Archive for July 20, 2010



Luna masih di Bima Sakti. Masih menjejakkan kakinya di suatu tempat miring dua puluh tiga setengah derajat. Masih banyak yang jatuh bangun hendak mencumbu cintanya, mungkin lebih lazim disebut jatuh cinta. Pesona dirinya tidak pudar. Tetap indah. Seindah lukisan fenomena sang khalik yang terpahat sempurna di antero jagad raya. Walau kau tak akan pernah tahu siapa dia sebenarnya. Kapan dia lahir? Lelaki atau wanita? Siapa berani mengarang biografinya? Namun kau harus percaya itu semua hasil jerih payahnya. Kau ada karena dia ada.

Luna tetap seperti dulu, malah bertambah cantik. Semua yang ada di dalam jasadnya tumbuh alami. Tanpa kontaminasi senyawa kimia. Tanpa susuk. Dia tidak butuh itu semua. Tak ingin dia mengenal produk-produk mutakhir seperti yang dikenakan teman wanitanya. Dia yakin semua itu semu. Lambat laun pasti bakal merusak. Manusia tidak bisa menentang, hanya dapat menyesuaikan.

Luna memang perempuan yang tegar. Layak disejajarkan dengan para pejuang wanita pendahulunya. Mereka sama-sama berjibaku memerangi sesuatu yang mengganggu poros kehidupan. Tapi Luna lebih spesifik. Dia sudah familiar dengan longsongan peluru cinta yang mengarah tepat ke hatinya. Semua itu diperanginya seorang diri. Dia punya amygdala dan bilik-bilik yang menunjang pemikirannya. Dan dia rasa itu semua sudah lebih dari cukup untuk menghadirkan sensasi tersendiri bagi logikanya.

Luna masih di medan. Tidak, bukan ibukota Sumatera Utara. Tetapi medan perang. Dimana semuanya dipertaruhkan. Dan dia sudah bertaruh lebih disana. Harta yang tidak ternilai harganya, cintanya. Sebenarnya dia punya kekasih, dan hingga sekarang dia yakin kepadanya. Ditutupnya pintu hatinya rapat-rapat. Takut pada para pencuri hati yang sedang marak beraksi. Dia dan kekasihnya sudah berikrar setia. Satu hati, satu pikiran hingga habis bahan bakar waktu berjalan.

Luna kini lebih sering diam. Hatinya puasa bicara. Dia bingung. Entah kenapa. Tidak seperti dulu. Tidak seperti ketika kekasihnya belum hengkang. Wajar memang. Tapi ini semua berlebihan. Dia seperti dihantui ilusi. Tidak jarang juga dia terhanyut diseret gelombang indah tentang dia dan kekasihnya. Tidak peduli berapa waktunya tersita jika dia tenggelam di tengah malam hingga diselamatkan rasa kantuk.

Luna mencoba memutilasi waktu. Membagi-baginya dengan adil. Sedikit untuk cintanya, sedikit untuk hidupnya, dan hal lain-lain yang dia anggap mustahak jika masih tersisa. Dia berhasil untuk beberapa saat. Jujur, dia bahagia. Akhirnya dia menemukan kembali jiwanya dulu. Jiwanya sebelum dirasuki kekasihnya. Dia bebas. Tidak terikat. Tapi bukan berarti dia berkhianat. Dia masih percaya pada seseorang yang jauh di Nevada, kekasihnya. Pintu hatinya hanya tebuka untuk seseorang itu, karena memang hanya ia yang berjaya mendapat duplikat kuncinya.

Luna tidak lagi ditemani kekasihnya. Kekasihnya jauh di sana. Dia takut banyak hal yang dia takuti melanda kekasihnya. Adakah kekasihnya masih setia? Masih ingatkah kekasihnya akan dirinya? Sampai kapan dia harus menunggu? Sampai kapan?

Luna harus kuat menghadapi ini semua. Akhir-akhir ini dia sering menjumpai kenangan di biliknya. Tanpa ragu dia mulai menata ulang kenangan itu. Tak diacuhkannya jarum jam yang terus berlari, karena juga tidak ada usaha yang pasti untuk menghentikannya. Belum pernah didengarnya seseorang berhasil mengambil alih tahta sang waktu. Dialah raja dari segala raja yang telah, sedang, atau akan berkuasa. Diktator yang tidak perlu batalion budak ataupun paham-paham fasisme, nasionalisme, atau sosialisme yang sering didengungkan para petinggi-petinggi lainnya.

Luna mulai terlarut dalam semua kenangan itu. Walau dulu dia pernah melakukan percobaan pembunuhan terhadapnya, tapi kenangan itu bagaikan malaikat yang tidak pernah menangis. Padahal ia sudah sering disakiti, namun tidak ada sedikitpun dendam kesumat yang menguasainya. Ia hanya pasrah pada pemiliknya. Ia baru akan mati setelah pemiliknya mati. Itupun jika pemiliknya tidak mengembangbiakkannya ke lain jiwa.

Luna enggan untuk pergi. Dia masih tersenyum manis di salah satu biliknya sambil memutar kembali hari-harinya dulu. Masih terngiang di landasan sanggurdinya lagu-lagu yang dibawakan kekasihnya untuk dirinya dulu. Masih lekat tatapan lembut yang sering dipuja-puji korneanya dulu. Dia ingin semua itu kembali. Kembali membuat hidupnya merona. Pikirannnya sejenak melayang meninggalkannya terbang ke angkasa menembus pelangi lewati langit tujuh bidadari tempat kekasihnya bersemayam.

Luna tidak mendapati kekasihnya itu di sana. Di tempat yang telah mereka sepakati. Hatinya mulai kalut. Proses berpikirnya sedikit terganggu. Namun dia masih mengandalkan logika tanpa tahu kekasihnya baru saja berpaling darinya. Memang kekasihnya pernah berujar,

“Kalau boleh ditimbang, mungkin yang kakanda hadapi di sini dua kali lebih berat dari sekedar yang dinda perangi”.

Luna mengerti hal itu. Karena dirinya juga bukan satu-satunya wanita yang diciptakan di peredaran. Sudah pasti banyak wanita wanita lain di Bima Sakti. Bahkan lebih dari sekedar wanita yang dia punya.

Luna tahu kekasihnya tidak begitu. Dia percaya penuh pada kekasihnya. Kesatria terbaik yang pernah dia kenal. Melindunginya dengan perisai baja. Membuatnya tidak lagi alienasi di tengah aliansi hidup. Dia sudah terlanjur menganut alturisme.

Luna juga sudah lama berhasrat untuk menyudahi semua ini. Menganulir semua pergerakan yang sudah dia buat. Dia disokong oleh argumen sekawanan samurai yang terbuat dari huruf. Namun lagi-lagi dia dihantui sesuatu yang signifikan untuk tetap setia pada kekasihnya. Dan dia memang seorang wanita yang sangat kokoh. Tidak mudah untuk menaklukkan cintanya. Satu-satunya yang membuat dia tetap solid seperti sekarang.

Luna akhirnya sadar. Selama dia tidak ditemani kekasihnya, dirinya sedikit tersiksa. Sampai akhirnya dia temukan seseorang yang bisa menghapus semua ini. Desember, begitu orang-orang menyebutnya. Seorang pria yang berhasil meruntuhkan pintu hatinya. Masuk ke dalamnya dan begitu cepat mendekorasi ulang kenangan yang sudah mulai usang.

Luna jatuh cinta. Dia sangat mengagumi pria yang berjaya menaklukkan dirinya untuk kedua kalinya. Karena tidak banyak pria yang dia anggap layak untuk dirinya. Tetapi bukan berarti dia wanita yang sombong dengan segala yang dia punya. Dia bersahabat dengan siapa saja. Tak peduli kasta yang membentang antara mereka. Dan dia sangat paham tentang segala maksud dan tujuan mereka yang dia kenal. Hanya beberapa saja yang dia dapati benar-benar tulus padanya. Sedang yang lain bagai ilalang di tengah taman mawar yang sedang mekar. Menyemak.

Luna berjalan di antara Desember dan kekasihnya. Dia sudah bertekad bulat untuk lebih memilih Desember demi menerangi ruang hatinya yang tidak lagi disinari gemerlap kekasihnya. Namun dia tidak tahu cara yang tepat untuk mengakhiri semua ini. Dia tidak rela cinta pertamanya dia kubur hidup-hidup. Dan dia juga tidak bisa bertahan dalam kurung siksaan ini. Dia ingin terbang bersama Desember memetik buah surga yang tidak sempat dia rasakan bersama kekasihnya sekarang. Di saat hormon-hormonnya berontak, dia malah ditinggalkan kekasihnya dan disuruh menunggu. Suatu hal yang jarang dapat ditolerir oleh para wanita seusianya.

Luna masih menerima kata-kata pujangga dari kekasihnya. Semua itu dia simpan baik-baik dalam kotak kecil di hatinya. Sesekali dia bercermin, dilihatnya dirinya bermuka dua. Yang satu terpaku menunggu kekasihnya, yang lain terawang dipelukan Desember. Dia sedikit tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Dia usap kedua matanya, berharap akan ada perubahan yang pasti. Namun dia masih melihat hal yang sama. Ingin dia melupakan apa yang baru dilihatnya, tapi tak bisa. Ingin dia memecahkan cermin itu agar sedikit puas, tetapi tak ada gunanya. Dia tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri. Dirinya yang sedang jatuh cinta.

Luna memberanikan diri untuk mengakui semua ini pada kekasihnya. Dia berharap tidak akan ada yang tersakiti dengan putusan yang dipilihnya, terutama kekasihnya. Konsekuensi dari semua ini sudah siap dia pikul di bahunya. Hatinya terasa berat ketika dia utarakan semuanya pada kekasihnya. Satu dua hari dirinya tidak berhenti menangis mencerna jawaban kekasihnya. Kesatria yang sangat paham tentang dirinya. Kesatria itu sadar ia telah memenjarakan seekor merpati yang ingin mengecap langit. Hingga suatu titik merpati memberontak dan kesatria tidak punya solusi lain. Kesatria harus rela melihat merpati terbang bebas, tanpa tahu apa yang baru saja dilakukannya benar atau salah.

Luna seperti terlahir kembali. Pagi ini dia dinyatakan bebas. Dia ingin cepat-cepat menyongsong hidup barunya. Tujuan barunya melayang tinggi bersama Desember. Dia mulai mencuri-curi pandang pada Desember. Dia tahu pasti bahwa Desember mengenalnya. Siapa yang tidak mengenal seorang Luna? Begitu pikirnya.

Luna mulai memasuki tahap reinkarnasinya. Dirinya yang dulu dikejar-kejar sekarang menuntut balik. Bumerang pikirannya. Dia berharap Dewi Fortuna sedikit berpihak padanya. Dia ingin semua ini berjalan mulus sesuai rencana. Dia mulai menebar pesona indahnya dikalangan lelaki. Tidak lain tidak bukan untuk merebut simpati Desember. Sampai suatu saat, Desember sadar ada perubahan drastis yang tampak pada Luna. Cara dia berbicara, senyum, lirikan matanya dan lain-lain yang tampil beda.

Luna sepertinya berhasil merapat ke Desember. Dengan sedikit berpura-pura bersama segala ketidaktahuannya, dia menentang gravitasi. Merobek-robek jarak yang dulu sulit ditaksir dengan kata-kata. Menentang semua mitos yang selama ini eksis. Siapa bilang wanita tak pantas mengejar lelaki ?

Luna tahu apa yang dilakukannya. Namun dia masih direspon layaknya wanita-wanita yang lain. Belum muncul sesuatu yang lebih. Sesuatu yang membuat dirinya seperti sekarang.

Luna tak tahu cara yang tepat untuk menaklukkan Desember. Kini dia tahu. Rasa yang selama ini tertuju kepadanya kini menggerayanginya. Memeluk dirinya erat-erat. Ingin dia meminjam sayap sesuatu yang bisa membawanya ke tempat Desember bersemayam. Tetapi jarak itu begitu jauh. Sulit untuk memastikan dia punya kekuatan yang cukup untuk bisa meraihnya.

Luna memulai berbagai bentuk ritual yang dia anggap sakral untuk memperlancar usahanya ini. Dia tahu dirinya sangat butuh seseorang kini. Tidak ada gunanya menunggu Desember bertekuk lutut. Jalan yang harus dia tempuh adalah reinkarnasi. Hanya dengan bereinkarnasilah semuanya bakal jelas.

Reinkarnasi itu solusi. Begitu setidaknya pikir Luna saat ini. Aura itu sudah merebak. Membalutnya beraturan. Reinkarnasi butuh ketulusan. Hanya segelintir spesies yang berjaya mewujudkannya, karena resiko yang terkandung sangat destruktif. Menjatuhkan harga diri bahkan mati. Bukan mati kehilangan jasad, tetapi dihapus dari ingatan, dilenyapkan, dilupakan.

Entah bagaimana mendeskripsikan deraian misteri yang tumpah ruah dalam sebuah reinkarnasi. Tetapi Luna mengerti itu. Ditemuinya sesuatu yang membuat dia bisa dengan enteng menulikan matanya serta membutakan telinganya dari kabar-kabar burung yang terus melantunkan namanya. Menjadikan dia hebat.

Ini bukan hal yang mudah. Harus ada pengorbanan yang cukup berarti. Entah itu waktu atau pikiran. Luna sadar akan semua itu. Tahap-tahap yang bakal dilaluinya adalah fase yang akan menentukan kelanjutan cerita kehidupannya. Tidak semudah yang dibayangkannya, dia baru saja mempertaruhkan sesuatu yang paling berharga dari dirinya.

Jalan yang dilaluinya hingga tiba di sini bukanlah seperti lintasan yang diidam-idamkan banyak orang, mulus tanpa aral melintang atau serbuan hambatan. Tetapi bagai sebuah sirkuit yang dengan ramah menyapanya bersama lubang dalam di sana-sini. Selangkah dia berjalan, dia sudah terbenam di dasar lubang. Mengakrabkan dirinya pada kehidupan di dasar sana. Bertemu ramah dengan beberapa hal yang belum dia kenal. Memang ini bukan seperti yang dia harapkan. Tetapi harapan seperti barang mewah yang tidak ingin dia miliki. Tidak ada waktu untuk harapan.

Di dasar sana dia dihadapkan pada perjuangan yang sudah lama tidak dia temui. Tidak ada bantuan yang akan terbit. Hanya ada dia dan kekuatan kekuatan pikirnya. Berkolaborasi memecahkan labirin yang ada di depan kedua mata. Tidak mudah untuk meyudahi semua ini. Pertama kali setelah dia putuskan dua langkah berikutnya untuk mengarungi hidup, kegagalan ditemuinya pada langkah pertama. Bukan apa-apa, tetapi langkah pertama memang seharusnya menjadi penentu buat menapaki laluan berikutnya.

Akhirnya dia melewati tahap akhir reinkarnasinya dengan mulus. Kini dia menanti sebuah jawaban dari kerja kerasnya selama ini. Sekarang dia memohon agar sang waktu berlari lebih cepat, karena setiap detik yang dia lalui terasa sangat lambat.

Akhir reinkarnasi ini terasa begitu hambar. Tidak ada jawaban berarti yang keluar. Tidak ada kepastian yang mensahkan perjuangan Luna. Dia masih menunggu sebuah frasa yang bakal menentukan kelanjutan perjalanan cintanya. Entah itu bakal menerbangkannya atau malah menghancurkannya. Menguburnya hidup atau mati.

Segalanya akan baik-baik saja. Namun apa yang didapati Luna sangat berbanding terbalik dengan segenap pengorbanannya. Ini mungkin yang disebut karma. Luna mati, dilupakan. Tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya ketika dia mulai terbakar. Terlalu banyak dosa yang menyeretnya. Reputasinya luluhlantak berserakan acak membumi. Kecantikannya terbang berhamburan meninggalkan dirinya. Cahanya berkhianat. Dia ingin mati tatkala dia menginginkannya. Tak ada gunanya memperpanjang hidup secara buatan. Dia telah menjalankan bagiannya. Telah tiba waktunya untuk pergi. Dia akan melakukannya dengan anggun. Reinkarnasinya…gagal.

Pekanbaru, 11 Desember 2007


SISTEM PERPIPAAN DAN DETAIL-DETAILNYA

Pekerjaan pemasangan perpipaan dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu :

  • Di atas tanah,
  • Di bawah tanah,
  • Di bawah air.

Untuk pemasangan sistem perpipaan di ketiga tempat ini baik pipa proses, pipa utility, mempuyai perhitungan dan permasalan tersendiri, di sini hanya akan dibicarakan butir satu dan dua.

PEMASANGAN PIPA DIATAS TANAH

Pemasangan pipa diatas tanah dapat dilakukan pada rak pipa (pipa rack), diatas penyangga-penyangga pipa, diatas dudukan pipa (sleeper).

Pemasangan pipa diatas tanah ini dapat pula dimasukkan pipa equipment yaitu :

Þ    Pipa kolom dan vessel.

Þ    Pipa exchanger.

Þ    Pipa pompa dan turbin.

Þ    Pipa kompresor.

Þ    Pipa utilitas.

Dimana masing-masing pemasangan pipa pada equipment ini mempunyai batasan-batasan khusus sebagai berikut :

®    Pipa Kolom dan Vessel

Pipa yang akan dipasang pada kolom dan vessel harus ditempatkan secara radial disekitar kolom dibagian jalur pipa jalan orang platform dibagian accsess.

Untuk pipa 18” ke atas bisa langsung dilas ke veseel, kecuali pertimbangan pemeliharaan dan akan digunakan sambungan flens. Pengguaan vent atmosferis berkatup dan bertudung harus disediakan pada tempat lokasi titik tertinggi dari veseel, sedangkan drain dipasang pada lokasi rendah yang akan ditentukan olej P dan ID.

Katup pelepas tekanan yang membuang ke dalam sistem blowdown tertutup harus ditinggikan guna memungkinkan bagian pengeluaran pengaliran sendiri kedalam blowndown.

Katup pelepas tekanan yang membuang uap ke udara bebas harus dilengkapi dengan pipa paling sedikit tiga meter di atas setiap platform radius 7,5 meter juga disediakan lubang pembuangan yang besarnya 6mm atau seperempat inch dibawah guna mencegah akumulasi cairan.

®    Pipa Exchanger

Pada pemasangan pipa exchanger tidak boleh boleh dipasang diatas daerah-daerah kanal, tutup shell dan fasilitas –fasilitas lain yang telah terpasang pada exchanger atau handling yang suka digunakan. Ruang-ruang bebas untuk pemasangan flens exchanger harus disediakan. Spool dipasang diluar nozzle kapal guna memungkinkan pemindahan bundel pipa exchanger.

®    Pipa Pompa & Turbin

Pada sunction atau pipa yang mengalirkan aliran disebut juga pipa hisap harus diatur sedemikian rupa guna mencegah penurunan tekanan dan kantung uap yang dapat pula menimbulkan kavitasi pada impeler. Apabila perubahan ukuran diperlukan untuk mempercepat atau memperlambat aliran, maka reducer eksentris harus dipakai bilamana kantung tanpa vent tak dapat dihindari.

Pemasangan pipa pada pompa dan turbin harus diatur sedemikian rupa, Sehingga mudah untuk perawatan dan perbaikan. Hal ini penting untuk mencegah pembongkaran besar yang tak perlu pada pemeliharaan dan perbaikan pipa. Saringan permanen dan sementara harus pada inlet pompa dan turbin.

Sedangkan untuk aliran panas dan dingin harus diperhatikan fleksibilitas, begitu pula kedudukan-kedudukan penyangga haruslah baik dan dapat mengatasi getaran-getaran yang diakibatkan motor pipa serta aliran.

®    Pipa Kompresor

Pemasangan pipa pada kompresor harus diatur perbaikan dan pemeliharaannya. Sambungan pipa dengan menggunakan flens lebih diutamakan demi memperlancar jalannya perbaikan dan pemeliharaannya.

Sambungan pipa dengan menggunakan flens lebih diutamakan demi memperlancar jalannya perbaikan dan pemeliharaan. Pipa hisap (suction) dan buang (discharge) harus benar-benar diperhatikan eksibitasnya, terutama untuk temperatur rendah atau tinggi dan tekanan tinggi. Masalah getaran termasuk bagian terpenting pada pipa kompresor ini, akibat adanya beban dinamis yang berhubungan dengan kompresor ini karena itu masalah penyangga, guide dan anchor juga harus menjadi perhatian perencana dan divisi teknik.

