Suku Cadang / 1000 km

  1. Kendaraan Gol I         : Y = 0.0000064 V + 0.0005567
  2. Kendaraan Gol II A    : Y = 0.0000332 V + 0.0020891
  3. Kendaraan Gol II B    : Y = 0.0000191 V + 0.0015400

Montir / 1000 km

  1. Kendaraan Gol I         : Y = 0.00362 V + 0.36267
  2. Kendaraan II A           : Y = 0.02311 V + 1.97733
  3. Kendaraan III B         : Y = 0.01511 V + 1.21200

Depresiasi / 1000 km

  1. Kendaraan Gol I       : Y = 1/(2.5 V + 125)
  2. Kendaraan Gol II A  : Y = 1/(9.0 V + 450)
  3. Kendaraan Gol II B  : Y = 1/(6.0 V + 300)

Biaya Bunga / 1000 km

  1. Kendaraan Gol I.        : Y = (0.15 * 1000) / (500 V)
  2. Kendaraan Gol II A    : Y = (0.15 * 1000) / (2571.42857 V)
  3. Kendaraan Gol IIB     : Y = (0.15 * 1000) / (1714.28571 V)

Biaya Asuransi / 1000 km

  1. Kendaraan Gol I         : Y = 38 / (500 V)
  2. Kendaraan Gol II A    : Y = 60 / (2571.42857 V)
  3. Kendaraan Gol. II B   : Y = 61 / (1714.28571V)

Struktur Tarif

Di dalam menangani kebijaksanaan tarif, tujuan apapun yang dibuat, pada akhirnya akan diambil keputusan yang mempertimbangkan dua hal. Pertama: tingkat tarif merupakan besarnya tarif yang dikenakan dan mempunyai rentang dari tarif bebas/gratis sama sekali sampai pada tingkatan tarif yang dikenakan akan menghasilkan keuntungan pada pelayanan. Kedua: mempertimbangkan struktur tarif yang merupakan cara bagaimana tarif tersebut dibayarkan.

Ada beberapa pilihan yang digunakan dalam penetapan tarif angkutan, di antaranya adalah Tarif seragam (flat fare). Dalam struktur tarif seragam, tarif dikenakan tanpa memperhatikan jarak yang dilalui. Tarif seragam menawarkan sejumlah keuntungan yang telah dikenal secara luas, terutama kemudahan dalam pengumpulan ongkos di dalam kendaraan, selain itu struktur ini memungkinkan transaksi yang cepat dan secara umum penampilan tarifnya sederhana. Kerugian utama dari sistem tarif seragam ini adalah tidak diperhitungkan kemungkinan untuk menarik penumpang yang melakukan perjalanan jarak pendek dengan membuat perbedaan tarif.

Struktur tarif seragam ini bermanfaat apabila diterapkan pada daerah yang kawasan pemukimannya sebagian besar terletak melingkar mengelilingi pusat kota. Stuktur ini, di satu pihak merugikan penumpang yang melakukan perjalanan pendek, sebaliknya penumpang yang melakukan perjalanan jarak panjang menikmati keuntungannya.

Tarif berdasarkan jarak (distance-based fare)

Ada beberapa macam struktur tarif yang termasuk ke dalam ini :

  1. Tarif Kilometer

Struktur tarif ini sangat bergantung dengan jarak yang ditempuh, yakni penetapan besarnya tarif dilakukan pengalian ongkos tetap per kilometer dengan panjang perjalanan yang ditempuh oleh setiap penumpangnya. Tarif kilometer cocok untuk perangkutan perkotaan hanya di bawah keadaan-keadaan tertentu dan sekarang ini struktur ini tidak banyak digunakan lagi.

  1. Tarif Bertahap

Struktur tarif ini dihitung berdasarkan jarak yang ditempuh oleh penumpang. Tahapan adalah suatu penggal dari rute yang jaraknya antara satu atau lebih tempat perhentian sebagai dasar perhitungan tarif. Tarif bertahap mencerminkan usaha penggabungan secara wajar keinginan penumpang dan pertimbangan biaya yang dikeluarkan perusahaan dengan waktu untuk mengumpulkan ongkos.

Walaupun ada beberapa keuntungan struktur ini dibandingkan dengan tarif seragam, tarif bertahap dapat merupakan suatu rintangan dalam usaha-usaha merasionalisasi urusan-urusan perangkutan lokal, jika struktur ini diterapkan dengan terlalu banyak perbedaan tarif.

  1. Tarif Zona

Struktur tarif ini merupakan bentuk penyederhanaan dari tarif bertahap jika daerah pelayanan perangkutan dibagi ke dalam zona-zona. Daerah pelayanan perangkutan juga dapat dibagi ke dalam zona-zona yang berdekatan. Jika terdapat jalan melintang dan melingkar, panjang jalan ini harus dibatasi dengan membagi zona-zona ke dalam sektor-sektor.

Kerugian akan terjadi bagi penumpang yang hanya melakukan suatu perjalanan jarak pendek di dalam dua zona yang berdekatan, mereka harus membayar ongkos untuk dua zona. Kerugian ini dapat diimbangi dengan memberlakukan zona tumpang tindih atau skala tarif yang dapat dipakai untuk dua zona.

Metode Penentuan Besaran tarif

Untuk menentukan kebijaksanaan penentuan besaran tarif, salah satu cara yang umum ditempuh adalah dengan menetukan terlebih dahulu tujuan kebijaksanaan tersebut. Ini tidak hanya membutuhkan rumusan-rumusan tujuan yang relevan dan nyata, tetapi juga prosedur yang spesifik untuk meyakinkan bahwa kebijaksanaan yang ditetapkan menuju arah yang benar dan perkembangannnya terus diperhatikan. Jadi, rumusan dan pelaksanaan tujuan dari kebijaksanaan tarif ini haruslah memperhatikan tujuan-tujuan sosial dan ekonomi dari sebagian besar masyarakat.

Biaya Operasi Kendaraan

Biaya operasi kendaraan didefinisikan sebagai biaya yang secara ekonomi terjadi dengan diopersikannya satu kendaraan pada kondisi normal untuk suatu tujuan tertentu. Pengertian biaya ekonomi yang terjadi di sini adalah biaya yang sebenarnya terjadi.

Komponen biaya operasi kendaraan biasanya dibagi dalam 2 (dua) kelompok, yaitu :

Biaya tetap (fixed cost)

Biaya tetap adalah capital cost, yaitu biaya yang harus dikeluarkan pada saat awal dioperasikan sistem angkutan umum. Biaya tetap tergantung dari waktu dan tidak terpengaruh dengan penggunaan kendaraan. Biaya tetap untuk angkutan umum penumpang  terdiri dari 4 (empat) komponen biaya, diantaranya :

  1. Penyusutan Kendaraan

Metode standar dalam mengumpulkan uang untuk pergantian kendaraan adalah dengan menyisihkan sejumlah penghasilan yang diperoleh selama masa pakai kendaraan. Uang inilah yang disebut sebagai biaya depresiasi. Biaya depresiasi dapat diperlakukan sebagi komponen dari biaya tetap, jika masa pakai kendaraan dihitung berdasarkan waktu. Untuk menghitung biaya depresiasi, hal pertama yang dilakukan adalah menentukan harga kendaraan. Harga ini telah termasuk perlengkapan yang dibutuhkan agar kendaraan dapat dioperasikan.

Pada umumnya masa pakai kendaraan tergantung pada kriteria pemilik kendaraan, antara lain :

  • Kualitas dan daya tahan kendaran
  • Kualitas perawatan selama kendaraan dioperasikan
  • Intensitas penggunaan kendaraan setiap tahun
  • Pengaruh perubahan pengembangan kendaraan

Cara menghitung biaya depresiasi adalah dengan mengurangkan harga kendaraan baru dengan harga kendaraan bekas, hasilnya dibagi dengan jumlah pemakaian kendaraan.

  1. Perijinan dan Administrasi

Ijin kendaraan tahunan dikenakan pada masing-masing kendaraan. Biaya pemeriksaan kendaraan ini dikenakan setiap 6 (enam) bulan sekali. Ini bertujuan agar setiap kendaraan umum dapat diperiksa kelayakan jalannya secara periodik, yaitu setiap 6 (enam) bulan.

Untuk angkutan niaga atau angkutan umum penumpang, pemerintah menetapkan untuk membayar Asuransi Jiwa Jasa Raharja setiap tahun yang bertujuan untuk tunjangan kecelakaan lalu lintas bagi pengemudi.

  1. Gaji operator

Alasan mengapa gaji operator kendaraan dikelompokan ke dalam biaya tetap dari pada biaya tetap, karena operator seharusnya tetap memperoleh penghasilan, baik kendaraan beroperasi atau tidak. Apabila gaji awak kendaraan diberlakukan sebagai biaya tetap, maka gaji dapat dibagi 2 (dua), yaitu gaji dasar dan gaji tambahan.

  1. Asuransi Kendaraan

Di beberapa negara, asuransi wajib diberikan kepada kendaraan, paling tidak dimasukkan dalam perhitungan biaya operasi kendaraan. Beban yang dapat ditanggung oleh pihak asuransi, apabila kendaraan rusak, sangat bergantung kepada besarnya premi yang dibayar setiap waktu. Asuransi bahkan dapat dijadikan perlindungan terhadap seluruh kerusakan kendaraan.

Biaya tidak tetap (standing cost)

Biaya tidak tetap merupakan biaya yang dikeluarkan pada saat kendaraan beroperasi. Biaya tidak tetap sering juga disebut sebagai biaya variabel (variable cost), karena biaya ini sangat bervariasi tergantung  hasil yang diproduksi. Komponen biaya yang termasuk ke dalam biaya tidak tetap ini adalah :

  1. Pemakaian BBM

Pemakaian bahan bakar minyak biasanya dihitung berdasarkan jumlah kilometer per liter. Perbedaan pemakaian BBM dari satu operator dengan operator lainnya disebabkan oleh perbedaan cara pengoperasian dan keadaan waktu kendaraan itu dioperasikan.

Beberapa faktor yang mempengaruhi pemakaian BBM :

  1. Ukuran kendaraan, Rata-rata pemakaian BBM meningkat hampir sebanding dengan berat kendaraan.
  2. Cuaca dan ketinggian
  3. Cara mengemudi, Semakin cepat mengemudi semakin tinngi pemakaian BBM, begitu sebaliknya.
  4. Kondisi kendaraan, Semakin tua kendaraan, semakin tinggi pemakaian bahan bakar minyaknya.
  5. Tingkat pengisian
  6. Permukaan jalan, Permukaan jalan yang buruk menyebabkan pemakaian BBM yang lebih banyak dengan kendaraan yang melaju di permukaan jalan yang rata.
  7. Kecepatan kendaraan, Semakin cepat kendaraan tersebut semakin boros pemakaian bensin.
  8. Pemakaian oli mesin

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian oli, antara lain :

  1. Kebijaksanaan pengoperasian dan kondisi kendaraan
  2. Karakteristik jalan dan lalulintas

Ada 3 (tiga) metode dalam memperlakukan karakteristik jalan terhadap pemakaian oli, yaitu :

  • tidak berpengaruh
  • berubah secara seimbang dengan biaya minyak
  • faktor pemisah
  1. Biaya penggunaan ban

Pada umumnya, jangka waktu penggunaan ban dihitung berdasarkan jarak tempuh kendaraan dalam kilometer, walaupun ada beberapa operator mengganti ban dengan menghitung bulan atau penggunaan kendaraan. Beberapa faktor yang mempengaruhi usia pemakaian ban :

  • Cara mengemudi kendaraan
  • Iklim
  • Kualitas ban
  • Kondisi kendaraan
  • Tingkat pengisian
  • Permukaan jalan
  • Kecepatan
  1. Biaya perawatan kendaraan

Biaya perawatan kendaraan terdiri dari biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan, perbaikan, penggantian suku cadang. Ada 2 (dua) dasar perhitungan untuk menentukan besarnya biaya perawatan kendaraan ini, yaitu didasarkan atas jarak tempuh dan jangka waktu, biasanya tahun.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perawatan kendaraan ini, antara lain :

  • Umur dan kondisi kendaraan

Pada umumnya biaya perawatan akan meningkat dengan cepat setelah satu tahun kendaraan digunakan. Dan pada puncaknya, biaya perawatan terbesar pada saat kendaraan turun mesin, sekitar dua tahun atau lebih.

  • Kondisi permukaan jalan

Kendaran yang diopersikan pada jalan kerikil atau yang permukaannya kasar, maka biaya perawatan kendaraannya semakin besar pula dibanding dengan jalan yang permukaannya beton.

  • Kecepatan kendaraan

Dengan memperhatikan salah satu suku cadang, seperti kanvas rem, maka dapat ditujukan bahwa kecepatan kendaraan yang tinggi akan mempercepat pemakaiannya, tapi suku cadang ini merupakan pengeluaran kecil dari biaya perawatan kendaraan. Dan ini berlaku untuk kedaaan-keadaan tertentu saja.


Antrian adalah suatu kejadian yang biasa dalam kehidupan sehari–hari. Menunggu di depan loket untuk mendapatkan tiket kereta api atau tiket bioskop, pada pintu jalan tol, pada bank, pada kasir supermarket, dan situasi–situasi yang lain merupakan kejadian yang sering ditemui. Studi tentang antrian bukan merupakan hal yang baru.

Antrian timbul disebabkan oleh kebutuhan akan layanan melebihi kemampuan (kapasitas) pelayanan atau fasilitas layanan, sehingga pengguna fasilitas yang tiba tidak bisa segera mendapat layanan disebabkan kesibukan layanan. Pada banyak hal, tambahan fasilitas pelayanan dapat diberikan untuk mengurangi antrian atau untuk mencegah timbulnya antrian. Akan tetapi biaya karena memberikan pelayanan tambahan, akan menimbulkan pengurangan  keuntungan mungkin sampai di bawah tingkat yang dapat diterima. Sebaliknya, sering timbulnya antrian yang panjang akan mengakibatkan hilangnya pelanggan/nasabah.

Salah satu model yang sangat berkembang sekarang ini ialah model matematika. Umumnya, solusi untuk model matematika dapat dijabarkan berdasarkan dua macam prosedur, yaitu: analitis dan simulasi. Pada model simulasi, solusi tidak dijabarkan secara deduktif. Sebaliknya, model dicoba terhadap harga-harga khusus variabel jawab berdasarkan syarat-syarat tertentu (sudah diperhitungkan terlebih dahulu), kemudian diselidiki pengaruhnya terhadap variabel kriteria. Karena itu, model simulasi pada hakikatnya mempunyai sifat induktif. Misalnya dalam persoalan antrian, dapat dicoba pengaruh bermacam – macam bentuk sistem pembayaran sehingga diperoleh solusi untuk situasi atau syarat pertibaan yang mana pun.

Sejarah Teori Antrian

Antrian yang sangat panjang dan terlalu lama untuk memperoleh giliran pelayanan sangatlah menjengkelkan. Rata-rata lamanya waktu menunggu (waiting time) sangat tergantung kepada rata-rata tingkat kecepatan pelayanan (rate of services). Teori tentang antrian diketemukan dan dikembangkan oleh A. K. Erlang, seorang insinyur dari Denmark yang bekerja pada perusahaan telepon di Kopenhagen pada tahun 1910. Erlang melakukan eksperimen tentang fluktuasi permintaan fasilitas telepon yang berhubungan dengan automatic dialing equipment, yaitu peralatan penyambungan telepon secara otomatis.

Dalam waktu-waktu yang sibuk operator sangat kewalahan untuk melayani para penelepon secepatnya, sehingga para penelepon harus antri menunggu giliran, mungkin cukup lama. Persoalan aslinya Erlang hanya memperlakukan perhitungan keterlambatan (delay) dari seorang operator, kemudian pada tahun 1917 penelitian dilanjutkan untuk menghitung kesibukan beberapa operator. Dalam periode ini Erlang menerbitkan bukunya yang terkenal berjudul Solution of some problems in the theory of probabilities of significance in Automatic Telephone Exhange. Baru setelah perang dunia kedua, hasil penelitian Erlang diperluas penggunaannya antara lain dalam teori antrian (Supranto, 1987).

Pengertian Antrian

Menurut Siagian (1987), antrian ialah suatu garis tunggu dari nasabah (satuan) yang memerlukan layanan dari satu atau lebih pelayan (fasilitas layanan). Pada umumnya, sistem antrian dapat diklasifikasikan menjadi sistem yang berbeda-beda di mana teori antrian dan simulasi sering diterapkan secara luas.