®    Pipa Utilitas

Pemasangan pipa utilitas ini harus benar-benar dierencanakan sehingga kebutuhan utilitas di proyek dapat terjangkau penggunaannya. Pipa utilitas seperti pipa yang lain haruslah direncanakan beroperasi dengan temperatur dan tekanan berapa.

Perencana atau subheader haruslah dapat memenuhi daerah equipment proses atau kelompok peralatan lainnya yang memerlukan jalur utilitas. Sambungan cabang haruslah dibuat dari atas header. Apabila aliran utilitas berupa uap, jangan lupa membuat kantung-kantung uap pada setiap titik-titik terendah dimana aliran akan mendaki dan diperhitungkan tidak lebih dari 40% tekanannya dalam jarak yang dihitung dalam ft.

Penggunaan katup-katup blok untuk pipa cabang perlu diadakan, sehingga distribusi aliran dapat diatur dengan baik ketempat tempat yang membutuhkan.

Sambungan pipa uap untuk membersihkan vessel dan saluran pipa yang berisi cairan hidrokarbon, terdiri dari dua susunan :

1)    Menyediakan pipa uap permanen.

2)   Menyediakan sambungan selang sementara antara sumber uap utilitas dan katup blok pada sambungan pengeluaran uap.

Sambungan pipa pengeluaran uap harus dipasang pada vessel vertikal dan terdiri dari pipa 2 inch dengan katup blok yang dipasang pada nozzle vessel diikuti dengan katup check. Katup blowdown diperlukan pada titik rendah antara katup check dan katup-katup header uap.

Selain itu, digunakan pula pipa 1 inch yang dipasang dengan plug untuk pengeluaran uap dengan katup blok yang dan dilayani oleh selang yang panjangnya antara 15 sampai dengan 20 meter.

PEMASANGAN PIPA DIBAWAH TANAH

Pipa dibawah tanah dapat dibagi dalam 2 bagian :

1)    Pipa proses

2)   Pipa utilitas

Untuk pipa proses dibawah tanah sedapat mungkin harus dihindarkan, sedangkan pipa utilitas dibawah tanah dapat di klasifikasi menjadi 2 bagian yaitu :

1)    Pipa dengan sistem aliran gravitasi.

2)   Pipa dengan sistem aliran bertekanan.

Pipa dengan Sistem Aliran Gravitasi

Pipa dengan aliran gravitasi, tergantung pada pusat gravitasi, karena itu jalur-jalur perpipaan harus mempunyai selop (slope). Disarankan perbandingan selopnya 1:100 untuk pipa 4 inch dan keatas, sedangkan untuk piapa 3 inch dan kebawah perbandingan yang disarankan adalah 1:50 untuk setiap jalur dibawah tanah.

Perpipaan dengan aliran gravitasi dapat dilihat sebagai berikut :

  1. I.    Air jernih termasuk air hujan, air pembersih, air pemadam kebakaran yang biasa digunakan, dikumpulkan serta dipisahkan dari minyak yang mungkin terdapat dalam sistem tersebut atau yang akan menuju ke sistem tersebut (kali atau kolam).
  2. II.    Proses pembuangan, baik pembuangan air, minyak, termasuk pembuangan dari uap dan pembuangan dari pompa, vessel dan sambungan sampel serta kotoran pembuangan. Pada sistem ini rute menuju ke bagian pemisahan dan hidrokarbonnya biasanya dinetralkan.
  3. III.    Kombinasi pembuangan adalah pengumpulan dari seluruh pembuangan dengan (utilitas) sistem perpipaan. Ini harus dialirkan menuju ke tempat pemisahan yang besar untuk membawa dan mengkombinasikan aliran dalam pemisahan hidrokarbon dari air.
  4. IV.    Pembuangan kotoran manusia akan dialirkan kesuatu tempat khusus (septic tank) yang berada didaerah itu.
  5. V.    Pembuangan korosi direncanakan sebagai suatu sistem pemisah pembuangan didalam suatu unit. Disini termasuk asam, amine, karbonat dan lain-lain larutan kimia yang menimbulkan korosi. Pada setiap unit aliran tersebut akan dikumpulkan pada suatu jalur pipa utama dan dialirkan kekolam pembuangan khusus. Setelah itu dari kolam ini akan dipompakan menuju suatu tempat untuk dinetralisasi. Larutan yang telah dinetralkan dan masih dapat digunakan akan dipompakan ke suatu tempat penyimpanan.

Dalam sistem yang begitu luas, penggunaan material untuk konstruksi akan berbeda-beda. Didalam pemilihan bahan harus diperhatikan aliran apa yang akan melalui pipa tersebut.

Didalam pelaksanaan konstruksi perlu juga dapat dicantumkan jarak elevasi dari permukaan tanah ke dalam jalur perpipaan bawah tanah. Begitu juga ketebalan pipa harus diperhatikan, serta perlu tidaknya menggunkan lapisan anti karat, isolasi, selubung atau perlindungan pipa lainnya.

Perhitungan dimensi dari pipa atau elevasi pipa diukur dari dasar pipa bawah tanah. Aliran dari cairan ditentukan oleh banyak/ sedikitnya slope suatu sistem gravitasi dan hubungan ini timbal balik. Para designer dalam perencanaan harus mempertimbangkan elevasi dari permukaan masuknya pipa.

Untuk membicarakan masalah sistem pembuangan, para designer harus mengetahui sistem dibawah ini :

i.        Yang paling penting adalah pengumpulan dari pembuangan satu atau dua lateral biasanya ditempatkan pada suatu jalan pipa dengan memasang jalan masuk orang untuk melindungi dari kebakaran dan meluapnya gas.

ii.        Lateral adalah jalur pengumpul pembuangan dari satu dua sublateral dan dialirkan kebagian jalur utama melalui man holes yang tertutup.

iii.        Sublateral adalah jalur pengumpul pembuangan dari cabang dan dikumpulkan pada suatu penampung lateral.

iv.        Cabang-cabang hendaknya dikumpulkan dari berbagai cerobong-cerobong pembuangan atau kolam penampung yang diteruskan ke sublateral.

v.        Cerobong-cerobong merupakan tempat titik pengumpulan yang biasanya berjarak dua inch  dari permukaan yang telah dikerjakan, untuk pipa baja karbon, penggunaan concentric swage reducer 6”x4” adalah yang bisa digunakan. Ukuran cerobong minimal 4”.

vi.        Kolom penampung digunakan untuk pengumpulan pembuangan dari suatu permukaan. Kolam penampung ini biasanya berukuran 2 ft2 dengan kedalam satu sampai satu setengah ft ditutup dengan kisi.

vii.        Jarak masuk orang adalah merupakan pusat boks pengumpulan dimana orang dapat masuk kedalamnya untuk membersihkan lateral. Jalur aliran yang datang kembali ditutup untuk mencegah kebakaran dan aliran balik dari gas.

Pemilihan Material yang digunakan

Pemilihan material pipa untuk saluran pembuangan tergantung dari tekanan, temperatur, ketahan serta harga material serta onkos pemasangannya terhadap cairan yang akan dialirkan. Baja karbon yang dilapisi anti karat banyak digunakan pada jalur-jalur pembuangan ini, walau pada dasarnya cukup sulit untuk menspesifikasi penggunaan material yang benar-benar efektif, tapi dari pengalaman pemilihan material merupakan suatu pertimbangan yang cukup penting sebelum mengambil keputusan akhir.

Faktor-faktor yang terpenting harus diperhitungkan juga adalah faktor korosi tanah proyek itu sendiri.

Jenis-jenis material yang umum disunakan antara lain :

  1. I.    Pipa yang terbuat dari tanah liar (vertified clay), banyak digunakan untuk aliran pembuangan dengan sistem pengankutan berdasarkan gaya berat, misalnya untuk kotoran-kotoran manusia dan pembuangan kotoran lainnya dengan aliran bertekanan dan temperatur rendah. Juga digunakan jenis ini dibawah bangunan atau concrete yang cukup tebal.
  2. II.    Besi tuang untuk dalam tanah (cast iron soil pipe). Pipa ini kemampuan kekuatannya diatas pipa tanah liat dan boleh dipasang dibawah bangunan serta concrete yang tebal. Pipa ini dapat pula mengalirkan cairan yang cukup panas.
  3. III.    Pipa baja karbon (carbon steel piping). Pipa ini banyak digunakan biasanya dilapis dengan bahan anti karat. Bahan anti karat ini lebih baik menggunakan pelapis plastik seperti scoth kote atau plicoflex, karena lebih tahan lama dari plastik pelapis aspal residu.
  4. IV.    Besi tulang pipa digunakan untuk pembuangan air dengan tekan tertentu.
  5. V.    Pipa beton digunakan untuk pembuangan kotoran air dengan ukuran 24 inch atau lebih.
  6. VI.    Pipa baja dilapis semen. Untuk pembuangan kotoran cairan yang korosif serta mempunyai kemampuan diatas pipa besi tuang.
  7. VII.    Duriron pipe untuk pembuangan cairan dengan tingkat korosi tinggi.

Pedoman Pemasangan

Manholes harus ditempatkan pada daerah-daerah pusat sambungan cabang dan akan siap dialirkan kejalur utama. Untuk jalur pembuangan berukuran 24 inch dan lebih, manholes harus dibuat untuk setiap jarak 300 inch dan disediakan setiap jarak 500 inch untuk pembersihan sistem.

Untuk pemasangan jalur pembuangan bawah tanah haru dipelajari dan di cek :

1)    Lokasi kabel listrik dan fasilitas bawah tanah, ukuran dan elevasinya.

2)   Jalur masuk dan keluar bangunan (jalur pembuangan) yang dapat diminta dari arsitek atau sipil bangunan tersebut.

3)   Lokasi dan elevasi.

4)   Lokasi dan elevasi jalur kabel telepon.

5)   Gardu listrik, telepon, tonggak-tonggak penghalang dan lain-lain seandainya ada.

Sistem Aliran Bertekanan

Pemindahan aliran air pemadam kebakaran (fire water), air pendingin (cooling water) dan pembuangan proses yang tertutup dan dipompakan keluar dari sistem, dialirkan dengan tekanan, khususnya untuk air pemadam kebakaran dimana tekanan yang diberikan cukup besar. Penggunaan jalur pipa bawah tanah dengan aliran bertekanan ini bahannya harus dipilih teliti. Pemasangan pipa jalur bawah tanah dengan aliran bertekanan mempunyai sambungan atau hubungan dengan jalur pipa diatas tanah untuk aliran yang sama. Sehingga dalam perencanaan sitem perpiapaannya perlu diperhatikan pada daerah atau bagian mana pipa harus ditanam.

Sehubungan dengan aliran yang berbeda-beda, temperatur, tekanan, serta kapasitas yang berbeda-beda pemilihan ukuran pipa setiap jalur dapat ditentukan berdasarkan kebutuhan begitu pula untuk bahan dan schedulenya. Peralatan pelengkap fitting, flens, katup dan instrumentasi disesuaikan dengan kebutuhannya.

Pipa Proses

Pipa yang digunakan tergantung dari temperatur tekanan, tingkat korosi suatu aliran proses. Biasanya digunakan :

  1. besi metal
  2. baja karbon
  3. baja anti karat
  4. baja krom
  5. aluminium

beratus-ratus besi metal banyak digunakan untuk pipa.

PIPA FLARE

Sistem Pembakaran Gas keatas

Sistem ini adalah merupakan sistem pembakaran gas, yang dibuang dengan cara pembakaran. Pembakaran gas keatas ini dibakar diujung flare keudara dengan sistem pengapian.

Pada daerah dingin atau bahkan bersalju dapat dipasang pipa-pipa pemanas uap. Apabila pipa-pipa atau tube pemanas uap dipasang, perlu pula dipasang kantung-kantung perangkap air dan katup buang airnya.

LOADING ARM

Adalah merupakan suatu alat yang umumnya digunakan untuk memasukkan aliran cair yang akan dikapalkan atau dipindahkan dengan sistem kerja.

PIPA POTONG PADA KATUP RELIEF

Apabila pembuangan udara atau gas dari katup relief tidak dibuang kesuatu jalur perpipaan untuk dibakar atau bahkan digunakan, maka dapat pula dibuang langsung ke udara.

Pembuangan gas ke udara dari katup relief ini perlu pula diperhatikan lokasi dan elevasi katup relief serta aliran gas apa. Sehingga pemasangan pipa jalur buang dari katup relief dapat dipasang seefektif mungkin.

Jalur pipa ini umumnya dipotong 30 derajat atau45 derajat pada ujung diatasnya, hal ini telah dilakukan dari generasi ke generasi. Mengapa ujung pipa dipotong, kemungkinan adalah untuk mempercepat aliran meninggalkan platform atau bangunan. Panjangnya pipa buangan ini harus diperhitungkan secara ekonomis. Arah dari pipa buang ini diarahkan keatas atau ke udara, dan oleh karena itu, untuk bagian pipa yang terendah buatlah lubang seperempat inch untuk membuang air apabila kemasukan air hujan.

Pipa Air

Untuk mengatasi tidak lancarnya air pada pagi dan sore hari, apalagi pada saat musim kemarau , dan sambil menunggu upaya yang dilakukan PDAM sebenarnya para pelanggan dapat melakukan sendiri dengan jalan menyempurnakan / merehab instalasi pipa air dalam rumah.

Cara Kerja :

  1. Pada saat malam /siang hari dimana tekanan air PDAM bisa naik setinggi 3 meter,ball valve dibuka sehingga toren akan terisi air.
  2. Pada saat toren sudah terisi penuh/tumpah,ball valve ditutup.
  3. Pada saat pagi/sore hari dimana tekanan air PDAM kecil/aliran mati, ball valve dibuka sehingga air dari toren akan mengalir kebawah menuju kran kamar mandi,kran dapur dan kran lainnya.
  4. Check valve berfungsi untuk menahan aliran air dari toren agar tidak kembali kejaringan pipa induk PDAM.
  5. Toren isi 500 liter untuk pelanggan yang kebutuhannya kurang dari 50 m3 /bulan dan toren isi 1000 liter untuk pelanggan yang kebutuhannya lebih dari 50 m3/bulan.
  6. Ball Valve (stop kran), Check valve (tusen klip) dan toren (tangki air) dapat dibeli ditoko bahan bangunan.
  7. Pemasangan/penyempurnaan instalasi pipa air dalam rumah bisa dikerja pelanggan sendiri atau menghubungi pihak tenisi/instalatur PDAM setempat.

Beberapa keuntungan yang diperoleh yaitu :

- Dengan mengeluarkan biaya tidak terlalu besar

  1. Pelanggan bisa memperoleh air dengan lancar pada setiap saat.
  2. Pelanggan tidak perlu lagi membuat sumur cadangan atau pasang pompa air, yang biayanya jauh lebih mahal.

1. Kloset

Kloset dapat dibagi dalam beberapa bagian menurut konstruksinya

a)    Tipe wash out

Tipe ini adalah tipe paling tua dari kloset duduk. Kotoran tidak jatuh ke dalam air yang merupakan sekat, melainkan pada suatu permukaan penampungan yang agak luas dan sedikit berair, sehingga seringkali pada waktu penggelontor  tidak bisa bersih betul.akibatnya menimbulkan bau yang tidak sedap.Tipe ini seekarang sudah dilarang pemakaaianya oleh Amerika dan di Indonesia juga.

b)   Tipe wash down

Tipe ini mempunyai konstruksi sedemikian hingga kotoran jatuh langsung atau tidak langsung ke dalam air sekat, sehingga bau yang timbul akibat sisa kotoran kurang dibandingkan dengan tipe wash out

c)    Tipe siphon

Tipe ini mempunyai konstruksi jalannya air buangan lebih rumit daripada tipe wash down, Jumlah air yang ditahan dalam sekat lebih  banyak, muka airnya lebih tinggi daripada tipe wash down.bau yang ditimbulkan pun lebih berkurang.

d)   Tipe siphon jet

Tipe ini dibuat agar menimbulkan efek siphon yang lebih kuat, dengan memancarkan air dalam sekat melalui suatu lubang kecil searah aliran buangan. Dibandingkan tipe siphon, tipe ini menggunakan air penggelotor lebih banyak.

e)   Tipe blow-out

Tipe ini dirancang untuk menggelotor dengan cepat air kotor dalam mangkuk kloset, tetapi membutuhkanair dengan tekanan sampai 1 kg/cm2 dan menimbulkan suara berisik.

Saluran pembuangan harus fleksibel jika peralatan ini di ganjal di atas kayu, sambungan ini bisa fleksibel atau kaku jika alat ini diganjal di atas lantai beton. Sambungan yang fleksibel dapat dibuat dari :

  1. Pasta/ dempul yang kental berwarna merah atau putih.
  2. Bahan pencampur yang  khusus untuk sambungan.


2. Urinoir

Ini adalah instalasi tempat buang air kecil. Urinoir dibuat dari pasangan batu bata atau pasangan beton,yang lebih baik dan sekarang banyak dipergunakan yankni dibuat dari bahan porselen putih, yang banyak dijual dalam berbagai bentuk dan kualitas.Urinoir dipasang pada dinding tembok degan ketinggian yang disesuaikan dengan keadaan.

SISTEM PEMIPAAN PADA BANGUNAN TINGGI

Instalasi pipa pada bangunan tingkat tinggi digunakan untuk mengalirkan air bersih (panas dan dingin ), air es untuk keperluan tata udara, air untuk keprluan pencegahan dan penangglangan bahaya kebakaran , pembuangan air kotor, air buangan , air hujan, dan air limbah.

SISTEM AIR KOTOR DAN AIR BERSIH OLAHAN

Sistem jaringan air pembuangan air kotor dan air bekas memakai sistem campuran yaitu pembuangan dimana air kotor dan air bekas dikumpulkan lalu dialirkan dalam satu saluran . Sumber tempat pembuangan ini berasal dari toilet (closet, wastafel, urinoir,floordrain, bathtub, kitchent zink dll) sistem pembuangan air ini berdasarkan gravitasi, dimana titik yang paling tinggi ketitik yang paling rendah, sehingga dalam instalasi pipa harus dilakukan pengaturan letak dan kemiringan pipa-pipa pembuangan (standar kemiringan), maka diharapkan dapat menyalurkan air kotor / disebut juga air limbah dengan baik dan tidak mengeluarkan bau.

Untuk menghindari bunyi yang berlebihan maka pipa saluran pada setiap lantai dipasang pipa vent (perangkap gedung dan penyalur udara bersih), phitrap (floordrain), leher angsa (wastafel). Seluruh air kotor dan air bekas jatuh pada riser horizontal pada lantai dasar menuju tempat pengolahan air limbah atau disebut juga Swage Treatment Plant (WTP).

SWAGE TREATMENT PLANT (WTP)

Pengolahan limbah di gunakan untuk memproses bakteri-bakteri pada air kotor , ada banyak jenis sistem pengolahan yang dipakai pada setiap gedung diantaranya menggunakan sistem ROTOR DISK dengan menggunakan Fixed Film Reaktor atau pertumbuhan melekat dengan keunggulan keseluruhan limbah dapat masuk tanpa melalui proses pengolahan awal dan sistem ini tidak menimbulkan bau  sistem ini dilakukan secara melalui tahap – tahap sebagai berikut yaitu :

1.Primary Clarifier

Pemisahan padatan, pengendapan dan flotasi. sebagian padatan mengendap dan sebagian padatan mengapung berupa skim .

2.Rotor Disk

Secara bertahap air limbah masuk ke rotor zone untuk di proses pengolahan secara biologis oleh biomas yang tumbuh dimedia piringan / rotor disk , yang masing-masing ada 4 zone secara zig – zag dan mengalami kontak oksigen di udara waktu berada diatas air [ zona 1 , pertumbuhan biomas tebal dan berbentuk filament ] sedangkan [ zona 2 , 3 , 4 biomas tumbuh lebih tipis dan kompak , biasanya biomas berwarna coklat, coklat muda, atau kecoklatan , [ pada zona 4 , sebagian air di recycle ke proses awal / kembali ke primary clarifier dan sebagian menuju proses selanjutnya.

3.Final Clarifier

Merupakan pengendapan padatan tersuspensi dan air sudah memenuhi mutu air baku limbah sehingga bisa dibuang ke saluran kota dengan terlebih dahulu di injeksi desinfektan [ kaporit ] untuk membunuh mikro organisme yang berada dalam bak effluent tersebut. Air bersih olahan yang sudah memenuhi mutu kemudian ditampung di groundtank , dengan terlebih dahulu melalui proses backwash melalui media sand filter dan carbon filter . Air bersih olahan ini didistrubusikan untuk penggunaan air siraman taman , air coolling tower dan pendingin [sistem chiller] dan air siraman water closet [ WC ] .

4.Sistem Sumppit Air Hujan

Berfungsi untuk menampung pembuangan air hujan , air buangan dilantai dasar . Sistem pemipaan air hujan terpisah dari sistem air bersih untuk menghindari aliran-balik yang masuk ke dalam pipa saluran lain [ pipa air bersih ] jika pipa air hujan tersumbat . Air hujan yang ditampung dibak summpit dibuang ke saluran kota dengan menggunakan pompa tanpa sudu [ pompa jenis bawah air ].

SISTEM AIR BERSIH

Sumber air bersih untuk gedung didapat dari 2 sumber yaitu    :

  1. PDAM
  2. Air Tanah

Sumber air dari PDAM disalurankan melalui pipa saluran kota menuju gedung melalui Valve utama dan meteran air gedung, kemudian ditampung direservoir air bersih . Sumber air dari tanah didapat dengan menggunakan pompa sumur dalam atau pompa DEPPWELL , pompa Deppwell bekerja secara otomatis dan manual berdasarkan sinyal electrode yang terpasang di grountank , biasanya air yang didapat dari pemompaan sumur dalam akan mengalami kekeruhan atau kualitas air kurang baik maka di gunakan grountank I [raw water tank] penampungan air dari tanah dan groundtank II [clean water tank].

Setelah air dipompa lalu ditampung digroundtank I dan dikarenakan kualitas air [temperature,warna,bau,rasa dan kekeruhan] kurang baik maka air di salurkan atau di produksi di WTP [water treatment plant] untuk diproses agar memenuhi standar air minum.

Air di Raw Water Tank dipompa ke sistem WTP melalui pompa / tahap pencampuran dengan Clorint, P A C, Polimer kemudian dioleh dibak CLARIFIER dengan menggunakan Mixer [adukan air berupa baling-baling], kemudian hasil pencampuran dapat dilihat dibak BREAK tank dengan warna air keruh atau bening . Setelah produksi sisa-sisa air keruh / limbah hasil dari bak CLARIFIER di buang kesaluran kota.

Air dari bak BREAK tank disalurkan ke Groundtank II [clean water tank] dengan melalui tahap-tahap penyaringan terlebih dahulu menggunakan SAND filter dan CARBON filter, air di Groundtank II lalu disalurkan dengan menggunakan pompa transfer ke atas gedung {bak penampungan air / Rooftank jenis FRP] lalu di distrubusikan kesetiap titik-titik outlet yang ada disetiap lantai dengan 2 sistem yaitu :

  1. Sistem Tekan yaitu dengan menggunakan pompa booster, pompa booster ini digunakan karena jarak jatuh air tidak bisa mencapai tekanan ideal .
  2. Sistem Gravitasi yaitu sistim yang mengandalkan jatuh air / berdasarkan ketinggian dan untuk mencapai tekanan ideal [ 6 kg ] , maka valve – valve disetiap lantai diatur pada besaran valve .

SISTEM SPRINKLER DAN HYDRANT

Sistem distribusi air pemadam kebakaran diambil dari groundtank / reservoir menggunakan pompa Fire Main Pump, Diesel Fire Pump dan Jocky Pump. Sistem instalasi pipa kebakaran ini bisa tersendiri [ main pump hydrant dan main pump sprinkler ] atau bisa menjadi satu dengan melalui pipa header [ fire main pump, diesel fire pump dan jocky pump ] dan instalasi ini terhubung dengan pressure tank , pada pressure tank terpasang pressure swicth yang digunakan untuk mengoperasikan pompa secara otomatis dan di-set sesuai dengan tekanan [ standat instalasi pipa gedung ] kemudian pipa header dibagi menjadi dua instalasi pipa yaitu pipa hydrant [warna merah] dan pipa sprinkler [warna orange].

1.Pipa Sprinkler

Instalasi pipa ini berfungsi untuk mengatasi kebakaran secara otomatis disetiap ruangan melalui head sprinkler , pipa sprinkler dipasang pada setiap lantai [dalam flapon] dengan jarak antara 3 sampai 5 meter , bila terjadi kebakaran pada salah satu lantai maka panas api dari titik kebakaran akan memecahkan head sprinkler .

2.Pipa Hydrant

Instalasi pipa hydrant berfungsi untuk mengatasi dan menaggulangi kebakaran secara manual dengan menggunakan hydrant box , hydrant box ini tersedia pada setiap lantai dengan beberapa zone /tempat.

Pada hydrant box terdapat fire hose[ selang ] ,nozzle, valve, juga terpasang alat bantu control manual call point, alarm bell serta indicating lamp dan untuk diluar gedung [ area taman / parkir ] terpasang hydrant pillar serta hose reel cabinet.

3.Jocky Fire Pump

Digunakan untuk menstabilkan tekanan air pada pipa dan pressure tank.

4.Main Fire Pump

Digunakan sebagai pompa utama , bila tekanan / pressure tank turun setelah jocky pump tidak sanggup lagi mengatasi [ jocky pump akan mati sesuai dengan setting pressure tank ] maka main pump akan bekerja.

5.Diesel Fire Pump

Digunakan bila terjadi kebakaran dan pompa mengalami kerusakkan atau gagal operasional [listrik padam] dan pompa main pump serta jocky pump berhenti bekerja mensupply air maka diesel fire pump akan melakukan start secara otomatis berdasarkan pressure swicth . Bekerjanya diesel fire pump secara otomatis menggunakan panel diesel stater, panel ini juga melakukan pengisian accu/me-charger accu dan dapat bekerja secara manual dengan kunci stater pada diesel tersebut . Untuk perawatan pada diesel fire pump ini dilakukan pemanasan setiap minggu [2xpemanasan] ,sebelum dilakukan pemanasan diesel dilakukan pemeriksaan pada accu, pendingin air [air radiator] dan peng-checkkan pada pelumas mesin [oli mesin].

6.Siemense Conection

Digunakan bila terjadi kebakaran dan pompa [diesel fire pump, fire main pump dan jocky pump] tidak bisa di operasional / gagal bekerja pmaka dilakukan pengisian air kedalam jaringan pipa dari mobil pemadam kebakaran/ pompa cadangan lain untuk menggantikan fungsi peralatan yang ada dalam keadaan emergency , siemese conection dipasang pada instalasi pipa sprinkler dan hydrant.

7.Sistem Fire Alarm

Fire alarm adalah merupakan sistem untuk membantu pemilik gedung untuk mengetahui secepatnya suatu sumber kebakaran , sehingga sebelum api menjadi besar pemilik gedung sudah dapat mengambil tindakan pemadaman .

Sistem ini memakai panel kontrol [ MCFA ] yang biasanya dikontrol dari ruang teknik dan panel Annuciator [panel kontrol tambahan] di pasang di ruang posko security agar petugas keamanan juga bisa cepat mengetahui lokasi kebakaran pada setiap lantai.


Pengenalan perkuatan lereng dan tujuannya

Perkuatan lereng/Revetments merupakan struktur perkuatan yang ditempatkan di tebing sungai untuk menyerap energi air yang masuk guna melindungi suatu tebing alur sungai atau permukaan lereng tanggul terhadap erosi dan limpasan gelombang (overtopping) ke darat dan secara kesuluruhan berperan meningkatkan stabilitas alur sungai atau tubuh tanggul yang dilindungi.

Disamping digunakan untuk melindungi lereng sungai, revertment juga biasanya digunakan untuk melindungi tanggul, ataupun pantai. Daerah yang dilindungi revertment adalah daratan tepat di belakang bangunan. Permukaan bangunan yang menghadap arah datangnya gelombang dapat berupa sisi vertikal atau miring. Bangunan ini bisa terbuat dari pasangan batu, beton, tumpukan pipa (buis) beton, turap, kayu atau tumpukan batu ataupun beberapa jenis revertment yang di produksi  oleh pabrik. Namun yang sering di jumpai di lapangan adalah revertment yang terbuat dari tumpukan batu dengan lapis luarnya terdiri dari batu dengan ukuran yang lebih besar.

Faktor-faktor perkuatan lereng pada sungai

Perlindungan atau pengamanan terhadap tebing sungai dimaksudkan untuk melindungi lereng ataupun tebing di sepanjang sungai dari perubahan-perubahan yang tidak diinginkan, seperti erosi ataupun sedimentasi di alur pelayaran atau pelabuhan.

Secara umum, ada 2 faktor yang menyebabkan ketidakstabilan lereng, yaitu :

  1. Faktor-faktor yang menyebabkan naiknya tegangan, meliputi naiknya berat unit tanah karena pembasahan, adanya tambahan beban eksternal (bangunan), bertambahnya kecuraman lereng kaena erosi alami atau pengalian, dan berkerjanya beban goncangan.
  2. Faktor-faktor yang menyebabkan turunnya kekuatan, meliputi adsorpsi air, kenaikan tekanan pori, beban goncangan/beban berulang, pengaruh pembekuan atau pencairan, hilangnya sementasi material, proses pelapukan, dan tengangan berlebihan pada lempung yang sensitif.

Upaya yang dapat dilakukan untuk melindungi tebing sungai antara lain adalah secara natural, alam menyediakan tumbuhan seperti pohon bakau, pohon api-api atau pohon nipah  sebagai pelindung tebing. Tumbuhan ini akan memecahkan energi gelombang dan memacu pertumbuhan sungai. Gerakan air yang lambat diantara akar-akar pohon tersebut di atas dapat mendukung proses pengendapan dan merupakan tempat yang baik untuk berkembang biaknya kehidupan air, misalnya ikan.

Dan fungsi dari perkuatan lereng berkaitan dengan faktor kelemahan dari sungai yaitu:

  1. Mengubah laju sedimentasi yang masuk ke daerah tebing sungai
  2. Mengurangi energi gelombang yang sampai ke tepi sungai.
  3. Memperkuat tebing sungai sehingga tahan terhadap gempuran gelombang. Misalnya dengan pembuatan bangunan revetment


Klasifikasi perkuatan lereng

Perkuatan-perkuatan lereng dibangun dengan berbagai macam tujuan yang sesuai dengan pengaman pada tebing yang diperlukan dan terhadap bahaya seperti apa yang mengancam. Oleh karena itu, perkuatan lereng diklasifikasikan atas 3 macam menurut bagian sungai yang dilindungi, yaitu :

a. Perkuatan lereng tanggul (levee revetment)

Perkuatan ini dibangun pada permukaan lereng tanggul dengan maksud untuk melindunginya dari gerusan arus sungai. Konstruksi yang kuat perlu dibangun pada tanggul – tanggul yang sangat dekat dengan tebing alur sungai apabila diperkirakan terjadi pukulan air (water hummer) yang cukup kuat dan dapat membahayakan saat permukaan air sungai mencapai titik maksimum.

b.Perkuatan tebing sungai (low water revetment)

Perkuatan ini dibuat pada tebing alur sungai untuk melindungi tebing terhadap gerusan arus sungai dan mencegah proses meander pada alur sungai. Pada bangunan perkuatan ini perlu diadakan pengamanan-pengamanan karena di saat terjadinya banjir, bangunan ini akan tenggelam seluruhnya.

c.Perkuatan lereng menerus (high water revetment)

Perkuatan lereng menerus ini dibangun pada lereng tanggul dan tebing sungai secara menerus (pada bagian sungai yang tidak ada bantaranya).

Jenis-jenis perlindungan lereng

Berbagai macam bahan pelindung baik yang  alami maupun yang buatan digunakan untuk konstruksi untuk perlindungan lereng, ada beberapa jenis perlindungan lereng berdasarkan bahan pelindung lereng, yaitu :

  1. Gebalan rumput à merupakan suatu perlindungan lereng yang umum digunakan untuk melindungi tanggul dari hempasan air hujan agar tidak terjadi erosi atau gusuran dari rumput.
  2. Hamparan anyaman dahan willow à merupakan penahan sungai yang cocok untuk arus sungai yang tidak deras dengan kemirinagn lereng yang lebih landai dari 1:2 dari anyaman dahan willow.
  3. Hamparan anyaman berisi batu à merupakan perkuatan lereng yang digunakan pada bagian sungai yang senantiasa terjadi pukulan air tetapi arusnya tidak deras.
  4. Bronjong kawat silinder à merupakan batu kali yang didapat dari sungai atau batu belah dapat ditempatkan di atas permukaan lereng yang akan dilindungi, kelebihan dari bronjong kawat selinder adalah kekasarannya yang tinggi, fleksibel, dapat dikerjakan dengan cepat dan cukup ekonomis terutama untuk pelindung lereng secara darurat atau sementara.
  5. Blok beton à merupakan perlindungan lereng yang menghubungkan antara balok-balok beton yang berdekatan
  6. Pasangan batu à merupakan perlindungan lereng yang terbuat dari batu yang biayanya paling murah daripada perlindungan lereng lainya.
  7. Pasangan blok beton à merupakan perlindungan lereng yang tebuat dari pasangan blok-blok beton yang telah dibuat sebelumnya.
  8. Perkerasan dengan beton à merupakan perkuatan lereng dengan beton yang dicorkan langsung pada lereng sungai yang telah disiapkan tulangannya. Dan petakan-petakan ini dibatasi dengan beton bertulang.

Perencanaan perkuatan lereng

Perkuatan lereng yang dilakukan pada tebing sungai sangatlah penting, terutama sungai yang memiliki karakteristik arus yang kuat atau pun yang membawa banyak bahan sedimen. Oleh karena itu perencanaan perkuatan lereng dalam rangka pemeliharaan sungai tidak boleh dilakukan dengan sembarangan. Jika dilakukan dengan sembarangan yang akan terjadi hanyalah pemborosan dan perkuatan tidak berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya.

Ada beberapa hal yang penting dalam pertimbangan dan perencanaan perkuatan lereng, hal-hal tersebut juga merupakan tahapan yang sistematis agar perkuatan lereng ini dapat berfungsi sebagaimana mestinya setelah dibangun.

Proses perubahan alur sungai

Proses perubahan alur sungai dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu perubahahan menyeluruh dan perubahan setempat. Perubahan- perubahan setempat adalah gejala longsor tebing sungai, pembentukan gosong- gosong pasir, pengendapan-pengendapan pada belokan dalam  dan gerusan pada belokan luar serta perpindahan  mendadak alur sungai.

Merencanakan perbaikan sungai: yang paling utama adalah pembuatan rencana denah dan penampang memanjang serta lintang sungai, sedemikian agar mencapai bentuk sungai yang  paling stabil.

  1. Gejala meander

Gejala meander dapat menyebabkan tergogosnya kaki tanggul yang lambat laun dapat menjebolkan tanggul dan menimbulkan malapetaka yang besar.

Agar dapat dicapai kondisi sungai yang stabil haruslah direncanakan suatu trase alur sungai dengan belokan-belokan yang tidak terlalu tajam, dengan panjang dan amplitudo tertentu. Selanjutnya dapat ditetapkan trase perkuatan lereng pada lereng tanggul, tebing  sungai dan lain-lain dengan segala perlengkapannnya seperti pondasi, pelindung pondasi, dan krib-krib.

2.Rencana trase perkuatan lereng

Rencana trase perkuatan lereng didasarkan pada: karakteristik sungai dan data yang tercatat serta pangalaman di masa yang lalu

Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam tahap ini yaitu :

  • Untuk menetapkan metode pelaksanaan yang cocok dengan kondisi setempat, maka diperlukan suatu investigasi yang  lengkap dan teliti.
  • Trase perkuatan lereng supaya direncanakan dengan kurva yang sebesar mungkin.
  • Trase perkuatan lereng ditempatka n sedemikian rupa agar dapat menghindarkan terjadinya pusaran-pusaran yang tidak teratur.
  • Trase perkuatan tebing  alur sungai agar dapat ditempatkan lebih ke belakang.

Pemilihan lokasi untuk bangunan perkuatan lereng

Penempatannya sebaiknya pada bagian-bagian tebing atau tanggul yang dapat tergerus dan bagian-bagian yang dapat terjadi pukulan air.

Pada sungai-sungai yang sempit biasanya  dibangun pada seluruh bagian sungai karena sangat sulit menentukan lokasi pukulan air di sungai-sungai yang sempit.

Pada sungai-sungai dengan penampang ganda, perkuatan lereng hanya dibuat pada tebing alur sungai, dan pada umumnya tanpa perkuatan lereng tanggul.

Panjang perkuatan lereng

Faktor  yang dominan untuk menentukan panjang perkuatan lereng  adalah karakteristik sungai dan kondisi setempat.

Panjang perkuatan lereng ditetapkan secara empiris dan haruslah diperhatikan adanya tambahan-tambahan panjang secukupnya  pada saat menetapkan  panjang rencana final.

Bagian-bagian konstruksi perkuatan lereng.

  1. Pelindung lereng merupakan bagian utama dari bangunan perkuatan lereng. Bagian ini melindungi permukaan lereng tanggul atau permukaan tebing sungai terhadap gerusan arus sungai. Pemilih konstruksi pelindung lereng harus didasarkan pada resim sungai atau lokasinya.
  2. Pondasi dan pelindung kaki adalah konstruksi yang berfungsi sebagai landasan/tumpuan pelindung lereng, dan penempatannnya pada kaki tanggul atau kaki tebing sungai.
  3. Sambungan à dibuat pada setiap jarak 20 m perkuatan lereng dan berfungsi sebagai sambungan pemisah konstruktif dan melokalisir kemungkinan kerusakan. Jika lereng yang dilindungi cukup tinggi, maka diadakan sambungan memanjang.
  4. Konsolidasi/ hamparan pelindung à ditempatkan diatas permukaan dasar sungai di depan pondasi yang berfungsi untuk menjamin stabilitas pondasi dan melindunginya terhadap gerusan arus sungai. Hamparan pelindung ini juga melindungi permukaan dasar sungai terhadap gerusan arus.

Revertment dari susunan batu alam dan Revertment pabrikasi

Revertment dari Susunan Batu alam

Revertment dengan batu alam ini memiliki beberapa keunggulan, yaitu :

  • Biaya pembuatan lebih ekonomis jika dibangun pada daerah yang memiliki batuan
  • Batuan dirasakan dapat lebih tahan dan dengan mengandalkan gaya berat posisinya dapat menetap dengan sedikit atau tanpa mempengaruhi nilai perlindungan pada mereka.
  • Pengerjaan perkuatan lereng jenis ini lebih mudah dilakukan.
  1. Revertment  pabrikasi

a. Filter Hiddrostatis

Lapisan Permukaan Beton Filter Hidrostatis dari REVETMENT SYSTEMS INTERNATIONAL ini merupakan penanganan erosi monolitik kuat yang terdiri dari pembungkusan tanah berlapis ganda diisi dengan beton yang seluruhnya padat.

Proses pembentukan multi-arah khusus yang diterapkan memungkinkan lapisan-lapisan bahan yang berbeda dibentuk bersama-sama pada pusat tertentu untuk membentuk filter hidrostatis yang memungkinkan perlindungan lapisan untuk ‘bernafas’, mengeluarkan tekanan hidrostatis di belakang struktur terpasang.

Lapisan Permukaan Beton FILTER HIDROSTATIS berbiaya rendah, permanen dan merupakan alternatif utama dalam metode tradisional pengendalian erosi seperti beton cast-in-situ atau beton shot-in-situ, pemasangan batu, penutupan atau pelapisan dengan batu.  Oleh karena keunikan konstruksi yang dibungkus bahan ini, Lapisan Permukaan Beton FILTER HIDROSTATIS dapat dipasang baik di atas maupun di bawah permukaan air.