Klasifikasi  antrian menurut Hillier dan Lieberman adalah sebagai berikut :

1. Sistem pelayanan komersial

Sistem pelayanan komersial merupakan aplikasi yang sangat luas dari model-model antrian, seperti restoran, kafetaria, toko-toko, salon, butik, supermarket, dan sebagainya.

2. Sistem pelayanan bisnis-industri

Sistem pelayanan bisnis-industri mencakup lini produksi, sistem material-handling, sistem pergudangan, dan sistem-sistem informasi komputer.

3. Sistem pelayanan transportasi

Sistem pelayanan transportasi merupakan sistem pelayanan jasa dalam mengantarkan manusia/barang ke tempat tujuan yang dikelola dan di awasi oleh pemerintah.

4. Sistem pelayanan sosial

Sistem pelayanan sosial merupakan sistem-sistem pelayanan yang dikelola oleh kantor-kantor dan jawatan-jawatan lokal maupun nasional, seperti kantor registrasi SIM dan STNK, kantor pos, rumah sakit, puskesmas, dan lain-lain (Subagyo, 2000).

Sistem Antrian

Karakteristik Sistem Antrian

Terdapat sejumlah karakteristik operasi dari suatu sistem antrian:

(1) Probabilitas jumlah pelanggan tertentu dalam sistem tersebut,

(2) Waktu tunggu rata-rata untuk setiap pelanggan,

(3) Panjang antrian yang di harapkan (rata-rata),

(4) Waktu yang diharapkan dalam sistem tersebut untuk setiap pelanggan,

(5) Jumlah rata-rata pelanggan dalam sistemnya, dan

(6) Probabilitas fasilitas pelayanan yang menganggur.

Salah satu fitur sistem antrian ialah disiplin, yaitu apa yang terjadi di antara saat kedatangan seorang pelanggan yang membutuhkan pelayanan hingga saat yang bersangkutan meninggalkan sistemnya.

Komponen Dasar Antrian

Komponen dasar proses antrian adalah :

1. Kedatangan

Setiap masalah antrian melibatkan kedatangan, misalnya orang, mobil, panggilan telepon untuk dilayani, dan lain-lain. Unsur ini sering dinamakan proses input. Proses input meliputi sumber kedatangan atau biasa dinamakan calling population, dan cara terjadinya kedatangan yang umumnya merupakan variabel acak. Menurut Levin, dkk (2002), variabel acak adalah suatu variabel yang nilainya bisa berapa saja sebagai hasil dari percobaan acak. Variabel acak dapat berupa diskrit atau kontinu. Bila variabel acak hanya dimungkinkan memiliki beberapa nilai saja, maka ia merupakan variabel acak diskrit. Sebaliknya bila nilainya dimungkinkan bervariasi pada rentang tertentu, ia dikenal sebagai variabel acak kontinu.

2. Pelayan

Pelayan atau mekanisme pelayanan dapat terdiri dari satu atau lebih pelayan, atau satu atau lebih fasilitas pelayanan. Tiap-tiap fasilitas pelayanan kadang-kadang disebut sebagai saluran (channel) (Schroeder, 1997). Contohnya, jalan tol dapat memiliki beberapa pintu tol. Mekanisme pelayanan dapat hanya terdiri dari satu pelayan dalam satu fasilitas pelayanan yang ditemui pada loket seperti pada penjualan tiket di gedung bioskop.

3. Antri

Inti dari analisa antrian adalah antri itu sendiri. Timbulnya antrian terutama tergantung dari sifat kedatangan dan proses pelayanan. Jika tak ada antrian berarti terdapat pelayan yang menganggur atau kelebihan fasilitas pelayanan (Mulyono, 1991).

Penentu antrian lain yang penting adalah disiplin antri. Disiplin antri adalah aturan keputusan yang menjelaskan cara melayani pengantri. Menurut Siagian (1987), ada 4 bentuk disiplin pelayanan yang biasa digunakan, yaitu :

1.  First Come First Served (FCFS) atau First In First Out (FIFO)

Artinya, lebih dulu datang (sampai), lebih dulu dilayani (keluar). Misalnya, antrian pada loket pembelian tiket bioskop.

  1. Last Come First Served (LCFS) atau Last In First Out (LIFO)

Artinya, yang tiba terakhir yang lebih dulu keluar. Misalnya, sistem antrian dalam elevator untuk lantai yang sama.

3.   Service In Random Order (SIRO)

Artinya, panggilan didasarkan pada peluang secara random, tidak soal siapa yang lebih dulu tiba.

  1. Priority Service (PS)

Artinya, prioritas pelayanan diberikan kepada pelanggan yang mempunyai prioritas lebih tinggi dibandingkan dengan pelanggan yang mempunyai prioritas lebih rendah, meskipun yang terakhir ini kemungkinan sudah lebih dahulu tiba dalam garis tunggu. Kejadian seperti ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal, misalnya seseorang yang dalam keadaan penyakit lebih berat dibanding dengan orang lain dalam suatu tempat praktek dokter.

Dalam hal di atas telah dinyatakan bahwa entitas yang berada dalam garis tunggu tetap tinggal di sana sampai dilayani. Hal ini bisa saja tidak terjadi. Misalnya, seorang pembeli bisa menjadi tidak sabar menunggu antrian dan meninggalkan antrian. Untuk entitas yang meninggalkan antrian sebelum dilayani digunakan istilah pengingkaran (reneging). Pengingkaran dapat bergantung pada panjang garis tunggu atau lama waktu tunggu. Istilah penolakan (balking) dipakai untuk menjelaskan entitas yang menolak untuk bergabung dalam garis tunggu (Setiawan, 1991).

Struktur Antrian

Ada 4 model struktur antrian dasar yang umum terjadi dalam seluruh sistem antrian :

1. Single Channel – Single Phase

Single Channel berarti hanya ada satu jalur yang memasuki sistem pelayanan atau ada satu fasilitas pelayanan. Single Phase berarti hanya ada satu pelayanan.

2. Single Channel – Multi Phase

Istilah Multi Phase menunjukkan ada dua atau lebih pelayanan yang dilaksanakan secara berurutan (dalam phasephase). Sebagai contoh : pencucian mobil.

3. Multi Channel – Single Phase

Sistem Multi Channel – Single Phase terjadi kapan saja di mana ada dua atau lebih fasilitas pelayanan dialiri oleh antrian tunggal, sebagai contoh model ini adalah antrian pada teller sebuah bank.

4. Multi Channel – Multi Phase

Sistem Multi Channel – Multi Phase ditunjukkan dalam Gambar 2.5. Sebagai contoh, her registrasi para mahasiswa di universitas, pelayanan kepada pasien di rumah sakit mulai dari pendaftaran, diagnosa, penyembuhan sampai pembayaran. Setiap sistem – sistem ini mempunyai beberapa fasilitas pelayanan pada setiap tahapnya.

Mekanisme Pelayanan

Ada 3 aspek yang harus diperhatikan dalam mekanisme pelayanan, yaitu :

1. Tersedianya pelayanan

Mekanisme pelayanan tidak selalu tersedia untuk setiap saat. Misalnya dalam pertunjukan bioskop, loket penjualan karcis masuk hanya dibuka pada waktu tertentu antara satu pertunjukan dengan pertunjukan berikutnya. Sehingga pada saat loket ditutup, mekanisme pelayanan terhenti dan petugas pelayanan (pelayan) istirahat.

2.  Kapasitas pelayanan

Kapasitas dari mekanisme pelayanan diukur berdasarkan jumlah langganan yang dapat dilayani secara bersama-sama. Kapasitas pelayanan tidak selalu sama untuk setiap saat; ada yang tetap, tapi ada juga yang berubah-ubah. Karena itu, fasilitas pelayanan dapat memiliki satu atau lebih saluran. Fasilitas yang mempunyai satu saluran disebut saluran tunggal atau sistem pelayanan tunggal dan fasilitas yang mempunyai lebih dari satu saluran disebut saluran ganda atau pelayanan ganda.

3. Lamanya pelayanan

Lamanya pelayanan adalah waktu yang dibutuhkan untuk melayani seorang langganan atau satu-satuan. Ini harus dinyatakan secara pasti. Oleh karena itu, waktu pelayanan boleh tetap dari waktu ke waktu untuk semua langganan atau boleh juga berupa variabel acak. Umumnya dan untuk keperluan analisis, waktu pelayanan dianggap sebagai variabel acak yang terpencar secara bebas dan sama serta tidak tergantung pada waktu pertibaan (Siagian, 1987).

Model-model Antrian

Pada pengelompokkan model-model antrian yang berbeda-beda akan digunakan suatu notasi yang disebut dengan Notasi Kendall. Notasi ini sering dipergunakan karena beberapa alasan. Diantaranya, karena notasi tersebut merupakan alat yang efisien untuk mengidentifikasi tidak hanya model-model antrian, tetapi juga asumsi-asumsi yang harus dipenuhi (Subagyo, 2000).

Format umum model :

(a/b/c);(d/e/f)                                                                                                            (2-1)

Dimana :

a =    distribusi pertibaan/kedatangan (arrival distribution), yaitu jumlah pertibaan pertambahan  waktu.

b =    distribusi waktu pelayanan/perberangkatan, yaitu selang waktu antara satuan-satuan yang dilayani (berangkat).

c =    jumlah saluran pelayanan paralel dalam sistem.

d =    disiplin pelayanan.

e =    jumlah maksimum yang diperkenankan berada dalam sistem (dalam pelayanan ditambah garis tunggu).

f  =   besarnya populasi masukan.

Keterangan :

1.   Untuk huruf a dan b, dapat digunakan kode-kode berikut sebagai pengganti :

M =  Distribusi pertibaan Poisson atau distribusi pelayanan (perberangkatan) eksponensial; juga sama dengan distribusi waktu antara pertibaan eksponensial atau distribusi satuan yang dilayani Poisson.

D  = Antarpertibaan atau waktu pelayanan tetap.

G  = Distribusi umum perberangkatan atau waktu pelayanan.

2.   Untuk huruf c, dipergunakan bilangan bulat positif yang menyatakan jumlah pelayanan paralel.

3.   Untuk huruf d, dipakai kode-kode pengganti :

FIFO atau FCFS = First – In First – Out atau First – Come First – Served.

LIFO atau LCFS = Last – In First – Out atau Last – Come First – Served.

SIRO = Service In Random Order.

G D = General Service Disciplint.

Untuk huruf e dan f, dipergunakan kode N (untuk menyatakan jumlah terbatas) atau  (tak berhingga satuan-satuan dalam sistem antrian dan populasi masukan).

Misalnya, model (M/M/1) berarti bahwa model menyatakan pertibaan didistribusikan secara Poisson, waktu pelayanan didistribusikan secara eksponensial, pelayanan adalah satu atau seorang, disiplin antrian adalah first-in first-out, tidak berhingga jumlah langganan boleh masuk dalam sistem antrian, dan ukuran (besarnya) populasi masukan adalah tak berhingga.

Jembatan Cable Stayed


Jembatan cable stayed (Kabel Tetap) sudah dikenal sejak lebih dari 200 tahun yang lalu (Walther, 1988) yang pada awal era tersebut umumnya dibangun dengan menggunakan kabel vertical dan miring seperti Dryburgh Abbey Footbridge di Skotlandia yang dibangun pada tahun 1817. Jembatan seperti ini masih merupakan kombinasi dari jembatan cable stayed modern. Sejak saat itu jembatan cable stayed mengalami banyak perkembangan dan mempunyai bentuk yang bervariasi dari segi material yang digunakan maupun segi estetika.

Pada umumnya jembatan cable stayed menggunakan gelagar baja, rangka, beton atau beton pratekan sebagai gelagar utama (Zarkasi dan Rosliansjah, 1995). Pemilihan bahan gelagar tergantung pada ketersediaan bahan, metode pelaksanaan dan harga konstruksi. Penilaian parameter tersebut tidak hanya tergantung pada perhitungan semata melainkan masalah ekonomi dan estetika lebih dominan. Kecenderungan sekarang adalah menggunakan gelagar beton, cast in situ atau prefabricated (pre cast).

1. Gaya-Gaya yang Bekerja Pada Jembatan Cable Stayed (Kabel Tetap)

Komponen Jembatan Cable Stayed

Pada dasarnya komponen utama jembatan cable stayed terdiri atas gelagar, sistem kabel , dan menara atau pylon.

a). Sistem kabel

Sistem kabel merupakan salah satu hal mendasar dalam perencanaan jembatan cable stayed. Kabel digunakan untuk menopang gelagar di antara dua tumpuan dan memindahkan beban tersebut ke menara. Secara umum sistem kabel dapat dilihat sebagai tatanan kabel transversal dan tatanan kabel longitudinal. Pemilihan tatanan kabel tersebut didasarkan atas berbagai hal karena akan memberikan pengaruh yang berlainan terhadap perilaku struktur terutama pada bentuk menara dan tampang gelagar. Selain itu akan berpengaruh pula pada metode pelaksanaan, biaya dan arsitektur jembatan. Sebagian besar struktur yang sudah dibangun terdiri atas dua bidang kabel dan diangkerkan pada sisi-sisi gelagar (Walther, 1988). Namun ada beberapa yang hanya menggunakan satu bidang. Penggunaan tiga bidang atau lebih mungkin dapat dipikirkan untuk jembatan yang sangat lebar agar dimensi balok melintang dapat lebih kecil.

b). Tatanan kabel transversal

Tatanan kabel transversal terhadap arah sumbu longitudinal jembatan dapat dibuat satu atau dua bidang dan sebaliknya ditempatkan secara simetri. Ada juga perencana yang menggunakan tiga bidang kabel sampai sekarang belum diterapkan di lapangan. Secara tatanan kabel transversal dapat dilihat pada gambar berikut.

  1. Sistem satu bidang

Sistem ini sangat menguntungkan dari segi estetika karena tidak terjadi kabel bersilangan yang terlihat oleh pandangan sehingga terlihat penampilan struktur yang indah. Kabel ditempatkan ditengah-tengah dek dan membatasi dua arah jalur lalulintas. Untuk jembatan bentang panjang biasanya memerlukan menara yang tinggi menyebabkan lebar menara di bawah dek sangat besar. Secara umum jembatan yang sangat panjang atau sangat lebar tidak cocok dengan penggantung kabel satu bidang.

  1. Sistem dua bidang

Penggantung dengan dua bidang dapat berupa dua bidang vertikal sejajar atau dua bidang miring yang pada sisi atas lebih sempit.

  1. Sistem tiga bidang

Pada perencanaan jembatan yang sangat lebar atau membutuhkan jalur lalulintas yang banyak, akan ditemui torsi yang sangat besar bila menggunakan sistem kabel satu bidang dan momen lentur yang besar pada tengah balok melintang bila menggunakan sistem dua bidang. Kejadian ini menyebabkan gelagar sangfat besar dan menjadi tidak ekonomis lagi. Penggunaan penggantung tiga bidang dapt mengurangi torsi, momen lentur, dan gaya geser yang berlebihan. Penggunaan penggantung tiga bidang sampai saat ini masih berupa inovasi dan baru sampai pada tahap desain (Walther,1988)

2.  Menara

Pemilihan menara sangat dipengaruhi oleh konfigurasi kabel, estetika dan kebutuhan perencanaan serta pertimbangan biaya. Bentuk-bentuk menara dapat berupa rangka portal tropezoidal, menara kembar, menara A, atau menara tunggal.Selain bentuk menara yang telah disebutkan, masih banyak bentuk bentuk menara lain namun jarang digunakan seperti menara Y, menara V, dan lain sebagainya.

3.  Gelagar

Bentuk gelagar jembatan cable stayed sangat bervariasi namun yang paling sering digunakan ada dua yaitu stffening truss dan solid web (Podolny and Scalzi, 1976). Stiffening truss digunakan untuk struktur baja dan solid web digunakan untuk struktur baja atau beton bertulang maupun beton prategang.

Gelagar yang tersusun dari solid web yang terbuat dari baja atau beton cenderung terbagi atas dua tipe (Ganbar 8.9) yaitu :

  1. gelagar pelat (plate girder), dapat terdiri atas dua atau banyak gelagar.
  2. gelagar box (box girder), dapat terdiri atas satu susunan box yang dapat berbentuk persegi panjang atau trapesium.