Keberagaman fungsi rancangan dan pemasangan Lapisan Permukaan Beton FILTER HIDROSTATIS membuatnya sesuai untuk berbagai proyek yang tak terbatas.

b. Flexbox

Sementara mempertahankan semua sifat sistem Lapisan permukaan Beton Filter Hidrostatis, sistem lapisan FLEXBLOCK dirancang untuk mengakomodasi pergerakan di tanah yang mendasari. Sifat ini benar-benar mengembangkan konsep perlindungan erosi dengan beton lapisan tersusun. Proses pembentukan yang dipatenkan ini yang dikembangkan oleh Revetment Systems International ini menciptakan sebuah lapisan yang terbagi menjadi panel-panel yang saling berhubungan dengan tabung grout.

Tabung-tabung tersebut memungkinkan adanya keseragaman inflasi lapisan. Setiap tabung grout dirancang untuk berfungsi sebagai titik potong yang memungkinkan setiap panel bergerak secara bebas sewaktu lapisan tersusun mempertahankan kelengkapan perlindungan. Seperti halnya dengan berbagai macam sistem perlindungan yang ditawarkan oleh Revetment Systems International, sistem FLEXBLOCK dapat dipasang baik di atas maupun di bawah permukaan air. Sifat unik sistem FLEXBLOCK ini menawarkan solusi efektif terhadap masalah pengendalian erosi yang memerlukan sistem perlindungan yang fleksibel dengan biaya kompetitif.

c. Growth Matt

Produk ini telah dirancang dengan memanfaatkan efek-efek pengikatan dan kamuflase tumbuh-tumbuhan, dengan stabilitas dan perlindungan tanggung yang dijaga melalui gabungan jaringan yang berkelanjutan dari susunan yang dimasuki tabung grout.

Growth Matt diletakkan di atas permukaan yang ada atau yang bagian atasnya tanah dengan grout berkekuatan tinggi. Ulir susunan antara jaringan tabung bertujuan untuk mempertahankan tanah sebelum penanaman tumbuhan.

Jika area yang diberi benih telah terbentuk dengan sendirinya, ulir-ulir susunan dapat membantu mengikat tanahan ke struktur jaringan, dan kemudian membentuk perisai pelindung yang terpadu terhadap erosi. Seperti yang dijelaskan di atas, susunan tersebut dapat diwarnai di lokasi atau di mill untuk mengkamuflasekan produk lebih lanjut.

Aplikasi produknya beragam dari pengaliran dengan garis keliling hingga saluran pengalihan, aliran air banjir dengan kekentalan rendah, perlindungan tanggul dan pekerjaan lapangan (batu kerikil dapat disebarkan di atas area untuk menggantikan tumbuhan).

Penggunaan grout yang efisien di seluruh sistem merupakan alternatif yang efektif dengan harga yang menguntungkan.

Revetment


A. Definisi dan Klasifikasi

Bangunan pantai merupakan bangunan yang digunakan untuk melindungi pantai terhadap kerusakan karena serangan gelombang dan arus. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melindungi pantai, yaitu:

  1. Memperkuat/melindungi pantai agar mampu menahan serangan  gelombang,
  2. Mengubah laju transpor sedimen sepanjang pantai,
  3. Mengurangi energi gelombang yang sampai ke pantai,
  4. Reklamasi dengan manambah suplai sedimen ke pantai atau dengan cara lain.

Sesuai dengan fungsinya seperti tersebut di atas, bangunan pantai dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok, yaitu:

  1. Konstruksi yang dibangun di pantai dan sejajar dengan garis pantai. Bangunan yang termasuk dalam kelompok ini adalah dinding pantai atau revetment yang dibangun pada garis pantai atau di daratan yang digunakan untuk melindungi pantai langsung dari serangan gelombang.
  2. Konstruksi yang dibangun kira-kira tegak lurus pantai dan sambung ke pantai. Kelompok ini meliputi groin dan jetty. Groin adalah bangunan yang menjorok dari pantai ke arah laut, yang digunakan untuk menangkap/menahan gerak sedimen sepanjang pantai, sehingga transpor sedimen sepanjang pantai berkurang/berhenti. Jetty adalah bangunan tegak lurus garis pantai yang ditempatkandi kedua sisi muara sungai. Bangunan ini digunakan untuk menahan sedimen/pasir yang bergerak sepanjang pantai masuk dan mengendap di muara.
  3. Konstruksi yang dibangun di lepas pantai dan kira-kira sejajar dengan garis pantai. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah pemecah gelombang (breakwater), yang dibedakan menjadi dua macam yaitu pemecah gelombang lepas pantai dan pemecah gelombang sambung pantai.

Revetment atau perkuatan lereng merupakan bangunan yang ditempatkan pada suatu lereng yang berfungsi melindungi suatu tebing alur pantai atau permukaan lereng dan secara kesuluruhan berperan meningkatkan stabilitas alur pantai atau tubuh tanggul yang dilindungi. Secara khusus, dinding pantai atau revetment juga dapat didefinisikan sebagai bangunan yang memisahkan daratan dan perairan pantai, yang terutama berfungsi sebagai dinding pelindung pantai terhadap erosi dan limpasan gelombang (overtopping) ke darat. Daerah yang dilindungi adalah daratan tepat di belakang bangunan. Permukaan bangunan yang menghadap arah datangnya gelombang dapat berupa sisi vertikal atau miring. Dinding pantai biasanya berbentuk dinding vertikal sedangkan revetment mempunyai sisi miring.

Revetment ditempatkan di tebing pantai untuk menyerap energi air yang masuk guna melindungi suatu tebing alur pantai atau permukaan lereng tanggul terhadap erosi dan limpasan gelombang (overtopping) ke darat.

Klasifikasi Revetment

1. Klasifikasi berdasarkan lokasi

  • Ø Perkuatan lereng tanggul (levee revetment)

Dibangun untuk melindungi tanggul terhadap gerusan gelombang pantai.

  • Ø Perkuatan tebing sungai (low water revetment)

Berfungsi untuk melindungi tebing dari gerusan gelombang dan   mencegah proses meander pada tebing pantai. Dan bangunan ini akan terendam air seluruhnya pada saat banjir.

  • Ø Perkuatan lereng menerus (high water revetment)

Dibangun pada lereng tanggul dan tebing secara menerus atau pada bagian pantai yang tidak ada bantarannya.

2. Berdasarkan perlindungan alur arah horizontal

a. Perkuatan tebing secara langsung dan tidak langsung:

a)  Struktur kaku dari beton bertulang atau pasangan batu kali;

b)  Struktur lentur dari bronjong batu, pasangan blok beton terkunci, batu  curah (dumpstone).

b. Perkuatan tebing secara langsung:

Penggunaan perkuatan tebing secara langsung jika palung sungai belum terlanjur berpindah ke kondisi yang tidak menguntungkan, dan lahan di sisi luar palung diharapkan sama sekali tidak boleh tergerus oleh aliran sungai.

c. Perkuatan tebing secara tidak langsung:

a) Struktur tiang pancang beton, besi, kayu atau bambu;

b) Struktur krib bronjong batu atau blok beton terkunci, krib bambu dikombinasi dengan tanaman bambu/tanaman yang lain. Penggunaan perkuatan tebing secara tidak langsung jika palung sungai sudah terlanjur pada kondisi yang kurang menguntungkan sehingga perlu diubah/dikendalikan ke kondisi yang lebih baik.

B. Bahan Revetment

Bangunan revetment ditempatkan sejajar atau hampir  sejajar dengan garis pantai dan bisa terbuat dari pasangan batu, beton, tumpukan pipa (buis) beton, turap, kayu atau tumpukan batu. Dalam perencanaan dinding pantai atau revetment perlu ditinjau fungsi dan bentuk bangunan, lokasi, panjang, tinggi, stabilitas bangunan dan tanah pondasi, elevasi muka air baik di depan maupun di belakang bangunan, ketersediaan bahan bangunan dan sebagainya.

Ada dua kelompok revetment, yaitu permeable dan impermeable.

Permeable Revetment

Open filter material (rip rap)

Yaitu revetment yang terbuat dari batu alam atau batu buatan yang dilapisi filter pada bagian dasar bangunan.

Stone pitching

Yaitu revetment yang terbuat dari batu alam saja dengan lapisan filter pada bagian dasar bangunan.

Concrete block revetment

Yaitu revetment yang terbuat dari blok beton dengan ukuran tertentu dan lapisan filter pada bagian dasar bangunan.

Impermeable Revetment

Aspalt revetment

Yaitu revetment yang bahannya dari aspal pada tebing yang dilindungi.

Bitumen grouted stone

Yaitu revetment yang terbuat dari blok beton yang diisi oleh aspal (spaesi aspal).

Beberapa contoh bahan penyusun revetment secara umum antara lain:

  1. Revetment dari susunan blok beton

Bangunan masif ini digunakan untuk menahan gelombang besar dan tanah dasar relatif kuat (misalnya terdapat batu karang). Selain itu bangunan ini juga digunakan untuk melindungi bangunan (jalan raya) yang berada sangat dekat  dengan garis pantai.

2. Revetment dengan turap baja

Bangunan ini didukung oleh fondasi tiang dan dilengkapi dengan turap baja yang berfungsi untuk mencegah erosi tanah fondasi oleh serangan gelombang dan piping oleh aliran air tanah. Selain itu kaki bangunan juga dilindungi dengan batu pelindung. Fondasi bangunan harus direncanakan dengan baik untuk menghindari terjadinya penurunan tidak merata yang dapat menyebabkan pecahnya konstruksi.

3. Revetment dengan sisi tegak

Bangunan ini dapat juga dimanfaatkan sebagai dermaga untuk merapat/bertambatnya perahu-perahu/kapal kecil pada saat laut tenang. Untuk menahan tekanan tanah dibelakangnya, turap tersebut diperkuat dengan angker. Kaki bangunan harus dilindungi dengan batu pelindung.

4. Revetment dari tumpukan bronjong

Bronjong adalah anyaman kawat berbentuk kotak yang didalamnya diiisi batu. Bangunan ini bisa menyerap energi gelombang, sehingga elevasi puncak bangunan bisa rendah (runup kecil). Kelemahan bronjong adalah korosi dari kawat anyaman, yang merupakan faktor pembatas dari umur bangunan. Supaya bisa lebih awet, kawat anyaman dilapisi dengan plastic (PVC).

5. Revetment dari tumpukan batu pecah

Bangunan ini biasanya dibuat dalam beberapa lapis. Lapis terluar merupakan lapis pelindung yang terbuat dari batu dengan ukuran besar yang direncanakan mampu menahan serangan gelombang. Lapis di bawahnya terdiri dari tumpukan batu dengan ukuran lebih kecil. Bangunan ini merupakan konstruksi fleksibel yang dapat mengikuti penurunan atau konsolidasi tanah dasar. Kerusakan yang terjadi, seperti longsornya batu pelindung, mudah diperbaiki dengan menambah batu tersebut. Oleh karena itu diperlukan persediaan batu pelindung di dekat lokasi bangunan.

6. Revetment dari tumpukan pipa (buis) beton

Bangunan pelindung pantai dari susunan pipa beton telah banyak digunakan di Indonesia. Bangunan ini terbuat dari pipa beton berbentuk bulat, yang banyak dijumpai di pasaran dan biasanya digunakan untuk membuat gorong-gorong, sumur gali, dan sebagainya. Pipa tersebut disusun secara berjajar atau bertumpuk dan didalamnya dapat diisi dengan batu atau beton siklop.

B.1 Concrette Mattresses

Suatu matras beton secara sederhana adalah suatu elemen konstruksi yang dibentuk dengan cara menyuntikkan suatu bahan grout koloid ke dalam suatu cetakan yang terbuat dari bahan fabric sintetik. Ketebalan matras ditentukan oleh penyekat woven di dalam fabric tersebut. Sistem ini mengijinkan konstruksi dari elemen-elemen yang berbeda, yang dapat digunakan untuk pencegahan erosi, memperbaiki aliran air, atau sebagai bahan kedap air (waterproofing). Berbagai jenis matras telah dipatenkan.

Matras beton digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain: proteksi dan konsolidasi lereng atau dasar kanal, sungai, saluran, tebing pantai, atau struktur-struktur sejenis. Matras beton dapat disesuaikan untuk pelbagai keperluan yang berbeda dalam badan air atau konstruksi maritim, dan kemudian dimensinya ditentukan menurut kebutuhan. Campuran beton yang biasa digunakan sebagai bahan pengisi adalah semen (tipe V untuk aplikasi pada lingkungan maritim) sebesar 600 kg/m3, pasir 1200 kg/m3, air 360 kg/m3 (rasio w/c = 0,6).

Menurut tipenya dikenal 2 kelompok:

  • Matras standar; yang biasanya digunakan jika tanah dasar keras, untuk memenuhi fungsi perlindungan tebing dan dasar sungai atau untuk menyekat struktur-struktur hidrolis.
  • Matras panel; memiliki kapasitas drainasi yang tinggi karena lubang-lubang drain (weep hole) yang besar pada selang 0,6 dan 2,0 pada kedua arah menurut kebutuhan. Tersedia untuk sebarang panjang dan lebar dengan berat luas antara 200 sampai 1000 kp/m2 sehingga dapat dirakit sesuai dengan keperluan khusus.

Beberapa keuntungan penggunaan matras beton adalah sebagai berikut:

  1. Kekuatan, yaitu berat dasar sesuai dengan keperluan
  2. Dapat dibuat dalam bentuk kaku atau lentur
  3. Dengan atau tanpa sambungan
  4. Tembus atau kedap air
  5. Relatif tidak terpengaruh oleh kondisi cuaca buruk selama pelaksanaan
  6. Instalasi di bawah air juga dimungkinkan
  7. Tidak diperlukan ‘predraining’
  8. Pelaksanaan relatif cepat
  9. Ketahanan (durability) hampir tidak terbatas
  10. Tidak memerlukan ‘sheet piling’
  11. Ekonomis
  12. Penyederhanaan prosedur pelaksanaan karena hanya menggunakan satu proses dan satu bahan (buatan) saja
  13. Berbagai tipe matras dapat dikombinasikan sesuai dengan keperluan
  14. Secara ekologis menguntungkan
  15. Telah terbukti memuaskan dalam pelbagai aplikasi
  16. Cocok diterapkan pada hampir semua kondisi lereng/kontur

Proteksi tebing (Bank & lock protection)

Di daerah pelabuhan, matras diletakkan menutupi tebing pantai yang sebagian besar dapat tertutup air dan ditempatkan sampai mencapai kedalaman 12 m. Tujuan matras adalah untuk memproteksi tanah berpasir terhadap bahaya gerusan. Matras panel dengan ketebalan 18 cm dan suatu bantalan (cushion) berukuran 0,85 x 0,85 m2 telah digunakan. Matras panel juga digunakan untuk melindungi pantai terhadap gelombang pasang bertekanan kuat.

Rekayasa Pantai

Tanggul tua di pulau North Sea telah diperbaiki dengan matras panel. Matras tersebut memberikan proteksi terhadap erosi ekstrim yang disebabkan oleh gelombang dan arus. Suatu timbunan dyke dibuat untuk melindungi reklamasi pantai pada pantai North Sea. Panjang garis lereng antara kaki dyke dan kepalanya adalah sekitar 15 m. Untuk mencapai suatu keadaan tanpa sambungan, matras dijahit bersama-sama di lokasi untuk membentuk jalur sepanjang 400 m. Outlet-outlet berbentuk kurva dan gorong-gorong pipa dibuat secara khusus untuk menyesuaikan dengan bentuk lereng.

Stabilitas

Sistem ini memberikan proteksi yang tahan-erosi untuk menstabilkan lereng terhadap gaya-gaya perusak yang ditimbulkan air. Ukuran, berat, dan konfigurasi persisnya harus ditentukan oleh kecepatan rencana atau tinggi gelombang rencana. Perlu dicatat bahwa sementara instalasi dapat dilaksanakan pada lereng yang lebih curam daripada untuk proteksi dengan riprap, metode revetment itu sendiri tidak dapat dipergunakan untuk memperbaiki stabilitas lereng.

Fleksibilitas

Biasanya revetment tidak direkomendasikan untuk kondisi-kondisi di mana konsolidasi yang besar diperkirakan dapat terjadi. Beberapa bentuk cetakan mampu mengakomodasi penurunan lebih baik dari yang lain. Artikulasi minor diijinkan oleh karena fungsi penulangan modulus rendah dari lapisan tekstil. Ini mengijinkan retakan minor pada beton, dan mencegah kehancuran sistem revetment oleh retakan yang tak terkontrol.

Filtrasi

Suatu sifat penting dalam beberapa konfigurasi adalah kemampuan melewatkan air tanah untuk melepas tekanan uplift hidrostatik. Permeabilitas revetment adalah suatu fungsi dari pelipatan (weave) tekstil, area permukaan, dan frekuensi lubang drain (weep holes). Diperlukan bahwa permeabilitas adalah sama dengan drainase natural dari embankment yang diproteksi. Sebagai suatu aturan umum :

k(fabric) > 10 x k(soil)

Setara dengan hal tersebut efek filtrasi pada lubang drain mestilah sama dengan :

O90/D85 < 1

Vegetasi

Algae dan kebanyakan tipe vegetasi biasanya tumbuh melampaui permukaan sistem revetment. Profil yang lebih tidak beraturan mengijinkan deposit lanau dan titik-titik tangkapan untuk mengapung dan memberikan suatu kondisi lingkungan yang sempurna untuk memantapkan vegetasi. Bahkan akar-akaran dari tanaman-tanaman kecil dapat menembus filter, memberikan penjangkaran dan estetika yang lebih baik kepada hasil instalasi.

Ketahanan Aliran

Jelas terlihat bahwa koefisien kekasaran (nilai ‘n’ dalam formula Manning) dapat bervariasi banyak. Ketebalan konstan dari cetakan memiliki nilai ‘n’ serendah 0,01 sementara bentuk yang paling tidak beraturan dapat memiliki harga 0,05.

Kecepatan Arus dan Tinggi Gelombang

Kinerja hasil akhir revetment dalam aspek ini berkaitan langsung dengan ketebalan potongan, kekuatan tekan, dan stabilitas lereng. Potongan yang tidak seragam dengan ketebalan nominal 100 mm memiliki batas ketinggian gelombang 3-4 kaki. Ketinggian ini selanjutnya tereduksi jika kecepatan arus di atas 5 ft/sec; mis. tinggi gelombang 2 kaki dan kecepatan air 20 ft/sec telah dapat diakomodasi. Potongan-potongan yang regular dengan ketebalan 300 mm atau lebih besar menghasilkan struktur yang sangat berbeda untuk menahan kondisi badai yang paling buruk.

B.2 Revetment Pabrikasi

Filter Hidrostatis

Lapisan Permukaan Beton Filter Hidrostatis dari Revetment Systems International ini merupakan penanganan erosi monolitik kuat yang terdiri dari pembungkusan tanah berlapis ganda diisi dengan beton yang seluruhnya padat. Proses pembentukan multi-arah khusus yang diterapkan memungkinkan lapisan-lapisan bahan yang berbeda dibentuk bersama-sama pada pusat tertentu untuk membentuk filter hidrostatis yang memungkinkan perlindungan lapisan untuk ‘bernafas’, mengeluarkan tekanan hidrostatis di belakang struktur terpasang.

Lapisan Permukaan Beton Filter Hidrostatis berbiaya rendah, permanen dan merupakan alternatif utama dalam metode tradisional pengendalian erosi seperti beton cast-in-situ atau beton shot-in-situ, pemasangan batu, penutupan atau pelapisan dengan batu.  Oleh karena keunikan konstruksi yang dibungkus bahan ini, Lapisan Permukaan Beton Filter Hidrostatis dapat dipasang baik di atas maupun di bawah permukaan air.

Keberagaman fungsi rancangan dan pemasangan Lapisan Permukaan Beton Filter Hidrostatis membuatnya sesuai untuk berbagai proyek yang tak terbatas.

Flexbox

Sementara mempertahankan semua sifat sistem Lapisan permukaan Beton Filter Hidrostatis, sistem lapisan Flexblock dirancang untuk mengakomodasi pergerakan di tanah yang mendasari. Sifat ini benar-benar mengembangkan konsep perlindungan erosi dengan beton lapisan tersusun. Proses pembentukan yang dipatenkan ini yang dikembangkan oleh Revetment Systems International ini menciptakan sebuah lapisan yang terbagi menjadi panel-panel yang saling berhubungan dengan tabung grout.