Kelebihan Jembatan Cable Stayed :

  • Kabel lurus memberikan kekakuan yang lebih besar dari kabel melengkung. Disamping itu, analisis non linier tidak perlu dilakukan untuk geometri kabel lurus.
  • Kabel diangker pada lantai jembatan dan menimbulkan gaya aksial tekan yang menguntungkan secara ekonomis dan teknis.
  • Tiap – tiap kabel penggantung lebih pendek dari panjang jembatan secara keseluruhan dan dapat diganti satu persatu.

Kelemahan Jembatan Cable Stayed

  1. Diperlukan metode pelaksanaan yang cukup teliti jika jembatan Cable Stayed dibangun dengan bentang yang lebih panjang, bagian yang terkantilever sangat rentan terhadap getaran akibat angin selama masa konstruksinya.
  2. Sama halnya dengan jembatan penggantung, kabel penggantungnya memerlikan perawatan yang intensif untuk melindungi dari karat.

Jembatan kabel tetap terpanjang yang sudah ada saat ini adalah Tatara Bridge, di Jepang dengan total panjang 1480 meter dengan lebar bentang 890 meter.

Study Kasus Jembatan Suramadu

A. Metoda Kontruksi Cable Stayed

a. Pelaksanaan Pekerjaan Platform

Platform merupakan konstruksi pendukung sementara yang berfungsi sebagai tempat untuk menginstalasi batching plan, menyimpan material seperti tiang pancang serta sebagai tempat bagi berbagai aktivitas di tengah laut selama kegiatan konstruksi berlangsung.

b. Pelaksanaan Pekerjaan Bored Pile

  • Pemasangan Casing Baja.
  • Pengeboran sampai kedelaman yang diinginkan.
  • Pemasangan tulangan Pengecoran lubang bored pile dengan beton.

c.  Pelaksanaan Pekerjaan Pile Cap

  • Setelah pekerjaan bored pile selesai dikerjakan, semua komponen platform yang menumpu ke steel casing di bongkar.
  • Caisson baja yang berfungsi sebagai bekisting bawah pile cap kemudian dipasang.
  • Pengecoran lapisan sealing concrete untuk menahan masukkan air laut ke pile cap Pemasangan tulangan pile cap.
  • Pengecoran beton pile cap yang dilakukan tiga lapis.
  1. Pelaksanaan Pekerjaan Pylon
  2. Pelaksanaan Pekerjaan Struktur Atas
  3. Abutment Dan Pier Head
  • Konstruksi dasar pylon dan lengan bawah dari pylon.
  • Instalasi elevator pada pylon.
  • Konstruksi balok pengikat pylon bagian bawah.
  • Konstruksi lengah pylon di tengah.
  • Konstruksi balok pengikat tengah.
  • Konstruksi lengan atas pylon.
  • Konstruksi balok pengikat atas.
  • Pemasangan struktur bantu sementara di atas pile cap.
  • Pemasangan segmen girder baja pertama dengan crane barge, hubungan antara segmen dengan pylon dibuat tetap (fix) untuk sementara.
  • Pemasangan cantilever crane pada lantai jembatan untuk mengakat segmen berikutnya.
  • Pemasangan girder baja dengan mneggunakan cantilever crane diikiti dengan penenganan kabel.
  • Pemasangan pelat lantai jembatan pada segmen pertama dan kedua dilanjutkan dengan pengecoran sambungan.
  • Pemasangan girder baja selanjutnya dengan menggunakan cantilever crane diikuti dengan peregangan kabel. Pada saat bersamaan dipasang pilar sementara di dekat pilar V.

Pelaksanaan Pembuatan dilakukan Bertahap

Dimensi Pile Cap

  • Dimensi Atas:                   Dimensi bawah
  • Panjang     : 32                 Panjang  : 30 m
  • Lebar        : 2 m               Lebar      : 4 m
  • Tinggi       : 1.05 m           Tinggi  : 1.5 m

Pelaksanaan pembuatan pier head/ pile cap dilakukan dalam tiga tahap, yaitu pembuatan bekisting, pembesian, dan pengecoran.  Pengecoran dilakukan dalam dua tahap, yaitu bagian bawah pier dan bagian atas pier.

Setelah bekisting selesai dikerjakan, dilakukan pekerjaan pembesian yang meliputi pemasangan/ pengelasan besi WF pengikat tiang pancang, pembesian tulangan pilar bagian bawah, pilar samping, dan pilar bagian atas. Setelah semua tulangan terpasang, tahap berikutnya adalah pekerjaan pengecoran.

Beton dengan K-350 dibuat berdasarkan hasil test pencampuran/ trial mix. Untuk setiap truk mixer beton yang berasal dari batching plant, dilakukan uji slump beton. Slump yang dipersyaratkan adalah t ± 8-12 cm.

Truk mixer kemudian membawa beton ke lokasi proyek untuk dituangkan ke concrete pump. Sebelum dituang, dilakukan pengambilan benda uji sebanyak 48 buah untuk tiap pile cap serta pengujian slump ulang. Dengan bantuan concrete pump, beton tersebut dituangkan ke dalam pile cap lapis demi lapis sambil dipadatkan. Tebal tiap lapisan  ± 30 cm. Setelah itu dilaksanakan pekerjaan finishing pada permukaan beton

Hal penting yang perlu diperhatikan selama pelaksanaan pengecoran beton dengan massa besar (mass concrete)adalah perbedaan suhu. Agar didapat suhu beton merata tanpa terjadi perbedaan yang besar dilakukan perawatan atau curing  beton dengan karung basah selama 14 hari.

  1. PCI Girder

a. Penggunaan Balok PCI Garder

Struktur atas causeway Proyek Jembatan Suramadu menggunakan balok PCI Girder berkekuatan beton K-500, dengan panjang 40 meter, yang terbagi menjadi 7 segmen. Pembagian ini mengingat kondisi lapangan yang tidak memungkinkan, untuk memindahkan balok PCI Girder tersebut secara utuh –sesuai panjang bentang–, dari lokasi pembuatan (pabrik) ke lokasi pemasangan. Selanjutnya dilakukan post tension dengan menggabungkan beberapa segmen balok untuk kemudian disatukan dengan menggunakan perekat dan ditegangkan (stressing).

b. Stressing Girder

Hal penting yang harus diperhatikan dalam pembuatan PCI Girder ini adalah elevasi stressing bed. Lokasi post tensioning harus diusahakan sedatar mungkin agar tidak menyebabkan girder mengalami perpindahan dalam arah lateral. Setelah itu ketujuh segmen balok girder yang telah menjadi satu kesatuan, dijajarkan sesuai bagiannya. Sebelumnya dipersiapkan terlebih dahulu perletakan sementara untuk masing-masing segmen. Di bagian ujung pertemuan harus diberi oli atau pelumas agar balok dapat bergerak mengimbangi gaya pratekan yang diberikan. Kabel strand dipotong sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Pemotongan diusahakan seminimal mungkin agar tidak ada kabel yang terbuang. Berikutnya kabel strand dimasukkan ke dalam duct secara manual pada tiap-tiap tendon sesuai dengan perencanaan. Lalu di pasang pengunci kabel strand di ujung kabel. Penegangan (stressing) dilakukan sampai tegangan 8.000 Psi dengan dilakukan pengontrol tegangan dan perpanjangan kabel. Pencatatan dilakukan pada setiap kenaikan tegangan 1.000-2.000Psi. Dan hasilnya dibandingkan dengan perhitungan teoritis yang dilakukan sebelum penarikan.

c. Erection Girder

Metode pelaksanaan pemasangan PCI Girder untuk sisi Surabaya dan Madura memiliki perbedaan. Hal ini disebabkan karena perbedaan kondisi setempat. Di sisi Madura, kedalaman laut relatif dalam dan tidak terpengaruh adanya pasang-surut air laut. Sedangkan di sisi Surabaya, kondisi laut cukup dangkal dan sangat terpengaruh pasang-surut. Hal ini menyebabkan sistem yang digunakan berbeda. Di sisi Surabaya digunakan metode ‘kura-kura’ atau roller , sedangkan di sisi Madura Menggunakan crane

Metode pelaksanaan pemasangan PCI Girder untuk sisi Surabaya dan Madura memiliki perbedaan. Hal ini disebabkan karena perbedaan kondisi setempat. Di sisi Madura, kedalaman laut relatif dalam dan tidak terpengaruh adanya pasang-surut air laut. Sedangkan di sisi Surabaya, kondisi laut cukup dangkal dan sangat terpengaruh pasang-surut. Hal ini menyebabkan sistem yang digunakan berbeda. Di sisi Surabaya digunakan metode ‘kura-kura’ atau roller , sedangkan di sisi Madura Menggunakan crane.

Panjang PCI Girder setelah terangkai adalah 40 meter, dengan tinggi 2,1 meter, dan berat 80 ton. PCI Girder tersebut didesain untuk hanya menerima beban vertikal dan tidak untuk menerima beban horisontal. Hal ini menyebabkan proses pengangkutan PCI Girder tersebut dari lokasi penyimpanan (stockyard) sampai ke lokasi pemasangan harus dibuat sedatar dan selurus mungkin. Ini untuk menghindarkan terjadinya gaya horisontal akibat gerakan truk yang berlebihan yang dapat menyebabkan balok girder patah. Tahapan pemindahan girder dimulai dengan pengangkatan menggunakan dua crane dan diletakkan pada boogy . Girder tersebut kemudian diangkut dengan boogy ke masingmasing pier. Proses selanjutnya adalah pemindahan dari boogy ke pile cap yang dilaksanakan dengan metode yang berbeda antara sisi Surabaya dan sisi Madura.

  1. Diafragma And Deck Slab

Diafragma adalah elemen struktur yang berfungsi untuk memberikan ikatan antara PCI Girder sehingga akan memberikan kestabilan pada masing PCI Girder dalam arah horisontal. Sistem difragma yang digunakan pada causeway Jembatan Suramadu adalah sistem pracetak. Pengikatan tersebut dilakukan dalam bentuk pemberian stressing pada diafragma dan PCI Girder sehingga dapat bekerja sebagai satu kesatuan. Deck slab merupakan elemen non-struktural yang berfungsi sebagai lantai kerja dan bekisting bagi plat lantai jembatan. Deck slab tersebut dibuat dari beton dengan mutu K-350.

E. Approach Bridge

Untuk bangunan atas menggunakan beton Presstressed Box Girder dengan bentang 80 meter sebanyak 7 bentang, baik untuk sisi Surabaya maupun sisi Madura. Sedangkan struktur bawah terdiri dari pondasi bored pile berdiameter 180 cm dengan panjang 60-90 meter

Main Bridge

Pembagian Lajur Jalan

Lebar Jembatan = 2 x 15.0 m
Lajur kendaraan = 2 x 2 x 3.50 m
Lajur lambat (darurat) = 2 x 2.75 m
Kelandaian maksimum = 3%
Lajur kendaraan

  • Kendaraan roda 4 terdiri dari 4 lajur cepat dan 2 lajur darurat
  • Kendaraan roda 2 terdiri dari 2 lajur

Konstruksi Pylon bentang utama setinggi 146 meter, dengan menggunakan borepile berdiameter 2,4 meter dengan kedalaman 71 meter, Ketinggian vertikal bebas (untuk navigasi) bentang utama adalah 35 meter dari permukaan laut.


I. PENDAHULUAN

Penggunaan tambak untuk memelihara udang sejak lama dilakukan oleh masyarakat petani ikan yang hidup disepanjang pesisir pantai. Menurut sejarahnya, asal mula pemeliharaan udang ditambak dipelopori oleh sejumlah narapidana yang diasingkan kedaerah terpencil pada zaman kolonial.Untuk mempertahankan hidupnya selama di pengasingan, mereka berusaha mencari ikan disepanjang pantai, terutama di daerah pantai yang telah terputus hubungannya dengan laut bebas. Mereka telah mengetahui bahwa di daerah pantai demikian banyak dijumpai ikan yang terperangkap, sehingga mudah untuk ditangkapnya.

Selanjutnya mereka berusaha untuk menciptakan sendiri daerah demikian dengan cara membendung atau menambak daerah tertentu sehingga timbullah istilah tambak. Tentu saja pada saat itu bentuknya masih sangat sederhana, yaitu hanya berupa tumpukan batu karang sekedar menghalangi jalan keluar bagi ikan atau udang.Saat ini ilmu pengetahuan perikanan telah berkembang, sehingga model tambak pun juga mengalami perkembangan seperti bentuk tambak sekarang ini,tambak mulai dilengkapi dengan pintu air, saringan,caren,saluran air, dan sebagainya

II. MENENTUKAN LOKASI TAMBAK

Langkah pertama yang harus dilakukan dalam pembuatan tambak adalah menentukan lokasi yang paling memenuhi persyaratan untuk memedia memelihara udang.Pemilihan lokasi tambak ini tidak hanya untuk menentukan kecocokan lahan sebagai media pemeliharaan udang saja, tetapi juga untuk mendukung modifiksai disain tambak,tata letak tambak, pembuatan konstruksi tambak, dan manajemen yang akan diterapkan.

Pada prinsipnya, lahan yang akan digunakan sebagai tambak harus memenuhi persyaratan fisika, kimia,biologis, teknis, sosial ekonomis,hogienis, dan legal. Untuk mendapatkan lahan yang memenuhi persyaratan tersebut, ada 4 aspek utama yang diperhatikan sebagai kriteria dalam penentuan lokasi tambak, yaitu:

  1. Aspek ekologis
  2. Aspek tanah
  3. Aspek biologis
  4. Aspek sosial ekonomis

Ditinjau dari segi aspek ekologis, keadaan alam, sumber air dan iklim di Indonesia sangat menunjang usaha budi daya di tambak.

Secara ekologis ada 7 faktor yang perlu dipertimbangkan untuk menentukan tingkat kesesuaian lokasi tambak yaitu:

  1. Iklim Dan Suhu Lingkungan
  2. Kuantitas Dan Kualitas Air
  3. Salinitas
  4. Pasang surut air
  5. Arus air
  6. Pola hujan dan rembesan

Kondisi Fisik Air Tambak

Secara garis besar kondisi fisik air tambak merupakan keadaan air tambak ditinjau dari keberadaan dan penampakan partikel-partikel fisik yang dijumpai di dalam perairan tersebut.  Partikel-partikel tersebut muncul sebagai akibat proses yang terjadi di dalam ekosistem perairan maupun karena faktor teknis budidaya sehingga secara tidak langsung ikut mempengaruhi kehidupan organisme yang berada di dalamnya.  Kondisi fisik air tambak juga dapat dijadikan sebagai salah satu tolok ukur kualitas perairan dengan dasar pemikiran sebagai berikut ini :

  1. Pemunculan partikel tersebut dapat dijadikan isyarat bahwa telah terjadi proses (biologi, kimia, fisika) di dalam perairan yang tidak sebagaimana mestinya;
  2. Dalam jumlah yang besar dan jangka waktu lama dapat menyebabkan terganggunya fungsi fisiologis udang dan organisme lainnya;

Ukuran partikel-partikel tersebut ada yang berukuran kecil dan ada yang relatif besar karena karena proses akumulasi yang terjadi.  Pemunculan partikel tersebut bisa berada di lapisan air maupun muncul dipermukaan air tambak.  Melalui pengamatan yang cermat maka penampakannya akan dapat terlihat bahkan terdeteksi semenjak dini penyebab permasalahannya.  Beberap kondisi fisik perairan tambak yang biasa dijumpai antara lain :

  1. Air tambak berdebu, kondisi ini untuk menggambarkan bahwa di dalam air tambak muncul partikel-partikel sangat halus dan melayang-layang karena tidak terlarut atau mengendap di dalam perairan tambak.  Kondisi seperti ini dapat mengakibatkan gangguan pada insang udang dan pada jangka waktu tertentu dapat mengakibatkan penyakit insang merah.   Alternatif perlakuan yang bisa diterapkan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan melakukan peningkatan sirkulasi air baik dari segi frekuensi maupun volumenya secara kontinyu.  Penggunaan saponin pada dosis tertentu diharapkan dapat mengikat partikel yang ada di perairan tambak.
  2. Air tambak berbusa/berbuih, pada kondisi ini air dipermukaan tambak tampak berbusa/berbuih dan akan lebih jelas kelihatan pada saat kincir air dioperasikan.  Hal ini menandakan bahwa di perairan tersebut telah terjadi mortalitas plankthon secara massal yang dapat menimbulkan keseimbangan ekosistem perairan colaps, kecerahan air tambak cenderung tidak stabil, dasar tambak kotor karena endapan bangkai plankthon.  Perlakuan teknis yang dapat digunakan untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan melakukan sirkulasi air secara kontinyu dan pada kondisi tertentu dapat dilakukan inokulasi bibit plankthon secara kontinyu dari petakan tambak lainnya disertai dengan peningkatan dosis penggunaan pupuk atau pemakaian bahan organik.
  3. Pemunculan klekap di permukaan air tambak.  Klekap pada dasarnya merupakan campuran antara kotoran dasar tambak dengan bangkai plankthon yang terangkat ke permukaan air karena adanya proses oksidasi dengan bantuan sinar matahari.  Kondisi ini terjadi karena dasar tambak yang kotor dan kecerahan air tambak yang relatif tinggi.  Klekap bila telah mengendap kembali di dasar tambak akan terjadi pembusukan dan dapat menyebabkan peningkatan kandungan H2S, NH3 di dalam tambak yang berbahaya bagi udang.  Pemunculan klekap di permukaan tambak dapat diatasi dengan pengangkatan klekap dari permukaan tambak dan pembersihan dasar tambak yang diibangi dengan sirkulasi secara kontinyu dan pembentukan kembali kualitas air tambak melalui regenerasi plankthon yang telah mati dengan cara inokulasi bibit plankthon dan pemumpukan dengan dosis yang sesuai dengan kebutuhan;
  4. Tumbuhnya lumut di dalam tambak.  Kondisi ini terjadi karena kecerahan air tambak yang relatif tinggi dan berlangsung dalam kondisi lama dan disertai dengan proses pemupukan yang kontinyu.  Lumut yang tumbuh di dalam tambak akan menghambat aktifitas dan gerak udang serta proses penumbuhan plankthon relatif lebih susah.  Lumut akan hilang jika penetrasi sinar matahari yang membantu pertumbuhan lumut terhalang oleh plankthon pada kecerahan air tertentu.

Ke empat kondisi tersebut di atas merupakan hal yang sering dijumpai pada petakan-petakan tambak yang dalam pengamatan kualitas perairan kurang cermat ataupun pemberian perlakuan teknis yang kurang tepat pada sasarannya.  Perairan tambak dengan kualitas perairan dan kondisi udang yang sesuai dengan keseimbangan ekosistem akan mempengaruhi rona dan kualitas kondisi fisik perairan akan terjaga dengan sendirinya serta sangat tergantung pada upaya untuk mempertahankan kondisi tersebut.

Warna Air Tambak

Warna air tambak pada dasarnya terjadi karena adanya dominansi jenis plankton tertentu yang tumbuh dan berkembang di dalam perairan tambak. Parameter ini dapat digunakan sebagai salah satu tolok ukur kualitas perairan tambak secara praktis melalui pengamatan visual dengan memperhatikan kondisi dan kualitas udang di dalam perairan tersebut dengan dasar pemikiran seperti berikut ini:

  1. Phythoplankton mempunyai karakteristik warna tertentu yang disebabkan oleh kandungan chlorophyl yang relatif berbeda antara jenis yang satu dengan yang lainnya.
  2. Plankton memiliki karakteristik sifat tertentu dalam melakukan proses kegiatannya baik itu biologi, kimia, fisika dan ekologi yang relatif berbeda antara jenis yang satu dengan yang lainnya.
  3. Phythoplankton merupakan produsen utama dalam rantai makanan yang ada di perairan tambak, sehingga dominansinya relatif berpengaruh pada kehidupan organisme lainnya.
  4. Tidak semua jenis plankton yang tumbuh dalam perairan tambak bersifat menguntungkan bagi udang atau organisme lainnya di dalam tambak, sehingga dominansi dari jenis tertentu akan berpengaruh pada tingkat kenyamanan organisme lain di dalam tambak.

Dasar pemikiran diatas memperlihatkan bahwa warna perairan tambak yang disebabkan oleh adanya dominansi jenis plankton tertentu dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan tentang kualitas air tambak. Faktor dominansi plankton di dalam tambak dapat terjadi karena pengaruh bibit plankton yang dimasukkan ke dalam tambak dan treatment yang diterapkan dalam proses penumbuhan dan pengelolaan plankton. Pada saat awal pembentukan air tambak bibit plankton yang dimasukkan ada kemungkinan sudah terjadi dominansi yang selanjutnya tumbuh dan berkembang di dalam tambak. Pada kasus lain bibit plankton yang dimasukkan ke dalam tambak belum terjadi dominansi, tapi treatment yang diterapkan memungkinkan terjadinya pertumbuhan dan perkembangan jenis plankton tertentu sehingga mendominansi perairan tambak.

Aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai dan menganalisis warna air tambak secara garis besar meliputi:

  1. Jenis plankton yang dominan.
  2. Kelimpahan plankton yang dominan.
  3. Kondisi dan kualitas udang.

Analisis terhadap jenis plankton yang dominan didasarkan pada karakteristik dan sifatnya serta tingkat permasalahan yang mungkin ditimbulkan di dalam perairan dan pengaruhnya terhadap organisme lainnya. Perairan tambak yang didominansi oleh jenis plankton yang bersifat menguntungkan dan membawa pengaruh yang nyaman dan aman pada organisme lainnya keputusan yang perlu diambil adalah cara untuk mempertahankan, sedangkan jika dominansi yang terjadi adalah dari jenis plankton yang merugikan maka perlu dilakukan penggantian dominansi plankton dengan melakukan penurunan air tambak dalam volume yang besar dan proses inokulasi bibit plankton yang menguntungkan dari petakan tambak lainnya disertai dengan pemupukan.

Kelimpahan plankton yang dominan di perairan tambak erat hubungannya dengan tingkat kecerahan air tambak seperti telah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya. Kelimpahan yang terlalu tinggi dari jenis plankton yang merugikan akan sangat membahayakan bagi udang dan dapat menimbulkan masalah serius jika tidak segera diantisipasi.

Analisis warna air tambak yang berkaitan dengan dominansi jenis plankton tertentu harus bermuara pada kondisi dan kualitas udang yang hidup di perairan tersebut. Keadaan ini dapat diartikan bahwa meskipun dominansi plankton di perairan tambak tersebut merupakan jenis yang menguntungkan tapi jika kondisi dan kualitas udang mengalami degradasi, maka ada sesuatu masalah di dalam perairan tersebut sehingga perlu diadakan identifikasi dan analisis penyebab masalah secara cermat dan akurat. Sebaliknya jika pengamatan warna air tambak menunjukkan adanya dominansi plankton yang merugikan sedangkan kondisi dan kualitas udang dalam keadaan normal, maka proses penggantian air tambak perlu dilakukan secara bertahap dan kontinyu agar tidak menimbulkan stress pada udang sampai dominansi plankton di dalam tambak tergantikan dengan jenis yang baru dan bersifat menguntungkan.

Kriteria warna air tambak yang dapat dijadikan acuan standar dalam pengelolaan kualitas air adalah seperti di bawah ini:

  1. Warna air tambak hijau tua yang berarti menunjukkan adanya dominansi chlorophyceae dengan sifat lebih stabil terhadap perubahan lingkungan dan cuaca karena mempunyai waktu mortalitas yang relatif panjang. Tingkat pertumbuhan dan perkembangannya yang relatif cepat sangat berpotensi terjadinya booming plankton di perairan tersebut.
  2. Warna air tambak kecoklatan yang berarti menunjukkan adanya dominansi diatomae. Jenis plankton ini merupakan salah satu penyuplai pakan alami bagi udang, sehingga tingkat pertumbuhan dan perkembangan udang relatif lebih cepat. Tingkat kestabilan plankton ini relatif kurang terutama pada kondisi musim dengan tingkat curah hujan yang tinggi, sehingga berpotensi terjadinya plankton collaps dan jika pengelolaannya tidak cermat kestabilan kualitas perairan akan bersifat fluktuatif dan akan mengganggu tingkat kenyamanan udang di dalam tambak.
  3. Warna air tambak hijau kecoklatan yang berarti menunjukkan dominansi yang terjadi merupakan perpaduan antara chlorophyceae dan diatomae yang bersifat stabil yang didukung dengan ketersediaan pakan alami bagi udang.

Standar warna air tambak seperti tersebut di atas merupakan acuan praktis dalam mengidentifikasi jenis plankton sebagai upaya pendeteksian masalah kualitas perairan secara dini. Selain warna standar tersebut ada beberapa warna air tambak yang biasa dijumpai dalam kegiatan usaha budidaya udang, yaitu antara lain:

  1. Warna air tambak kekuningan yang berarti menunjukkan adanya dominansi phytoplankton jenis cyanophyceae. Pada kondisi perairan tambak seperti ini biasanya udang berwarna lebih pucat dari biasanya disertai dengan penurunan nafsu makan udang dan jika tidak segera diantisipasi dapat menimbulkan kerusakan pada hepatopanchreas udang.
  2. Warna air tambak hijau pupus yang berarti menunjukkan adanya dominansi phytoplankton jenis dynophyceae dampak yang ditimbulkan relatif sama dengan point (1).
  3. Warna air tambak biru kehijauan yang berarti menunjukkan adanya dominansi blue green algae dampak yang ditimbulkan relatif sama dengan point (1).
  4. Kamuflase green color, pada kondisi ini tambak seolah-olah berwarna kehijauan tapi pada dasarnya tidak/kurang mengandung plankton. Hal ini terjadi biasanya pada tambak yang kandungan bibit planktonya sangat kurang tetapi kegiatan pemupukan berjalan terus, sehingga warna yang ditimbulkan adalah warna karena pengaruh cuaca. Kejadian ini dapat diketahui dengan mengukur kecerahan perairan tambak yang biasanya sangat tinggi, atau dengan melihat warna air yang ada pada kincir air yang sedang dioperasikan.

Identifikasi jenis plankton di perairan tambak secara praktis dengan melihat warna perairan seperti telah diuraikan di atas perlu ditunjang dengan pengamatan dan analisis laboratorium secara berkala untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Kegiatan ini dilakukan dengan cara pengambilan sampel perairan dan sampel udang dari petakan-petakan tambak baik yang bermasalah maupun yang tidak terkena masalah, sehingga dapat diambil perbandingannya.

Kondisi Dasar Tambak

Kondisi dasar tambak merupakan suatu keadaan fisik dasar tambak beserta proses yang terjadi didalamnya baik yang menyangkut biologi, kimia, fisika maupun ekologi yang secara langsung maupun tidak langsung ikut berpengaruh pada kehidupan udang maupun organisme lainnya dalam suatu keterkaitan ekosistem perairan tambak.  Parameter ini dapat dijadikan sebagai salah satu tolok ukur kualitas perairan tambak dengan dasar pemikiran sebagai berikut :

  1. Dasar tambak merupakan ruang gerak dan tempat hidup bagi udang dan organisme lainnya dalam kondisi normal seperti habitat alaminya, sehingga kondisi dasar tambak akan mempengaruhi tingkat keamanan dan kenyamanan bagi udang maupun organisme lainnya di dalam perairan tersebut;
  2. Dasar tambak merupakan tempat akumulasi kotoran tambak baik yang berasal dari treatment budidaya maupun proses metabolisme yang dilakukan oleh organisme yang hidup di perairan tambak tersebut;
  3. Dasar tambak merupakan suatu area di dalam tambak yang membentuk suatu sub komunitas tersendiri yang bersifat benthic di dalam tambak dan keberadaannya mempunyai korelasi yang erat dengan ekosistem perairan tambak;
  4. Pada dasar tambak terjadi proses-proses biologi, kimia, fisika dan ekologi yang sangat tergantung pada kestabilan ekosistem perairan;
  5. Pada kondisi tertentu, dasar tambak dapat bersifat an aerob karena tidak terjadinya proses oksidasi sehingga dapat membahayakan bagi kondisi dan kualitas udang di dalam tambak.

Kondisi dasar tambak mempunyai keterkaitan secara langsung dengan kondisi dan kualitas udang serta kualitas perairan tambak, yaitu jika perairan tambak berada pada keseimbangan ekosistem dan bersifat stabil serta kondisi dan kualitas udang bagus maka kondisi dasar tambak akan terjaga dengan sendirinya.  Salah satu faktor yang juga ikut menentukan kondisi dasar tambak adalah penempatan posisi kincir air yang dioperasikan pada saat kegiatan budidaya berlangsung.  Posisi kincir yang sesuai dan dapat mengarahkan kotoran dasar tambak ke arah sentral pembuangan dapat meminimalkan terjadinya penyebaran akumulasi kotoran tersebut di dasar tambak, sehingga pada saat dilakukan pembuangan air tambak kotoran tersebut dapat ikut terbawa.

Pada dasarnya setiap petakan tambak yang sedang dioperasikan selalu dijumpai adanya kotoran dan hal yang perlu diperhatikan adalah tingkat keberadaan dan tingkat penyebarannya di dasar tambak dibandingkan dengan tolok ukur dari hasil pengamatan terhadap kondisi dan kualitas udang serta kualitas perairan tambak.  Beberapa faktor penyebab yang dapat mengakibatkan terjadinya akumulasi kotoran di dasar tambak adalah antara lain :

  1. Desain dan kontruksi dasar tambak yang tidak dirancang dengan tingkat kesesuaian terkonsentrasinya kotoran ke arah sentral pembuangan, sehingga menyebabkan kotoran di dasar tambak tersebut menyebar di beberapa titik konsentrasi;
  2. Penempatan posisi kincir air yang kurang tepat, sehingga tidak dapat mengarahkan kotoran tersebut ke arah sentral pembuangan;
  3. Program pakan yang over feeding jika dibandingkan dengan tingkat kebutuhan udang.  Sisa pakan yang berlebihan tersebut tidak terkonsumsi oleh udang dan membusuk serta terakumulasi di dasar tambak menjadi kotoran;
  4. Teknik pemberian pakan yang tidak merata ke seluruh area pakan di dalam petakan tambak, sehingga pakan terakumulasi di satu titik dan tidak terkonsumsi merata sehingga membusuk di dasar tambak;
  5. Tingkat populasi udang di dalam tambak.  Pada tambak dengan populasi udang yang relatif padat, kondisi dasar tambak akan relatif bersih karena kotoran di dasar tambak akan terdorong dengan sendirinya ke sentral pembuangan yang diakibatkan oleh aktifitas udang di dasar tambak;
  6. Kurangnya pengecekkan dasar tambak dengan melakukan penyelaman secara berkala;
  7. Kurangnya intensitas dan frekuensi sirkulasi air yang dapat mendorong kotoran dasar tambak ke arah sentral pembuangan.

Kotoran di dasar tambak biasanya berupa lumpur hitam yang mengendap di dasar serta mengandung H2S dan NH3 yang bersifat asam dalam dosis tertentu dapat membahayakan bagi udang.  Kotoran ini berasal dari proses metabolisme yang dilakukan oleh organisme perairan tersebut, mortalitas plankthon dan sisa pakan udang yang tidak terkonsumsi serta pengaruh dari treatment budidaya lainnya.  Keberadaan lumpur hitam di dasar tambak dapat teramati melalui cara antara lain :

  1. Pengamatan warna kulit/khitin udang melaui sampling berkala maupun pengamatan ancho.  Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya berdampak pada penampakan kulit udang yang cenderung berwarna lebih gelap dari keadaan normal.  Pada saat  dilakukan sampling sampling kotoran dasar tambak/lumpur biasanya ikut terbawa pada jala yang ditebarkan ke dalam tambak;
  2. Pengecekkan langsung ke dasar tambak dengan melakukan penyelaman untuk melihat kondisi dasar tambak dan kondisi udang;
  3. Melihat saluran pembuangan air tambak pada saat dilakukan sirkulasi air dengan memperhitungkan jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan kotoran/lumpur tersebut.  Pada kegiatan ini juga perlu diperhatikan tingkat kelancaran saluran pembuangan dalam mengeluarkan air tambak, jika terjadi penyumbatan maka dibutuhkan identifikasi lanjutan terhadap penyebab penyumbatan tersebut.  Faktor lain yang juga perlu dipertimbangkan adalah keberadaan bangkai udang yang ikut terbawa keluar bersama air tambak berdasarkan jumlah dan kondisi bangkai udang tersebut agar dapat diambil alternatif keputusan yang mengarah pada harvesting decision ataupun treatment decision;
  4. Pengamatan terhadap permukaan air tambak pada saat kincir air tidak dioperasikan.  Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya mengeluarkan gelembung-gelembung udara yang muncul dari dasar tambak ke arah permukaan air, jika di permukaan tambak banyak dijumpai fenomena ini maka kondisi dasar tambak relatif sangat kotor dan penuh lumpur.