Tabung-tabung tersebut memungkinkan adanya keseragaman inflasi lapisan. Setiap tabung grout dirancang untuk berfungsi sebagai titik potong yang memungkinkan setiap panel bergerak secara bebas sewaktu lapisan tersusun mempertahankan kelengkapan perlindungan. Seperti halnya dengan berbagai macam sistem perlindungan yang ditawarkan oleh Revetment Systems International, sistem Flexblock dapat dipasang baik di atas maupun di bawah permukaan air. Sifat unik sistem Flexblock ini menawarkan solusi efektif terhadap masalah pengendalian erosi yang memerlukan sistem perlindungan yang fleksibel dengan biaya kompetitif.

Growth Matt

Produk ini telah dirancang dengan memanfaatkan efek-efek pengikatan dan kamuflase tumbuh-tumbuhan, dengan stabilitas dan perlindungan tanggung yang dijaga melalui gabungan jaringan yang berkelanjutan dari susunan yang dimasuki tabung grout.

Growth Matt diletakkan di atas permukaan yang ada atau yang bagian atasnya tanah dengan grout berkekuatan tinggi. Ulir susunan antara jaringan tabung bertujuan untuk mempertahankan tanah sebelum penanaman tumbuhan.

Jika area yang diberi benih telah terbentuk dengan sendirinya, ulir-ulir susunan dapat membantu mengikat tanahan ke struktur jaringan, dan kemudian membentuk perisai pelindung yang terpadu terhadap erosi. Seperti yang dijelaskan di atas, susunan tersebut dapat diwarnai di lokasi atau di mill untuk mengkamuflasekan produk lebih lanjut.

Aplikasi produknya beragam dari pengaliran dengan garis keliling hingga saluran pengalihan, aliran air banjir dengan kekentalan rendah, perlindungan tanggul dan pekerjaan lapangan (batu kerikil dapat disebarkan di atas area untuk menggantikan tumbuhan).

Penggunaan grout yang efisien di seluruh sistem merupakan alternatif yang efektif dengan harga yang menguntungkan.

B.3 Revetment Tipe Blok Beton Bergigi

Struktur  revetment terdiri dari unit-unit pelindung yang disusun membentuk kemiringan dikenal dengan struktur tipe rubel (periksa Gambar 4) . Unit pelindung bagian luar yang dikenal dengan istilah armor ini dapat dibuat dari batu belah/bulat atau dari blok-blok beton. Blok beton sebagai armor yang sudah dikenal antara lain kubus, tetrapod, aknon, dan dolos.

Blok Beton Bergigi ini merupakan balok beton dengan perbandingan ukuran panjang (p): lebar (l) : tinggi (t) = 6 : 4 : 5. Ukuran minimum = 20 cm. Pada bagian depan dipasang gigi dengan tebal 8 cm dan tinggi 10 cm. Di bagian belakang diberi lubang dan dilengkapi dengan sekat. Sekat dimaksudkan agar tidak terjadi pergeseran posisi blok beton arah horizontal. Pada Gambar 5 disajikan sketsa blok beton bergigi.

Terbatasnya batu alam dengan ukuran dan berat tertentu, telah mendorong penelitian dan inovasi yang menghasilkan batu pengganti, yang dikenal dengan blok beton bergigi. Stabilitas  unit  armor  ditentukan  oleh  koefisien  stabilitas  yang  disingkat  KD.  Untuk  tinggi gelombang yang sama, makin besar harga KD, maka berat armor yang diperlukan makin ringan, yang berarti lebih ekonomis.

Armor  tidak dapat berdiri  sendiri-sendiri,  tetapi bekerja bersama-sama.  Ikatan antar unit  yang satu dengan  yang  lain  tergantung dari  jenis armor.

Salah  satu  fungsi  dari  penelitian di Puslitbang Sumber Daya Air  adalah mencari  jenis  armor yang mempunyai harga KD yang besar, sehingga diperoleh unit armor yang ringan dan apabila memungkinkan dalam pelaksanaannya  tidak menggunakan alat-alat berat. Dari beberapa blok beton  yang  telah  diuji  coba,  salah  satunya  adalah  blok  beton  bergigi.

Ikatan antara blok yang satu dengan yang  lain (interlocking) diperkuat dengan adanya gigi, sehingga  sulit  lepas. Dari  hasil  penelitian diperoleh harga KD untuk blok beton  bergigi  ini adalah 4.0.

Selain berat armor, salah satu besaran lain adalah tinggi rayapan. Pada tembok yang kedap dan halus,  tinggi  rayapan akan  lebih  tinggi dibandingkan dengan  lapisan permeabel yang kasar. Untuk mengurangi  tinggi  rayapan, maka dalam pemasangan blok-blok beton diberi celah. Bidang celah diusahakan agar  terjadi  suatu proses aliran air  yang masuk  ke  celah yang dapat mengurangi  tinggi  rayapan. Makin  rendah  tinggi  rayapan, elevasi struktur akan makin rendah dan biaya yang diperlukan akan lebih murah.

C. Langkah-langkah Pokok Perancangan

Dalam perencanaan dinding pantai atau revetment perlu ditinjau fungsi dan bentuk bangunan, lokasi, panjang, tinggi, stabilitas bangunan dan tanah pondasi, elevasi muka air baik di depan maupun di belakang bangunan.

Filosofi dan Parameter Disain

Dalam menyelesaikan permasalahan proteksi pantai (coastal), filosofi perancangannya adalah mula-mula menghargai dan kemudian meningkatkan metode-metode alamiah untuk melindungi garis pantai. Filosofi tersebut dapat dipenuhi dengan jalan menghindarkan gaya-gaya destruktif dari gelombang besar laut menumbuk langsung (head-on). Selanjutnya perhatian dapat diarahkan pada zona-zona yang berenergi lebih rendah seperti dasar laut di sekitar pantai, berm, dan pada perlindungan pantai-pantai stabil.

Parameter-parameter yang mempengaruhi kebanyakan desain adalah muka air laut dan gelombang-gelombang yang terjadi; biasanya dapat ditentukan dengan bantuan tabel-tabel perencanaan. Umumnya prediksi gelombang tersebut perlu diberi angka pengaman terhadap kemungkinan variasi tekanan atmosfer atau akibat angin, yang untuk kondisi-kondisi ekstrim dapat mencapai 2,0 m.

Kondisi-kondisi gelombang di suatu lokasi dapat ditentukan menggunakan teknik-teknik spektral, (permukaan laut dianggap sebagai paduan acak dari tinggi gelombang dan periode), atau suatu gelombang deterministik tunggal yang mengandung suatu energi ekivalen tertentu dengan periode Ts dan tinggi gelombang signifikan Hs. Yang terakhir tersebut adalah suatu ‘wakil statistik’ dari tinggi gelombang rerata dari satu sepertiga kali gelombang tertinggi yang diukur dalam suatu periode tertentu. Hs juga berkorelasi sangat baik dengan perkiraan visual terhadap ‘tinggi gelombang rerata’.

Pendekatan deterministik biasanya diambil untuk keperluan perancangan kasar dan digunakan di sini untuk memilih parameter-parameter gelombang yang dapat diperoleh dari tiga jenis informasi, yaitu :

Pengukuran gelombang langsung.

Pengukuran gelombang langsung memerlukan penggunaan alat pengukur lepas pantai, misalnya pelampung gelombang (wave rider buoy). Data dari pelampung pengukur tersebut dikonversikan ke dalam kondisi pantai dan diekstrapolasikan untuk memberikan tinggi gelombang rencana yang sesuai untuk usia rencana struktur yang ditinjau.

Data angin.

Jika tidak diperoleh data pengukuran langsung, data angin dapat pula dipergunakan untuk menaksir tinggi gelombang lepas pantai, menggunakan berbagai persamaan empiris. Untuk tujuan perancangan, suatu prosedur yang disederhanakan adalah sbb. :

  1. pilih periode ulang yang terkait dengan usia layan struktur;
  2. analisislah data angin untuk menentukan rerata kecepatan angin setiap jam menurut periode ulangnya;
  3. tentukan fetch efektif untuk setiap arah kompas;
  4. dapatkan kondisi-kondisi gelombang lepas pantai (Hso, Ts)

Dalam rangka menentukan kondisi-kondisi gelombang di lokasi, adalah perlu untuk memperhitungkan efek-efek modifikasi akibat kedalaman air yang semakin dangkal ketika gelombang semakin mendekati pantai.

Dua efek modifikasi ini adalah refraksi gelombang dan ‘shoaling’ gelombang. Kedua efek tersebut menjadikan ekspresi Hs efektif sbb. :

Hs = Kr.Ks.Hso

Koefisien refraksi Kr memperhitungkan modifikasi tinggi gelombang akibat penyebaran atau penggabungan gelombang ketika mendekati kontur dasar laut yang semakin dangkal. Nilai Kr karenanya adalah khas untuk setiap lokasi. Untuk garis pantai yang lurus dan kontur dasar laut paralel, tinggi gelombang cenderung mengecil. Sementara itu untuk garis pantai yang menjorok ke laut akan mengalami efek yang sebaliknya. Nilai-nilai yang teliti dapat diperoleh lewat analisis refraksi, tetapi untuk keperluan estimasi kasar dapat dianggap Kr mendekati 1,0. Umumnya berlaku :

0.5 < Kr < 1.0 embayment, garispantai lurus

1.0 < Kr < 1.5 promontory, garispantai menjorok

Koefisien shoaling (Ks) memperhitungkan modifikasi tinggi gelombang akibat perubahan kedalaman air ketika mendekati garis pantai.


1. Pengertian

Manajemen proyek adalah salah satu cara yang ditawarkan untuk maksud pengelolaan suatu proyek, yaitu suatu metode pengelolaan yang dikembangkan secara ilmiah dan intensif sejak pertengahan abad ke-20 untuk menghadapi kegiatan khusus yang berbentuk proyek. (Iman Soeharto, 1999)

Manajemen proyek adalah usaha pada suatu kegiatan agar tujuan adanya kegiatan tersebut dapat tercapai secara efisien dan efektif. Efektif dalam hal ini adalah dimana hasil  penggunaan sumber daya dan kegiatan sesuai dengan sasarannya yang meliputi kualitas, biaya, waktu dan lain-lainnya. Sedangkan efisien diartikan penggunaan sumber daya dan pemilihan sub kegiatan secara tepat yang meliputi jumlah, jenis, saat penggunaan sumber lain dan lain-lain. Oleh sebab itu manajemen proyek pada suatu proyek konstruksi merupakan suatu hal yang tidak dapat diabaikan begitu saja, karena tanpa manajemen suatu proyek, konstruksi akan sulit berjalan sesuai dengan harapan baik berupa biaya, waktu maupun kualitas

Manajemen proyek meliputi proses perencanaan ( planning ) kegiatan, pengaturan ( organizing ), pelaksanaan dan pengendalian ( controlling ). Proses perencanaan, pengaturan, pelaksanaan dan pengendalian tersebut dikenal dengan proses manajemen

Tujuan dari proses manajemen adalah untuk mengusahakan agar semua rangkaian kegiatan tersebut :

√        Tepat waktu, dalam hal ini tidak terjadi keterlambatan penyelesaian suatu proyek

√        Biaya yang sesuai, maksudnya agar tidak ada biaya tambahan dari perencanaan biaya yang telah dianggarkan

√        Kualitas yang sesuai dengan persyaratan

√        Proses kegiatan dapat berjalan dengan lancar

Proses perencanaan ( planning ) proyek dapat dikelompokkan menjadi dua tahap, yaitu yang pertama planning dalam garis manajemen konsultan dan yang kedua dalam garis manajemen kontraktor.

Perencanaan yang ditangani oleh konsultan mencakup perencanaan fisik struktur secara terperinci sampai pada perencanaan anggaran biaya dan durasi pekerjaan.

Perencanaan yang ditangani oleh kontraktor mencakup perencanaan metode kontraktor, rencana anggaran dalam pelaksanaan dan perencanaan administrasi lapangan maupun perusahaan.

Metode manajemen proyek yang digunakan oleh pelaksana proyek (kontraktor) baik manajemen pelaksana, manajemen pengawasan, serta manajemen dari organisasi pemilik proyek pada umumnya adalah sama yaitu dengan berpatokan pada laporan-laporan tertulis yang disesuaikan dengan keadaan nyata dilapangan. Laporan-laporan tertulis tersebut bisa berupa laporan harian, laporan mingguan dan lain-lain.

Dan menurut  R. Sutjipto (1985), sebuah proyek dapat didefenisikan sebagai suatu usaha dalam jangka waktu yang ditentukan dengan sasaran yang jelas yaitu mencapai hasil yang telah dirumuskan pada waktu awal pembangunan proyek akan dimulai.

Bertitik tolak dari pemikiran ini, maka maksud dan tujuan manajemen proyek adalah usaha kegiatan untuk meraih sasaran yang telah didefenisikan dan ditentukan dengan jelas seeffisien dan seefektif mungkin. Dalam rangka meraih sasaran yang telah disepakati, diperlukan sumber-sumber daya (resources) termasuk sumber daya manusia yang merupakan kunci segalanya.

Sasaran utama dalam manajemen proyek dapat dikategorikan sebagai berikut:

  1. pengembangan dan penyelesaian sebuah proyek dalam budget yang telah ditentukan, jangka waktu yang telah ditetapkan dan kualitas bangunan proyek sesuai dengan spesifikasi teknik yang telah dirumuskan,
  2. bagi kontraktor yang bonafide yaitu untuk mengembangkan reputasi akan kualitas pekerjaannya (workmanship) serta mempertahankannya,
  3. menciptakan organisasi di kantor pusat maupun di lapangan yang menjamin beroperasinya pekerjaan proyek secara kelompok (team work),
  4. menciptakan iklim kerja yang mendukung baik dari segi sarana,kondisi kerja, keselamatan kerja dan komunikasi timbal balik yang terbuka antara atasan dan bawahan,
  5. menjaga keselarasan hubungan antara sesamanya sehingga orang yang bekerja akan didorong untuk memberikan yang terbaik dari kemampuan dan keahlian mereka.

Manajemen proyek meliputi proses perencanaan (planning) kegiatan, pengaturan (organizing), pelaksanaan dan pengendalian (controlling). Proses perencanaan, pengaturan, pelaksanaan dan pengendalian tersebut dikenal proses manajemen.

Perencanaan (planning) adalah peramalan masa yang akan datang dan perumusan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan berdasarkan peramalan tersebut. Bentuk dari perencanaan dapat berupa: perencanaan prosedur, perencanaan metode kerja, perencanaan standar pengukuran hasil, perencanaan anggaran biaya, perencanaan program (rencana kegiatan beserta jadwal).

Pengaturan (organizing) bertujuan melakukan pengaturan dan pengelompokan kegiatan proyek konstruksi agar kinerja yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan. Tahap ini menjadi sangat penting karena jika terjadi ketidaktepatan pengaturan dan pengelompokan kegiatan, bisa berakibat langsung terhadap tujuan proyek.

Pengendalian (controlling) adalah proses penetapan apa yang telah dicapai, evaluasi kerja, dan langkah perbaikan bila diperlukan

Project Manager

Project Manager dalam struktur organisasi kontraktor memegang posisi sebagai pemimpin dalam pelaksanaan proyek. Tugasnya adalah:

  1. menguasai seluruh isi dokumen kontrak,
  2. menjamin tersedianya seluruh sumber daya yang diperlukan untuk pelaksanaan proyek,
  3. memantau serta mengevaluasi pelaksanaan proyek,
  4. melakukan negosiasi dengan sub kontraktor/suplier,
  5. menetapkan asumsi-asumsi yang diperlukan untuk perencanaan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan,
  6. memberi  pengarahan dalam tahap pembuatan RAPP (Rencana Anggaran Pelaksanaan Proyek),
  7. memberi pengarahan pelaksanaan proyek.

2. Kegiatan yang Dilakukan dalam Manajemen Proyek

Kegiatan yang dilakukan dalam  manajemen proyek yaitu antara lain:

1)      Identifikasi Objek yang Akan Dikelola

Di bagian ini dilakukan identifikasi profil objek yaitu suatu kegiatan yang berbentuk proyek, dan perbandingannya dengan kegiatan operasional rutin. Perbedaan kedua jenis kegiatan tersebut di antaranya adalah kegiatan proyek bersifat nonrutin, terdiri dari aneka ragam kegiatan yang saling terkait dan mengikuti pola siklus kelangsungan hidup (life cycle) tertentu yang memiliki batas jelas kapan proyek dimulai dan berhenti. Pada siklus proyek diadakan penahapan dengan komponen kegiatan-kegiatan yang memiliki jenis dan intensitas yang berbeda-beda. Di bagian ini disinggung pula pembagian jenis proyek dan kriteria yang dipakai untuk menggolongkan ukuran proyek menjadi berukuran kecil, sedang, dan besar, serta dianalisis berbagai karakteristik yang khusus melekat pada kegiatan proyek. Identifikasi ini semua bermaksud memberi keterangan dan gambaran mengenai kegiatan apa, dengan sifat-sifat dan perilaku yang bagaimana, yang hendak dikelola.

2)      Konsep Pengelolaan yang Akan Dipakai

Setelah memahami sifat dan perilaku kegiatan proyek, maka penyajian dilanjutkan dengan  membahas konsep pengelolaan yang dianggap sesuai dengan tuntutan dan sifat serta perilaku kegiatan yang dimaksud yang kemudian disebut manajemen proyek. Dalam hal ini penulis mengetengahkan 3 buah pemikiran di antara sejumlah pengamat dan pemikir masalah-masalah yang erat dengan perkembangan dan pertumbuhan konsep manajemen proyek. Pertama, pemikiran yang mencoba merumuskan definisi konsep manajemen proyek dengan menghubungkannya dengan manajemen umum (general management)/klasik/fungsional. Pemikiran kedua yang menghubungkan konsep manajemen  proyek dengan konsep sistem dan pendekatan kontinjensi. Adapun yang ketiga adalah perumusan konsep yang dibuat oleh “Project Management Institute” USA dalam rangka menyusun PM-BOK serta usaha ke arah standardisasi dan sertifikasi profesi manajemen proyek.

Menurut pendapat pertama, fungsi manajemen klasik yang terdiri dari merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendahkan tetap berlaku untuk manajemen proyek, dengan catatan perlu mengadakan “restrukturisasi” di sana-sini serta menggunakan metode dan teknik barn agar mampu menghadapi sifat-sifat dan perilaku yang khusus terdapat pada kegiatan proyek. Misalnya, agar dicapai penggunaan sumber daya yang efisien diperkenalkan arus kerja clan komunikasi horisontal sebagai tambahan arus kerja vertikal yang selama ini telah dikenal dalam manajemen klasik/fungsional. Lebih jauh, dipandang dari sudut organisasi, pengelolaan proyek akan efektif bila terdapat tanggung jawab tunggal dengan tugas terpenting adalah bertindak sebagai integrator dan koordinator dari sejumlah organisasi atau bagian organisasi peserta dan pendukung proyek. Seperti halnya manajemen klasik, dalam manajemen proyek fungsi perencanaan dan pengendalian memegang peranan yang amat menentukan. Lebih dari itu, pada kegiatan proyek, mengingat sifatnya yang cepat berubah, kompleks, dan memiliki hubungan keterkaitan yang tinggi, maka perlu adanya keterpaduan antara perencanaan dan pengendalian.

Dari sudut pandang konsep sistem, maka pengelolaan suatu kegiatan harus berorientasi ke totalitas. Dengan kata lain, penekanannya terletak kepada keberhasilan tujuan sistem secara keseluruhan, dan bukan hanya kepada komponen-komponennya.

Dalam pada itu, Project Management Institute (PMI) di USA, salah satu institusi terkemuka yang bergerak dalam pengembangan ilmu atau profesi manajemen proyek, merumuskan suatu pengertian konsep manajemen proyek. Berbeda dengan yang pertama, formulasi yang disusun oleh PMI tidak langsung mengaitkannya dengan manajemen klasik meskipun diakui banyak praktek-praktek yang tumpang tindih dengannya. Lebih jauh PMI merumuskan dan menjabarkan konsep tersebut dalam suatu “Project Management Body of Knowledge”.