Pemantauan kondisi dasar tambak perlu dilakukan secara cermat baik melalui pengamatan berkala  maupun yang bersifat insidental agar permasalahan yang terjadi dapat segera ditangani.  Permasalahan cukup serius yang biasanya terjadi adalah kematian udang di dasar tambak karena berbagai permasalahan yang tidak terdeteksi.  Kematian udang di dasar tambak yang disebabkan oleh proses moulting biasa dijumpai dan bersifat alamiah karena adanya kanibalisme dari udang lainnya dalam kuantitas masih berada pada batas toleransi yang ditetapkan.  Sedangkan kematian udang di dasar tambak yang bersifat massal dan disebabkan oleh permasalahan yang tidak terdeteksi biasanya bangkai udang terkonsentrasi di sentral pembuangan dan pada tingkat yang lebih parah bangkai udang menyebar di dasar tambak.

Sebagai upaya mengantisipasi permasalahan tersebut maka perlu dilakukan pemantauan dasar tambak baik secara yang bersifat insidental seperti yang telah diuraikan di atas maupun yang bersifat berkala yaitu dengan melakukan pengangkatan kotoran dan lumpur hitam terutama yang berada di sentral pembuangan dengan alat bantu pompa air dan selang spiral dengan menyedot kotoran dan lumpur hitam tersebut dan membuangnya melalui saluran pembuangan.  Kegiatan ini sebaiknya juga diikuti dengan pemantauan tingkat kematian udang di dasar tambak melalui cara mengambil sampel bangkai udang dan kuantitasnya yang dijumpai untuk dilakukan identifikasi tingkat permasalahan sebagai dasar pengambilan keputusan.  Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan kegiatan ini antara lain :

  1. Kondisi dan kualitas udang, karena kegiatan pengangkatan kotoran dan lumpur hitam secara berkala ini akan memberikan guncangan pada kestabilan kualitas perairan yang dapat menimbulkan stress pada udang.  Kegiatan ini sebaiknya dilakukan pada saat kondisi udang benar-benar bagus dengan tingkat daya tahan terhadap stress tinggi, sedangkan pada udang dalam situasi moulting massal diharapkan tidak melakukan kegiatan ini karena kondisi udang lemah dan tingkat daya tahan terhadap stress relatif rendah;
  2. Keadaan cuaca pada saat itu sebaiknya berada pada kondisi yang dapat menunjang proses pembentukan kembali kualitas perairan setelah dilakukan kegiatan pengangkatan kotoran dan lumpur  dasar tambak;
  3. Kondisi pasang surut yang mendukung kelancaran pergantian air tambak dan pembuangan kotoran dan lumpur hitam ke saluran pembuangan;
  4. Pembentukan kembali kualitas perairan tambak yang relatif mengalami guncangan akibat kegiatan tersebut ke arah kesimbangan ekosistem perairan di dalam tambak;
  5. Pemantauan kondisi udang setelah dilakukan kegiatan pengangkatan dan pembersihan dasar tambak.

Setelah dilakukan pembersihan dasar tambak dengan cara pengangkatan kotoran dan lumpur hitam keluar tambak sebaiknya diikuti dengan pemberian kapur lunak ke dalam perairan dengan dosis sesuai dengan keperluan dengan tujuan mengembalikan/memperbaiki tingkat keasaman dasar tambak.  Pemberian kapur ini sebenarnya dapat bersifat rutin/berkala selain untuk menjaga keasaman dasar tambak juga diperlukan untuk membantu proses moulting udang yang bersifat periodik.

Kondisi dasar tambak yang dikontrol dan dipantau secara baik dan cermat selain memperbaiki kualitas perairan juga akan membantu pada saat kelak dilakukan panen udang.  Dasar tambak yang relatif bersih akan memudahkan proses pemanenan dan berpengaruh pada kualitas udang yang dihasilkan, sebaliknya dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur akan menyulitkan proses pemanenan dan dapat menimbulkan degradasi kualitas udang yang dihasilkan.  Selain itu kondisi dasar tambak juga ikut berpengaruh pada penerapan program teknis budidaya lainnya terutama dalam proses pengambilan keputusan yang bersifat perlakuan maupun pemanenan.

Metode Pengelolaan Kualitas Air Tambak

Kegiatan pengelolaan kualitas air tambak pada dasarnya berupa program kegiatan yang mengarahkan perairan tambak pada keseimbangan ekosistem perairan dalam suatu petakan terbatas agar tercipta suatu kondisi perairan yang menyerupai habitat alami udang baik dari segi sifat, behaviour maupun secara ekologinya.  Penerapan program pengelolaan kualitas air tambak membutuhkan kemampuan teknis budidaya yang memadai dari para pelakunya melalui metode yang digunakan dengan beberapa aspek yang perlu dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam penerapannya, yaitu antara lain :

  1. Metode yang digunakan harus mengacu pada tujuan pengelolaan air tambak.  Secara garis besar tujuan dari kegiatan ini terbagi dalam 3 kelompok yaitu : (a) Menjaga atau mempertahankan kualitas air yang sudah sesuai dengan tolok ukur berlaku berdasarkan pengamatan lapangan maupun teori; (b) Memperbaiki kualitas perairan yang kurang sesuai ke arah yang lebih baik; (c) Mengganti perairan tambak yang dapat membahayakan bagi udang dengan perairan yang baru untuk menciptakan lingkungan perairan yang lebih sesuai dengan kondisi dan kualitas udang.
  2. Metode yang digunakan harus tepat sasaran sesuai dengan parameter yang akan dikelola yaitu kecerahan air, warna air tambak, kondisi fisik air tambak dan kondisi dasar tambak.  Parameter tersebut membutuhkan pendekatan metode tersendiri yang tetap mengacu pada keterkaitan satu sama lain;
  3. Metode yang digunakan harus dapat menyentuh akar permasalahan kualitas air yang sebenarnya.  Permasalahan kualitas air tambak dapat terjadi antara lain karena :(a) Faktor internal tambak, yaitu permasalahan yang terjadi karena terganggunya salah satu unsur penyusun ekosistem perairan tambak;( b) Faktor eksternal tambak, yaitu permasalahan yang diakibatkan oleh adanya pengaruh dari luar tambak seperti perubahan cuaca yang menyebabkan kestabilan perairan terguncang;(c) Faktor treatment error yaitu permasalahan yang terjadi akibat kesalahan perlakuan teknis budidaya.

Dasar pertimbangan seperti yang telah diuraikan di atas bertujuan agar penerapan metode yang digunakan dalam pengelolaan kualitas air tambak dapat  berjalan efektif dan efisien baik secara teknis budidaya maupun perhitungan finansial.  Beberapa metode yang biasa digunakan dalam pengelolaan kualitas air tambak antara lain :

  • Sirkulasi air;
  • Pemupukan air;
  • Inokulasi air;
  • Penggunaan bahan kimia dan obat-obatan

Metode tersebut di atas dalam penerapannya tidak dapat berdiri sendiri dan mempunyai keterkaitan satu sama lain tergantung pada tingkat urgency dan skala prioritas dari perlakuan teknis budidaya yang akan diberikan berdasarkan pengamatan dan identifikasi keperluan yang ditemukan di lapangan.  Metode pengelolaan kualitas air tambak yang dilakukan secara terpisah akan mengakibatkan keseimbangan ekosistem perairan tersebut terganggu sehingga dapat menyebabkan suatu permasalahan yang baru yang lebih kompleks.  Uraian di bawah ini akan membahas metode pengelolaan air tambak tersebut secara mendetail yang berkaitan dengan kenyataan di lapangan

Sirkulasi Air

Perairan yang terbentuk di dalam petakan tambak dapat dikatakan merupakan perairan yang menggenang dalam suatu wadah yang terbatas, sehingga memerlukan suplai air dari luar untuk meregenerasi perairan dan proses-proses yang terjadi didalamnya agar bersifat lebih dinamis dan memberikan suasana nyaman bagi udang dan organisme lainnya yang hidup di perairan tersebut.

Sirkulasi air tambak dapat diartikan sebagai proses penggantian air di dalam tambak dengan jalan membuang sebagian air tambak melalui saluran pembuangan untuk digantikan dengan air baru yang dimasukkan melalui saluran pemasukkan.  Pada tambak-tambak tradisional proses sirkulasi air ini sepenuhnya mengandalkan pasang surut air laut, sedangkan pada tambak intesive sudah menggunakan pompa air sebagai alat bantu untuk memasukan air laut ke dalam tambak.  Meski demikian secara garis besar sirkulasi air tambak tetap mengacu pada kondisi pasang surut yang terjadi di wilayah tersebut, sehingga kualitas air yang dimasukkan ke dalam tambak tidak terkontaminasi dengan dasar perairan.  Beberapa faktor sumber air tambak lainnya yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan sirkulasi air adalah :

1)  Kualitas sumber perairan yang meliputi :

- Biologi : ketersediaan bibit plankthon, keberadaan predator dan competitor bagi udang, ketersediaan pakan alami udang, dsb,

- Kimia : kandungan H2S, NH3, tingkat keasaman (pH), dsb;

- Fisika : pasang surut, salinitas, kekeruhan air, dsb.

2)   Kondisi fisik air yang meliputi, dasar perairan, dan kandungan partikel yang melayang-layang di

air, dsb;

3)   Aktifitas kegiatan manusia seperti alur pelayaran, penangkapan ikan, dsb;

4)   Pencemaran perairan dari lingkungans ekitarnya dan merugikan bagi kegiatan budidaya ;

Berdasarkan pemikiran bahwa proses sirkulasi air adalah untuk memperbaiki atau mempertahankan kualitas air, maka ke empat faktor di atas harus benar-benar diperhatikan agar jangan sampai dengan melakukan sirkulasi air, kualitas perairan di dalam tambak mengalami degradasi atau bertambah rusak.

Sumber air yang dimasukkan ke dalam tambak ada beberapa macam, tergantung dari teknologi dan lokasi dimana tambak tersebut berada.  Beberapa sumber air dan cara yang biasa digunakan dalam proses sirkulasi air tambak antara lain sebagai berikut :

1. Air laut yang dimasukkan secara langsung ke dalam tambak dengan bantuan pasang surut ataupun melalui alat bantu yang berupa pompa air.  Cara ini digunakan pada lahan tambak yang relatif dekat atau berhadapan langsung dengan laut dan perlu memperhatikan kondisi dan kualitas air laut sebelum dimasukkan ke dalam tambak secara langsung.   Pada tambak yang menggunakan pompa air sebagai alat bantunya akan membutuhkan investasi yang cukup besar untuk pemasangan instalasi pompa air beserta paralon yang dirangkai sampai batas pantai, sedangkan dari segi lahan cara ini rentan terhadap pengikisan air laut terhadap lahan tambak;

2. Air sungai yang masih bersifat payau dan dimasukkan ke dalam tambak secara langsung dengan bantuan pasang surut ataupun melalui alat bantu yang berupa pompa air.  Cara ini biasa digunakan pada tambak yang letaknya relatif agak jauh dari laut atau dekat dengan laut dan sungai dengan pertimbangan pemasangan instalasi pompa air relatif lebih sederhana dibandingkan dengan pengambilan air langsung dari laut.   Cara ini rentan terhadap sedimentasi dan pencemaran limbah sungai yang berasal dari rumah tangga maupun industri yang berada di sekitar area sungai;

3. Sistem ‘tandon’, yaitu petakan/lahan yang dibuat sebagai tempat penampungan air laut atau air sungai sebagai sumber pemasukan air tambak.  Pada sistem ini, air di dalam tandon biasanya diberi perlakuan teknis sebelum dimasukkan ke dalam tambak, sehingga kualitas air yang dimasukkan sudah terkontrol dari segi kuantitas dan kualitasnya.  Sistem ini dapat dikatakan merupakan cara yang relatif ideal bagi kegiatan budidaya karena air dari laut telah diendapkan dan segala faktor yang merrugikan bagi kegiatan budidaya telah diminimalkan melalui perlakuan teknis yang telah diberikan;

4. Sistem water recircle yaitu proses daur ulang air dari saluran pembuangan tambak ditampung kembali ke dalam suatu tandon melalui proses sterilisasi dan dijadikan sebagai sumber pemasukan air tambak.  Cara ini biasa digunakan pada tambak yang relatif jauh dari laut maupun sungai atau sebagai antisipasi jika air laut dan sungai sedang mengalami masalah sehingga tidak memungkinkan untuk dimasukkan ke dalam tambak.  Bisa dikatakan cara ini merupakan cara yang paling rentan terhadap masalah dibandingkan dengan beberapa cara lainnya, karena air pembuangan yang dimasukkan kembali kedalam tambak merupakan air kotor meski sudah melalui proses sterilisasi.

Selain sumber pemasukan air seperti telah diuraikan di atas, sirkulasi air juga memerlukan saluran pembuangan air tambak yang berfungsi selain untuk mengatur volume air tambak juga untuk membuang kotoran dan lumpur di dasar tambak.  Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembuangan air tambak dan perlu dipertimbangkan antara lain :

1. Desain dan konstruksi antara dasar tambak dengan saluran pembuangan air tambak memungkinkan kelancaran sirkulasi dan tidak berpotensi menimbulkan penyumbatan pada salurannya;

2. Saluran pembuangan lebih tinggi dari kondisi pasang surut terendah, sehingga dalam proses pembuangan air tambak tidak mengalami kendala yang disebabkan oleh pasang surut;

3. Saluran pembuangan harus dilengkapi dengan pintu/paralon pembuangan yang dapat digunakan untuk mengatur pembuangan air dasar tambak, pertengahan dan permukaan air;

4. Saluran pembuangan terutama bagian sentral memiliki filter yang dapat mencegah keluar/lolosnya udang pada saat dilakukan pembuangan air tambak;

5  Saluran pembuangan harus terpisah dengan sumber pemasukan air tambak sehingga tidak terjadi kontaminasi air yang akan digunakan dalam proses budidaya;

6. Saluran pembuangan air tambak sedapat mungkin berhubungan dengan sungai atau kanal khusus sehingga kotoran dan lumpur tambak yang terbuang dapat terbawa arus dan tidak mengendap di satu tempat yang menyebabkan terjadinya sedimentasi saluran pembuangan;

Sirkulasi air tambak yang didukung dengan sistem pemasukan air dan sistem pembuangan air yang memadai akan menunjang kelancaran sirkulasi air di dalam kegiatan pengelolaan kualitas perairan tambak.  Kegiatan sirkulasi air tambak dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung pada tingkat kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi.  Metode yang biasa digunakan dalam kegiatan budidaya udang adalah :

1. Sirkulasi air dengan pola buang isi, yaitu pergantian air tambak dengan cara melakukan pembuangan air tambak sampai pada volume tertentu terlebih dahulu yang kemudian dilanjutkan dengan pengisian kembali air baru ke dalam tambak sampai pada volume yang dikehendaki.  Sirkulasi air dengan cara ini biasa digunakan pada kasus :

  • Air laut mengalami surut terendah sehingga menunjang kelancaran proses pembuangan air tambak dan tidak memungkinkan untuk mengisi air baru dari laut;
  • Menjaga/mempertahankan kualitas air tambak yang sudah terbentuk dengan volume pembuangan air tidak terlalu besar dan tidak menimbulkan guncangan, sedangkan pengisian air bertujuan untuk regenerasi plankthon;
  • Penumbuhan dan pembentukan plankthon yang baru, yaitu pembuangan volume air tambak yang relatif besar sehingga ketinggian air tambak relatif rendah, kemudian dilakukan pengisian air baru secara bertahap yang diimbangi dengan pemupukan
  • Pembuangan kotoran/lumpur dasar tambak secara rutin;

2. Sirkulasi air dengan pola isi buang, yaitu pergantian air tambak dengan cara melakukan pengisian air ke dalam tambak terlebih dahulu yang kemudian dilanjutkan dengan pembuangan air tambak sampai pada volume yang dikehendaki. Sirkulasi air dengan cara ini biasa digunakan pada kasus :

Sirkulasi air pada awal tebar benur.  Ketinggian air tambak pada saat tebar relatif rendah, sehingga sirkulasi air yang dilakukan hanya dengan menambahkan air baru  ke dalam tambak secara bertahap sampai pada ketinggian yang dikehendaki, kemudian baru dilakukan pembuangan air tambak.  Metode ini bertujuan antara lain :

  • mengurangi keluarnya udang yang masih berukuran sangat kecil melalui saluran pembuangan;
  • menumbuhkan pakan alami di dalam tambak yang diperlukan oleh benur;
  • mengontrol kecerahan air tambak dan kelimpahan plankthon yang sesuai dengan kebutuhan benur/udang muda.
  • Pembentukan plankthon ke arah yang stabil dengan volume air yang dimasukkan ke dalam tambak lebih besar dibandingkan dengan air tambak yang dibuang;
  • Membantu mengatasi saluran pembuangan yang kurang lancar/mampet.  Air tambak yang yang relatif tinggi mempunyai daya dorong yang kuat pada saluran pembuangan sehingga diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut.