3)      Area Ilmu Manajemen Proyek (PM-BOK)

Agar ilmu atau profesi manajemen proyek secara sistematis dapat dipelajari, dikodefikasi dan disertifikasi sebagai mana layaknya profesi lain seperti Kedokteran, Akuntansi, Hukum, dan lain-lain, maka oleh berbagai institusi seperti PMI-USA, APM (The Association of Project Man­agement)— Inggris dan INTERNET (The International Association of Project Management)— Eropa, telah dirintis penyusunan atribut clasar berupa PM-BOK yaitu area ilmu manajemen proyek. Dalam PM-BOK, PMI mengelompokkan area ilmu manajemen proyek menjadi 9 butir, yaitu pengelolaan integrasi, lingkup, waktu, biaya, mutu, sumber daya manusia, komunikasi, risiko dan pengadaan. PM-BOK dari PMI dan INTERNET.

4)      Metode, Teknik, dan Prosedur

Sering dikatakan bahwa menyusun konsep dan filosofi merupakan pekerjaan tersendiri, sedangkan merumuskan konsep dan filosofi tersebut menjadi metode, teknik, dan prosedur adalah pekerjaan yang lain. Kata-kata tersebut untuk menggambarkan bahwa menyusun suatu konsep clan filosofi yang kelihatannya sudah cukup jelas arti dan tujuannya ternyata amat sulit untuk menjabarkannya menjadi metode, teknik, clan prosedur yang pada proses berikutnya dimaksudkan dapat merupakan petunjuk pelaksanaan di lapangan. Banyak contoh menunjukkan suatu konsep telah diterima dan dianggap benar oleh banyak pihak tetapi hasil pelaksanaannya jauh menyimpang dari harapan.

Metode dan teknik ini dipilih yang kegunaannya dianggap bersifat mendasar dan unik untuk proses mengelola proyek, seperti “WORK BREAKDOWN STRUCTURE” untuk mengelola lingkup, “ANALISIS JARINGAN KERJA” (CPM, PERT, dan PDM) untuk perencanaan proyek, IDENTIFIKASI VARIANS, KONSEP NILAI HASIL, CS/CSC untuk pengendalian biaya dan jadwal, dan lain-lain. Sedangkan untuk metode dan teknik yang penting untuk proyek-proyek tertentu tetapi kegunaannya tumpang tindih dengan disiplin ilmu atau profesi lain, seperti disiplin ilmu ekonomi dan produksi [analisis sensitivitas, program linear, "programming" lainnya, teori optimasi, konsep statistik, "proses control chart", pareto diagram, dan lain-lain].

ü  Pengendalian

Pada aspek pengendalian, ini ditekankan pentingnya penggunaan metode dan teknik yang dapat memantau atau mengukur kinerja (performance) suatu pekerjaan. Ini berarti harus ada keterkaitan yang menyatu dalam menganalisis kemajuan pekerjaan dengan jumlah biaya yang telah terpakai untuknya. Dengan mengetahui kinerja suatu pekerjaan pada setiap saat pelaporan, akan dapat dibuat prakiraan atau proyeksi keperluan dana sampai akhir penyelesaian proyek. Demikian pula dengan kemungkinan terjadinya keterlambatan, bilamana faktor yang mempengaruhi atau menyebabkan kecenderungan di atas tidak berubah. Hal ini berarti pengelola proyek jauh-jauh hari sebelumnya telah memperoleh tanda peringatan perlu tidaknya diadakan perbaikan penyelenggaraan untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan.

ü  Organisasi dan Penyusunan Tim Proyek

Untuk menyusun organisasi dan membentuk tim proyek dikenal berbagai pilihan struktur organisasi yang dapat dipakai untuk proyek yang sedang dihadapi, yaitu dengan mengacu pada organisasi proyek fungsional (OPF), organisasi proyek matriks (OPM), dan organisasi proyek mandiri atau “task force” (OPMi). Sedangkan dalam kepemimpinan proyek ditekankan perlunya penggunaan “expert power” dan “referent power” di samping otoritas resmi yang harus dimiliki oleh seorang pimpinan proyek.

ü  Kebijakan dan Tata Laksana

Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa kebijakan (policy) dan tata laksana (prosedur) memegang peranan yang penting dalam penyelenggaraan suatu kegiatan, yaitu  merupakan sarana komunikasi untuk mengatur, mengkoordinir, dan menyatukan arah gerak organisasi. Keperluan akan adanya sarana tersebut amat terasa bagi proyek yang seperti diketahui seringkali memiliki personil dan/atau peserta yang baru pertama kali bekerja sama.

5)      Aplikasi Konsep Manajemen Proyek pada Praktek Penyelenggaraan (Operasional) Proyek

Penulis beranggapan bahwa uraian perihal aplikasi konsep manajemen proyek pada praktek operasional untuk proyek tertentu akan banyak membantu secara langsung maupun tidak langsung menangkap dan memahami konsep, metode maupun tata laksana yang terkandung dalam manajemen proyek, karena pada uraian tersebut akan dijumpai contoh nyata aplikasinya dalam praktek penyelenggaraan proyek. Untuk maksud tersebut, penulis memilih proyek en­gineering-manufaktur-konstruksi, karena jenis proyek ini adalah model proyek yang melibatkan kegiatan-kegiatan desain-engineering, pengadaan, subkontrak, manufaktur, perakitan (assem­bly), konstruksi, dan uji coba sistem instalasi atau produk baru yang kompleks. Termasuk golongan ini adalah proyek-proyek pembangunan jaringan telekomunikasi, proyek pembangunan prasarana umum (jembatan, jalan, pelabuhan, dan gedung) dan proyek pembangunan instalasi industri seperti pengilangan minyak (oil refinery), petrokimia, LNG, pupuk, semen, kertas, baja, pembangkit tenaga listrik bahan bakar fosil maupun nuklir, dan lain-lain. Pemilihan ini juga didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:

  • Jenis proyek di atas sedang giat-giatnya dikerjakan di negara sedang berkembang, termasuk Indonesia. Dengan demikian, erat keterkaitannya dengan pembangunan di Indonesia.
  • Mengelola jenis proyek yang berukuran besar dan kompleks akan cukup rumit, kaya persoalan dan permasalahan. Dengan demikian, dalam proses pembahasan akan dapat disajikan keterangan, gambaran, dan contoh yang luas dan beraneka ragam, khususnya dalam aspek manajemen proyek.

Bertitik-tolak dari pemahaman pengelolaan proyek E-MK di atas, maka bila diperlukan akan mudah mempelajari jenis proyek lain yang umumnya relatif sederhana dan kurang kompleks. Dalam penyelenggaraan proyek-proyek E-MK akan selalu dijumpai kegiatan-kegiatan utama seperti pengkajian kelayakan, perencanaan sumber daya, pengadaan perangkat dan peserta, serta implementasi fisik dan penutupan proyek.

ü  Peranan Pemilik Proyek

Sepanjang siklus proyek, peranan pemilik berubah-ubah. Misalnya suatu ketika dalam tahap persiapan proyek, pemilik harus langsung memegang “komando” dalam hal-hal yang bersifat strategic seperti memberi keputusan kelangsungan proyek (go or not to go), merumuskan strategi penyelenggaraan, memilih filosofi desain, dan lain-lain. Sedangkan pada tahap implementasi (untuk kontrak lump-sum) dianggap bijaksana bila dapat menempatkan diri sebagai mitra kerja yang waspada, yaitu, misalnya terhadap konsultan dan/atau kontraktor (utama).

3. Tahap Siklus Proyek dan Deliverable yang Bersangkutan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya siklus proyek terdiri dari 4 tahap (Iman Soeharto, 1999), yaitu tahap yang diklasifikasikan oleh UNIDO sebagai tahap persiapan, diperinci lebih lanjut oleh PMI menjadi tahap konseptual dan definisi. Tahap ini sering pula disebut tahap merencanaan dan pengembangan (PP) karena pada tahap tersebut kegiatan itulah dominan. Tahap Akhir proyek dikenal sebagai tahap terminasi. Secara lengkap, penahapan menurut PMI adalah sebagai berikut:

  1. Tahap konseptual.
  2. Tahap perencanaan dan pengembangan (planning and development) atau disingkat PP/Definisi.
  3. Tahap implementasi.
  4. Tahap terminasi.

1. Tahap Konseptual

Periode ini terdiri dari beberapa kegiatan, yaitu penyusunan dan perumusan gagasan, analisis pendahuluan dan pengkajian kela­yakan. Salah satu kegiatan utama yang bersifat menyeluruh (“comprehensive”), dalam tahap ini yang mencoba menyoroti segala aspek mengenai layak tidaknya suatu gagasan untuk direalisasikan, disebut studi kelayakan. Diban­dingkan dengan pengkajian yang dilakukan sebelumnya, studi kelayakan mempunyai lingkup dan aspek pengkajian yang lebih lugs, mendorong potensi yang positif dan menaruh perhatian khusus terhadap kendala dan keterbatasannya.

Deliverable Akhir Tahap Konseptual

Deliverable akhir tahap konseptual adalah paket atau dokumen hasil studi kelayakan. Dokumen tersebut umumnya berisi analisis berbagai aspek kelayakan seperti pemasaran, permintaan, teknik, produksi, manajemen dan organisasi. Dokumen tersebut juga berisi perkiraan garis besar biaya dan jadwal proyek.

2. Tahap PP/ Defenisi

Telah disebutkan sebelumnya bahwa pada masa permulaan siklus proyek, kegiatan ditujukan untuk mengidentifikasi dan merumuskan gagasan, mengembangkannya menjadi alternatif, lengkap dengan indikasi lingkungan kerja, jadwal dan biaya. Meskipun demikian, semua itu masih dalam taraf konseptual, dalam arti pengkajian sudah melebar dan meluas mencakup aspek yang mempunyai kaitan erat antara gagasan dan peluang yang tersedia, tetapi belum cukup mendalam untuk dapat dipakai sebagai dasar mengambil keputusan akhir jadi tidaknya menanam investasi atau melaksanakan proyek. Oleh karena itu, perlu diadakan pengkajian yang lebih mendalam agar dapat ditarik kesimpulan yang mantap. Sejalan dengan usaha tersebut, mulailah dirintis rencana kesiapan perangkat dan pelaksanaan proyek ataupun strategi penyelenggaraan. Dengan demikian, kegiatan utama dalam tahap PP/Definisi adalah sebagai berikut:

  • Melanjutkan evaluasi hasil kegiatan tahap konseptual, dalam arti lebih mendalam dan terinci, sehingga kesimpulannya cukup mantap untuk dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan perihal kelangsungan investasi atau proyek.
  • Menyiapkan perangkat, seperti data, krite­ria dan spesifikasi teknik, engineering dan komersial yang selanjutnya dipakai untuk membuat RFP, dokumen dan kontrak.
  • Menyusun perencanaan dan membuat keputusan strategic yang berkaitan dengan garis penyelenggaraan proyek, seperti macam kontrak yang akan dipakai, bobot sasaran pokok, filosofi desain, komposisi pendanaan.
  • Memilih peserta proyek yang terdiri dari tim proyek pemilik, kontraktor, konsultan, arsitek, dan lain-lain.

Ditinjau dari segi penyelenggaraan proyek secara keseluruhan dengan empat sasaran utama, yaitu lingkup, jadwal, biaya dan mutu, rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam tahap PP/Definisi ini (dalam hubungannya dengan persiapan memasuki tahap berikut­nya) adalah usaha untuk menetapkan dan menjelaskan kedudukan  keempat sasaran tersebut. Artinya, dalam tahap PP/Definisi ditetapkan letak batas dan kriterianya. Dengan kata lain, tahap ini menentukan batasan berbagai parameter yang menyangkut sasaran, strategi untuk mencapainya dan cumber daya yang diperlukan. Dengan demikian, diharap­kan tidak terjadi kekaburan interpretasi sebelum proyek sampai ke tahap implementasi fisik. Akhir tahap definisi ditandai oleh kegiatan menyiapkan segala kelengkapan dokumen (kontrak, prosedur) yang berisi pen­jabaran rencana tindakan (action plan) yang mengikat organisasi peserta proyek (pemilik, kontraktor, konsultan) untuk melakukan tugas dan kewajibannya masing-masing dalam rangka mencapai sasaran proyek.

Deliverable Akhir Tahap PP/Definisi

Deliverable tahap ini adalah sebagai berikut:

  • Dokumen berisi hasil analisis lanjutan kelayakan proyek.
  • Dokumen berisi rencana strategis dan operasional proyek.
  • Dokumen berisi definisi lingkup, anggaran biaya (ABP), jadwal induk dan garis besar kriteria mutu proyek.
  • RFP atau paket lelang.
  • Dokumen hasil evaluasi proposal dari para peserta lelang.

Kegiatan menyiapkan “deliverable” pada penyelenggaraan proyek E-MK dengan jenis kontrak lump sum dilakukan oleh pihak pemilik proyek. Namun demikian, kegiatan tersebut sering pula dilakukan dengan menggunakan bantuan konsultan.

3. Tahap Implementasi

Komponen kegiatan utama pada tahap ini berbeda dari proyek ke proyek. Tetapi untuk proyek E-MK umumnnya terdiri dari kegiatan desain-engineering terinci fasilitas yang hendak dibangun, desain-engineering produk, pengadaan material dan peralatan, manufak­tur atau pabrikasi dan instalasi atau konstruk­si. Kegiatan desain-engineering terinci meru­pakan tindak lanjut jenis pekerjaan yang sama yang telah dirintis di tahap PP/Definisi. Tahap implementasi terdiri dari kegiatan sebagai berikut:

Mengkaji lingkup kerja proyek, kemudian membuat program implementasi dan mengkomunikasikan kepada peserta dan penanggung jawab proyek.

  • Melakukan pekerjaan desain-engineering terinci, pengadaan material dan peralatan, pabrikasi, instalasi atau konstruksi.
  • Melakukan perencanaan dan pengenda­lian aspek biaya, jadwal dan mutu. Kegiatan lain yang tidak kalah pentingnya ialah memobilisasi tenaga kerja, melatih dan melakukan supervise.

Deliverable Tahap Implementasi

Deliverable tahap ini adalah produk atau instalasi proyek yang telah selesai secara “mekanis”. Dare segi “contractual” ini ditandai dengan penyerahan sertifikat mechanical completion dari pemilik proyek kepada organisasi pelaksana atau kontraktor.

4. Tahap Terminasi

Kegiatan utama pada tahap terminasi adalah sebagai berikut:

  • Mempersiapkan instalasi atau produk beroperasi, seperti uji coba start-up, dan performance test.
  • Penyelesaian administrasi dan keuangan proyek seperti asuransi dan klaim.
  • Seleksi dan kompilasi dokumen proyek untuk diserahkan kepada pemilik atau kepada induk perusahaan.
  • Melaksanakan demobilisasi dan reassign­ment personil.

Bela langkah di atas telah selesai maka disusun laporan penutupan proyek.

Deliverable Akhir Tahap Terminasi

Deliverable tahap ini berupa:

  • Instalasi atau produk yang siap pakai atau siap beroperasi. Ini ditandai dengan diterbitkannya sertifikat “operational acceptance” oleh pemilik proyek untuk pelaksana atau kontraktor.
  • Dokumen pernyataan penyelesaian masa­lah asuransi, klaim dan jaminan (warranty).
  1. Tahap Operasi atau Utilisasi

Tahap operasi atau utilisasi atau aplikasi hasil proyek tidak termasuk dalam siklus pro­yek, tetapi sudah merupakan kegiatan operasi­onal. Kita mencantumkannya di sini hanya untuk memperjelas batas kegiatan yang ber­sangkutan; di mana kegiatan proyek berhenti dan organisasi operasi mulai bertanggung jawab atas operasi dan pemeliharaan instalasi atau produk hasil proyek.

4. Siklus Proyek untuk Pemilik

Kelayakan proyek dilanjutkan dengan menyusun perencanaan strategis penyelenggaraan proyek, menyiapkan perangkat (dokumen lelang, SIMP, clan lain-lain) dan peserta (tim proyek pemilik, kontraktor dan mungkin juga konsultan). Pada kedua tahap ini kontraktor belum ada. Umumnya barn pada akhir tahap PP/Definisi mereka (melalui bidang Business atau Pemasaran) mengadakan pendekatan‑ pendekatan kepada pemilik untuk ikut lelang.

Bagi kontraktor, perencanaan intensif dimulai setelah penandatanganan kontrak EPK atau penerimaan letter of intent, yaitu dalam rangka menyusun Rencana Implementasi Proyek (RIP-k). RIP-kontraktor ini dipresentasikan dalam suatu internal kick-off meeting dan setelah diadakan perubahan yang diperlukan kemudian dipakai sebagai dasar materi kick­off meeting dengan pemilik dan pembuatan “control budget” atau disebut juga Anggaran Definitif Proyek (ADP) dan jadwal induk. Selanjutnya, ADP dan jadwal induk digunakan sebagai tolak ukur proses pengendalian sam­pai proyek selesai (u-v) Setelah menyerahkan pekerjaan implementasi fisik kepada kontrak­tor, tugas utama pemilik- adalah melakukan pemantauan dan pengendalian seperti pengen­dalian perubahan lingkup, change order, pembayaran, jadwal dan pengendalian mutu. Gambar di atas menunjukkan garis besar langkah yang ditempuh pemilik dan kontraktor selama siklus proyek.

ü  Studi Kelayakan (Feasibility Study)

Proyek-proyek bangunan konstruksi umumnya sebelum dibuatkan perencanaan yang mendetail, harus dipelajari apakah proyek yang akan dibangun akan memberikan manfaat yang bersifat komersil (laba) atau yang bersifat non komersil (peningkatan export, penciptaan lapangan pekerjaan baru, dampak yang positif terhadap lingkungan sekitarnya)

Hasil studi kelayakan ini merupakan informasi yang amat berguna bagi pemilik proyek yang dalam hal ini dapat merupakan sebuah organisasi perusahaan, badan pemerintah, badan swasta, yayasan, dalam rangka memudahkan pengambilan keputusan, apakah proyek tersebut dapat dipertanggungjawabkan pelaksaannya untuk layak dibangun atau tidak. Hasil studi kelayakan ini dapat juga merupakan pegangan dasar bagi lembaga keuangan, pemberi modal, dalam rangka pemberian kredit pinjaman untuk membiayai proyek tersebut.

Studi kelayakan ini harus berisikan pernyataan yang jelas tentang :

  1. Lingkup dan Tujuan proyek

Lingkup proyek adalah penentuan batasan-batasan dari pekerjaan pembangunan yang akan diliputi oleh proyek. Tujuan proyek dalam studi kelayakan ini dimaksudkan adalah investasi untuk memperoleh berbagai macam manfaat yang cukup layak kelak dikemudian hari. Manfaat tadi dapat berupa manfaat keuangan (laba) dan manfaat non keuangan (pendayagunaan bahan baku dalam negeri berlimpah dan lain-lain).

  1. Aspek Ekonomi

Evaluasi ini mempertimbangkan manfaat pembangunan proyek secara makro. Sumbangan apa yang dapat diberikan dalam pembangunan ekonomi dan daerah sekitarnya dan terhadap negara secara langsung atau tidak langsung seperti kemampuan proyek dalam menciptakan lapangan pekerjaan baru, meningkatkan penghasilan secara nasional, menunjang pendapatan devisa dan merangsang peningkatan standar kehidupan lingkungannya

2. Aspek Keuangan

Sesudah dilakukan penelaahan tentang aspek ekonomi, maka hal berikutnya yang perlu diselidiki yaitu analisa keuang an proyek yang meliputi antara lain :

  • Darimana sumber dana yang akan diperoleh dan persyaratannya
  • Jumlah dana yang diperlukan untuk pengadaan harta tetap dan modal kerja awal
  • Struktur pembiayaan yang paling menguntungkan
  • Pengembalian dan pengembangan dana berdasarkan penghasilan yang akan diperoleh
  • Keuntungan yang akan diperoleh dibandingkan dengan beberapa alternative yang lain

3.Aspek Teknis dan Teknologi

Dalam aspek ini harus dikaji hal-hal yang meliputi type dan fasilitas-fasilitas yang akan didirikan (misalkan pabrik gula, proyek PLTA), kapasitas produksi ekonomi proyek, jenis teknologi yang dipakai, pengalaman kerja yang didapat dari proyek sejenis, peralatan yang dipergunakan, persediaan bahan material setempat dan sumber daya manusia yang tersedia dan siap pakai.