3. Sirkulasi air dengan pola oplos yaitu melakukan pengisian air ke dalam tambak secara bersamaan dengan pembuangan air tambak sampai batas waktu yang dikehendaki.  Pada sirkulasi ini ketinggian dan volume air tambak relatif tetap karena perbandingan air masuk dan air keluar tambak relatif sama. Sirkulasi air dengan cara ini biasa digunakan pada kasus :

  • Perbaikan kualitas air tambak yang collaps dengan tidak mengguncang volume air di dalam tambak;
  • Penanganan air tambak yang berpartikel.  Pada kondisi seperti ini sirkulasi dilakukan secara kontinyu untuk memgeluarkan partikel tersebut keluar tambak, kemudian dilakukan pemberian saponin yang bertujuan mengikat partikel yang tersisa di dalam tambak;

Populasi udang di dalam tambak relatif padat dengan tingkat kebutuhan pakan tinggi.  Pada kondisi seperti ini sirkulasi yang dilakukan bertujuan antara lain :

  • Mempertahankan tingkat kesegaran air yang diperlukan udang dengan meminimalkan kesenjangan waktu antara pembuangan air dan pemasukan air tambak;
  • Meminimalkan waktu terjadinya akumulasi sisa pakan dan metabolisme udang di dasar tambak;
  • Menekan terjadinya guncangan kualitas perairan yang dapat membahayakan bagi udang di dalam tambak dengan populasi relatif padat.

4. Sirkulasi air tambak dengan pola penggantian air tambak secara total, yaitu dengan melakukan pembuangan air sampai ke dasar tambak kemudian baru dilakukan pengisian air secara bertahap.  Sirkulasi air dengan cara ini biasa digunakan pada kasus :

  • Tingkat kualitas perairan tambak relatif jelek dan membahayakan kehidupan udang, sehinggga diperlukan perairan yang benar-benar baru dan diharapkan dapat  menciptakan suasana nyaman bagi udang;
  • Udang terkena masalah yang disebabkan karena kondisi perairan yang jelek sehingga dengan mengurangi volume air tambak dalam skala besar diharapkan dapat merangsang udang untuk melakukan moulting massal;
  • Sebagai upaya melihat/memantau populasi udang di dalam tambak secara langsung untuk memberi kepastian sebagai dasar pengambilan keputusan secara teknis budidaya.

Pola sirkulasi air tambak sebagai salah satu metode pengelolaan kualitas perairan dalam penerapannya sangat tergantung dari pengamatan dan kondisi yang sedang terjadi di lapangan.  Proses pengambilan keputusan tentang sirkulasi air tambak harus tetap mengacu pada keterkaitan teknis budidaya lainnya serta mempertimbangkan faktor sebab akibat yang akan ditimbulkan berdasarkan argumen dan alasan yang dapat diterima secara ilmiah.

Pemupukan Air Tambak

Keberadaan plankthon terutama dari jenis phytoplankthon di dalam ekosistem perairan tambak mempunyai peran yang sangat besar terhadap kestabilan dan produktifitas perairan yang sangat dibutuhkan oleh organisme yang berada di dalamnya dalam melakukan aktifitas kehidupannya.  Peran dan fungsi utama plankthon (phytoplankthon) di dalam perairan yang dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan pengelolaan kualitas air antara lain :

  1. Phytoplankthon merupakan produsen utama dalam rantai makanan yang terdapat di dalam ekosistem perairan tersebut, sehingga tingkat produktivitasnya akan berpengaruh pada produktifitas perairan;
  2. Phytoplankthon merupakan salah satu penyuplai oksigen melalui proses fotosintesa dengan bantuan sinar matahari yang dibutuhkan organisme lainnya untuk melakukan respirasi di dalam perairan;
  3. Oksigen (O2) yang dihasilkan phytoplankthon dapat menekan terjadinya proses kimiawi perairan yang bersifat racun dan membahayakan bagi udang dan organisme lainnya;
  4. Phytoplankthon merupakan shelter bagi udang yang bersifat nocturnal dan phototaksis negatif;

Seperti telah disebutkan pada uraian di atas sebagai jenis tanaman phytoplankthon mempunyai chlorophyl (zat hijau daun) yang berperan dalam proses fotosintesa di dalam perairan dengan bantuan sinar matahari.  Tingkat produktifitas phytoplankthon ditentukan oleh ketersediaan unsur hara yang tersedia di dalam tambak baik yang berasal dari tanah maupun perairan setempat.  Pada kondisi tertentu phytoplankthon membutuhkan suplai unsur hara dan zat lainnya baik yang bersifat organik maupun an organik untuk memacu peningkatan produktifitasnya di dalam perairan.

Pemupukan air tambak pada dasarnya merupakan salah satu perlakuan teknis budidaya yang berupa pemberian pupuk organik maupun an organik untuk menyuplai zat-zat yang dibutuhkan phytoplankthon di dalam tambak dengan dosis sesuai dengan tingkat keperluan.  Kegiatan pemupukan air tambak bertujuan antara lain:

  1. Mengatur dan mengontrol tingkat kecerahan air tambak agar sesuai dengan tingkat kebutuhan udang;
  2. Mengatur dan mengontrol kestabilan plankthon di dalam tambak agar sesuai dengan tingkat kebutuhan udang;
  3. Memacu pertumbuhan bibit plankthon pada perairan yang sedang diperbaiki kualitasnya;

Syarat utama melakukan kegiatan pemupukan air tambak adalah ketersediaan bibit plankthon dan adanya sinar matahari.  Pemupukan yang dilakukan pada perairan tambak yang tingkat ketersediaan bibit plankthonnya sangat minim/tidak ada sama sekali dapat menimbulkan tumbuhnya lumut di dalam tambak atau munculnya kamuflase color yang sangat berpengaruh terhadap kondisi udang atau teknis budidaya.

Sinar matahari sangat dibutuhkan dalam kegiatan pemupukan air tambak yaitu untuk membantu proses fotosintesa plankthon sehingga suplai unsur-unsur dalam pupuk yang diperairan dapat diserap oleh plankthon dan memacu pertumbuhan dan perkembangannya.  Berlandaskan pada dasar pemikiran tersebut maka sebaiknya pemupukan air tambak dilakukan pagi hari pada saat cuaca cerah.  Pada kondisi cuaca tidak cerah/musim hujan kegiatan pemupukan sebaiknya dilakukan secara rutin dengan dosis yang sesuai agar tidak terjadi mortalitas plankthon secara massal yang disebabkan karena curah hujan yang tinggi, sehingga kestabilan perairan tambak akan tetap terjaga dari kondisi collaps.

Jenis pupuk an organik yang biasa digunakan dalam kegiatan budidaya adalah urea dan TSP, sedangkan pupuk organik yang biasa digunakan adalah fermentasi saponin dan fermentasi pakan rusak.  Fungsi dan dosis yang digunakan dari masing-masing jenis pupuk tersebut relatif berbeda tergantung dari kondisi perairan dan tingkat kebutuhannya berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lapangan.

Pupuk urea biasanya digunakan untuk memacu atau menumbuhkan phytoplankthon yang bersifat stabil di dalam tambak, sedangkan pupuk TSP untuk menumbuhkan jenis phytoplankthon yang dapat memacu berkembangnya zooplankthon yang dapat dijadikan sebagai pakan alami bagi udang yang masih muda/kecil.  Dosis penggunaan urea yang sering dipakai adalah sekitar tiga kali lipat TSP pada kondisi normal dan pemakaiannya dapat digunakan secara terpisah maupun bersamaan berdasarkan kondisi yang ada di lapangan.

Pupuk organik yang dapat digunakan adalah berupa hasil fermentasi saponin atau fermentasi pakan rusak.  Fungsi dari pupuk ini adalah sebagai suplai unsur hara yang tidak terdapat dalam pupuk an organik dan dibutuhkan oleh plankthon.  Fermentasi dilakukan agar saponin/pakan rusak dalam kondisi hancur sehingga diharapkan mudah diserap oleh plankthon pada saat melakukan fotosintesa.  Selain tujuan tersebut di atas pemberian bahan organik ini juga dimaksudkan untuk penyeimbang komposisi bahan an organik yang ada di perairan tersebut selain itu juga untuk memacu pertumbuhan zooplankthon yang dapat dijadikan sebagai pakan alami bagi udang atau organisme lainnya.  Pemberian pupuk organik bersifat insidental dan dilakukan berdasarkan hasil pengamatan dan tingkat kebutuhan perairan serta kondisi udang.

Pakan yang diberikan ke udang secara prinsip dapat berfungsi sebagai pupuk organik bagi perairan tambak dan membantu dalam proses pembentukan kestabilan plankthon didalam tambak.  Fenomena ini dapat dijumpai dan diamati pada tambak dengan populasi udang yang padat dan jumlah pemberian pakan yang besar.  Pada kondisi ini kestabilan plankthon dalam perairan akan terbentuk dengan sendirinya tanpa adanya pemupukan, karena unsur-unsur yang terdapat dalam pakan udang juga diserap oleh plankthon untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya di perairan tersebut.

Metode pemupukan air tambak erat hubungannya dengan proses sirkulasi air dengan dasar pemikiran bahwa volume air tambak sangat berpengaruh terhadap keefektifan kegiatan pemupukan yang dilakukan.  Kondisi ini dapat diartikan bahwa pada dosis pemakaian pupuk yang sama tingkat pengaruh dan keefektifannya akan relatif berbeda jika diberikan pada tambak dengan volume air yang berbeda.  Berdasarkan hal ini maka sebelum dilakukan pemupukan biasanya dilakukan sirkulasi terlebih dahulu dengan jalan mengurangi volume air dan menambahkan air baru ke dalam tambak sampai pada ketinggian air yang relatif lebih rendah, kemudian baru dilakukan pemupukan.

Kegiatan pemupukan sebaiknya dihindari pada perairan yang mengalami kasus seperti di bawah ini :

  • Kecerahan air tambak sangat rendah sehingga kelimpahan plankthon sangat tinggi.  Pada kondisi ini jika pemupukan tetap dilakukan maka akan mengarahkan perairan tambak pada keadaan plankthon booming yang dapat membahayakan udang, sehingga antisipasi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan sirkulasi air secara kontinyu terutama pada malam hari  dengan tujuan melakukan pengenceran air tambak;
  • Perairan dengan dominansi jenis plankthon yang bersifat merugikan bagi udang;
  • Perairan tambak yang tidak ada bibit plankthonnya.  Kegiatan pemupukan pada perairan dalam kondisi ini akan memacu tumbuhnya lumut di dalam tambak;
  • Perairan tambak yang ditumbuhi lumut dalam jumlah yang besar.  Pemupukan yang dilakukan hanya akan menyuburkan lumut di dalam tambak, sehingga antisipasi yang dapat dilakukan adalah dengan mengangkat lumut tersebut keluar tambak terlebih dulu kemudian baru dilakukan pembentukan air;

Parameter hasil dari kegiatan pemupukan yang biasa digunakan adalah perubahan tingkat kecerahan air dan atau perubahan warna perairan. Pada cuaca cerah hasil dan pengaruh dari pemupukan terhadap perairan tambak dapat dilihat pada sore hari dengan jalan membandingkan perubahan tingkat kecerahan dan warna air sebelum dan sesudah pemupukan.  Kecerahan air tambak digunakan sebagai parameter perubahan kelimpahan plankthon sebagai akibat kegiatan pemupukan, sedangkan perubahan warna perairan digunakan untuk melihat perubahan dominansi jenis plankthon tertentu di perairan tersebut.

Pada cuaca cerah kegiatan fotosintesa yang dilakukan phytoplankthon berjalan relatif sempurna karena terbantu oleh sinar matahari secara langsung yang berakibat penyerapan unsur-unsur yang terdapat di dalam pupuk oleh phytoplankthon juga berlangsung sempurna, sehingga pengaruh dari pemupukan akan segera dapat teramati.

Penggunaan Bahan Kimia

Pada kondisi tertentu pengelolaan kualitas perairan tambak mengalami kendala yaitu tidak dapat diterapkannya teknis budidaya secara optimal untuk menghasilkan kondisi dan kualitas perairan seperti yang diharapkan karena berbagai faktor sehingga memerlukan treatment yang berupa penggunaan bahan-bahan kimia dan obat-obatan kedalam perairan tersebut. Pada dasarnya fungsi dari bahan kimia dan obat-obatan yang digunakan tersebut seperti di bawah ini, yaitu:

  1. Sebagai katalisator dan pemacu proses pembentukan air, yang termasuk dalam kategori ini adalah argon, dan berbagai jenis bakteri yang bersifat menguntungkan dan telah diproduksi secara industri. Bahan-bahan ini digunakan pada perairan tambak dengan kondisi udang yang relatif bagus, tetapi proses pembentukan kualitas air sangat susah dilakukan sehingga jika tidak segera ditangani dapat menimbulkan masalah yang serius bagi udang. Selain itu bahan-bahan ini juga dapat digunakan pada perairan tambak dengan kandungan bibit planktonnya relatif kurang serta tidak memungkinkan untuk dilakukan inokulasi bibit plankton karena kondisi tertentu.
  2. Sebagai disinfectant and sterilisator perairan, yang termasuk dalam kategori ini adalah kalium permanganat (KMNO3), chlorine/kaporit (kalsium hipoklorit), dsb. Bahan-bahan ini biasa digunakan pada perairan tambak dengan kondisi udang yang sudah terindikasi telah terinfeksi suatu penyakit, sehingga treatment ini diharapkan dapat menyelamatkan udang yang belum terinfeksi sekaligus melakukan sterilisasi perairan dari sumber masalah. Selain itu bahan ini juga dapat digunakan untuk menciptakan plankton mortality secara massal pada perairan yang mengalami booming plankton yang sangat pesat dan susah untuk dikendalikan.

Penggunaan bahan-bahan kimia dan obat-obatan di atas dalam penerapannya perlu mempertimbangkan kondisi perairan tambak dan hubungan sebab akibat yang akan ditimbulkan karena treatment tersebut. Pengambilan keputusan harus berdasarkan pemikiran bahwa, selain dasar pemikiran tersebut beberapa aspek yang juga perlu diperhatikan sebagai bahan pertimbangan penggunaan bahan-bahan kimia dan obat-obatan tersebut dalam pengelolaan kualitas perairan adalah sebagai berikut:

  1. Treatment ini dapat menimbulkan guncangan terhadap perairan tambak, sehingga jika tujuan, sasaran, dosis dan timing yang tidak tepat dapat memperburuk keadaan.
  2. Treatment ini lebih mengarah pada shock therapy untuk perbaikan kualitas perairan dan udang dalam jangka pendek.
  3. Secara finansial treatment ini memerlukan biaya produksi yang relatif tinggi untuk jenis bahan-bahan kimia dan obat-obatan tertentu.
  4. Treatment ini sedapat mungkin merupakan alternatif terakhir, jika secara teknis budidaya kualitas perairan tidak mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dan kalau ditangani secara cepat dapat menimbulkan masalah serius bagi udang.

Penerapan treatment dengan menggunakan bahan-bahan kimia dan obat-obatan ini terkait erat dengan sirkulasi air tambak terutama dalam kegiatan pengaturan ketinggian air tambak seperti halnya pada kegiatan pemupukan yang telah diuraikan sebelumnya, yaitu volume air tambak sangat berpengaruh terhadap keefektifan treatmen yang akan dilakukan. Kondisi ini dapat diartikan bahwa pada dosis pemakaian yang sama tingkat pengaruh dan keefektifannya akan relatif berbeda jika diberikan pada tambak dengan volume air yang berbeda. Tahapan-tahapan yang dapat dilakukan dalam penerapan treatment ini adalah sebagai berikut:

  1. Identifikasi tingkat masalah yang dijumpai perairan tambak dan tingkat pengaruhnya terhadap kegiatan budidaya.
  2. Jika permasalahan yang ditemukan dianggap cukup serius maka perlu dilakukan penurunan ketinggian air tambak sekitar 50 %.
  3. Pada ketinggian air tambak yang relatif rendah dilakukan sirkulasi air dengan cara oplos sesuai dengan kebutuhan.
  4. Pemberian bahan-bahan kimia/obat-obatan ke dalam perairan dengan dosis sesuai dengan tingkat masalah yang dialami.
  5. Sirkulasi air tambak dihentikan dan pengoperasian kincir air diintensifkan agar perlakuan yang telah diberikan dapat memberikan hasil yang optimal.
  6. Jika kualitas perairan dan kondisi udang menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, maka sirkulasi air tambak dilakukan kembali ke arah penambahan air tambak dan perbaikan kualitas perairan yang lebih stabil.
  7. Jika kualitas perairan dan kondisi udang tidak mengalami perbaikan dan cenderung bertambah parah maka pengambilan keputusan sebaiknya mengarah pada pemanenan dengan mempertimbangkan biaya produksi yang telah dikeluarkan dan estimasi hasil panen berdasarkan harga, size dan kualitas udang.

Penggunaan bahan-bahan kimia dan obat-obatan didalam pengelolaan kualitas air tambak tidak direkomendasikan pada udang dalam kondisi normal yang siap panen. Perlakuan ini dikhawatirkan dapat terserap tubuh udang melalui proses metabolismenya ataupun terabsorpsi pada saat udang melakukan moulting dan dapat mempengaruhi kualitas udang yang dihasilkan. Pada beberapa tahun terakhir telah dilakukan pengujian mutu udang melalui peraturan yang ketat oleh beberapa negara tujuan ekspor, terutama terhadap udang yang mengandung unsur logam berat dan zat-zat yang dianggap berbahaya.

Permasalahan Kualitas Air Tambak

Perairan tambak merupakan jenis perairan tertutup yang menggenang dan dibatasi oleh petakan tambak, sehingga ditinjau dari dinamika perairan relatif bersifat statis dan kualitas perairannya sangat tergantung dari pengaruh/perlakuan dari luar.  Ekosistem yang terbentuk di dalamnya dapat dikatakan bukan suatu ekosistem yang dapat mengontrol keseimbangan dan kestabilan perairan tersebut dengan sendirinya seperti pada ekosistem perairan yang bersifat alami dan terbuka.  Suatu ekosistem perairan yang selalu terjaga dalam keseimbangan dan kestabilannya merupakan suatu area yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi komunitas organisme yang hidup di dalamnya.

Keseimbangan ekosistem perairan dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu unsur-unsur penyusunnya terdiri atas komposisi yang ideal ditinjau dari segi jenis dan fungsinya yang membentuk suatu rantai makanan di dalam perairan tersebut.   Faktor lainnya yang menentukan keseimbangan ekosistem perairan adalah proses-proses yang terjadi di dalamnya baik yang bersifat biologi, kimia dan fisika berlangsung dalam kondisi yang ideal pula dan membawa pengaruh yang tidak membahayakan bagi kehidupan di dalam perairan tersebut.

Kestabilan ekosistem perairan berarti kemampuan ekosistem tersebut mempertahankan keseimbangannya dalam menghadapi perubahan atau guncangan yang disebabkan oleh pengaruh dari luar.  Suatu ekosistem perairan dengan tingkat keseimbangan yang bersifat fluktuatif akan memberikan dampak yang cukup nyata bagi kehidupan yang berada di dalamnya, sehingga dengan sendirinya akan menjadi suatu tempat yang tidak kondusif bagi organisme yang hidup di dalam ekosistem perairan tersebut.

Berdasarkan pada uraian di atas maka ekosistem perairan tambak yang merupakan ekosistem tertutup sangat rentan terhadap timbulnya permasalahan baik yang menyangkut kualitas perairan tambak maupun kondisi dan kualitas udangnya.  Permasalahan kualitas perairan tambak secara garis besar dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu antara lain :

  1. Faktor internal, yaitu permasalahan yang disebabkan oleh kondisi dari dalam perairan tambak itu sendiri.  Pada kondisi ini terjadi karena proses-proses yang berlangsung di dalamnya cenderung tidak terkendali dan tidak dapat dikontrol oleh mekanisme keseimbangan yang bersifat alami;
  2. Faktor eksternal, yaitu permasalahan yang disebabkan oleh pengaruh dari luar tambak dan biasanya karena adanya perubahan cuaca;
  3. Faktor treatment error, yaitu permasalahan kualitas perairan yang disebabkan oleh kesalahan teknis budidaya yang diterapkan.  Kondisi ini terjadi karena pengambilan keputusan yang tidak berdasarkan pengamatan dan analisis yang cermat sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan.

Permasalahan kualitas perairan tambak sebaiknya dapat diketahui dan diidentifikasi secara dini agar guncangan yang terjadi didalam perairan tersebut tidak menimbulkan masalah yang lebih serius bagi udang.  Mengacu pada pengamatan kondisi dan kualitas udang di dalam perairan tambak, maka tingkat permasalahan kualitas air tambak dapat digolongkan ke dalam tiga kategori yaitu :

  1. Ringan.  Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak belum mempengaruhi kondisi, kualitas, sifat/behaviour dan aktifitas udang di dalam perairan.  Permasalahan yang timbul baru sebatas pada perubahan kondisi lingkungan perairan tambak;
  2. Sedang.  Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak belum mempengaruhi kondisi dan kualitas udang, tetapi sudah berpengaruh nyata pada sifat/behaviour dan aktifitas udang di dalam perairan tersebut seperti udang melakukan konvoi, nafsu makan menurun dan cenderung pasif;
  3. Berat.  Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak sudah berpengaruh nyata pada kondisi, kualitas, sifat/behaviour dan aktifitas udang di dalam perairan, seperti udang mulai terinfeksi penyakit, melayang-melayang di permukaan air, banyak menempel di dinding petakan tambak, pemunculan di ancho sangat banyak dan gerakannya sangat pasif;
  4. Sangat Berat.  Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak sudah mengakibatkan kematian massal bagi udang, sehingga pengambilan keputusan yang lebih mengarah pada pemanenan.

Tingkat permasalahan kualitas air bisa dikatakan memiliki korelasi dengan pengelolaan kualitas perairan yang dilakukan sebelum perairan terkena masalah terutama yang menyangkut tingkat ketelitian pengamatan kondisi perairan dan udang, metode pengelolaan air, treatmen yang telah digunakan, serta jangka waktu penanganan masalah tersebut.  Suatu permasalahan kualitas yang tidak teridentifikasi dan terindikasi sejak dini akan memperberat tingkat permasalahan tersebut, karena terjadi akumulasi permasalahan yang semakin berkembang serta dapat menjalar ke permasalahan aspek lainnya.  Jika kondisi ini terjadi maka tingkat permasalahan tersebut tidak hanya bertambah berat tapi juga akan semakin rumit dalam proses pengambilan keputusannya.

Sebagaimana telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, bahwa parameter yang dapat digunakan secara praktis sebagai tolok ukur kualitas perairan tambak meliputi kecerahan air, warna air (plankthon), kondisi fisik perairan, dan kondisi dasar tambak.  Permasalahan kualitas air tambak yang sering dijumpai dalam kegiatan budidaya udang juga menyangkut keempat parameter tersebut, yaitu :

  1. Permasalahan kualitas perairan tambak yang disebabkan karena kecerahan air atau kelimpahan plankthon di dalam tambak, yaitu kecerahan air tambak yang terlalu tinggi dan terlalu rendah;
  2. Permasalahan kualitas perairan tambak yang disebabkan karena warna perairan atau faktor plankthon yang ada di dalam perairan yang menyangkut dominansi jenis plankthon yang bersifat merugikan bagi udang, misalnya warna air tambak hijau pupus, kuning, blue green algae, dsb;
  3. Permasalahan kualitas perairan tambak yang disebabkan karena kondisi fisik air tambak yang dapat mengganggu kehidupan udang, misalnya air tambak berdebu, air tambak berpartikel, munculnya klekap di permukaan air, dsb;
  4. Permasalahan kualitas perairan tambak yang disebabkan karena kondisi dasar tambak yang tidak kondusif bagi kehidupan udang, misalnya akumulasi lumpur hitam yang banyak mengandung H2S dan sangat membahayakan bagi udang.

Penjelasan tentang permasalahan-permasalahan seperti tersebut di atas  secara rinci telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya dan dapat dilihat pada Matriks Identifikasi Masalah Air Tambak.pdf

Selain itu ada satu jenis permasalahan yang menyangkut perairan tambak dan tidak ada keterkaitannya dengan keempat permasalahan di atas yaitu adanya biota perairan yang bersifat predator dan competitor bagi udang serta hidup dan berkembang di dalam tambak.

Predator adalah biota yang yang memangsa udang di dalam tambak seperti jenis ikan kakap, ikan selangi, ikan kuro, dan berbagai jenis ikan carnivora lainnya.  Pemunculan jenis predator di dalam perairan tambak relatif tidak berpengaruh nyata pada kualitas perairan baik dari segi keseimbangan dan kestabilannya, tetapi sangat berpengaruh pada tingkat kehidupan dan populasi udang di dalam tambak.

Competitor adalah biota perairan yang ikut bersaing dengan udang dalam hal konsumsi makanan yang ada di dalam tambak ataupun pakan yang telah diberikan ke dalam tambak seperti jenis ikan mujahir, ikan nila, kepiting dan jenis biota lainnya yang ikut mengkonsumsi pakan udang.  Seperti halnya predator maka keberadaan jenis biota ini di dalam tambak hanya berpengaruh nyata pada program pemberian pakan udang yang telah ditentukan dan tidak mempengaruhi kualitas perairan tambak.

Pemunculan predator dan kompetitor udang di dalam tambak dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

  1. Proses penyiapan lahan tebar benur yang kurang maksimal, sehingga predator dan kompetitor udang yang masuk ke dalam tidak mati secara tuntas;
  2. Saluran pemasukan air tanpa adanya filterisasi, sehingga predator dan kompetitor udang dapat masuk ke dalam perairan tambak;
  3. Predator dan kompetitor udang masuk ke dalam perairan tambak masih berupa telur atau larva meskipun saluran pemasukan airtambak sudah dilakukan filterisasi.

Keberadaan jenis serta kelimpahan predator dan kompetitor udang di dalam tambak akan membawa dampak yang serius jika jumlahnya sudah sangat melimpah dan tidak segera ditangani.  Indikasi keberadaan predator dan kompetitor udang di dalam tambak dapat diketahui melalui cara, antara lain :

  1. Pengamatan pada saat dilakukan sampling udang secara berkala, karena biasanya predator dan kompetitor udang akan ikut terbawa bersama jala sampling sehingga jenis dan perkiraan kelimpahannya di dalam tambak dapat diketahui;
  2. Pengamatan dan identifikasi predator dan kompetitor udang pada saat dilakukan pengecekkan ancho secara rutin;
  3. Pengamatan dan identifikasi predator dan kompetitor udang secara langsung melalui gerak dan aktifitas predator dan kompetitor udang di dalam tambak.

Pengendalian dan pemusnahan predator dan kompetitor udang di dalam tambak dapat dilakukan dengan menggunakan saponin dengan dosis yang mematikan bagi keduanya.  Kegiatan ini dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan kualitas udang pada saat itu dan sebaiknya jangan dilakukan pada saat udang dalam kondisi lemah atau pada saat udang sedang moulting massal.  Pemberian saponin ke dalam tambak sedapat  mungkin dilakukan pada saat cuaca cerah dan sinar matahari sangat terik serta ketinggian air tambak relatif rendah yang dimbangi dengan pengoperasian kincir yang intensif, karena pada kondisi seperti ini pengaruh dari saponin akan sangat efektif dan mematikan bagi predator dan kompetitor udang.  Setelah perlakuan pemberian saponin bangkai dari predator dan kompetitor udang yang ada di tambak sebaiknya segera diangkat keluar tambak agar tidak mengotori dan membusuk di tambak, dan selanjutnya kualitas perairan tambak dibentuk dan diperbaiki kembali agar tidak mempengaruhi udang dengan cara melakukan sirkulasi air.

Permasalahan kualitas air tambak memerlukan pendekatan yang komprehensif yaitu perairan tambak dipandang sebagai suatu ekosistem dimana unsur-unsur yeng berada di dalamnya mempunyai keterkaitan satu sama lain, sehingga apabila ada salah satu unsur penyusunnya terkena suatu masalah maka akan berpengaruh terhadap keharmonisan hubungan satu sama lain di dalam perairan tersebut.  Perairan tambak sebagai suatu ekosistem yang tertutup mempunyai angka ketergantungan yang tinggi terhadap kemampuan teknis budidaya terutama dalam pengelolaan kualitas airnya untuk membentuk suatu kondisi yang kondusif bagi organisme yang hidup di dalamnya.  Prinsip dasar yang harus menjadi bahan pertimbangan dalam pengelolaan kualitas perairan tambak dan permasalahannya adalah dalam kegiatan usaha budidaya ini yang menjadi subyek utama adalah kondisi dan kualitas udang yang bernilai ekonomis, sehingga setiap pengambilan keputusan yang akan diambil harus bermuara pada udang dengan mengacu pada perhitungan biaya dan tingkat provite value dari udang yang telah dihasilkan.  Begitu pula sebaliknya perhitungan biaya yang menyangkut teknis pengelolaan kualitas air jangan sampai menghasilkan kondisi dan kualitas udang yang tidak optimal.


Fondasi Tiang Pancang

Fondasi  tiang  digolongkan  berdasarkan  kualitas  bahan  material  dan  cara pelaksanaan.  Menurut  kualitas  bahan  material  yang  digunakan,  tiang  pancang dibedakan menjadi empat yaitu tiang pancang kayu, tiang pancang beton, tiang pancang baja dan tiang pancang composite (kayu – beton dan baja – beton).

a. Tiang Pancang Beton

Tiang pancang beton berdasarkan cara pembuatannya dibedakan menjadi dua macam yaitu :

-          Cast in place (tiang beton cor ditempat atau fondasi tiang bor) dan

-          Precast pile (tiang beton dibuat ditempat lain atau dibuat dipabrik).

Fondasi  tiang  pancang  dibuat  ditempat  lain (pabrik,  dilokasi)  dan  baru dipancang sesuai dengan umur beton setelah 28 hari. Karena tegangan tarik beton adalah kecil, sedangkan berat sendiri beton adalah besar, maka tiang pancang beton ini haruslah diberi tulangan yang cukup kuat untuk menahan momen lentur yang akan timbul  pada  waktu  pengangkatan  dan  pemancangan.  Pemakaian  fondasi  tiang pancang beton mempunyai keuntungan dan kerugian antara adalah sebagai berikut ini :

Keuntungan nya yaitu :

1.   Karena tiang dibuat di pabrik dan pemeriksaan kualitas ketat, hasilnya lebih dapat diandalkan. Lebih – lebih karena pemeriksaan dapat dapat dilakukan setiap saat.

2.  Prosedur pelaksanaan tidak dipengaruhi oleh air tanah

3.  Daya dukung dapat diperkirakan berdasarkan rumus tiang pancang sehingga mempermudah pengawasan pekerjaan konstruksi.

4.  Cara penumbukan sangat cocok untuk mempertahankan daya dukung vertikal.

Kerugian nya :

1.  Karena dalam pelaksanaannya menimbulkan getaran dan kegaduhan maka pada daerah yang berpenduduk padat di kota dan desa, akan menimbulkan masalah disekitarnya.

2.   Pemancangan sulit, bila dimeter tiang terlalu besar

3.   Bila panjang tiang pancang kurang, maka untuk melakukan penyambungannya sulit dan memerlukan alat penyambung khusus.