Mesin/peralatan atau bahan baku yang masih perlu diimport memerlukan pemikiran tambahan dari segi prosedur pengadaan barang( pemesanan, pengiriman, proses deklarasi pelabuhan dan lain-lain), sehingga  bahan dan peralatan yang dibutuhkan dapat tiba pada waktunya. Disamping itu lokasi proyek dan letak bangunan pabrik memerlukan saran dan alternative untuk mendapatkan keuntungan dan manfaat yang optimum dari berbagai macam segi.

4. Aspek Pasar dan Pemasaran

Aspek ini membahas apakah jasa pelayanan yang diciptakan atau hasil produksi yang dihasilkan oleh suatu produk akan memenuhi kebutuhan lingkungannya akan jasa dan barang produknya. Faktor-faktor diatas harus memperhitungkan kebutuhan jasa dan barang pada masa silam hingga kini dan permintaan akan jasa dan barang dimasa yang mendatang berdasarkan daya beli yang mampu direalisir oleh perkembangan ekonomi.

Dengan demikian aspek pemasaran dalam studi kelayakan perlu dipertimbangkan dari segi :

  • Kemudahan dan kemampuan mendapatkan jasa atau barang yang akan dihasilkan oleh proyek apabila telah selesai
  • Saluran distribusi (transportasi) dari titik penghasil produk sampai ke pihak konsumen

Latihan Personil

Pembangunan dan pengoperasian proyek sukses melibatkan orang-orang yang terampil sehingga diperlukan latihan yang berkesinambungan guna menyiapkan orang-orang yang siap pakai untuk menggarap proyek tersebut dan mengoperasikannya. Perusahaan yang besar dapat mengadakan program latihan ini dalam perusahaannya sendiri dengan cara incompany training/ on the job training atau dikirim ke  lembaga latihan dan pendidikan di luar perusahaan.

Persiapan personil harus sudah dipikirkan untuk tahapan operasional (tenaga manajemen) bilamana proyek sudah selesai dan mulai dioperasikan. Proyek tak dapat beroperasi dengan sukses tanpa dukungan dari tenagan manajemen yang mampu dan terampil, berdedikasi tinggi dan memiliki motivasi kerja yang baik.

Aspek Sosial dan Lingkungan Hidup

Masalah kemungkinan pencemaran lingkungan sebagai akibat didirikannya proyek tersebut harus diteliti dampaknya terhadap masyarakat setempak dan kemungkinan yang terjelek yang akan timbul perlu diperhitungkan seandainya cara penanggulangannya kurang efektif.

Dari hasil pengkajian berbagai macam aspek tersebut di atas mungkin akan didapat kesimpulan hasil dari studi kelayakan proyek sebagai berikut :

  • Pembangunan proyek dapat dipertanggungjawabkan dan dengan demikian investasi dapat diteruskan
  • Pembangunan proyek dapat diteruskan apabila persyaratan-persyaratan tertentu dapat dipenuhi.
  • Proyek secara global tak memberikan manfaat yang cukup, sehingga rencana investasi seyogyanya dibatalkan.

Bilamana hasil dari studi kelayakan merekomendasikan bahwa pembangunan proyek layak untuk diteruskan, maka biasanya ada beberapa usulan sebagai alternative yang dibuat. Dari beberapa alternative  ini akan direkomendasikan yang terbaik dari sekian alternative dengan disertai perhitungan ekonomisnya.


Secara garis besar konfigurasi dasar dibagi menjadi empat kategori sebagai berikut:

  1. planed bed (tidak terjadi pergerakan butiran sedimen),
  2. ripples,
  3. dunes,
  4. antidunes,

Tahap perubahan konfigurasi dasar dibagi menjadi dua tahap yakni perubahan dari kondisi dasar plane bed sampai ke dunes disebut dengan Lower Flow Regime, dan perubahan dari kondisi sheet bed ke antidunes disebut dengan Upper Flow Regime.

1. Lower Flow Regime

  1. Tahap Plane Bed (Dasar Rata)

Kondisi permukaan dasar masih rata karena regime kedalaman dan kecepatan aliran yang menghasilkan tegangan gesek aliran yang bekerja pada butiran sedimen dasar belum melebihi tegangan gesek dasar kritis dari butiran sehingga butiran sedimen dasar tidak bergerak. Pada kondisi ini, permukaan aliran dalam keadaan tenang dan nilai bilangan Froude kecil.

2. Tahap Ripples

Pertambahan regime aliran akan menyebabkan tegangan gesek dasar melebihi tegangan gesek kritis butiran sehingga butiran mulai bergerak. Pergerakan butiran dapat berupa menggelinding, menggeser dan meloncat. Setelah butiran bergerak, butiran akan membentuk gundukan-gundukan pasir secara random. Gundukan-gundukan tersebut akan menyatu dan membentuk gelombang pasir teratur, simetris dengan amplitudo gelombang relatif kecil terhadap panjang gelombang, Hr << Lr. Ripples dibentuk pada kondisi tegangan gesek dasar kecil dan sedimen terangkut sebagai bed load. Butiran yang bergerak dari hulu akan berhenti pada sisi hilir gelombang dan tidak bergerak kembali sampai terjadi pembongkaran sisi hulu ripples yang dikenal dengan perpindahan ripples ke hilir sangat lambat.

Darwin (1883) dalam Garde dan Ranga Raju (1987) memperkirakan bahwa ripples pada dasar saluran disebabkan oleh suatu formasi dari vortex dasar yang merupakan hubungan antara air dan pasir. Vortex yang dibentuk sebagai akibat dari tingginya gradien kecepatan. Anderson (1953) menegaskan bahwa gelombang air dibawah kedalaman yang rendah dapat menyebabkan gelombang pada dasar yang diinterprestasikan dengan kurva hubungan antara bilangan Froude, terhadap ratio tinggi dan panjang gelombang. Sedangkan Liu (1957) menunjukkan secara eksperimental bahwa ripples dapat terbentuk saat tidak terjadi gelombang muka air.

Pembentukan formasi gelombang ripples dapat terpenuhi jika dua kondisi dibawah ini terpenuhi (Liu (1957) dalam Garde dan Ranga Raju (1987)):

  1. aliran mampu untuk mengangkut material,
  2. akibat interfensi aliran ke dasar menyebabkan kondisi dasar (movable bed) menjadi tidak stabil.

Parameter yang dipergunakan untuk mengembangkan kondisi ini adalah U*/W dan U*d/v. Pada material berbutir halus terjadi tegangan gesek yang mana terdapat pergerakan sedimen secara umum dan kondisi dasar masih berupa planed bed. Sedangkan untuk material berbutir kasar dengan U*d/v > 100, Liumenunjukan bahwa gelombang terbentuk saat material bergerak. Simons & Richardson (1962) dalam Garde & Ranga Raju (1987) menemukan bahwa material dengan diameter 0,45 mm formasi ripples segera terbentuk saat material bergerak.

Raudkivi (1963) dalam Garde dan Ranga Raju (1987) melakukan penelitian tentang aspek-aspek yang berkenaan dengan pembentukan formasi ripples. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formasi ripples terbentuk pada suatu titik dimana terjadi pembentukan gundukan pasir pada dasar saluran dan berkembang kearah hilir. Kecenderungan terjadi pembentukan gundukan tersebut akibat ketidak seragaman dari butiran dan turbulensi eddy yang tidak kontinu didekat dasar. Akibatnya terjadi pemisahan aliran yang diikuti dengan terjadinya gerusan dasar ke arah hilir pada zona seperasi tersebut. Dengan demikian berkurangnya intensitas turbulensi, terjadi pengendapan material sehingga berbentuk ripples.

Ukuran butiran yang berpengaruh pada pembentukan ripples dengan material tidak seragam dan berrapat massa 2,6, seperti yang disimpulkan oleh Chaubert & Chauvin (1963) dalam Garde dan Ranga Raju (1987) adalah:

  1. ripples akan terbentuk jika d60 lebih kecil dari 0,6 mm,
  2. ripples local akan terbentuk jika d60 > 0,6 mm dan d30 < 0,55 mm,
  3. ripples tidak terbentuk jika d30 > 0,55 mm.

3.Tahap Dunes

Pertambahan kecepatan aliran akan menyebabkan ripples berkembang menjadi dunes. Dunes merupakan gelombang tiga dimensi didasar dan lebih besar dari ripples. Gelombang yang terbentuk mempunyai sisi hulu lebih landai dan sisi hilir lebih curam yang membentuk sudut sekitar 30-40 derajat. Bilangan Froude yang ada lebih kecil dari satu sehingga kondisi aliran tergolong subkritis. Akibat adanya pengaruh dasar dengan muka air maka terbentuk gelombang muka air yang turun pada puncak dunes. Butiran sedimen yang halus akan terangkut sebagai suspensi dan aliran menjadi keruh. Terjadi pemisahan butiran pada kondisi dunes ini yakni butiran lebih halus pada puncak dunes dan butiran lebih kasar pada sisi hulu. Menurut Einstein dan Chein (1953) dalam Garde dan Ranga Raju (1987), kondisi yang dibutuhkan agar terjadi pemisahan butiran dasar adalah sebagai berikut:

  1. penyebaran ukuran partikel secara meluas,
  2. dunes yang mempunyai panjang gelombang pasir yang besar,
  3. kedua kondisi tersebut diatas berlangsung secara menerus dan proses deposisi terjadi tinggi.

2. Upper Flow Regime

  1. Tahap Sheet Bed

Perubahan pada kondisi sheet bed ini dikenal dengan regime transisi sangat cepat. Hal ini disebabkan karena terjadi pertambahan debit aliran sehingga terjadi pertambahan panjang gelombang dunes dan sebaliknya terjadi pengurangan amplitudo dunes. Dasar menjadi rata kembali dengan material dasar relatif lebih halus. Sehingga regime sheet bed ini merupakan kondisi yang tidak stabil dalam arti akan terjadi perubahan bentuk secara menerus. Kekasaran dasar yang terbentuk dianggap sama dengan diameter butiran lolos 50% atau k = d50 dan bilangan Froude aliran berkisar 1, sehingga aliran menjadi aliaran kritis.

2. Tahap Antidunes

Pertambahan debit aliran menyebabkan gelombang tegak akan bergerak kehulu dan pecah. Kondisi aliran menjadi superkritis dengan bilangan Froude lebih dari 1. Interaksi gelombang muka air pada dasar menghasilkan gelombang antidunes dengan bentuk gelombang yang relatif simetris. Terjadinya deposisi pada sisi hulu dan erosi pada sisi hilir memperlihatkan gelombang dasar bergerak kehulu.

Debit aliran yang semakin besar menyebabkan gelombang antidunes yang ada akan terkikis dan menjadi datar kembali yang selanjutnya kegiatan antidunes dengan kondisi gelombang muka air membentuk chutes dan pool.

Sedimen

1. Karakteristik Angkutan Sedimen

1.1. Klasifikasi Ukuran Butiran

Pengertian ukuran butiran sedimen yang umum digunakan adalah sebagai berikut (Przedwojski & Blazejeweski, Pilarczyk (1995), dan Kironoto (1997)):

  1. Diameter ayakan (Sieve diameter) yakni ukuran lubang bukaan ayakan dimana partikel sedimen dapat lolos.
  2. Diameter nominal (Nominal diameter) yakni diameter butiran berbentuk bola yang mempunyai volume yang sama dengan volume butiran sedimen.
  3. Diameter sedimentasi yakni diameter butiran berbentuk bola yang mempunyai kesamaan berat jenis spesifik dan kecepatan endap dalam air dan kondisi yang sama dengan butiran sedimen.

Metode penentuan diameter lempung atau lanau biasanya digunakan metode sedimentasi, meskipun sebenarnya diameter sedimentasi merupakan diameter fiktif tetapi dalam pekerjaan-pekerjaan praktis sangat banyak membantu karena menggambarkan ukuran fisik sesungguhnya. Ukuran diameter pasir dan kerikil dapat ditentukan dengan metode ayakan dan material berdiameter lebih besar digunakan pengukuran langsung di lapangan.

The Subcomitte on Sediment Terminology dari American Geophysical Union (AGU) mengklasifikasikan ukuran butiran sedimen berdasarkan pada ukuran saringan seperti pada tabel berikut.

Tabel Klasifikasi jenis ukuran butiran

Nama kelas Ukuran (mm) Nama kelas Ukuran (mm)
Boulders ≥ 256 Sand 0,064 – 2
Cobbles 64 – 256 Silt 0,004 – 0,064
Gravel 2 – 64 Clay ≤ 0,004

Sumber : Marjikoen (1987), Kironoto (1997)

1.2. Kecepatan Endap (Settling Velocity)

Interaksi antara partikel butiran sedimen terhadap aliran zat cair dipengaruhi oleh adanya kecepatan endap butiran tersebut. Bentuk konfigurasi dasar saluran dipengaruhi oleh nilai kecepatan endap dari butiran sedimen seperti yang ditunjukkan pada beberapa hasil penelitian serta dalam studi sedimen suspensi, bahwa kecepatan endap mempunyai pengaruh yang sangat penting.

Kecepatan endap dapat diturunkan dari persamaan Navier Stokes dengan tanpa memperhitungankan pengaruh gaya inersia aliran yang bekerja pada suatu butiran sedimen berbentuk bola. Turunan persamaan ini menghasilkan persamaan hambatan selama butiran mengendap.

Penurunan persamaan kecepatan endap didasarkan asumsi berikut (Kironoto, 1997) :

  1. Gaya-gaya inersia dianggap dapat diabaikan karena bilangan Reynolds yang digunakan sangat kecil sehingga pengaruh gaya viskositas jauh lebih dominan dari pengaruh gaya inersia.
  2. Butiran yang dipergunakan hanya butiran berbentuk bola, sehingga untuk butiran yang berbentuk selain bola kemungkinan terjadi kesalahan bisa saja terjadi.
  3. Antara butiran sedimen dan zat cair tidak ada bidang slip.
  4. Butiran yang mengendap terjadi pada zat cair diam, dan pergerakan butiran tidak dipengaruhi oleh bidang batas.

Kecepatan endap yang memperhitungkan adanya gaya inersia yang bekerja pada butiran masih didasarkan persamaan Navier Stokes tetapi dalam bentuk yang agak berbeda. Pergerakan sedimen dalam zat cair akan mengalami gaya hambat yang ditimbulkan karena adanya gesekan antara zat cair dengan partikel sedimen. Gaya hambat menurut Newton merupakan fungsi dari luas bidang kontak atau luar permukaan butiran yang mendapat  gaya dan kecepatan endap. Sedangkan menurut Stokes gaya hambat yang ditimbulkan oleh partikel sedimen terhadap air merupakan fungsi dari diameter butiran, viskositas dinamik zat cair dan kecepatan endap.

Banyak peneliti yang sudah dilakukan untuk mengetahui besarnya pengaruh bentuk partikel teratur terhadap koefisien hambat, baik secara eksperimental ataupun secara analisis. Sedangkan material berbentuk tidak teratur seperti pasir alam sebagian besar hanya berdasarkan pada eksperimen.

Secara empirik hubungan antara koefisien hambat dengan bilangan Reynolds dapat ditulis sebagai berikut (Kironoto (1997), Graf (1984)):

  1. Partikel bola                            CD = 24 / Re
  2. Partikel disk lingkaran            CD = 20,37 / Re

Persamaan diatas memperlihatkan bahwa baik butiran berbentuk bola dan disk lingkaran, nilai koefisien hambat tidak banyak berbeda, Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada daerah Stroke’s range, koefisien hambat tidak dipengaruhi oleh tebal partikel, dengan catatan bahwa butiran tidak terlalu panjang atau terlalu tebal.

Karakteristik bentuk dari butiran sedimen dinyatakan dalam suatu bilangan tak berdimensi yang dikenal dengan faktor bentuk (Shape factor) yang didefinisikan sebagai (Albertson et.al. (1953) dalam Graf (1984)) :

Sf = c / (a b)1/2

Dengan a, b, cmerupakan diameter terpanjang, menengah, kecil. Faktor bentuk untuk pasir alamdari hasil penelitian Schulz, Wilde dan Albertson, dalam Graf (1984) bervariasi berkisar antara 0,6 – 0,7 .

1.3. Distribusi massa sedimen

Distribusi massa partikel sering ditunjukkan dengan pendekatan distribusi probabilitas Normal-Logaritmik (Semilogaritmic). Kurva yang dihasilkan merupakan hubungan antara ukuran butir sebagai absis dan persen lolos kumulatif sebagai ordinat.

Dalam Garde (1997), derajat penyebaran dari suatu ukuran butiran diukur dengan penyebaran baku. Material yang mempunyai nilai penyebaran baku sangat kecil atau mendekati 1 maka material disebut dengan material berbutir seragam.

1.4. Gerak Awal Butiran

Gaya-gaya hidrodinamik yang timbul sebagai akibat adanya aliran, bekerja pada material sedimen dasar yang cenderung menyebabkan butiran sedimen tersebut bergerak. Kondisi dimana gaya-gaya hidrodinamika yang bekerja menyababkan suatu butiran mulai bergerak disebut kondisi kritis atau gerak awal butiran sedimen. Hasil dari penelitian tentang gerak awal suatu butiran sedimen menunjukkan sangat subjektif sekali karena sifat fisik dari material sedimen tidak sama. Seperti material yang mempunyai kandungan fraksi lanau atau lempung yang cenderung mempunyai sifat kohesif, gaya-gaya yang melawan gaya hidrodinamik lebih disebabkan oleh sufat kohesifitasnya. Berbeda dengan material yang sifat kohesifnya kecil seperti pasir atau batuan, gaya perlawanan terhadap gaya hidrodinamik lebih disebabkan oleh gaya berat butiran itu sendiri.

Gerak awal butiran dasar dapat dijelaskan dengan cara seperti (Graf, 1984):

  1. Dengan menggunakan persamaan kecepatan kritis yakni dengan mempertimbangkan pengaruh aliran terhadap butiran.
  2. Dengan kondisi tegangan gesek kritis yakni dengan mempertimbangkan hambatan gesek dari aliran butiran.
  3. Kriteria gaya angkat yakni dengan mempertimbangkan perbedaan tegangan yang menyebabkan terjadinya gradien kecepatan.

1. Standar Kebutuhan

Lokasi tambak harus dekat dengan sumber air dengan kualitas air baik dan tidak tercemar, kuantitas cukup; lahan yang memungkinkan untuk petak pemeliharaan dan mudah dijangkau.

Tabel 1 Persyaratan kualitas air untuk lokasi Tambak

No Parameter Satuan Kisaran Optimum
1. Suhu ºC 28 – 32
2. Salinitas Ppt 10 – 35
3. PH - 7,5 – 8,5
4. Bahan Organik ppm Ppm 50 – 60

1.1 Dampak Beberapa Parameter Kunci Kualitas Air

1.1.1Salinitas
Untuk tumbuhan dan berkembangnya organisme yang dibudidayakan mempunyai toleransi optimal. Kandungan salinitas air terdiri dari garam-garam mineral yang banyak manfaatnya untuk kehidupan organisme air laut atau payau. Sebagai contoh kandungan calcium yang ada berfungsi membantu proses mempercepat pengerasan kulit udang setalah moulting. Salinitas air media pemeliharaan yang tinggi (> 30 ppt) kurang begitu menguntungkan untuk kegiatan budidaya udang windu. Karena jenis udang windu akan lebih cocok untuk pertumbuhan optimal berkisar 5-25 ppt.

Tingginya salinitas untuk kegiatan usaha budidaya udang windu akan mempunyai efek yang kurang menguntungkan, diantaranya : 1. Agak sulit untuk ganti kulit (kulit cenderung keras) pada saat proses biologis bagi pertumbuhan dan perkembangan; 2. Kebutuhan untuk beradaptasi terhadap salinitas tinggi bagi udang windu memerlukan energi (kalori) yang melebihi dari nutrisi yang diberikan; 3. Bakteri atau vibrio cenderung tinggi; 4. Udang windu lebih sensitif terhadap goncangan parameter kualitas air yang lainnya dan mudah stres; dan 5. Umumnya udang windu sering mengalami lumutan. Selain itu, pada saat puncak musim kemarau jenis udang umumnya akan lebih mudah terserang penyakit SEMBV (white spot).

1.1.2Suhu air
Suhu pada air media pemeliharaan udang umumnya sanagt berperan dalam keterkaitan dengan nafsu makan dan proses metabolisme udang. Apabila suatu lokasi tambak yang mikroklimatnya berfluktuatif, secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap air media pemeliharaan. Sebagai contoh pada musim kemarau yang puncaknya mulai bulan Juli hingga September sering terjadi adanya suhu udara dan air media pemeliharaan udang yang sangat rendah (24oC). Rendahnya suhu tersebut akibat dari pengaruh angin selatan (musim bediding), pada musim seperti ini biasanya suhu air berkisar antara 22-26oC. Suhu < 26oC bagi udang windu akan sangat berpengaruh terhadap nafsu makan (bisa berkurang 50% dari kondisi normal). Sedangkan bagi jenis udang putih pada umumnya, nafsu makan masih normal pada suhu air antara 24-31oC.

1.1.3Tingkat kekeruhan air
Tingkat kekeruhan air, baik air sumber maupun air media pemeliharaan mempunyai dampak yang positif dan negatif terhadap organisme yang dibudidayakan, dan setiap organisme mempunyai toleransi tingkat kekeruhan yang berbeda pula. Sebagai contoh bagi jenis kerang hijau masih dapat hidup normal dan tumbuh baik pada tingkat kekeruhan yang tinggi, sementara rumput laut pada umumnya memerlukan tingkat kekeruhan yang rendah. Bahan organik yang menumpuk dalam jumlah yang banyak (tebal) termasuk tempat bersarangnya bakteri dan vibrio yang merugikan bagi udang.

Bila air sumber yang digunakan untuk kegiatan budidaya banyak membawa material organik akibat limbah kiriman dari darat, maka secara tidak langsung akan berpengaruh negatif terhadap biota air yang dipelihara di tambak. Tingkat kekeruhan yang tinggi (limbah dari darat) sering terjadi pada musim penghujan, dimana material yang terbawa berupa cair, padat dan gas. Namun untuk mengendalikan air keruh akibat limbah bawaan tersebut masih dapat digunakan untuk kegiatan budidaya tambak, khususnya udang.

2. Pengendalian Kualitas Air

Upaya untuk mempertahankan kualitas air, dilakukan penggantian air 10% – 20% per hari. dengan kriteria parameter kualitas air sebagai berikut:

a) Parameter fisika

1)      Suhu : 28 ºC – 32 ºC.

2)      pH : 7,5 – 8,5.

3) Salinitas : 10 ppt – 35 ppt .

4) Kedalaman air : 100 cm – 120 cm (semi intensif) dan >120 cm (intensif).

5) Kecerahan : 35 cm – 40 cm.

b) Parameter kimia

1) Oksigen terlarut : > 3,5 ppm.

2) Amonia : < 0,01 ppm.

3) Nitrit : < 1 ppm.

4) Nitrat : < 10 ppm.

5) BOD : < 3 ppm.

6) Clorine : < 0,8 ppm.

7) Bahan organik : < 50 ppm.

c) Parameter biologis

Kepadatan plankton : 104 sel/ml – 109 sel/ml.

3. Tata cara pengukuran

3.1. Parameter fisika

a)      Suhu

Pengukuran suhu air dilakukan dengan menggunakan termometer, yang dinyatakan dalam satuan oC.

b)      pH

Pengukuran pH air dilakukan dengan menggunakan pH meter atau kertas lakmus.

c) Salinitas

Pengukuran salinitas air dilakukan dengan menggunakan salinometer/refraktometer,

yang dinyatakan dalam satuan ppt.

d) Kedalaman

Pengukuran kedalaman air dilakukan dengan menggunakan papan skala, yang

dinyatakan dalam satuan sentimeter (cm).

e) Kecerahan

Pengukuran kecerahan air dilakukan dengan menggunakan piringan berwarna hitam

putih (secchi disk), yang dinyatakan dalam satuan sentimeter (cm).

3.2 Parameter kimia

Pengukuran kualitas air seperti oksigen terlarut, amonia, nitrit, nitrat dan bahan organiksesuai dengan APHA (American Public Health Association) dan AWWA (American WaterWorks Association).

3.3 Parameter biologi

Cara pengukuran plankton adalah dengan menghitung jumlah plankton dalam haemocytometer dengan menggunakan mikroskop, yang dinyatakan dalam satuan sel permililiter (sel/ml). Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengembalikan suatu kondisi lingkungan seperti semula selain dengan teknik Bioremediation. Salah satunya adalah dengan “Artificial Wetland”, yaitu suatu teknik dalam pengembalian suatu kualitas lingkungan dengan suatu metode pemanfaatan lahan basah untuk mengembalikan kondisi lingkungan, dimana lingkungan yang telah mengalami penurunan kualitas dengan suatu treatment dialirkan pada suatu instalasi pengolahan lingkungan. Biasanya digunakan untuk mengembalikan kualitas air tambak, dimana air yang telah digunakan dialirkan pada suatu tangki pengendapan untuk mengendapkan zat padat yang selanjutnya masuk pada tangki yang berisikan aerator untuk membunuh bakteri yang bersifat anaerob dan selanjutnya masuk kedalam wetland yang terdapat tumbuhan yang berperan dalam menjernihkan air tambak dan menambah kandungan oksigen dalam air selanjutnya air dapat digunakan kembali untuk tambak. Akan tetapi Secara ekonomis Bioremediation dengan organisme lebih kompetitif dari pada teknik yang lain.

DAMPAK TAMBAK TERHADAP LINGKUNGAN

Faktor lingkungan yang disebabkan tambak ada yang berdampak positif dan ada pula dampak negatif contoh nya saja berdampak pada tata guna lahan, dampak sosial, ekonomi, dll.

1. Dampak Positif

1.1 Tata Guna Lahan

Berdampak positif untuk para petani yang mempunyai lahan perkebunan atau pertanian untuk mengalih fungsikan lahan mereka yang kurang produktif menjadi lahan-lahan pertambakan yang produktif.

1.2 Ekonomi dan Sosial

Dampak positif pembangunan proyek tambak sangat banyak, terutama pada sisi ekonomi dan sosial. Yaitu    :

-       dapat membuka peluang baru dibidang investasi,

-        menghidupkan fasilitas pelayanan umum,

-        mengembangkan daerah pesisir,

-        meningkatkan pendapatan nasional non-minyak,

-        memberi ke-sempatan pelatihan dan pekerjaan baik bagi pria maupun wanita. Didunia industri perikanan merupakan paling cepat berkembang.

2. Dampak Negatif

Tata Guna Lahan

Perubahan fungsi lahan dari Hutan yang selama ini dimanfaatkan sebagai tempat mencari nafkah (mencari daun nipah, kepiting, sagu, dll) oleh Masyarakat menggantungkan hidupnya secara sosial,ekonomi dan budaya kepada hutan adat. Ketergantungan masyarakat kepada hutan adatnya bukan saja karena merupakan sumber pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dan lahan mencari nafkah, tetapi juga karena ada ikatan batin secara kultural.Masyarakat adat percaya leluhur mereka bersemayam di dalam hutan adat dan oleh karena itu mereka menjaga hutan ini agar tetap lestari.Dampak desentralisasi yang menyingkirkan masyarakat adat konversi mangrove menjadi tambak, akses masyarakat pada hasil hutan berkurang.

Sosial

Beberapa studi yang dilakukan di beberapa negara produsen udang (Studi Cost Benefit Analysis) telah menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pemulihan lingkungan dan biaya sosial jauh lebih besar daripada yang diperoleh dari pertambakan udang. Pertambakan udang menimbulkan ketegangan sosial. Yaitu banyak masyarakat yang memperebutkan lahan yang saling mengklaim bahwa masing-masing sebagai pemilik lahan sehingga banyak terjadi konflik antar warga.

Ekonomi

Dampak ekonomi yang disebabkan oleh pembukaan lahan untuk tambak sangat berimpas bagi masyarakat yang semula sumbar pendapatannya berasal dari hasil hutan dan laut. Dari pembukaan lahan untuk tambak ini penghasilan mereka berkurang drastis. Sebagai contoh dampak ekonomi dari pembangunan tambak terlihat dari masyarakat adat Cerekang :

Dampak pembangunan tambak bagi komunitas adat Cerekang antara lain: 47% perajin nipah menurun produktivitasnya akibat berkurangnya hutan nipah dari 1.959 ha (1998) menjadi 1.085 ha (2001). Dua puluh sembilan persen nelayan laut dan sungai juga menyatakan menurun jumlah tangkapannya akibat hilangnya separuh hutan mangrove di pantai timur Luwu Timur dari 15.835 ha (1998) menjadi 9.885 ha (2000). Demikian juga 232 rumah tangga nelayan rawa terancam kehidupannya akibat menurunnya luas rawa alami dari 28.005 ha pada tahun 1998 menjadi 4.170 ha pada tahun 2000.


Sungai merupakan aliran air permukaan yang mengalir ke tempat yang lebih rendah, jumlahnya tergantung dari tinggi muka air, luas catchment area, perkolasi, infiltrasi dan besarnya curah hujan. Pada satu catchment area terdiri dari  induk sungai dan anak sungai. Pertemuan antara dua aliran disebut junction, pertemuan dua junction merupakan river stretch.

Pada river stretch banyaknya air mengalir sama dengan air yang berasal dari hulu dan air yang berasal dari surface run off dan ground water drainage yang ditambahkan pada stream sepanjang sungai. Pada pendidikan Teknik Sipil, fenomena tentang pertemuan sungai, baik junction maupun river stretch perlu dibahas yang mencakup kajian hidraulik pertemuan saluran, fenomena yang terjadi, dan kasus lainnya.

1. Sekilas Tentang Sungai dan Pertemuan Sungai

a. Sungai

Sungai merupakan aliran air permukaan yang mengalir ke tempat yang lebih rendah, jumlahnya tergantung dari tinggi muka air, luas catchment area, perkolasi, infiltrasi dan besarnya curah hujan.

Sungai dapat kita bagi menjadi beberapa jenis berdasarkan pembentukannya, yaitu :

  1. Sungai Hujan
    Sungai hujan adalah sungai yang sumber airnya berasal dari air hujan yang berkumpul membuat suatu aliran besar. Sungai-sungai yang ada di Indonesia umumnya adalah termasuk ke dalam jenis sungai hujan.

2.   Sungai Gletser
Sungai gletser adalah sungai yang sumber airnya berasal dari salju yang mencair berkumpul menjadi kumpulan air besar yang mengalir. Sungai membramo / memberamo di daerah papua / irian jaya adalah salah satu contoh dari sungai gletser yang ada di Indonesia.

3.   Sungai Campuran
Sungai campuran adalah sungai di mana air sungai itu adalah pencampuran antara air hujan dengan air salju yang mencair. Contoh sungai campuran adalah sungai digul di pulau papua / irian jaya.

Perilaku Sungai

Sungai yang mengalirkan alirannya secara terus-menerus akan menggerus tanah dasarnya sepanjang masa yang akan mengakibatkan terbentuknya lembah-lembah sungai. Karena di daerah pegunungan kemiringan sungai curam, gaya tarik alirannya cukup besar, setelah aliran sungai mencapai daratan gaya tariknya akan menurun. Dengan demikian beban yang terdapat dalam arus sungai berangsur-angsur diendapkan, sehingga butiran sedimen yang mengendap dibagian hulu sungai lebih besar dari pada dibagian hilirnya. Fenomena ini mengakibatkan terjadinya kemiringan sungai dari pegunungan (hulu) sampai memasuki dataran yang lebih landai. Pada lokasi landai, terjadi proses pengendapan yang sangat intensif yang menyebabkan mudah berpindahnya alur sungai dan terbentuk kipas pengendapan. Sungai bertambah lebar dan dangkal erosi dasar sungai tidak lagi terjadi. pada daerah ini alur sungai tidak lagi stabil, apabila alur sungai membelok, terjadilah erosi pada tebing belokan luar secara intensif.

b. Pertemuan sungai

Pada satu catchment area terdiri dari  induk sungai dan anak sungai. Pertemuan antara dua aliran disebut junction, pertemuan dua junction merupakan river stretch. Lokasi anak sungai dalam suatu daerah pengaliran ditentukan oleh keadaan daerahnya. Ada sungai mempunyai dua anak sungai yang mengalir bersama-sama dan bertemu setelah mendekati muara yang disebut sungai tipe sejajar. Sebaliknya ada pula sungai-sungai yang anak-anak sungainya mengalir menuju suatu titik pusat yang disebut dengan tipe kipas. Pada river stretch banyaknya air mengalir sama dengan air yang berasal dari hulu dan air yang berasal dari surface run off dan ground water drainage yang ditambahkan pada stream sepanjang sungai.

2. Kajian Hidraulik Pertemuan Saluran

Debit atau laju volume aliran sungai umumnya dinyatakan dalam satuan volum per satuan waktu, dan diukur pada suatu titik atau outlet yang terletak pada alur sungai yang akan diukur. Besar debit atau aliran sungai diperoleh dari hasil pengukuran kecepatan aliran yang melalui suatu luasan penampang basah. Metode pengukuran debit ini dikenal dengan istilah metode kecepatan-luas (velocity-area method).

Bentuk persamaan ini dapat diekspresikan sebagai berikut:

Q = Av

di mana:
Q = laju volume aliran (cfs atau m3/detik)
A = luas penampang melintang alur sungai (m2)
v =  kecepatan rata-rata pada penampang melintang alur sungai (ft/sec atau m/detik)
Kecepatan aliran tersebut dapat diukur secara manual ataupun dengan alat current meter. Pengukuran kecepatan aliran sungai dengan current meter umumnya harus memperhatikan karakteristik alur sungai terutama lebar dan dalamnya alur.

Data debit sungai dengan menggunakan hasil pengukuran luas penampang basah dan kecepatan aliran umumnya telah direkap dan diformulasikan dalam suatu persamaan dan kurva tinggi muka air-debit aliran sungai atau lebih dikenal dengan istilah stage-discharge rating cuve yang senantiasa dikoreksi untuk setiap kurun waktu atau peristiwa tertentu. Berdasarkan persamaan atau kurva tersebut maka pengukuran di lapangan hanya mencakup tinggi muka air sungai tiap waktu (stage-hydrograph). Penggabungan dan analisis kedua kurva tersebut akan menghasilkan kurva hidrograf aliran (discharge hydrograph) yang sangat bermanfaat dalam analisis hidrologi lebih lanjut. Namun, umumnya data debit hasil pengukuran hanya terdapat pada DAS besar sehingga untuk analisis pada DAS kecil sering kali kesulitan. Untuk mengatasinya maka dikembangkan metode prediksi limpasan dan aliran sungai yang identik atau pengembangan lebih jauh dari analisis debit.

Untuk daerah pertemuan sungai, secara hidrolika berlaku hokum kontinuitas:

Q=Q1+Q2

Menurut persamaan kontinuitas, maka:

Q1+Q2=Q

A1.v1 + A2.v2 = A.v

  1. 3. Klasifikasi Sungai Berdasarkan Pertemuan Sungai
  2. a. Klasifikasi Menurut Kern (1994)

Adalah klasifikasi berdasarkan orde sungai, misalnya sungai paling kecil di hulu dalam suatu DAS disebut sungai orde 1. Pertemuan sungai orde 1 menghasilkan sungai orde 2, selanjutnya pertemuan antara sungai orde 2 menghasilkan sungai orde 3, dan seterusnya. Sementara pertemuan antara sungai dengan orde yang berbeda tidak menghasilkan orde sungai berikutnya, namun tetap menjadi sungai orde terbesar dari kedua sungai yang bertemu tersebut. Klasifikasi ini tidak selalu dikaitkan dengan besar-kecilnya, lebar-sempitnya, atau dalam-dangkalnya suatu sungai.

b. Metode Strahler (1975)

Orde sungai adalah nomor urut setiap segmen sungai terhadap sungai induknya. Metode penentuan orde sungai yang banyak digunakan adalah Strahler. Sungai orde 1 menurut Starhler adalah anak-anak sungai yang letaknya paling ujung dan dianggap sebagai sumber mata air pertama dari anak sungai tersebut. Segmen sungai sebagai hasil pertemuan dari orde yang setingkat adalah orde 2, dan segmen sungai sebagai hasil pertemuan dari dua orde sungai yang tidak setingkat adalah orde sungai yang lebih tinggi.

Metode Horton, Shreve, dan Scheideger.

Panjang sungai utama sebagai morfometri ketiga dalam kajian ini akan menunjukkan besar atau kecilnya suatu DAS serta kemiringan sungai utama yang lebih-kurang identik dengan kemiringan DAS. Kemiringan sungai utama akan berpengaruh terhadap kecepatan aliran, maksudnya semakin tinggi kemiringan sungai utama maka semakin cepat aliran air di saluran untuk mencapai outlet atau waktu konsentrasinya semakin pendek.

Sungai utama beserta anak-anak sungainya membentuk pola aliran tertentu. Jumlah panjang seluruh alur sungai dibagi dengan luas DAS disebut kerapatan drainase. Menurut Linsley (1982 dalam Tikno, 1996) menyatakan bahwa kerapatan drainase atau drainage density mempunyai hubungan dengan tingkat penggenangan. Nilai kerapatan kurang dari 1 menunjukkan bahwa DAS tersebut sering tergenang atau drainasenya buruk, sedangkan kerapatan drainase 1 – 5 mengindikasikan bahwa DAS tersebut tidak pernah tergenang atau drainsenya baik.

c. Klasifikasi Menurut Leopold et al. (1964)

Leopold et al. (1964) mengklasifikasikan sungai kecil dan sungai atau sungai besar berdasarkan lebar sungai, tinggi sungai, kecepatan aliran sungai, dan debit sungai. Ini terlihat jika lebar sungai cukup besar tapi debit air kecil maka sungai tersebut merupakan sungai kecil. Sedangkan sebaliknya jika lebar sungai tidak terlalu besar namun debitnya besar maka biasanya disebut sebagai sungai atau sungai besar, karena kedalaman maupun kecepatan aliran sungai tersebut besar. Untuk penggunaan di Indonesia, dimana ditemukan jenis sungai dengan berbagai variasi lebar dan kedalaman serta debit alirannya, maka klasifikasi menurut Leopold et al. (1964) ini sangat cocok.

4. Fenomena Pertemuan Air Sungai

Adapun hal-hal yang dapat kita ketahui dari pertemuan sungai ini antara lain yaitu :

  1. Adanya pencampuran air sejenis,
  2. Kondisi air tidak tercampur, karena perbedaan suhu, salinitas, kandungan sedimen, ataupun bahan terlarut,
  3. Pertambahan debit,

Dengan perhitungan debit dan skema matematik pertambahan debit pada pertemuan sungai, dengan metode O’Donnel dan Muskingum-Cunge O’Donnel (1985), O’Donnel (1985) menganggap bahwa jika ada aliran lateral yang masuk sebesar aI, pada penelusuran banjir sungai, pertambahan aliran lateral tersebut dapat langsung dijumlahkan pada aliran masukan (I), sehingga alirannya menjadi I(1+ a).

IS hi i = IS hu i + IAS i

dengan Ihi I = debit aliran sungai di hilir pertemuan sungai pada waktu ke i, Ihu I = debit aliran sungai di hulu pertemuan sungai pada waktu ke i, dan IAs I = debit aliran anak sungai yang masuk ke sungai pada waktu ke i. Rumus-rumus yang digunakan dalam penelusuran sama dengan penelusuran banjir cara Muskingum-Cunge pada suatu penggal sungai. Metode ini memasukkan parameter kecepatan aliran untuk setiap debit yang ditelusur. Penerapan metode ini pada DAS Goseng memberikan hasil yang cukup baik

4. Peningkatan pencemaran air, karena kualitas air yang berubah.

Hal ini bisa terjadi kerena anak-anak sungai yang bertemu dengan sungai induk berada di kawasan industri dan membawa limbah-limbah industri.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.