4.   Bila memerlukan pemotongan maka dalam pelaksanaannya akan lebih sulit dan memerlukan waktu yang lama.

Metode  pelaksanaan :

1.   Penentuan lokasi titik dimana tiang akan dipancang.

2.   Pengangkatan tiang.

3.   Pemeriksaan kelurusan tiang.

4.   Pemukulan tiang dengan palu (hummer) atau dengan cara hidrolik

b. Tiang Pancang Kayu

Tiang pancang dengan bahan material kayu dapat digunakan sebagai tiang pancang pada suatu dermaga. Persyaratan dari tiang pancang tongkat kayu tersebut adalah : bahan kayu yang dipergunakan harus cukup tua, berkualitas baik dan tidak cacat, contohnya kayu belian.

Semula tiang pancang kayu harus diperiksa terlebih dahulu sebelum dipancang untuk memastikan bahwa tiang pancang kayu tersebut memenuhi ketentuan dari bahan dan toleransi yang diijinkan.

Semua kayu lunak yang digunakan untuk tiang pancang memerlukan pengawetan, yang harus dilaksanakan sesuai dengan AASHTO M133 – 86 dengan menggunakan instalasi peresapan bertekanan. Bilamana instalasi semacam ini tidak tersedia, pengawetan dengan tangki terbuka secara panas dan dingin, harus digunakan. Beberapa kayu keras dapat digunakan tanpa pengawetan, tetapi pada umumnya, kebutuhan untuk mengawetkan kayu keras tergantung pada jenis kayu dan beratnya kondisi pelayanan.

Kepala Tiang Pancang

Sebelum pemancangan, tindakan pencegahan kerusakan pada kepala tiang pancang harus diambil. Pencegahan ini dapat dilakukan dengan pemangkasan kepala tiang pancang sampai penampang melintang menjadi bulat dan tegak lurus terhadap panjangnya dan memasang cincin baja atau besi yang kuat atau dengan metode lainnya yang lebih efektif.

Setelah  pemancangan,  kepala  tiang  pancang  harus  dipotong  tegak  lurus  terhadap panjangnya sampai bagian kayu yang keras dan diberi bahan pengawet sebelum pur (pile cap) dipasang.

Bilamana tiang pancang kayu lunak membentuk pondasi struktur permanen dan akan dipotong sampai di bawah permukaan tanah, maka perhatian khusus harus diberikan untuk memastikan bahwa tiang pancang tersebut telah dipotong pada atau di bawah permukaan air tanah yang terendah yang diperkirakan. Bilamana digunakan pur  (pile cap) dari beton, kepala tiang pancang harus tertanam dalam pur dengan ke dalaman yang cukup sehingga dapat memindahkan gaya. Tebal beton di sekeliling tiang pancang paling sedikit 15 cm dan harus diberi baja tulangan untuk mencegah terjadinya keretakan.

Sepatu Tiang Pancang

Tiang pancang harus dilengkapi dengan sepatu yang cocok untuk melindungi ujung tiang selama pemancangan, kecuali bilamana seluruh pemancangan dilakukan pada tanah yang lunak.  Sepatu  harus  benar-benar  konsentris (pusat  sepatu  sama  dengan  pusat  tiang pancang) dan dipasang dengan kuat pada ujung tiang. Bidang kontak antara sepatu dan kayu harus cukup untuk menghindari tekanan yang berlebihan selama pemancangan.

Pemancangan

Pemancangan berat yang mungkin merusak kepala tiang pancang, memecah ujung dan menyebabkan retak tiang pancang harus dihindari dengan membatasi tinggi jatuh palu dan jumlah penumbukan pada tiang pancang. Umumnya, berat palu harus sama dengan beratnya  tiang  untuk  memudahkan  pemancangan.  Perhatian  khusus  harus  diberikan selama pemancangan untuk memastikan bahwa kepala tiang pancang harus selalu berada sesumbu dengan palu dan tegak lurus terhadap panjang tiang pancang dan bahwa tiang pancang dalam posisi yang relatif pada tempatnya.

Penyambungan

Bilamana diperlukan untuk menggunakan tiang pancang yang terdiri dari dua batang atau lebih, permukaan ujung tiang pancang harus dipotong sampai tegak lurus terhadap panjangnya untuk menjamin bidang kontak seluas seluruh penampang tiang pancang. Pada tiang pancang yang digergaji, sambungannya harus diperkuat dengan kayu atau pelat penyambung baja, atau profil baja seperti profil kanal atau profil siku yang dilas menjadi satu membentuk kotak yang dirancang untuk memberikan kekuatan yang diperlukan. Tiang pancang   bulat harus diperkuat dengan pipa penyambung. Sambungan di dekat titik-titik yang mempunyai lendutan maksimum harus dihindarkan.

c. Tiang Pancang Baja Struktur

Pada umumnya, tiang pancang baja struktur harus berupa profil baja gilas biasa, tetapi tiang pancang pipa dan kotak dapat digunakan. Bilamana tiang pancang pipa atau kotak digunakan, dan akan diisi dengan beton, mutu beton tersebut minimum harus K250.

Perlindungan Terhadap Korosi

Bilamana korosi pada tiang pancang baja mungkin dapat terjadi, maka panjang atau ruasruasnya yang mungkin terkena korosi harus dilindungi dengan pengecatan menggunakan lapisan  pelindung  yang  telah  disetujui  dan/atau  digunakan  logam  yang  lebih  tebal bilamana daya korosi dapat diperkirakan dengan akurat dan beralasan. Umumnya seluruh panjang tiang baja yang terekspos, dan setiap panjang yang terpasang dalam tanah yang terganggu di atas muka air terendah, harus dilindungi dari korosi.

Kepala Tiang Pancang

Sebelum  pemancangan,  kepala  tiang  pancang  harus  dipotong  tegak  lurus  terhadap panjangnya dan topi pemancang (driving cap) harus dipasang untuk mempertahankan sumbu tiang pancang segaris dengan sumbu palu. Setelah pemancangan, pelat topi, batang baja atau pantek harus ditambatkan pada pur, atau tiang pancang dengan panjang yang cukup harus ditanamkan ke dalam pur (pile cap).

Perpanjangan Tiang Pancang

Perpanjangan tiang pancang   baja harus dilakukan dengan pengelasan. Pengelasan harus dikerjakan sedemikian rupa hingga kekuatan penampang baja semula dapat ditingkatkan. Sambungan harus dirancang dan dilaksanakan dengan cara sedemikian hingga dapat menjaga alinyemen dan posisi yang benar pada ruas-ruas tiang pancang. Bilamana tiang pancang pipa atau kotak akan diisi dengan beton setelah pemancangan, sambungan yang dilas harus kedap air.

Sepatu Tiang Pancang

Pada umumnya sepatu tiang pancang tidak diperlukan pada profil H atau profil baja gilas lainnya. Namun bilamana tiang pancang akan dipancang di tanah keras, maka ujungnya dapat diperkuat dengan menggunakan pelat baja tuang atau dengan mengelaskan pelat atau siku baja untuk menambah ketebalan baja. Tiang pancang pipa atau kotak dapat juga dipancang tanpa sepatu, tetapi bilamana ujung dasar tertutup diperlukan, maka penutup ini  dapat  dikerjakan  dengan  cara  mengelaskan  pelat  datar,  atau  sepatu  yang  telah dibentuk dari besi tuang, baja tuang atau baja fabrikasi.

Perbandingan Jenis Pondasi Dalam (Deep Foundation) Berdasarkan Metode Konstruksinya

Pengeboran (Drilled)

  • Kelebihan:

1. Tidak menimbulkan getaran dan kegaduhan yang dapat menggangu lingkungan sekitar.

2. Cocok untuk pondasi yang berdiameter besar.

3. Pondasi dapat dicetak sesuai kebutuhan.

  • Kekurangan:

1. Pekerjaan agak rumit karena pondasi dicetak di lapangan.

2. Lebih banyak memerlukan alat bantu seperti mesin bor, casing, cleaning bucket dan alat bantu pengecoran sehingga mengeluarkan biaya yang lebih besar.

3. Rentan terhadap pengaruh tanah dan lumpur di dalam lubang.

4. Waktu pengerjaan lebih lama.

Pemancangan

  • Kelebihan:

1. Pemeriksaan kualitas pondasi sangat ketat sesuai standar pabrik.

2. Pemancangan lebih cepat, mudah dan praktis.

3. Pelaksanaan tidak dipengaruhi oleh air tanah.

4. Daya dukung dapat diperkirakan berdasarkan rumus tiang.

5. Sangat cocok untuk mempertahankan daya dukung vertikal.

  • Kekurangan:

1. Pelaksanaannya menimbulkan getaran dan kegaduhan.

2. Pemancangan sulit, bila dimeter tiang terlalu besar.

3.  Kesalahan metode pemancangan dapat menimbulkan kerusakan pada pondasi.

4.  Bila panjang tiang pancang kurang, maka untuk melakukan penyambungannya sulit dan memerlukan alat penyambung khusus.

5. Bila memerlukan pemotongan maka dalam pelaksanaannya akan lebih sulit dan memerlukan waktu yang lama.

Tekan (Pressed)

  • Kelebihan:

1.  Tidak menimbulkan getaran dan kegaduhan yang dapat menggangu lingkungan sekitar.

  1. Tidak menimbulkan kerusakan pada pondasi akibat benturan.
  2. Pelaksanaan tidak dipengaruhi oleh air tanah.
  3. Daya dukung dapat diperkirakan berdasarkan rumus tiang.
  4. Sangat cocok untuk mempertahankan daya dukung vertikal.
  5. Pemeriksaan kualitas pondasi sangat ketat sesuai standar pabrik.
  6. Pemancangan lebih cepat, mudah dan praktis.
  • Kekurangan:
  1. Bila panjang tiang pancang kurang, maka untuk melakukan penyambungannya sulit dan memerlukan alat penyambung khusus.
  2. Bila memerlukan pemotongan maka dalam pelaksanaannya akan lebih sulit dan memerlukan waktu yang lama.
  3. Tidak cocok untuk pondasi dengan diameter yang agak besar.
  4. Memerlukan mesin hydraulic press untuk menekan pondasi.

Geotextile


  1. GEOTEXTILE/GEOGRID  DAN TIMBUNAN TANAH

Geotekstil adalah lembaran sintesis yang tipis, fleksibel, permeable yang digunakan untuk stabilisasi dan perbaikan tanah dikaitkan dengan pekerjaan teknik sipil. Pemanfaatan geotekstil merupakan cara moderen dalam usaha untuk perkuatan tanah lunak.

Beberapa fungi dari geotekstil yaitu:

  1. untuk perkuatan tanah lunak.
  2. untuk konstruksi teknik sipil yang mempunyai umur rencana cukup lama dan mendukung  beban yang besar seperti jalan rel dan dinding penahan tanah.
  3. sebagai lapangan pemisah, penyaring, drainase dan sebagai lapisan pelindung.

Geotextile dapat digunakan sebagai perkuatan timbunan tanah pada kasus:

  1. Timbunan tanah diatas tanah lunak
  2. Timbunan diatas pondasi tiang
  3. Timbunan diatas tanah yang rawan subsidence

Timbunan Tanah Diatas Tanah Lunak

Pada hakekatnya, timbunan diatas tanah lunak merupakan masalah daya dukung. Pertimbangan lain adalah bahwa stabilitas timbunan kritis pada akhir konstruksi. Hal ini dikarenakan permeabilitas tanah lempung lunak yang tidak memungkinkan pengaliran dan konsolidasi pada masa konstruksi. Pada akhir konstruksi, beban telah diterapkan, tetapi tidak ada peningkatan kuat geser tanah akibat konsolidasi.

Sesudah konsolidasi terjadi, peningkatan kuat geser umumnya menghilangkan perlunya perkuatan geotextile untuk menambah stabilitas. Untuk memperoleh peningkatan kuat geser, tinggi timbunan harus sedemikian sehingga pada awal kosntruksi mengakibatkan tegangan vertikal yang melewati tegangan pra-konsolidasinya.

Jadi peranan geotextile adalah mempertahankan stabilitas sampai tanah lunak terkonsolidasi (kuat geser meningkat berarti) sampai saat dapat memikul beban timbunan itu sendiri.

Keuntungan yang dapat diambil dari penggunaan geotekstil perkuatan tanah lunak adalah Konstruksi sederhana sehingga mudah untuk dilaksanakan, menghemat waktu pelaksanaan, menghemat biaya konstruksi. Sedangkan kerugian dari penggunaan geotekstil adalah bahwa geotekstil tidak tahan terhadap sinar ultra violet. Tetapi hal ini dapat diatasi dengan penutupan berupa pasangan batu kali ataupun dengan bahan lainya.

2. GEOGRID

Geogrid adalahPerkuatan sistem anyaman.Geogrid berupa lembaran berongga dari bahan polymer. Pada umumnya sistem serat tikar banyak digunakan untuk memperkuat badan timbunan pada jalan, lereng atau tanggul dan dinding tegak. Mekanisme kekuatan perkuatan dapat meningkatkan kuat geser.

Pembangunan jalan diatas tanah lunak dengan metode:

  1. Penggunaan cerucuk kayu yang berfungsi sebagai settlement reducer, yang walaupun memiliki kelemahan keterbatasan umur material namun telah terbukti dan diterima sebagai suatu sistem.
  2. Penggunaan sistem Corduroy/geotextile bagian dari tanah soil reinforcement untuk menaklukkan kuat geser.
  3. Penggunaan sistem Cakar ayam yang dikombinasikan dengan geotextile diatas tanah lunak.
  4. Menggunakan cerucuk matras beton dengan komponen cerucuk dan matras dimana setiap unit pelat matras masing-masing berada disebuat titik/cerucut.
  5. Penggunaan bahan expandsed Polysstyrene yang yang mempunyai berat jenis sangat rendah untuk konstruksi timbunan jalan raya, maupun sebagai lapisan pendukung fondasi diatas tanah lunak sehingga memperkecil tegangan yang bekerja.

3. VERTIKAL DRAIN

Umumnya jenis tanah yang mengalami konsolidasi berlebihan adalah lempung lunak jenuh. Terdapat beberapa metode yang bisa dilakukan guna perbaikan tanah lunak terhadap penurunan yang berlebihan (settlemen) dan secara garis besar dapat dikelompokan dalam tiga kategori : pertama dapat dilakukan dengan memasang vertical drain, kedua dengan menggunakan cerucuk atau corduroy serta yang ketiga dengan menggunakan pondasi tiang.

Pertama memasang vertical drain, tanah lempung lunak jenuh adalah tanah dengan rongga kapiler yang sangat kecil sehingga proses konsolidasi saat tanah dibebani memerlukan waktu cukup lama, sehingga untuk mengeluarkan air dari tanah secara cepat adalah dengan mebuat vertical drain pada radius tertentu sehingga air yang terkandung dalam tanah akan termobilisasi keluar melalui vertical drain yang telah terpasang. Vertical drain ini dapat berupa stone column atau menggunakan material fabricated yang diproduk oleh geosinindo atau pabrik yang lainnya. Pekerjaan vertical drain ini biasanya dikombinasikan dengan pekerjaan pre-load berupa timbunan tanah, dengan maksud memberikan beban pada tanah sehingga air yang terkandung dalam tanah bisa termobilisasi dengan lebih cepat.

Kedua dengan menggunakan cerucuk bamboo atau corduroy, prinsip kerjanya sebelum dilakukan penimbunan terlebih dahulu memasang bantalan baik yang terbuat dari bamboo (cerucuk) atau dari kayu gelondongan (corduroy) sehingga saat tanah dihampar tidak bercampur dengan tanah asli dibawahnya dan tanah timbunan tersebut membentuk satu kesatuan yang mengapung diatas tanah aslinya semacam pontoon yang mengapung diatas air. Terdapat pondasi cerucuk bamboo yang telah dimodifikasi dan dipatentkan oleh Pak Mansyur Irsyam (dosen ITB) yang telah diaplikasikan pada bebepara daerah diindonesia serta telah terbukti mamfaatnya.

Ketiga dengan menggunakan taing pancang, bisa berupa bore pile atau PC spun pile, sehingga struktur yang akan kita bangun diatas tanah tersebut tidak lagi menumpuh pada tanah lunak tersebut akan tetap menumpu pada lapisan tanah keras dibawahnya. Satu hal yang perlu diperhatikan saat merencanakan pondasi tiang pancang pada tanah lunak adalah negative skin friction.

Dua metode perbaikan tanah lunak yang saya sebutkan pertama cocok diaplikasikan pada pekerjaan jalan, yard penumpukan barang pada dermaga dll. Sementara untuk untuk pondasi dari struktur atau proses equipment yang tepat diguanakan adalah menggunakan pondasi tiang pancang.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.